HYMN OF MY HEART 8B

Bar 8b.

Angin malam menerpa wajah da tubuh Gigi cukup keras, karena Nue melajukan motornya dengan kencang. Melihat sikap Nue seperti itu, Gigi mendengus pelan. Malam ini dia sangat kecewa sebenarnya. Ada dua hal yang paling membuatnya kecewa. Pertama, sudah barang tentu karena dia tidak bisa menikmati pizzanya sampai puas. Yang kedua, dia heran, kenapa Nue tidak melabrak Grace saja sekalian? Kenapa dia hanya diam dan justru meninggalkan tempat itu?

Gigi sama sekali tidak bisa memahami perasaan Nue. Seperti biasa, Nue memang orangyang sulit ia tebak.

Gigi menghela napas berat untuk kesekian kali. Hal itu terus ia lakukan untuk mendinginkan hatinya yang panas. Jujur saja, kalau bukan karena ada Nue, Gigi sudah pasti akan melabrak Grace tadi.

“greeenggg..!!”

Lagi-lagi Nue manambah kecepatannya, hingga membuat tubuh Gigi terhuyung ke belakang, langsung saja tangannya refleks berpegangan pada pinggang Nue.

“jangan keras-keras kak.. aku bisa jatuh ntar..!”

Mendengar keluhan Gigi itu, Nue pun mulai menenangkan lagi pikirannya dan memperlambat laju motornya. Masih tidak berkata apa-apa.

Ini pertama kalinya Gigi berpegangan pada pinggang Nue saat di bonceng. Dari dulu Gigi ingin sekali mengalungkan tangannya pada tubuh Nue dan berbagi kehangatan dengannya. Kini tangan Gigi sudah menggenggam erat jaket Nue pada bagian pinggangnya, tapi Gigi masih belum bisa untuk memperluas jangkauan pegangannya menjadi sebuah pelukan. Tidak, ia tidak bisa, mengingat suasana hati Nue saat ini, Gigi masih belum berani melakukannya. Bagaimana kalau Nue marah dan menurunkannya di jalan? Wah bisa mampus si Gigi jalan kaki ke kos-kosan yang masih jauh!

Beberapa menit berlalu tanpa kata-kata dan gurauan. Seolah keceriaan mereka saat di PH hanya mimpi belaka. Motor Nue kini sudah berhenti di depan gerbang kos-kosan Gigi.

“makasih ya kak..” ujar Gigi yang mengusahakan senyum termanisnya.

Nue tersenyum tipis. Anehnya dia masih diam di sana sampai Gigi membuka gerbang kos-kosannya.

“Gi..”

Mendengar namanya dipanggil, Gigi pun menoleh ke arah Nue.

“ada apa,kak?”

Nue tidak langsung menjawab, lalu dengan ragu ia mengutarakan maksudnya. “malam ini, aku bisa nginep di kosmu nggak?”

‘ha??’

Gigi melongo memandangi Nue untuk beberapa saat.

“hmm.. ya kalo ga, ya gapapa..” ujar Nue lagi,kali ini dia mulai men-starter motornya.

Gigi pun buru-buru memegang lengan Nue,”o.. boleh kak..!”
***

‘cklik’

Daun pintu kamar Gigi terbuka. Cahaya dari luar langsung menyinari ruang kamar Gigi yang gelap. Gigi melepas sepatunya dan menyalakan lampu, sehingga jelaslah seisi kamar Gigi.

“masuk kak..” ujar Gigi yang kini membereskan beberapa buku dan laptop di atas meja belajarnya. “hehe.. maaf berantakan.” Sambungnya.

Nue melepas sepatunya dan masuk ke dalam kamar Gigi. Sesekali ia melayangkan pandangannya ke sekeliling kamar Gigi. Mata Nue terhenti pada jendela yang saat ini dibuka oleh Gigi. Berhubung kamar Gigi berada paling ujung, dia punya dua jendela, satu jendela yang kecil di dekat pintu, sedangkan satu lagi yang ukurannya lebih besar di sisi kanan kamarnya.

Ia mendekati jendela yang besar itu lalu duduk di bingkainya. Jendela kamar Gigi yang lebih besar memang unik. Dapat dibuka dengan menggeser daun jendelanya ke kanan, sehingga orang bisa duduk di bingkainya dan melihat pemandangan kota Jember. Gigi sengaja memilih kamar di lantai dua yang memang saat ini kosong (hanya ada Gigi di lantai dua) supaya bisa terhindar dari kebisingan anak-anak kos lain. Dari sana dia juga bisa melihat kelap-kelip lampu kendaraan yang merayap di Jembatan Semanggi. Gigi sering duduk di sana untuk menikmati suasana malam yang nyaman saat ia sedang suntuk. Di samping kamar Gigi terdapat lahan lapang yang biasanya dipakai untuk menjemur pakaian, jadi jangan bayangkan Gigi duduk di bingkai jendela dengan kaki melambai-lambai di udara tanpa pijakan, bahaya tuh..

Yap, kembali ke Nue dan Gigi lagi. Gigi menggeser kursi dan duduk secara terbalik. Sandaran kursi yang harusnya untuk menopang punggung, kini ia peluk dan ia pangkukan dagunya di atas sandaran kursi. Matanya tertuju dengan sendu pada Nue yang duduk di bingkai jendela favoritnya sambil memandang jauh. Aneh kalau mengingat Nue melakukan hal yang sama seperti yang Gigi lakukan saat sedang suntuk. Sepertinya tempat itu memang pas untuk orang yang sedang galau.

Gigi sengaja tidak berbicara apapun. Selain karena dia tidak tahu apa yang harus ia bincangkan, juga karena dia mempertimbangkan suasana hati Nue yang mungkin sedang tidak ingin diganggu.

Setelah agak lama, akhirnya Nue bergeming. Dia merogoh saku celananya dan mengeluarkan ponsel. Sepertinya dia menghubungi sebuah nomor. Untuk beberapa lama ia mendekatkan ponsel itu ke telinganya. Lalu ia matikan dan ia hubungi lagi sampai 3 kali, dan akhirnya ia terhubung pada nomor yang ia tuju.

“halo.. honey?” gumamnya pelan.

Gigi memiringkan kepalanya ke arah Nue untuk dapat mendengar sedikit perbincangan mereka. Dari kata ‘honey’ sudah jelas kalau yang Nue telfon adalah Grace.

‘Apa sih honey..? Aku lagi latihan, ini!’ ujar suara dari speaker Nue. Dari nadanya terdengar dia sedikit kesal dan suara itu adalah milik seseorang yang Gigi kenal. Ya, Grace.

Nue sedikit terpukul dengan nada suara Grace yang sedikit melengking. Ia mencoba untuk menahan kegetirannya dan berbicara selembut biasanya.

“Maaf honey.. Aku ga tau kalau kamu ada latihan. Bukannya tadi siang sudah latihan?”

‘ya.. ya itu kan buat penutupan LPSAF.. ini sekarang latihan buat wisuda. eh, udah ya Nu.. aku harus latihan lagi. Bye, muaah..!’

Belum sempat Nue membalas, baru saja ia membuka bibirnya, sambungan sudah terputus. Hanya bunyi bip-bip-bip yang bisa ia dengar sekarang.

Ia pun memandang ponselnya sejenak lalu memasukkannya lagi ke dalam saku celana. Setelah itu ia kembali melamun.

Dengan kecewa, Gigi memangku lagi dagunya di sandaran kursi. Tadi ia sama sekali tidak bisa menangkap pembicaraan mereka. Tapi ia melihat kondisi Nue makin menyedihkan. Nue kini menyandarkan kepalanya pada bingkai jendela, seolah tidak punya tenaga lagi. Tidak tahan melihat kondisi Nue, Gigi pun mendekati Nue dan duduk di sampingnya.

“kak.. kakak kenapa sih?”

Nue melirik sekilas wajah Gigi, namun ia hanya diam dan melayangkan lagi pandangannya ke depan.

Gigi mendengus kesal ketika Nue mengacuhkannya. “kak.. susah tuh jangan dipendam sendiri.. mending kakak cerita. Yah.. mungkin aku bukan Mario Teguh yang bisa ngasi kakak solusi yang terbaik, tapi seenggaknya aku pendengar yang baik kok. Yah.. itung-itung bisa ngurangi beban kakak kan, kalo kakak cerita..”

Nue masih tidak bergeming. Beberapa menit berlalu dan dia masih tidak mau bicara apa-apa.

‘fuu..’ Gigi meniup poninya dengan sedikit kesal.

‘terus ngapain nginep di sini kalo ga mau ngomong apa-apa?’ gerutu Gigi dalam hati.

Karena tidak tahu lagi apa yang harus ia lakukan, Gigipun hanya bisa mengayun-ayunkan kakinya. Hingga iseng-iseng ia melantunkan sebuah lagu yang sebenarnya tidak ia suka.

‘semooga berserii.. almamater tercinta..’

Mata Nue sedikit bergerak ke arah Gigi, namun ia masih diam pada posisinya. Sedangkan Gigi masih meneruskan lagu yang sebenarnya adalah hymne universitas.

“mewangi sluruh nusantara..”

“nusantara-nya false.”

Gigi seketika menghentikan lidahnya untuk bernyanyi dan ia menoleh ke arah Nue. Nue masih menatap horison malam, tapi tadi jelas dia merespon nyanyian Gigi. Gigi tahu, Nue tidak akan tinggal diam jika mendengar nada false.

“hehe.. akhirnya ngomong juga..” celetuk Gigi dengan wajah tengil mencolek sedikit lengan Nue.

Nue hanya tersenyum tipis, tapi masih tidak mengubah fokus pandangnya. Gigi-pun menyanyikan hymne itu dari awal.

“semooga.. berseri.. kakak Nue tercinta..hehe..”

Sontak Nue melirik Gigi dengan alis berkerut. “gila kamu, Gi..”

Gigi menanggapi respon Nue dengan senyum nyengir. Dengan cuek ia melanjutkan lagi nyanyiannya dengan suara lebih lantang. “mewangi sluruh nusantara.. baktikan tugas..”

Suara Gigi terhenti. Seakan ada kerikil yang membuatnya tersedak.

‘tugas??’

“Haa..!! Tugas! Aku belum bikin tugas!” Gigi histeris sambil melompat dari jendela.

Nue menoleh ke arahnya dengan heran. Gigi duduk dengan keras di kursi dan membuka laptopnya dengan tergesa. Ia baru saja ingat kalau ada tugas yang harus ia selesaikan, dan tugas itu harus dikumpulkan besok. Pantas saja Gigi begitu histeris.

Melihat Gigi yang dengan tergopoh-gopoh mengetik di atas keyboard laptopnya, Nue berbalik lagi ke fokusnya semula dengan senyum melengkung.

Perlahan, hatinya yang semula bercampur aduk, antara marah, kecewa dan sedih, kini mulai terdinginkan. Yup, tingkah kekanak-kanakan Gigi memang selalu berhasil membuatnya tersenyum. entah kenapa ia sedikit menyesal telah mendiamkan Gigi, lebih parah lagi memaksanya pulang sebelum ia puas menghabiskan pizzanya.

“maaf Gi..”

Jari Gigi yang semula bergerak lincah, mendadak berhenti. Di layangkannya padangan matanya pada Nue. “maaf buat apa?”

“buat pizzanya..” ucap Nue pelan.

“yah.. buat apa pizza diminta maafin??” jawab Gigi setengah tertawa.

“maksudnya, maaf dah maksa kamu pulang, padahal pizzanya masih banyak ya?”

Gigi menunduk sambil tersenyum tipis, prihatin dengan sisa pizzanya. “hmm.. lumayan sih.. tapi ga papa kok!” ujarnya yang langsung memasang ceria.

“maaf ya gi.. aku janji kapan-kapan aku belikan lagi.”

“hyaa.. ga perlu kak! Beneran ga usah.. “ ujar Gigi.

Dengan panik ia melambai-lambaikan kedua tangannya di depan dadanya , ia sungkan dengan Nue. Bagaimanapun harga pizza bukan harga yang murah bagi mahasiswa yang hidup nge-kos.

Nue tidak menjawab dan kembali diam. Gigi menurunkan lagi kedua tangannya. Kesenyapan kembali berkuasa di kamar itu selama beberapa menit, hingga akhirnya Gigi tidak bisa menahan geli di dadanya.

“kak.. ada apa sebenarnya kak? Tadi itu kak Grace kan?”

Akhirnya Gigi menanyakannya. Pertanyaan itu terus menggelitiki dada Gigi dari tadi. Kini ia sudah merasa sedikit lega karena sudah melepaskan pertanyaan itu. Kini yang ada adalah jantung Gigi yang berdebar menunggu apa jawaban Nue.

Nue cukup lama diam hingga akhirnya bibirnya bergerak juga.
“iya gi.. tadi itu Grace.” Jawabnya pelan.

Gigi memiringkan tubuhnya menghadap Nue. Ia memangku dagunya pada sandaran kursi lagi. Matanya menatap Nue penuh antusias, meski Nue tidak membalas tatapannya kecuali masih termenung menatap pemandangan malam di depannya.

“cowok yang bersamanya adalah Aldo. Dia seniorku, 2 tahun diatasku, PSM juga. Sudah lama dia dekat dengan Grace, bahkan setelah aku pacaran dengan Grace, tapi.. dia, Grace, justru lebih sering menghabiskan waktu dengannya. Meskipun mereka bilang cuma sebagai teman, tapi tetap saja…” Nue menghentikan kata-katanya dan membuang muka.

“setelah ia pergi, aku pikir aku bisa menghabiskan waktu lebih banyak dengan Grace. Berlatih bersama.. menyanyi bersama.. makan malam bersama.. semula hubungan kami makin dekat, tapi lama-lama aku merasa dia mulai menjauh lagi dariku.” Nue mengepalkan tangannya dan sesekali memukul pahanya sendiri karena emosinya.

“aku sudah lama bersabar.. aku mencoba untuk percaya bahwa hubungan mereka cuma teman biasa. Tapi, kenapa? kenapa ada saja yang mengganggu pikiranku saat mereka bersama. Kamu tahu? Bahkan tadi siang aku bertemu dengan mereka di CR..!”

Gigi termenung di sandaran kursinya. Matanya berkedip-kedip pelan karena menahan kantuk, tapi ia coba untuk tetap sadar dan mendengarkan curahan hati Nue. Jujur, Ia agak terkejut melihat Nue mau mengungkapkan semua isi hatinya. Ia juga kini tahu apa yang selama ini Nue pendam. Perasaan cemburunya pada Aldo ternyata sudah tumbuh sejak dulu, dan kini mulai bermekaran lagi. Tapi masih ada yang mengganjal di hatinya. Kenapa Nue diam saja? Gigi memandangi Nue yang masih menggerutu dan sesekali memukul bingkai jendela.

“…dan, tadi.. kamu liat sendiri kan? Dia bersama Aldo lagi! Ckk.. “ kini Nue membuang mukanya dengan raut emosi.

Gigi pun mulai menanyakan hal mengganjal di hatinya. “lalu, kenapa kakak diem aja? Kenapa kakak nggak ngelabrak dia?”

Mata Nue melebar. Lalu ia menunduk, seolah ada beban berat menimpa kepalanya.

“aku.. aku takut, Gi..” ujarnya lirih.

Mata Gigi yang semula meredup kini memicing dan alis berkerut. “takut? Takut kenapa?”

Nue tidak langsung menjawab pertanyaan Gigi. Ia menarik napas pelan lalu menghembuskannya keras-keras, seolah membuang semua penat dan emosinya.

“aku takut kehilangan Grace, Gi..”

‘deg..’

Kata-kata Nue seperti belati es yang menusuk jantung Gigi. Perlahan alis mata Gigi menurun dan matanya yang redup bersinar getir.

“aku takut menerima kenyataan kalau dia…” Nue tidak melanjutkan kata-katanya, mungkin enggan.

Mengungkapkannya seperti mencabut duri yang tertancap sangat dalam di jantungnya.

Akhirnya Nue memilih diam, sedangkan Gigi makin tenggelam di sandaran kursinya. Tanpa Nue sadari, mata Gigi meleleh tanpa suara. Membasahi sandaran kursi yang memangku wajahnya. Nue masih sibuk dengan pikirannya sendiri dan pemandangan malam di depannya.

Suara detak jam mengisi keheningan di antara keduanya. Sudah cukup lama Nue termenung, hingga akhirnya ia mendongakkan wajahnya.

“gi.. menurutmu.. apakah Grace mencintaiku?” tanyanya dengan nada berat.

Cukup lama Nue menunggu jawaban Gigi, namun tidak ada suara. Nue pun menoleh ke arah Gigi.

“Gi?” panggilnya.

Tampak wajah Gigi terbenam dalam pelukan tangannya yang menyilang di sandaran kursi. Nue pun beranjak dari tempat bertenggernya. Dengan hati-hati ia menyibak poni Gigi dan melihat mata Gigi sudah terpejam.

Nue pun menoleh ke arah jam dinding, sudah pukul 23.45.
Bagi Nue, itu mungkin ‘masih’ pukul setengah dua belas, namun tampaknya itu sudah terlalu larut untuk Gigi yang tidak terbiasa begadang. Nue pun mengalihkan pandangannya ke arah laptop yang sudah gelap layarnya. Nue mengelus touchpadnya dan seketika layar laptop menyala lagi, ternyata hanya berada dalam sleep mode. Nue melihat hasil pekerjaan Gigi yang masih berisi tulisan identitas dan perintah tugas saja. Kemudian ia melihat Gigi lagi yang tertidur pulas, bahkan dalam posisi seperti itu.

Nue pun berinisiatif menepuk pelan pipi Gigi untuk membangunkannya, tapi tampaknya kantuk Gigi sudah terlalu kuat merekatkan kelopak matanya.

“Gi.. bangun Gi.. pindah di kasur sana..” ujar Nue di dekat wajah Gigi. Sesekali ia menepuk pipi Gigi dan menggoyang-goyangkan bahunya.

Beberapa kali mencoba, Gigi hanya mendongakkan wajahnya sebentar dengan mata masih terpejam, lalu ia kembali merebahkan wajahnya.

Melihat Gigi yang sama sekali sulit dibangunkan, Nue pun menghela napas dalam dan tersenyum tipis. Dengan hati-hati ia mengangkat tubuh Gigi dan membisikkan sesuatu di telinganya.

“Dasar tukang molor..”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s