HYMN OF MY HEART 8A

separo dulu guys.

Bar 8a. Again.

Nue melajukan motornya dengan kencang di tengah derasnya hujan. Dengan keras ia mengerem motornya begitu tiba di kos-kosan.

Begitu ia masuk ke dalam kamar, ia lepas bajunya yang sama sekali basah oleh air hujan. Ia lempar baju itu begitu saja di lantai, sementara ia menjatuhkan dirinya dengan lesu di lantai dekat jendela.

Gemuruh jatuhnya air hujan terdengar begitu khidmatnya. Dari cahaya temaram yang menerawang dari tirai jendela, tampak siluet tubuh Nue yang menggigil. Tangannya mendekap lututnya dan ia benamkan sedikit wajahnya di antara lututnya. Tetes air jatuh dari ujung rambutnya yang hitam kelam. Matanya yang dalam menerawang kosong dan dipenuhi dengan bayangan Grace dan Aldo.

Entah kenapa hatinya terasa begitu sesak saat Grace bersama dengan Aldo. Kenapa harus dia? Kenapa Grace tidak bilang padanya jika ada acara reuni bersama Aldo? Kenapa ia harus duduk di boncengan Aldo, bukan teman yang lain? Dan yang terakhir, darimana ia mendapatkan BB itu? Nue tahu betul kebiasaan Grace. Grace bukan orang yang tahan menyimpan uang. Minggu lalu saja Nue menemaninya saat membeli sebuah tas bermerek, dan harganya sagat tidak memungkinkan bagi Grace untuk memiliki cukup uang untuk membeli BB saat ini. Apakah mungkin Aldo yang memberikan BB itu padanya?

Mata Nue terpejam sesaat. Begitu ia buka matanya, dengan tangan gemetar ia merogoh saku celananya yang basah. Dikeluarkannya ponselnya yang selamat dari kejamnya terjangan air hujan. Ditekannya beberapa nomor di keypadnya dan menempelkan ponsel itu di daun telinganya. Untuk beberapa saat Nue diam menunggu panggilannya terhubung, hingga akhirnya ia mendengar suara ‘halo’ dari seberang ponselnya.

“halo mas, maaf, aku ga jadi pesen BB-nya..”
***

Gigi menyandarkan kepalanya di sandaran kursi dengan malas. Ia sudah beberapa menit menunggu Nue, dan Nue tidak datang-datang juga. Padahal ia sudah buru-buru datang karena takut membuat Nue menunggu. Ia sampai lupa membawa laptopnya, padahal ada tugas yang harus ia selesaikan malam ini. Gigi pun mendengus dan meniup poninya yang terangkat pelan.

Matanya melirik ke arah jalan sesaat ketika mendengar bunyi mesin sepeda motor yang familiar di telinganya. Benar saja, itu Nue. Tapi penampilan Nue saat ini tampak berbeda. Biasanya ia tidak pernah menggunakan helm saat mengendarai motor, tapi saat ini dia menggunakan helm berwarna putih, membuat Gigi sedikit pangling padanya.

“lama banget sih kak?” tanya Gigi dengan nada bosan.

Nue hanye tersenyum lalu menyodorkan helm lain ke arah Gigi.

“nih pake!”

Gigi mengeryit heran.

“udah.. kita ga usah latihan malem ini. Ayok ikut aku!” ujar Nue lagi.

“kemana?” tanya Gigi heran sambil berdiri dari kursi gazebo.

“katanya mau pizza.. nih pake helmnya! Di sana banyak polisi soalnya!” ujar Nue lagi sambil menggoncangkan pelan helm di tangannya supaya Gigi cepat-cepat meraihnya.

Wajah Gigi tampak makin bingung, tapi ia tetap mengambil helm itu dan duduk di boncengan Nue.

“aku tadi ga serius lo ngomongnya kak.. gapapa nih?” tanya Gigi ragu.

Nue hanya membalas pertanyaan Gigi itu dengan senyum kecil, lalu ia mengegas motornya.

PH tampak ramai, padahal malam itu bukan weekend. Nue dan Gigi duduk di sebuah meja ukuran kecil karena memang mereka cuma berdua. Berdua?? Yup, Gigi tengah dag-dig-dug saat ini, karena ini adalah pengalaman pertamanya makan berdua dengan Nue. Meskipun sebelumnya Gigi pernah berada dalam kondisi yang lebih ekstrem (tidur sekamar dengan Nue) tapi tetap saja, makan malam berdua dengan Nue memberikan kesan yang lebih bagi Gigi. Kesannya kan kayak lagi nge-date gitu.. hehe.

“kamu aja Gi yang pilih menunya..” tawar Nue sambil melihat-lihat buku menu bagian minuman.

Mata Gigi terbelalak dari balik buku menu. Matanya yang bulat tampak seperti dua matahari mungil yang terbit dari tepi atas buku. “loh, kok aku? yang punya duit kan situ?”

“tapi yang pengen kan kamu.. aku kan udah janji mau nraktir kamu, pacar kedua..” kata Nue santai masih dengan mata menelusuri menu minuman.

Sontak mata Gigi melotot. Langsung disembunyikannya wajahnya yang merona di balik buku menu. Ia pun menoleh ke kanan dan ke kiri untuk memastikan tidak ada pengunjung lain yang mendengar kata-kata Nue tadi. Setelah itu barulah ia menyembulkan wajahnya dari balik buku.

“sekali lagi kakak bilang gitu, aku bogem beneran muka kakak!” bisiknya dengan nada emosi tertahan.

Sementara Nue tersenyum geli sambil mengusap-usap hidung mancungnya dengan punggung jari telunjuknya.

Gigi pun mendengus lalu kembali melihat isi buku menu. Matanya tampak bergerak ke kanan dan ke kiri menelusuri gambar yang menurutnya paling menggiurkan. Ia juga melihat menu-menu baru yang di sediakan PH.

Saat tengah berpikir, diam-diam mata Gigi mengintip Nue dari tepi atas buku menunya. Dilihatnya Nue yang tengah melihat-lihat isi buku menu. Meski daritadi Nue bertahan dengan senyum tipis di bibirnya, wajahnya jelas terlihat tidak begitu senang dan agak pucat. Dalam hati, Gigi mulai resah.

‘ada apa dengan kak Nue? Kok tahu-tahu ngajak aku ke PH? Padahal tadi dia bilang bakal ngajak aku kalau dia sudah dapet gaji kedua. Apa terjadi sesuatu diantara Kak Nue dengan Grace? Tapi dari raut wajah kak Nue, seperti tidak terjadi apa-apa. Tidak sedih juga tidak terlalu senang. Dia bahkan tidak menceritakan lagi mengenai kejutannya pada Grace..’

“permisi.. apakah sudah menentukan pilihan?”

Lamunan Gigi langsung saja buyar berantakan. Ia pun menoleh ke arah waitress yang tersenyum padanya.

“oo.. iya.. ehm.. Chicarbonara aja deh, pinngirannya crown crust. terus minumnya..” Gigi menoleh ke arah Nue untuk menanyakan minuman yang ia pesan.

“chocolate milkshake aja.” Gumam Nue sambil menutup buku menunya.

“oke, sama chocolate milkshake-nya dua.” Ujar Gigi yang juga menutup buku menunya.

Setelah waitress pergi, Gigi dan Nue pun kembali dalam keheningan. Nue tampak sibuk dengan ponselnya, sedangkan Gigi hanya memangku pipinya sambil melamun menatap Nue.

“kak, ngapain sih? Serius amat?” tanya Gigi yang tidak tahan dikacangin.

Akhirnya mata Nue bisa lepas dari layar ponselnya dan memandang Gigi sambil nyengir.

“maen, angry bird, hehe..”

“hadeh..” dengus Gigi. “kiraian sibuk apa’an.. eh ternyata kakak nih tampangnya doang macho, maennya angry bird.”

“sialan kamu Gi.. ya gimana lagi, cuma ini game di hapeku. Ini aja Grace yang download-in.”

Tiba-tiba air muka Nue berubah saat menyebut nama Grace, Gigi menangkap perubahan itu dengan jelas, meskipun dengan cepat Nue menyembunyikan kegetiran itu dengan memainkan lagi ponsel androidnya.

“kak..” panggil Gigi.

“hmm?” jawab Nue seadanya dengan jemari dan matanya yang sibuk pada layar ponsel.

“gimana kabarnya ‘kejutan buat Kak Grace’?”

Jari Nue berhenti sejenak, Gigi melihat itu. Lalu seolah itu adalah pertanyaan biasa, ia kembali memainkan ponnselnya.

“dia sudah punya.” Jawab Nue singkat, terlihat juga segurat senyum tipis yang dipaksakan dari bibirnya.

Gigi sedikit terkejut mendengar jawaban Nue, “hah? Udah beli sendiri?”

Nue mengangguk. Gigi kembali terdiam. Kini dia paham kenapa tiba-tiba Nue mengajaknya kemari.

“terus kakak ga jadi beli BB dong?”

“nggak lah.. buat apa? Masih bagus juga android-ku..”jawab Nue bangga sambil mengangkat sedikit ponsel androidnya.

Gigi tersenyum kecil. Ternyata benar yang ia duga sebelumnya. Telah terjadi sesuatu di antara Nue dan Grace.

Tak terasa waktu berjalan, pesanan mereka sudah datang. Mata Gigi tampak berbinar saat melihat senampan pizza hangat tergolek di depannya.

Tanpa sungkan lagi, Gigi mencomot satu potong pizza itu, ‘’Aku makan ya kak..!” ujar Gigi yang tanpa menunggu jawaban Nue sudah menggigit ujung pizzanya. Sudah lama dia tidak makan pizza lagi setelah ia jadi mahasiswa dan hidup nge-kos.

Nue mengangguk sambil nyegir, ia pun memasukkan ponselnya dan mengambil bagiannya. “jangan lupa napas Gi, makannya..”

“Santai.. aku sih bernapas lewat kulit juga bisa.” Jawab Gigi dengan mulut setengah penuh.

Nue yang baru saja mengGigit pizzanya seketika tersenyum menahan geli. “haha.. emang dasarnya kamu kodok, GI..!”

Gigi diam dan tersenyum sambil mengunyah makanannya. Ia nikmati benar momen itu, saat bisa melihat Nue tertawa lepas. Meski masih tampak kesan wajahnya yang letih dan menyimpan getir.

“masih mending aku kodok.. timbang kakak tuh.. makan kayak ulet..!”

“ulet? Gatel dong?!”

“iya lah, haha..”

Keduanya pun tertawa dan terus mengejek satu sama lain. Berisiknya mereka membuat beberapa mata pengunjung mengarah pada mereka. Bahkan ada beberapa pengunjung di dekat meja mereka yang pindah ke meja lain. Wew.. parah.. tapi hebatnya, mereka berdua tidak peduli. Nue hanya ingin melepas kesedihannya dengan tertawa selepas-lepasnya, sedangkan Gigi ingin membuat Nue terus tersenyum dengan memeberikan gurauan-gurauan segar.

Kebisingan mereka terus berlanjut ketika pintu masuk dibuka dan dua orang muda-mudi masuk. Mata Nue tidak sengaja menangkap sosok dua orang yang baru datang itu. Dan perlahan, senyum Nue memudar.

Gigi masih terus cekikikan, sampai ia menyadari jika ia sendiri yang tertawa. ia pun tertegun saat melihat wajah Nue berubah muram. Mata Nue tampak memandang suatu fokus di belakang Gigi dengan getir. Senyum Gigi-pun berganti menjadi heran. Ia menoleh ke arah yang mata Nue tuju. Mata Gigi memicing-micing beberapa saat untuk mencari apa yang membuat Nue risau, dan akhirnya ia menemukannya.

Kemarahan yang sempat mereda kini mulai menjalar lagi di dada Gigi. Seperti api yang semula bersembunyi di balik abu, kini berkobar lagi saat tersentuh tetes minyak.

‘Grace..!’ gumam Gigi dalam hati dengan gigi bergemertak.\

Tampak di kejauhan, Grace dengan wajah cerah duduk di sebuah meja yang sangat jauh dari tempat Gigi dan Nue duduk saat ini. Namun masih tampak jelas ciri yang menonjol dari seorang Grace meski sosoknya terlihat begitu kecil dari tempat Gigi duduk. Dan Grace di sana tidak sendiri, melainkan bersama seorang cowok. Cowok yang Gigi yakini sebagai cowok yang dicium Grace saat itu.

Tampaknya Grace tidak menyadari kehadiran Gigi dan Nue di sana. Ia asyik bercengkrama dengan cowok itu sambil melihat-lihat isi buku menu. Gigi pun menoleh ke arah Nue. Nue masih memandangi Grace di kejauhan. Matanya tampak sendu sekali. Untuk sesaat hati Gigi sangat berdebar. Ia penasaran dengan apa yang akan Nue lakukan. Apakah Nue akan melabraknya? Atau..

Nue akhirnya membuang pandangannya ke arah lain. Diletakkannya dengan lemah potongan pizza di tangannya. Saat ini dia menoleh ke arah samping sedikit ke bawah, seolah ingin menghidari tatapan mata Gigi. Gigi hanya diam melihatnya. Ia tidak mau berkometar apa-apa selain menunggu reaksi Nue.

akhirnya Nue menarik napas dalam lalu dengan mengejutkan ia berdiri. “Gi, ayo kita pulang.” Ujarnya dengan nada datar.

Gigi spontan bingung dengan sikap Nue. “ha? Kok pulang.. te..terus pizzanya gimana dong? Masih banyak ini..” ucap Gigi setengah gelagapan. Dia juga sedikit tidak rela karena belum puas menghabiskan pizzanya.

Namun, Nue masih diam saja dan memalingkan wajahnya. Gigi pun menghela napas dan berdiri dari kursinya. “oke.. ayok pulang..”

Mendengar jawaban Gigi, Nue segera berjalan menuju kasir, sedangkan Gigi –dengan wajah sedikit kecewa- mengikuti Nue dari belakang.

“loh.. sudah selesai?” tanya waitress yang tadi mencatat pesanan mereka.

Nue hanya memasang wajah dingin dan mengeluarkan dompetnya di meja kasir. “berapa?”

Gigi hanya bisa menatap sendu sikap Nue itu. Dilihatnya juga wajah waitress yang berubah kecut ketika diacuhkan oleh Nue dan kini pergi untuk melayani pelanggan.

Begitu Nue menerima kembalian, langsung saja ia meninggalkan tempat itu, sementara Gigi dengan kewalahan mengikuti langkah kaki Nue yang panjang. Namun, saat Gigi baru saja di ambang pintu, Gigi berbalik sejenak. Ia melihat ke arah Grace yang masih tidak menyadari kehadiran mereka, sedang asiknya bergurau dengan cowok itu.

Tangan Gigi gemetar. Emosinya sudah hampir tidak tertahan lagi. “ga punya malu kamu Grace..” bisik Gigi.

“ngapain kamu Gi? Ayo pulang!” dari kejauhan Nue memanggil Gigi. Ternyata Nue sudah menghidupkan motornya. Gigi-pun segera berbalik dan berlari menuju motor Nue.

Saat Gigi berbalik, mata Grace tanpa sengaja terarah padanya. Alisnya mengerut sedikit.
“itu.. Anggian?”
***

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s