WW 1

 Bagian 1

“Gaby..”

“ya?”

“kira-kira saat kamu dewasa nanti, apa yang ingin kamu lakukan?”

“erhmm… entahlah”

“hah? Kok gitu? Dijawab dong..!”

“iya..iya.. kenapa sih, pertanyaanmu aneh banget”

“ya tanya aja..”

“ehm… kalau aku besar nanti, aku ingin bersekolah, lalu bekerja dan mendapat banyak uang. Setelah aku punya banyak uang, tanah ini akan ku beli dan kubangun sebuah pondok kecil. Nanti halamannya akan kujadikan ladang untuk menanam berbagai sayuran dan bunga.”

“hmm…”

“gimana Raff? Bagus kan? Hehehe..”

“iya, bagus juga, tapi apa yang ingin aku lakukan besok akan lebih hebat..!”

“o ya? Memang, apa yang ingin kamu lakukan kelak?”

“kelak.. aku akan menghentikan perang dan menjadi pahlawan.”

“hummbhhfff…”

“eh, kenapa tertawa?? Ada yang lucu?”

“wahahahahaha… kamu? Menghentikan perang..?? jadi pahlawan..? yang ada juga kamu jadi pemimpi di siang bolong..! hahaha…”

“aku serius..! awas kau ya,, suatu saat aku akan buktikan ke kamu..!”

“hhaha.. oke, oke tuan pahlawan..”

“ck,, kamu menyebalkan sekali.”

“hahaha…”

***

–Gabe POV–

“Gabe…!!!! cepat bangun..!! kamu ingin tidak sekolah lagi? “

Suara ibu sukses menyetrum telingaku dan langsung tersalur ke otakku. Dengan perlahan aku buka mataku yang terasa masih berat sekali. Kulihat jam weker di meja belajarku bahkan belum berdering. Aku beranjak dari ranjang dan dengan langkah gontai mematikan jam weker yg berdering terlambat. Ibuku memang selalu terdepan, bahkan untuk jam weker.

“GAAABE..!!”

“oh my.. IYAA IBUU…!!!” gatal juga rasanya hati ini ketika ibu mengeluarkan jeritan soprannya, terpaksa aku keluarkan juga suara tenor abal-abalku.

Dengan setengah berlari aku menuruni tangga dan menuju kamar mandi. Di dapur terlihat ibu sedang hebohnya menyiapkan sarapan.

‘aroma ini..? oh my… jangan katakan telur urak arik lagi..’gumamku dongkol dalam hati. Aku pun memilihi untuk pasrah dengan menu pilihan ibu yang tak terbantahkan dan masuk ke dalam kamar mandi.

“jangan berlama-lama mandinya..!! kau tahu berapa harga air perliternya sekarang..!!”

“YAAA… AKU TAHU! PLIS JANGAN TERIAK LAGI..! OKE?”

Yah, beginilah hari-hariku. Mencoba bersikap biasa seolah tidak sedang terjadi apa-apa. Meskipun aku tahu, jika dunia tidak sedang duduk tenang. Semua bersiap dalam suatu pelampiasan nafsu massal. Sudah 6 tahun sejak gencatan senjata antara blok timur dan blok barat. Kini kami memasuki masa-masa perang dingin yang tidak kalah mencekamnya. Masing-masing kubu berlomba-lomba mencipatakan senjata baru yang semakin praktis sekaligus makin mematikan. Situasi ini seperti memutar kembali sejarah, antara Amerika dan Uni Soviet. Kini, pada tahun 2029, masa-masa itu terulang kembali. Mungkin dunia sedang bersiap menuju World War III.

Aku benci situasi ini. Perang sudah berkecamuk sejak tahun 2012, tepatnya saat malam sebelum pergantian tahun baru, kotaku diserang oleh blok timur.

Karena perang, aku harus kehilangan ayahku, adikku, keluargaku. Karena perang aku harus kehilangan sahabat-sahabat dan tetanggaku. Karena perang, kehidupan ekonomi kami menjadi makin sulit, harga melambung tinggi dan ketersediaan air bersih dan energi menjadi makin langka.

Untuk sejenak aku merenung. Entah kenapa aku teringat padanya. Setelah sekian lama, kira-kira dimana dia sekarang? Bagaimana keadaannya? Apakah dia masih hidup??

“GABEE…!!! Sampai kapan kau akan mengurung diri di kamar mandi hah??”

“iya buu..”

Lamunanku buyar seketika. Akupun bergegas membersihkan sisa busa sabun yang menempel di badanku.

‘raff, aku harap kau baik-baik saja.. ‘

***

–author POV–

“Gazelda Gissele..” panggil seorang pria paruh baya berkacamata dengan nada datar membosankan.

“hadir..”jawab seorang gadis manis dengan rambut dikepang dua.

“Gabrielle Way”seru si pria berkacamata sambil menandai nama giselle. Untuk sejenak tak ada jawaban dari nama yg baru ia sebut tadi.

“Gabrielle Way..”

Si pria membenarkan posisi kacamatanya sambil menyapu seluruh ruangan untuk mencari keberadaan orang yang ia panggil tadi.

“Gabrielle!!”

Terdengar suara derap kaki dan sesosok bayangan muncul di balik pintu kelas sambil terengah-engah.

“ha..hadir pak..” ucap laki-laki itu terengah-engah.

“sekarang sudah tahun 2029, apa anda masih belum mengenal jam nak?”sergah si pria dingin menusuk.

Gabrielle menelan ludah sesaat dan matanya bergetar pelan memandang mata sedingin es si pria berkacamata itu.

“maaf pak, saya janji ini akan menjadi yang terakhir.”

“saya tidak butuh janji nak, yang saya butuhkan adalah bukti dan perbuatan.”

“ehm.. karena itu beri saya kesempatan untuk membuktikannya pak..”

“ya, dan kesempatanmu adalah detensi setelah jam sekolah berakhir.”

‘apa?!’ pupil gabrielle menyempit setelah mendengar kata detensi. ‘oh ayolah.. aku cuma terlambat.. masa harus detensi segala?’

“tapi pak, saya baru terlambat sekali, apa perlu detensi..?”

“lalu anda butuh berapa kali terlambat untuk dapat detensi? Jika dengan detensi pertama bisa membuat anda kapok, tidak akan ada terlambat yang kedua, ketiga, atau kesepuluh. Jika memang anda ingin terlambat berkali-kali, tidak perlu detensi, langsung saja anda ajukan surat pengunduran diri anda.”

Yap, Gabe tidak berkutik sekarang. Kata-kata Pak Marcus benar-benar menancap di hati.

“baik pak” Gabe pun dengan hati gerah menyanggupi detensi itu.

“oke. Silakan anda duduk, atau perlu saya tunjukkan kursi anda?”

“tidak pak, terima kasih”jawab Gabe dengan sedikit sewot.

‘pagi-pagi sudah berurusan dengan si botak Marcus membuatku malas untuk hidup’ gerutu Gabe sambil mendaratkan pantatnya di kursi kayu yang keras. Pak Marcus adalah bujangan tua. Seumur hidupnya ia habiskan untuk buku, buku, buku, buku dan 10% sisa waktunya untuk kebutuhan primer sehari-hari seperti makan, minum, buang air, dll. Bahkan Gabe masih ragu apakah dia tersentuh air mandi setiap harinya.

“sst..”

Gabe mengalihkan pandangan kearah siulan, dilihatnya tony mengerling padanya.

“pagi yang menyenangkan hah?”

“tentu.. tidak ada pagi yang seindah pagi ini. Apa kau mau berbagi denganku?”

“hahaha… tidak bung, lebih baik aku membantu ibuku menjahit celana dalam dari pada menghabiskan jam-jam akhirku bersama si botak marcus.”

Mendengar gurauan tony, Gabe hanya menghembus pelan sambil melengkungkan bibirnya tipis-tipis. Dia tak punya waktu untuk tertawa ketika harus mengingat waktu detensinya yang menyebalkan. Gabe tidak bisa membayangkan seberapa membosankan dan buruknya waktu detensi nanti.

“baiklah, kita lanjutkan pelajaran minggu lalu, sampai dimana kita?”

***

Suara detak jam dinding di depan ruangan seolah terdengar begitu nyaring di telingan Gabe. Ia sandarkan pipinya pada telapak tangannya dan sesekali ia melirik ke arah Pak Marcus yang entah sedang sibuk mengerjakan apa. Ia melirik lagi ke arah kam dinding.

“huuft.. 34 menit lagi…”geramnya dalam hati.

Ia harus sabar menahan gemas. Sedikit saja ada kata protes atau satu keluhan saja, maka jam detensimu akan ditambah. Mengingat itu membuat kepala Gabe seakan mendidih dan siap membakar rambutnya. Uups.. jangan lah, bisa hilang ketampanannya jika ia botak.

Gabe menhembuskan nafas berat. Ia lelah menyandarkan pipi di tangannya. Ia pun melipat kedua tangannya dan menumpukan dagunya pada punggung tangannya. Seperti anak yang sedang duduki manis sekarang. Matanya sesekali terpejam menahan kantuk, hingga suara Pak Marcus membuatnya siaga.

“ckck… El memang hebat..”

Mata Gabe terbelalak. Sejak kapan Pak Marcus membuka surat kabar? Dilihatnya Pak Marcus sedang serius menatap lembar surat kabar. Dari sampulnya terlihat foto El terpampang lebar.

“pak.. boleh saya pinjam korannya?”

Pak Marcus langsung mengintip dari tepi koran, menatap Gabe dengan pandangan dingin. Gabe segera menelan ludah dan menyambung kalimatnya.

“setelah bapak selesai membacanya tentu saja..” sambung Gabe dengan senyum semanis mungkin.

Pak marcus diam saja dan kembali menyembunyikan wajahnya di balik koran. Mengacuhkan Gabe yang kembali berpangku pada telapak tangannya.

Dia sangat ingin membacanya. Dia tidak berlangganan koran. Bahkan pendapatan ibunya masih terlalu pelit untuk dibagi dengan ongkos berlangganan koran. Padahal Gabe sangat ingin membaca segala artikel tentangnya. Ya, El.

El adalah sosok yang misterius namun sangat fenomenal. Bahkan kehadirannya cukup berpengaruh di dunia global. Penemuannya berupa sebuah reaktor energi mini yang lebih praktis,kuat, aman, bersih dan ajaibnya sangat tahan lama. Jika kau pernah melihat film Iron Man di tahun 2010-an, dan melihat sebuah reaktor bernama reaktor busur/arc reactor, maka seperti itulah. Bedanya, reaktor itu tidak ditempel di tubuhnya sendiri, melainkan ia jual secara bebas pada publik.

Penemuannya berhasil mendobrak rupa teknologi dunia. Tidak hanya menemukan sebuah solusi mutakhir mengenai krisis energi, El juga yang memperbarui teknologi komputer, alat transportasi dan komunikasi yang secara langsung maupun tidak langsung mengubah setiap aspek kehidupan di bumi. Tapi dari semua itu, hanya 1 yang paling membuat El sangat menarik, yaitu topengnya. Dia selalu mengenakan topeng kemanapun dia pergi. Tak seorangpun tahu siapa dia, asalnya, pendidikannya. Semua ia tutupi dengan sangat sempurna.

Gabe sangat mengaguminya, sejak dia dengan sukarela membagikan seribu El-Core (sebutan untuk reactornya) untuk sepuluh ribu masyarakat tidak mampu. Ya, satu reactor El mampu mensuplay listrik untuk 10 rumah. Dan salah satu rumah yang beruntung itu adalah rumah keluarga Gabe. El sendiri turun tangan dalam instalasi El-Core di rumah Gabe. Itu adalah momen yang paling mengesankan bagi Gabe. Gabe masih ingat betul kejadian itu. Tepatnya 2 tahun yang lalu, saat itu cuaca sangat terik dan El duduk disampingnya sambil menyaksikan para teknisi bekerja.

——2 tahun lalu——

“ehmm.. Tuan, sekali lagi terimakasih..” ucap Gabe sedikit malu-malu.

El tampak menoleh padanya lalu menyenggol pelan lengan Gabe.

“haha.. sudahlah, tak perlu berterimakasih seperti itu. Kamu sudah mengatakannya ratusan kali sejak aku datang kemari.”

Gabe tersenyum padanya, lalu menunduk lagi, masih dengan senyumnya.

“ehmm.. tuan.”

“berhenti panggil aku tuan, panggil aku El saja”

“ya, El..”

“apa?”

“ehmm.. apa kamu tidak rugi banyak dengan membagikan reactor sebanyak ini secara cuma-cuma?”

Tampak El termenung sejenak lalu tertawa pelan.

“haha.. aku tidak punya alasan untuk rugi. Aku membagikan seribu El-Core secara gratis, tapi puluhan ribu core-ku sudah laku dibeli oleh negara-negara lain. Dengan harga yang tidak masuk akal pula. Keuntunganku sudah tak mampu aku tampung lagi, kalau perlu ingin aku terbangkan saja uang-uang itu dengan roket. Hahaha…”

Gabe ikut tertawa melihat tawa El yang tidak terlihat itu. Hingga akhirnya el terdiam lagi.

“tapi aku tidak bisa melakukannya. Untuk sementara ini aku membutuhkan uang-uang itu.”

Alis Gabe mengeryit heran,”memang kenapa?”

El terdiam lalu menoleh pada Gabe seakan menatapnya dalam-dalam.

“untuk menyelamatkan dunia.”

Beberapa detik kemudian mereka berdua terdiam dan saling berpandangan. Seolah mencoba saling mengerti pikiran masing-masing, dan akhirnya El tertawa lagi.

“haha.. kau terlalu serius menanggapi kata-kataku.” Ujarnya sambil mengacak-acak rambut Gabe dan beranjak dari kursi tempat ia duduk tadi.

“eh, El, kau mau kemana?”tanya Gabe heran ketika melihat El berjalan meninggalkannya.

“maaf Gabe, aku harus pergi. Masih banyak rumah yang harus kukunjungi. Dan masih banyak pula biskuit yang harus aku cicipi.” Ujar El sambil mengacungkan biskuit yang dihidangkan ibu Gabe.

Gabe tersenyum tipis, seolah dia juga bisa melihat (membayangkan lebih tepatnya) El tersenyum dibalik topeng hitamnya. Hingga akhirnya sosok El menghilang, Gabe melunturkan senyum di wajahnya, berubah menjadi wajah sendu. Matanya menerawang kosong pada setoples biskuit di depannya. Perlahan tangannya bergerak, mengusap rambutnya yang tadi El acak-acak. Gabe seperti mengingat-ingat sesuatu. Sesuatu yang begitu nostalgic baginya.

—–0—–

“DUAAARRR….!!!”

Sebuah hentakan besar membuyarkan lamunan Gabe. Gabe benar-benar tidak sadar. Tiba-tiba tubuhnya sudah terpelanting ke lantai dan debu menyeruak menutupi pandangan dan menyesakkan dada. Dengan terbatu-batuk, Gabe untuk memahami apa yang sedang terjadi. Tubuhnya kini terbaring di lantai, tertutupi debu dan pecahan tembok yang jebol. Ia mencoba berdiri meski dengan sedikit terhuyung. Sesaat awan debu mulai menghilang, dan pupil Gabe menyempit melihat keadaan disekitarnya.

Gabe seolah telah berpindah di sebuah tempat yang sama sekali berbeda dari ruang kelasnya tadi. Kini semua menjadi puing dan debu. Dilihatnya tembok di sisi kiri ruang sudah jebol dan meja-meja serta kursi berhamburan dan menumpuk di sisi ruang yang lain, seperti baru saja disapu oleh tangan raksasa.

‘apa.. apa yang terjadi??’ batin Gabe yang masih mematung tanpa suara.

“uhuk..uhukk..”

Kepala Gabe segera menoleh ke arah suara itu. Dilihatnya sebuah kilatan kacamata dari balik reruntuhan.

“pak..!”

Gabe segera melewati tumpukan puing-puing menuju tempat tubuh Pak Marcus tertimbun.

Sesampainya disana, Gabe segera menyingkirkan puing yang menutupi tubuh pak Marcus, hingga akhirnya Gabe bisa melihat wajah Pak marcus dan dadanya yang kembang kempis menahan perih.

“lari..”ucapnya lirih.

“pak, tunggu sebentar, saya bantu keluarkan tubuh bapak..!”ujar Gabe sedikit cemas dan mencoba sekeras mungkin mengangkat puing-puing yang menutupi sebagian perut dan kaki pak Marcus.

“lari..! lari kubilang..!” bentak Pak Marcus.

Gabe spontan menghentikan usahanya dan menatap wajah pak Marcus.

Dalam keheningan itu, Gabe bisa mendengar suara mendengung di udara dan dilanjutkan dengan suara dentuman di kejauhan. Pupil Gabe bergetar.

“kau dengar itu? Kita diserang nak.. sekarang larilah! Cari tempat berlindung! Pergilah ke bunker El di sector76, segera cari keluargamu dan pergilah ke bunker itu..”ujar pak Marcus yang terengah-engah.

“tapi pak, bapak..”

“sudah, jangan hiraukan bapak! Percuma, aku sudah tidak bisa merasakan kakiku lagi.”

Bibir Gabe bergetar, ia alihkan pandangannya ke arah reruntuhan yang menutupi kaki Pak Marcus, dan ia juga bisa melihat rembesan darah di bawah puing itu. Mengalir bebas diantara debu dan puing.

“larilah nak, kau masih punya keluarga yang harus kau selamatkan.”

Gabe kembali memalingkan wajahnya ke arah pak marcus, matanya mulai basah. Dilihatnya wajah pak marcus lekat-lekat. Lalu sejurus kemudia dia menggenggam reruntuhan tembok yang menindih kaki pak Marcus dan mengerahkan seluruh kekuatannya untuk mengangkat reruntuhan itu. Namun sekuat apapun dia mencoba, tembok itu tak bergeming.

“wooaaaa…!!!!” jeritnya.

“hentikan Gabe! Sia-sia saja! Pergilah! Lari..!”

Gabe terus berusaha mengangkat puing itu dengan air mata yang terus mengalir deras di wajahnya.

‘apa-apaan ini? Kenapa situasi berubah seperti ini? Kenapa harus terjadi lagi? Kenapa harus terulang pemandangan-pemandangan dimasa lalu? Saat aku harus kehilangan orang-orang yang aku kenal. Bahkan meski orang itu adalah guruku yang paling menyebalkan sekalipun. Aku tidak rela!’

Gabe masih berusaha mengangkat reruntuhan itu, samar-samar ia melihat wajah gurunya lewat matanya yang setengah terpejam karena menahan berat. Ia melihat wajah gurunya yang sedang berteriak-teriak tidak jelas. Gabe sudah tidak mendengarnya lagi. Ia fokuskan seluruh tenaganya untuk mengangkat tembok itu. Pak Marcus terus berteriak hingga akhirnya sebuah ledakan menghempaskan tubuh Gabe.

Awan debu kembali mengepul. Perlahan Gabe membuka matanya. Matanya terasa pedih, darah mengalir ke matanya. Dengan sebelah matanya, dari kejauhan dilihatnya tubuh pak marcus yang makin tertutup puing, menyisakan wajahnya yang menoleh ke arah Gabe.

“larilah..”bisiknya.

Gabe tak kuasa lagi menahan air matanya, dengan susah payah ia berdiri. Untuk sejenak ia menangis dan menatap wajah pak marcus yang tertutup oleh darah dan debu.

“maafkan saya pak.. saya lemah.. saya..”

Pak marcus menggeleng pelan dan tersenyum tipis, “bapak tidak menyalahkanmu nak, maafkan bapak jika bapak terlalu keras padamu selama ini. Bapak hanya ingin kau tumbuh menjadi pemuda yang tangguh dan disiplin. Hingga bisa mengubah dunia seperti El yang kita kagumi. Sekarang larilah.. cari keluargamu.. bapak tidak tahu, apakah setelah ini kita bisa bertemu lagi, untuk itu, ingat kata-kata bapak ini. Barangkali ini adalah kata-kata bapak yang terakhir.”bisiknya.

Gabe tidak bisa berkata apa-apa selain bersimpuh di sisi pak marcus. Masih dengan mata basah.

“ingatlah Gabe, bapak tahu selama ini kau sudah terlalu sering menangis. Kita sudah kehilangan terlalu banyak karena perang, tapi janganlah kau terlalu larut dalam kehilangan Gabe.. menangis bukanlah jawaban atas peperangan. Simpan tangismu, hingga kita benar-benar berada dalam kemenangan. Perdamaian yang hakiki. Untuk saat ini bolehlah kau menangis. Tapi berjanjilah ini adalah yang terakhir. Jadilah kuat Gabe.. jadilah kuat..ingatlah bahwa kau adalah seorang lelaki. Lelaki tak sepantasnya menangis.”

Mendengar itu, Gabe terpaku. Hingga akhirnya ia mengusap air matanya dengan punggung tangannya dan mengangguk ke arah pak marcus.

“bagus.. sekarang pergilah..”ujar pak Marcus lagi.

Gabe mengangguk pelan. Dia berdiri dan untuk sejenak dia terdiam melihat Pak Marcus untuk terakhir kali, hingga suara dengungan itu terdengar lagi, Gabe-pun berpaling dan berlari meninggalkan tempat itu.

‘maafkan aku pak.. aku lemah.. aku tidak bisa melindungi bapak. Aku hanya bisa berlari dan menangis. Hanya inikah yang bisa aku lakukan?’ sesal Gabe.

Suara dentuman datang silih berganti. Menyemburkan apapun yang ada di sekitar. Gabe berlari seperti orang dirasuki. Matanya menyapu sekeliling. Api dimana-mana. Jeritan wanita dan anak-anak menggema seperti alunan musik mars pemakaman. Langit yang semula biru berubah menjadi kelabu dan diantara awan yang gelap melesat beberapa pesawat tempur yang saling menjatuhkan satu sama lain.

Tiba-tiba kaki Gabe terantuk sesuatu hingga membuatnya terjatuh. Dilihatnya benda yang membuatnya terjatuh. Mata Gabe terbelalak, saat melihat tubuh seorang lelaki yang tergeletak tertindih reruntuhan. Gabe segera berdiri lagi dan bergegas meninggalkan tempat itu.

‘ibu… kuharap ibu baik-baik saja.. Tuhan kumohon, lindungilah dia…’ harap Gabe dalam hati. Sementara ia terus berlari. Ditengah api dan ledakan. Diantara puing dan mayat yang bergelimpangan. Dan ditengah alunan jeritan pilu yang menyayat hati.

One thought on “WW 1

  1. Farhat darma permana says:

    Ka please lanjutin dong cerita ini…
    Aku penasaran lanjutanya…
    Ka, ku tebak si El ini si raff kan??
    Please ka balesnya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s