file 1

 

Tuk-tuk-tuk-tuk-tuk,.

Bunyi ketukan jemari di atas meja terdengar lirih tapi ajeg. Entah sudah berapa ketukan yang ku lakukan sejak duduk di meja ini.

Tuk.

Ah! Berhenti aja. Capek. Bisa kapalan jariku kalau tetap meneruskan ketukanku. Sudah hampir 25 menit aku duduk di salah satu sudut restoran cukup ternama di Jember. Sengaja  kupilih restoran itu untuk membuat seseorang yang kutunggu menjadi terkesan. Ehem! Sayangnya orang yang kutunggu-tunggu tidak kunjung tampak kilau lipstiknya (gantinya batang hidung, biar ga mainstream bro!

Untunglah baru beberapa menit setelah kuhentikan aksi ketuk-ketuk meja, wajah yang kutunggu-tunggu dari tadi muncul dari balik pintu. Ini dia kilau lipstik yang aku tunggu!

Sekejap saja lelaki jangkung ini melambaikan tangan pada wanita itu. Wanita itu membalas lambaian tangannya dan berjalan mendekati mejaku. aku terus tersenyum sejak wanita itu datang, namun senyumku sedikit, sedikit sekali, luntur ketika melihat seorang remaja cowok di belakangnya. Alisku sedikit berkerut.

‘itu..?’

“hai.. aduh maaf yah, tadi jalanan macet, ada perbaikan jalan sih!”

Kukerjapkan mataku dan kembali tersenyum pada wanita manis di depanku ini.

“iya.. gapapa. Baru aja dateng kok.” Ujarku sambil tersenyum . kata-kata yang sudah terlalu klise.

wanita itu tersenyum simpul lalu mengisyratkan cowok di sampingnya untuk duduk. Perhatianku kembali tertuju pada cowok yang kini sedang menarik kursi dengan malas. Wajahnya terlihat sendu.

Melihat wajah cowok itu membuat tanda tanya di kepalaku kian membengkak seakan mendesak kepalaku keluar. Hingga akhirnya bibirku tergelitik untuk berceletuk.

“Hehe.. ini adikmu ya? Kenalin, aku Denov.” Ujarku sambil menjulurkan tanganku ke hadapan cowok itu, tidak lupa dengan senyum yang paling ramah.

Wajah wanita itu berubah menjadi sedikit gelisah dan tersenyum kikuk. Aku juga bingung dengan apa yang terjadi karena entah kenapa saat cowok itu akan menyambut uluran tanganku saja terasa begitu lama. Aku hanya tetap bertahan dengan senyumku. Hingga akhirnya tangan cowok itu menyentuh tanganku, dan wanita itu berkata.

“Dia bukan adikku Nov, ini anakku.”

Mataku yang semula agak menyipit karena tertarik oleh senyumku kini terbuka bulat. Menatap utuh pada wajah cowok itu yang sambil menunduk menggerakkan bibirnya.

“deva.”

Part 1. What?? Once again… what??

Krriiiing….!!

Setelah tiga kali berturut-turut aku matikan bunyi alarm, akhirnya aku berhasil juga mengalahkan rasa kantuk yang melekat di mataku. Begitulah aku. Alarm harus di set 30 menit sebelum waktu bangun, karena aku biasa men-‘snooze’ alarmku selama 10 menit  dan melanjutkan tidurku. 10 menit berikutnya alrm akan berbunyi lagi dan aku matikan lagi. 10 menit berikutnya berbunyi lagi dan aku matikan, nah baru deh aku benar-benar bisa melek. Kalau tidak begitu, bablas!

Kini aku terduduk di ranjang. Kuraih segelas air putih yang  sengaja kusiapkan dari tadi malam di atas meja. Meminum air putih setelah bangun tidur itu baik untuk kesehatan, tapi alasannku sebenarnya adalah untuk membuat mataku benar-benar terbuka. Nah baru deh aku bisa bangun secara sempurna. Ribet memang tapi yah beginilah aku.

Namaku Denov Pramudya. Aku seorang cowok sederhana yang lahir dari rahim seorang wanita sederhana namun berhati mulia pada tanggal 14 November 1988. Umurku akan genap menjadi 25 saat bulan November nanti. Ah! Tidak terasa umurku sudah sebanyak itu, padahal rasanya baru kemarin aku pergi ke sekolah, memakai baju putih biru, dan merasakan cinta monyet dengan beberapa gadis di SMA. Tidak terasa juga, aku sudah menjalani  3,5 tahun paling ngebut di kampusku. Aku juga ga nyangka bisa lulus secepat itu, hehe.. (plakk!! Sombong!). meski hanya sebentar, namun aku mendapatkan banyak hal selama 3 tahun 7 bulan itu. Salah satunya adalah sesuatu yang berhubungan dengan profesiku saat ini; choir. Aku memang sudah pernah tergabung dalam paduan suara sekolah saat SMA, namun bisa dibilang hanya seujung kuku jari. Saat aku kuliah aku sudah mendapatkan banyak materi, ilmu baru dan teman baru. Darisanalah akhirnya aku dikenal sebagai Denov, sang pelatih dan arranger paduan suara UX (Universitas X). Aku juga sekarang bekerja sebagi staff kehumasan di UX, ini juga berkat relasiku dari UKM Paduan Suara. Ah,, serasa sempurna rasanya. Seorang sarjana muda yang mendapatkan pekerjaan dengan pendapatan yang lumayan di umur 24 tahun. Banyak yang bilang aku ini super beruntung! Tapi tidak juga bagiku. Kenapa? Karena ibuku…

“Denov! Sekarang kan kamu sudah sarjana dan bahkan sudah mendapatkan pekerjaan di dua tempat seklaigus. Nah, ini sudah saatnya kamu cari jodoh! Jangan main terus!”

Ya.. sudah 3 tahun aku hidup menjomblo. Hiks.. rekor yang menyedihkan. Ya Tuhan, kumohon beritahu aku kalau ada orang yang lebih lama menjomblo daripada aku! Aku sendiri juga tidak menyangka kalau selama kuliah, tidak ada seseorang yang nangkring di hatiku. Entahlah, mungkin karena aku terlalu sibuk pada kegiatan akademis maupun padus. Tapi menurutku tidak normal juga jika selama itu tidak ada satu wanitapun yang dilirik oleh hatiku. Semepet-mepetnya kegiatan seseorang, sesibuk-sibuknya pekerjaan lelaki, kalau ada cewek mantep sedikit, pasti juga bakal ada deg-deg serr di dada. Nah aku? Am i Gay? Oh no!!

Tidak juga, eh maksudku, tidak! Sudah aku jelaskan sebelumnya kalau aku sudah menjalani beberapa kali momen cinta-cintaan saat aku SMA dulu. Dengan cewek, tolong digarisbawahi ya, cewek. Kegiatanku saat di paduan suara memang agak ekstrim. Kebanyakan orang juga sudah tahu kalau biasanya cowok-cowok di padus itu bengkok, belok, nikung atau apalah itu. Aku sendiri sudah melihat situasi sebenarnya di lapangan. Memang banyak cowok melambai di sana, namun bukan berarti aku harus ikut-ikutan nyiur melambai kan?

Selama kuliah mungkin aku belum menemukan orang yang tepat, karena orientasiku saat itu hingga kini bukanlah mencari pacar, melainkan mencari jodoh. Ya, jodoh yang sesuai sehati denganku, dan kelak akan membesarkan anak-anakku. Ehem, kejauhan kayaknya. Yang jelas pencarianku sepertinya sudah menemukan titik terang. Aku menemukannya saat aku bekerja sebagai staff kampus. Di ruang kehumasan itulah aku bertemu dengannya, Rena.

Singkat cerita, selama beberapa bulan aku mendekatinya, dan tampaknya dia juga menaruh hati padaku. Aku semakin terbuka padanya seiring makin dekatnya hubungan kami. Dia pun melakukan hal yang sama, menceritakan apapun padaku seolah sedang menjelaskan bagaimana dirinya dari sisi baik maupun sisi buruknya. hingga saat aku sudah sangat yakin jika ia juga menyukaiku dan aku yakin jika ia adalah pasangan hidupku, aku pun mengajaknya ke suatu tempat yang jauh dari jangkauan orang lain. Aku ingin mengutarakan sesuatu padanya hari itu. Namun tak disangka-sangka, ia juga mneyiapkan sebuah kejutan yang nggak kalah ‘kurang ajar’ daripada kejutan yang aku siapkan untuknya

“kamu mau bicara apa Nov?”

“hmm.. kamu dulu deh, katanya kamu juga ingin ngomongin sesuatu.”

Rena menunduk. Tampaknya ia ragu dengan apa yang akan ia katakan, hingga bibirnya bergerak ringan.

“aku janda Nov..”

‘jeder..!!jdeerrr..!!’ ratusan kilat seakan menyambar kepalaku, menyetrumku hingga ke ulu hati.

Aku terdiam, melongo padanya dengan senyum hambar yang membuatku tampak seperti orang bodoh. Kulihat dia juga tersenyum gelisah dan matanya juga mulai memerah.

“kumohon kamu mau mengerti. Aku ga mau ada kebohongan di antara kita, karena itu aku mengungkapkan hal ini. Aku harap kamu mau mengerti dan ga berubah.”

Aku masih terdiam dalam sunyi. Leherku terasa begitu kering, dan ludah yang kutelah seakan membawa duri yang membuat tenggorokanku tercekat.

“ehemm..” aku terbatuk pelan.

Kali ini rena sudah mengeluarkan sapu tangannya dan mengelap air matanya, membuat aku jadi tidak tega melihatnya. Akhirnya aku hirup nafas dalam dan kugerakkan bibirku yang nyaris lumpuh ini.

“nggak apa-apa Ren.. kalau boleh tahu, sekarang suamimu di mana?”

Rasanya aku menyesal telah menanyakan hal itu saat melihat air yang keluar dari mata rena makin deras.

“ehm.. maaf Ren.. ya sudah, nggak perlu dijawab ren..”

Tapi dia menggelengkan kepalanya dan menengadahkan wajahnya supaya air matanya kembali masuk ke dalam kelopak matanya.

“suamiku sudah meninggal, satu tahun sebelum aku bekerja di sini. Dia meninggal karena penyakit jantung . sekarang aku tinggal berdua dengan anakku.”

Aku mengangguk pelan. Rasanya otot di leherku sudah tidak bertenaga lagi. Kenyataan ini terlalu pahit untuk kutelan bulat-bulat. Apalagi saat mengingat benda di dalam saku celanaku ini.

“apakah ada orang lain yang tahu mengenai statusmu ini Ren?”

Dia mengangguk, “ya.. beberapa orang dalam staff Universitas sudah tahu. Hanya kamu yang nggak aku beritahu, karena… karena aku ingin makin dekat denganmu. Dan.. dan aku ga mau hal ini membuatmu berubah menjauhiku.”

Aku kembali terdiam. Terhenyak dan khidmat dalam suara rena yang serak dan terisak.

“tapi, makin hari hubungan kita makin dekat dan entah kenapa aku merasa aku harus mengungkapkan hal ini.” Sambungnya lagi, dan kali ini dia benamkan wajahnya dalam helai sapu tangan berwarna pink. Basah.

Saat itu aku tidak sanggup berpikir lagi. Aku sudah terlanjur sangat dekat dengannya. Sudah ada ‘sayang’ yang tumbuh menjalar di hatiku. Tapi, dia justru menggocangnya dengan sesuatu yang nyaris tidak bisa kuterima. Hingga akhirnya aku tidak mau berpikir lama lagi. Kurogoh isi saku celanaku dan kukeluarkan sebuah kotak hitam mengkilat ke arahnya. Perlahan, saat ia menurunkan sapu tangan dari wajahnya, matanya bergerak-gerak melihat kotak kecil yang kuarahkan padanya. Wajahnya tampak kebingungan, sampai aku tersenyum kecil dan membuka tutup kotak itu.

Sebuah kilau keperakan terpantul di bola matanya. Matanya bergerak-gerak, menatap bergantian ke wajahku dan pada benda kecil yang terselip di busa kotak itu. Sebuah cincin perak dengan permata mungil di tengah lingkarannya.

“I..ini.. maksudnya apa Nov?”

Yah..dia berlagak ga tahu segala. Aku tersenyum makin lebar. “aku ingin melamar kamu Ren.. cincin ini aku berikan sebagai tanda permohonanku untuk menjadikanmu calon istriku.”

Nah lo.. gantian sekarang aku yang membuat petir menyambar-nyambar di kepalanya. Ia tampak gelagapan. Ekspresinya berganti-ganti antara senang, sedih terkejut dan tidak percaya. “ta.. tapi.. aku sudah..”

Kata-katanya berhenti, karena aku menggenggenggam tangannya dengan lembut dan kutatap matanya yang berkilauan itu dalam-dalam. “aku sudah siap menanggung semua itu Ren.. aku sudah lama menyukaimu dan aku sudah benar-benar yakin kalau kamu adalah pasangan hidupku. Yah.. meski hal itu cukup membuatku terkejut, tapi… percaya sama aku Ren.. aku janji akan menanggungnya bersamamu. Beban berat yang selama ini kamu pikul, biarkan aku turut memikulnya. “

Rena memandang wajahku dengan rasa takjub dan tidak percaya, ia hanya membisu dan menatapku.

“ren.. menikahlah denganku..”

Kesunyian seolah merebak. Bagai kabut tipis yang sangat dingin, yang bahkan membekukan waktu. Udara di sekitar kami seakan berhenti bergerak dan membuat dadaku sesak. Namun semua itu kembali berjalan ketika tangannya menutup kotak cincinku. ‘apa??!! Kau menolak?!’ batinku panik. Namun ia menggenggam tanganku dengan erat dan senyum getir yang elok.

“terima kasih Denov.. jujur, aku juga sudah lama menyukaimu sejak kita pertama kali berjumpa di kantor. Aku juga benar-benar merasa terharu kamu mau mengerti bahkan mau menanggung beban ini bersamaku. Tapi.. aku pikir, kita butuh waktu lebih lagi untuk mengenal Nov.. ini terlalu mendadak buatku. Dan… kamu juga belum mengenal keluargaku, dan anakku.”

Tenggorokanku kembali tercekat. Ya, saat itu tenggorokanku seolah terganjal sebuah duri panjang dan menyakitkan sekali rasanya. Namun aku mengangguk dengan senyumku yang paling hangat.

Dan jadilah momen seperti saat ini. Aku berjanji akan mengajaknya makan malam di sebuah restoran yang cukup menguras dompet. Aku sudah berlatih untuk bersikap ramah dan semenyenangkan mungkin di hadapan anaknya, karena bagaimanapun dia adalah kunci sukses perjalanan cintaku dengan rena. Dan, dia juga akan menjadi anakku nantinya. Aku pikir aku harus menyiapkan wajah dan senyum seceria mungkin karena aku pikir anak rena pasti berumur sekitar 3 tahunan, karena menimbang umur rena sekarang yang baru 27 tahun (‘baru’? ya, rena memang lebih tua 3 tahun denganku) Hmm.. kadang aku berpikir, padahal ga ikut bikin, ga dapet enaknya tau-tau dah dpt anak, ha..ha..ha.. (tawa getir).

Hussh..! pikiran itu sudah aku  buang jauh-jauh sebelum aku duduk menunggu di meja restoran itu. Hingga akhirnya ia datang, membawa kejutan kedua yang membuatku ingin mencabut seluruh helai rambut di kepalaku.

Senyum ramahku berubah menjadi senyum orang bodoh, sampai anak bernama deva melepas uluran tanganku dengan cepat. Kulirik rena dengan tatapan bingung. Wajah rena juga tampak malu dan agak menunduk seperti cowok yang ia aku sebagai anaknya.

Suasana menjadi beku untuk beberapa detik. Kuturunkan tanganku dan tanpa sadar aku tersenyum kecil. Ternyata perkiraanku tentang umur anak rena jauuuuhh sekali meleset. Penampilan anak rena sudah seperti anak remaja, suaranya juga… aaaarghh tidak mungkin. Pertumbuhan anak zaman sekarang kan cepet kayak anak nyamuk. Mungkin dia masih sd kelas.. yah… 3 atau 4.

“oh.. ini putramu yang kamu ceritakan dulu.. wah..aku ga nyangka kalau sudah sebesar ini. Haha.. pertumbuhan anak zaman sekarang emang pesat ya..”

Rena masih terdiam, hanya senyum kecil yang manis. Sementara cowok itu tampak cuek dan memainkan ponselnya. Gila.. anak SD udah punya hape? Aish… anak zaman sekarang.

“emm.. deva, sekarang deva kelas berapa?” tanyaku dengan nada manis yang terlalu kentara dibuat-buat.

“sebelas.” Jawabnya singkat.

“oh.. umurmu sebelas tahun.. berarti sudah kelas lima ya..” terkaku. Tentu saja ini makin membuatku bingung. Perkiraanku salah lagi! Aku makin ga nyangka rena yang berumur 27 tahun sudah mempunya anak berumur sebelas tahun. Apa mungkin ia menikah dan melahirkan di usia  18 tahun?? Tutup buku, buka terop, gitu? Arrrgh.. rena.. kau membuatku makin takjub.

“ck, maksudku kelas 11. Kelas 2 SMA. Jangan belagak bego lah..”

Jariku yang semula memegang menu book seketika membeku. Kutengadahkan wajah melongoku padanya. ‘anak ini…’

“hush.. deva! Jangan bilang gitu!” pekik Rena tertahan. Wajahnya begitu tegang dan cemas luar biasa. Ia bahkan tidak berani menatap wajahku.

Apalagi ini? Aku tidak bisa mengucapka apa-apa lagi setelah itu. Aku hanya bisa bilang; “nggak apa-apa kok Ren.. haha.. iya aku yang terlalu belagak bodoh. Ayo Dev, kamu mau makan apa?”

Setelah menyatakan pesanan kami masing-masing, tidak ada percakapan lagi di antara kami bertiga. Aku terdiam, memandangi rena yang tertunduk diam tanpa kata, dan berganti memandangi deva yang sudah kehabisan ide dengan ponselnya, kini memangku pipinya di atas meja dan memandang ke arah lukisan-lukisan di dinding restoran.

Rahangku mengeras. Aku sama sekali tidak menyangka kalau anak ini akan menjadi anakku nantinya. Bukan tidak menyangka sih, lebih tepatnya tidak rela! Jujur saja, melamar rena yang berumur 3 tahun lebih tua dariku dan statusnya yang janda saja sudah menjadi bahan pertimbangan keras orang tuaku. Sudah kutelan ratusan teriakan tangisan dan omelan kedua orang tuaku, namun aku tetap bersikukuh dengan kemauanku dan akhirnya mereka mau menerima, itupun dengan seonggok pentol mengganjal di hati mereka. Kini aku tidak tahu bagaimana lagi menjelaskan fakta terbaru, bahwa mereka akan memiliki seorang calon cucu yang sudah lancing* seperti ini. Ibuku pasti akan menangis sambil mengepel lantai. Bagaimana nanti dilihat orang-orang? Seorang sarjana muda dan tampan memiliki seorang istri janda yang lebih tua tiga tahun dan dengan seorang anak tiri yang duduk di bangku SMA? Semua terlihat jadi mustahil, satu logika yang terbersit dipikiran pastinya Aku atau Rena adalah orang yang ga bener, yang mungkin melakukan hal tidak senonoh di umur yang masih belia.

Dan satu hal lagi yang memborok di hatiku adalah.. mulut anak ini… siapa sangka dengan wajahnya yang tampak begitu polos dan sendu bisa mengeluarkan kata-kata kurang ajar itu pada orang yang baru dikenalnya. Meng-ha-ru-kan!!

Aku menghela nafas panjang. Tanpa kusadari ritual makan malam yang berlangsung alot dan dingin itu berakhir. Makanan mahal yang seharusnya terasa super enak itupun jadi terasa hambar di mulutku.

‘ting’

Mataku kembali menyorot ke arah deva. Dia baru saja menghabiskan daging panggangnya dan kini mengelap bibirnya dengan kain lap. Lalu ia berdiri. “terima kasih om atas makanannya.” Kemudia dengan tanpa beban dan tanpa menunggu jawaban dariku –yang hanya melongo- ia berjalan meninggalkan meja kami.

“Dev.. Deva..!” panggil rena.

“aku tunggu di mobil.” Ucap anak itu tanpa menoleh.

Rena hanya menggeleng dan wajahnya memerah antara mau dan marah. Ia masih sesekali menatap mataku dan langsung ia menunduk. “maaf Nov.. mungkin.. deva masih belum siap..”

“rena..”

Rena seketika menatap wajahku.

“sepertinya kamu ingin menjelaskan sesuatu.”

Mata rena tampak membulat dan ia tertunduk dengan bibir bergetar.

“maaf denov.. aku saat itu nggak bilang ke kamu.. inilah kenyataannya nov. Dia sebenarnya bukan anak kandungku.”

Untuk kesekian kalinya aku melongo. Aku heran, kenapa rena bisa menyimpan begitu banyak kejutan untukku.

“dia adalah putra almarhum suamiku dengan almarhum istrinya.”

Alisku yang semula naik tajam, perlahan menurun dan aku menunduk. ‘anak itu… ternyata.. yatim piatu?”

“saat aku menkahi ayahnya, aku berumur 24 tahun. Ayahnya begitu baik padaku dan entah kenapa aku juga mencintainya meski jenjang umur kita begitu jauh. Saat itu juga aku mengenal deva dan aku berjuang menjadi ibu yang baik untuknya. kasihan deva, Nov.. saat ayahnya meninggal,  umurnya masih 15 tahun. Hal itu pasti sangat berat baginya, apalagi sanak kerabat ayah maupun ibunya tidak ada yang mau merawatnya. Hanya tinggal kami berdua di rumah, dan hanya aku yang dia punya. Kehilangan ayah dan ibu itu yang mungkin membuatnya menjadi anak tertutup dan sensitif. Tampaknya dia juga kurang menyukaiku sejak awal kami bertemu dan kini mungkin makin tidak menyukaiku karena aku menjalin hubungan dengan lelaki lain selain ayahnya.”

Aku menunduk lesu. Mataku bergerak-gerak pilu membayangkan wajah anak itu. Aku ga nyangka kalau hidupnya bisa setragis itu. Kematian kedua orang tuanya pasti sangat berat untuknya, terlebih lagi ia harus hidup dan tinggal bersama ibu serta ayah baru. Aku ga bisa membayangkan bagaimana rasanya, tapi yang pasti akan terasa ‘ganjil’. Sedikit demi sedikit aku sudah mulai mengerti dia dan mengenai kata ’bego’ tadi aku sudah memaafkannya.

“karena itu denov, aku harap kamu mau me…”

Sebuah suara dering hape terdengar cukup lantang dari dalam tas tangan Rena. Sedikit terburu ia mengambil hapenya dan mengangkat panggilan telfon itu. “iya Deva..? iya mama habis ini keluar kok. Sabar ya sayang..” wajah rena tampak getir,”.. sudah ditutup.” Sambungnya sambil mengembalikan hape ke dalam tas.

‘hmm.. anak itu.. kenapa menyebalkan sekali sih??!’ batinku. Rasa iba yang tadi sempat merebak di hatiku kini kembali berkobar. Namun aku berusaha untuk tidak menunjukkan itu di wajahku. Aku hanya tersenyum kikuk.

“hmm.. sekali lagi maafin aku dan deva ya.. aku harap kamu mengerti..” ujar rena sambil bangkit dari mejanya. “oh ya, ini uangnya..” sambungnya lagi sambil merogoh tasnya.

Aku langsung saja berdiri dan mencegahnya. “eh, nggak usah ren, biar aku yang bayar.. kan aku yang mengundang kalian kemari.”

“aduh.. nggak apa-apa nih?” tanya rena ragu. Tampaknya dia paham betul kalau harga makanan di restoran ini tidak murah. Tolong digarisbawahi, sama sekali tidak murah.

“iyaa gapapa… udah kamu pulang aja duluan nggak apa apa. Kasian si deva nungguin.”

Rena terdiam, aku pun juga perlahan jadi ikut terdiam dan senyumku kian memudar menjadi getir, sama seperti wajahnya.

“nov.. melihat kenyataan seperti ini, apakah kamu masih bertahan dengan keputusanmu waktu itu?”

Pertanyaan rena menghujam dalam di jantungku. Itu juga pertanyaan yang daritadi aku pikirkan dan tidak juga menemukan jawabannya. Aku menatap mata rena yang masih setia tidak berkedip menanti jawabanku. Melihat itu seketika hatiku menjadi luluh, bibir ini bergerak dengan sendirinya.

“tentu saja! Aku tetap mencintaimu dan aku akan mencintai deva layaknya anakku sendiri. Aku janji!”

Seketika bibir rena melengkung terharu, dan tak kusangka, dia memelukku!

“terima kasih denov… aku dan deva pasti beruntung,  mempunya sosok ayah sepertimu.” Bisiknya di pundakku.

Seketika wajahku memerah. Ia melepas pelukannya dan tersenyum padaku sebelum akhirnya ia berjalan menuju pintu keluar restoran. Meninggalkan aku berdiri terpaku di sana dengan wajah yang bersemu. Tak kuperhatikan lagi bagaimana mata para pengunjung melihatku. Aku langsung duduk di kursi dan tersenyum simpul. Entah kenapa aku makin yakin kalau dia adalah jodohku, meskipun begitu banyak halangan dan ganjalan yang terhampar di depanku.

Saat mataku jatuh di piring deva yang kosong, sekilas aku terbayang wajahnya. Wajah sendu polos namun menyebalkan. Aku tersenyum lagi, kini lebih lebar. Aku pun menyandarkan punggungku di sandaran kursi.

“hmm… rena… deva.. ini pasti akan menjadi perjalanan menuju bahtera keluarga yang seru!” gumamku pelan.

“permisi pak..”

Sebuah suara asing memecah lamunanku. Kulihat seorang waiter yang menyodorkan secarik kertas padaku.

“ini bill-nya pak..”

“oh iya, terima kasih..”ujarku dengan senyum yang paling ramah. Namun semua berubah ketika aku melihat angka-angka yang tertera di secarik kertas itu.

“wha…. whatt..!!!?”

to be continue

 

 

 

 

 

 

 

2 thoughts on “file 1

  1. Anim Falakhudin says:

    Wah ceritanya keren-keren mas, sumpah keren banget cuman ko masih ti be continued yah.. hehe

    Oh iya, di salah satu cerita ada latar tempat kalau g salah nyebut nama salah satu kabupaten di Jatim ya mas, Jember.. wah itu tempat tinggal Q, jadi rindu kampung halaman.

    Always waiting kelanjutannya mas😀

  2. Farhat darma permana says:

    Wwaaaaahhh……….
    Berapa tuh harganya??
    Pasti mahalnya sampe kaget gituh…
    Hehe

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s