HYMN OF MY HEART 7

***
Bar 7, Aldo.

Bunyi bel berdering lantang. Mata gigi yang sudah sayu melirik ke arah dosen yang segera menutup dan memasukkan laptopnya ke dalam tas.

“ok, sekian dulu kuliah kita pagi ini. See you next week.”

Para mahasiswa menjawab “see you”serentak sambil membereskan barang-barang bawaan mereka. Sementara gigi masih melamun di mejanya.

“hei, kuliah kelar woy.. bangun!” ujar seorang gadis berkerudung yang duduk di sebelah Gigi.

Gigi hanya meliriknya dengan malas lalu kembali melayangkan pandangannya ke jendela. Melihat sikap gigi yang tidak biasa, gadis itu mengeryitkan alis heran lalu melambai-lambaikan tangannya di depan mata Gigi.

“woi.. sadar..”

Akhirnya ia sukses juga mendapat perhatian Gigi. “apaan sih Ul?” tanya gigi kesal.

“habisnya ntar kalo ga digituin kamu bisa bengong sampe sore, lo!”

Gigi hanya mendengus kesal lalu memasukkan buku binder ke dalam tasnya. Ia akui hari ini tidak bisa fokus pada materi kuliah. Pikirannya cuma dipenuhi oleh perbuatan Grace yang tak henti-hentinya membuat Gigi panas. Mungkin rasa marahnya tidak akan terlampiaskan sebelum ia mengadukan hal itu pada Nue.

“oke lah, aku duluan ya gi..” ucap gadis itu, tapi tangan Gigi buru-buru menangkapnya.

“uly, bentar deh..” cegah Gigi.

Gadis bernama uly itu pun kembali duduk di samping Gigi.

“apa’an?”

“hmm.. aku tanya bentar boleh?” tanya gigi ragu-ragu.

“haaa.. kamu mau nembak aku? duh maaf gi.. tapi kamu bukan tipeku, jadi..”seru uly sambil menutupi mulutnya.

“hei koplak! Bukan!” ujar Gigi geregetan.

“ya terus apa’an? Capcus.. aku belum nyuci ini!”

“iya sebentar.. sabar donk..”

“oke oke.. ayo, mau tanya apa?”

“hmm.. gini Ul.. seandainya kamu naksir orang.. tapi orang tu suka ma orang lain. Anggap aja orang yang kamu suka itu X dan yang disukain X itu Y. Kamu akhirnya merelakan si X pacaran sama si Y. Nah suatu hari, kamu liat si Y itu ciuman sama orang lain, anggap aja Z. Nah, sebagai orang yang cinta mati sama X, apa yang kamu lakuin? Apa kamu mau ngaduin itu ke X?”

Mendengar kasus gigi, uly mendongakkan wajahnya sejenak untuk berpikir. sementara Gigi menanti dengan sabar. sebenarnya ia bingung, kenapa ia menanyakan hal itu pada Uly yang lebih suka bercanda daripada serius.

“hmm… ini aku jawab apa adanya ya, ga secara idealis ya.. kalo aku sih udah pasti laporin itu ke X.. sekarang siapa coba yang rela, kita dah ngikhlasin orang yang kita cinta, si X, untuk pacaran sama si Y, tapi si Y malah ciuman sama Z. Hati siapa juga yang ga marah?”

Gigi mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia 100% setuju dengan pendapat uly itu, karena itu juga yang ia pikirkan.

“tapi..”

“eh? Tapi apa?”

“coba kita pikir-pikir lagi. Kita ngaduin itu sebenarnya buat apa? Buat kebaikan dia? Atau untuk kepentingan kita aja? Apa kita yakin hal itu baik untuk si X? Atau justru hal itu cuma kita jadikan alat untuk merebut si x? Coba kita pikir lagi, apa yang si X rasakan kalau tahu hal itu. Kalau si X bener-bener suka sama si Y, dia pasti akan sedih banget. Nah, kita suka liat si X sedih? Kalo kita memang cinta sama si X, harusnya kita juga sakit kalo liat dia sedih.”

‘jleb..’

Gigi termenung mendengar jawaban uly. Dia tidak meyangka kalau kata-kata uly ada benarnya juga.

‘benar juga.. bagaimana Kak Nue nanti kalau tahu keyataannya? ‘

“emang napa sih GI, kok tumben nanya-nanya begituan. Hayoo… lagi naksir ya..??” selidik Uly dengan tampang usil.

“ha? Ng.. nggak kok! Udah, udah, mending kamu pulang sana, nyuci baju!” Gigi pun menggerak-gerakkan tangannya seperti mengusir kucing.

“huuu… dah dibantu, ngusir-ngusir..!” ujar Uly sewot.

Gigi hanya nyengir sambil memijat-mijat lengan uly. “hehe.. iya thank you uly yang cantiiikkk…”

Uly hanya mendengus kecut. “hmm.. dasar..! ga usah pasang tampang play boy.. dah aku pulang dulu, bye..”

“hah? Tampang play boy? Maksudnya??” baru saja gigi akan menangkap uly, uly sudah kabur duluan, meniggalkan gigi sendiri di sana, duduk dengan kesal.

‘tampang play boy apaan? Wajah polos gini kok..’ puji gigi pada dirinya sediri.

“drrtt..drrt..drrrt…” Tiba-tiba ponsel gigi bergetar, tanda ada pesan masuk.

Gigi segera mengambil ponselnya yang bergetar, ternyata sms dari Nue.

‘Gi, aku dah kelar kuliah nih. Sekarang lagi di gazebo. Katanya mau ngomongin sesuatu?’

Gigi langsung memasukkan lagi ponselnya setelah ia membaca sms Nue. Pandangannya menatap kosong papan tulis yang masih berisi coretan-coretan dosen, tapi coretan itu seakan berubah menjadi bayangan uly dan kata-katanya.
Sejenak gigi berpikir, apakah tindakannya ini benar? Sebenarnya untuk kebaikan siapa? Untuk kebaikan Nue, atau untuk kebaikan Gigi sendiri?

Gigi pun berdiri dan meninggalkan ruang itu. Ia berharap dapat menemukan jawabannya seiring langkahnya yang menuju tempat Nue berada saat ini.

 

Nue sendiri tampak asik memandangi layar ponselnya ketika Gigi sudah sampai di sana. Wajah muram Gigi sudah menunjukkan kalau dia masih bisa menemukan jawaban atas kebingungannya.

‘beritahu apa nggak?’

Nue sedikit heran ketika melihat ekspresi muram Gigi. “kenapa gi? Kok mukamu burem gitu, kayak kertas karbon.” Tanya Nue setengah bercanda.

Gigi tidak meladeni gurauan Nue dan duduk di depannya. Sekilas, matanya melihat layar ponsel Nue.

“itu..” gumam Gigi dengan mata tertuju pada layar ponsel Nue.

Nue mengikuti arah pandangan Gigi lalu tersenyum.

“ooh.. ini? Hehe.. iya aku belum bilang ya? ini lo, gambar BB yang mau kukasih ke Grace. Aku baru bayaran nih Gi, jadi tinggal pesen aja.. hehe.. “

‘deg..’

Jantung gigi,lagi-lagi, terasa berat. Berat sekali. Dengan melihat wajah Nue yang ceria seperti itu, apa Gigi tega memberi tahu kecurangan Grace?

“tapi aku masih bingung nih, bagus yang ini apa yang ini ya? gimana menurutmu Gi” tanya Nue sambil menyodorkan ponselnya pada Gigi, matanya terus melihat poselnya, sehingga ia tidak melihat wajah Gigi yang benar-benar beku sekarang.

Agak lama Gigi diam, Nue pun menoleh ke arahnya dan barulah ia melihat ekspresi Gigi. “lo, gi.. kamu kenapa?”

Gigi menggerakkan matanya. Ia arahkan tepat pada bola mata Nue. Nue sebenarnya heran dengan sikap Gigi, tapi dia hanya diam. sampai akhirnya Gigi mengalihkan pandangannya ke arah ponsel Nue dan menunjuk dengan jarinya.

“yang ini aja kak.. yang ini sudah agak lama, desainnya juga kurang enak diliat. Mending yang ini aja.” Terang Gigi.

Nue masih menatap gigi dengan tatapan bingung. Sikap Gigi terlihat begitu aneh baginya. “Gi, kamu kenapa?”

“ha? Aku nggak apa-apa kok.” Ujar Gigi yang sekarang enggan menatap wajah Nue.

“Masa’ sih? Tadi kamu mau bilang sesuatu kan sama aku? bilang aja..”

Gigi menggeleng pelan sambil tersenyum. “nggak kok, bukan apa-apa sih sebenarnya.”

Wajah Nue tampak tidak puas dengan jawaban gigi. “hmm.. jangan-jangan..” ucap Nue sambil memicingkan matanya pada gigi.

Sementara Gigi menjadi risih karena dilihat seperti itu. “jangan-jangan apaan? Pasti aneh-aneh deh!”

Nue masih memicingka matanya sambil melengkungkan senyum misterius, dan dengan setengah berbisik ia berkata, “jangan-jangan kamu mau nembak aku ya?”

‘daasshh..!’

Gigi spontan menjitak kepala Nue cukup keras. Wajahnya merah padam.

“apaan coba?! Emang aku maho??!” ujar gigi kesal.

Sudah dua orang yang berkata seperti itu padanya hari ini. Tadi masih mending Uly, sohibnya sendiri, nah ini Nue..!! orang yang memang ia taksir. Otomatis kata-kata Nue itu begitu mengena di hatinya.

Selama Nue megusap-usap kepalanya yang terasa panas, Gigi mencoba untuk menormalkan kembali rona wajahnya.

“aww… sakit Gi..!” keluh Nue yang masih meringis kesakitan. Tampaknya jitakan gigi memang keras. “emang mau ngomong apa sih, bikin penasaran aja!”

Gigi terdiam dan menghembuskan nafas kesal. “sebenernya aku mau ngajakin ke PH..! tapi ga jadi dah..”

‘pintar kamu Gi..’ sindir gigi pada dirinya sendiri. Hanya alasan itu yang muncul di kepalanya. Setidaknya ia bisa menjawab rasa penasaran Nue.

“PH? Wah ayok! Kok ga jadi?” ujar Nue dengan semangat.

“soalnya… ya soalnya aku ga ada duit!” jawab gigi sebisanya.

Mata Nue kembali memicing. “kalo ga ada duit, kenapa ajak-ajak? “

‘aduh.. kak Nue tanya muluu… jawab gimana nih..?’ batin gigi.

Matanya bergerak-gerak bingung. Tapi tiba-tiba sebuah lampu 8 watt menyala di atas kepalanya.

“ehm.. ya maksudnya kakak yang bayarin. Ternyata kakak mau beli BB, ya udah deh,ga jadi. Sungkan jadinya mau minta traktir.”

Mendengar alasan gigi, Nue tertawa kecil. “jiah haha.. pantes perasaanku ga enak, ternyata mau dipalak! Haha…”

Gigi hanya tersenyum. ia tersenyum lega karena Nue mempercayai alasan yang ia buat. Meskipun sebenarnya hatinya masih gelisah.

“hehe.. tenang, ntar aku traktir dah, tapi tunggu gajian keduaku ya. Saat ini buat pacar pertama dulu. Kamu -pacar kedua- antre dulu.. hehe” Sambung Nue dengan wajah tengil.

“hah? Pacar kedua apaan??! Ogah! Najis!” Gigi segera menyembunyikan wajahnya yang memerah lagi, sementara Nue tertawa terpingkal-pingkal.

Yup, Nue berhasil membuat Gigi menjadi orang paling munafik hari ini. Membuat Gigi berbohong pada dirinya sendiri. Bagaimanapun Gigi sangat menyayangi Nue. Bahkan cukup menyenangkan bagi Gigi walau hanya menjadi pacar kedua…. meski itu cuma mimpi.

‘kriiiing,,,’

Bel berbunyi lagi dengan berisik. Gigipun bergegas berdiri dan membenarkan posisi tasnya. “kak, aku ada kuliah lagi nih. Udah ya..”

Nue yang baru saja berhenti tertawa menatap Gigi dengan heran, meski masih tersisi segurat senyum di bibirnya. “buru-buru amat Gi? Paling juga dosennya belum dateng. Udah duduk di sini aja dulu..”

Gigi meggeleng dan ia melambaikan tangannya pada Nue sambil berjalan meninggalkannya. “gak ah.. dosennya galak! See you kak..”

Tanpa perlu melihat respon Nue, Gigi segera berbalik dan melangkahkan kakinya dengan cepat. Dari kejauhan ia bisa mendengar suara ‘see you’ dari Nue.

Saat Gigi sudah sampai di ambang pintu kelasnya, ia menoleh ke arah gazebo. Ia masih bisa melihat Nue dengan jelas darisana. Nue tampak berdiri dari kursi dan berjalan menuju tempat parkir sambil memutar-mutar kunci kontaknya. Ia mungkin akan memesan kejutan untuk Grace itu.

Gigi menggigit pelan bibir bawahnya. Jujur, saat ini hati Gigi benar-benar tidak rela. Entah ia harus menyesal atau justru lega karena tidak memberitahukan sikap Grace yang sebenarnya.

Sikap Grace memang membuat Gigi benar-benar kesal, tapi jika ia melihat ekspresi Nue, entah kenapa perasaan itu mereda. Ia merasa kasihan pada Nue, Ia sudah berbuat banyak untuk Grace, tapi Grace seakan tidak tahu berterima kasih. Gigi bahkan ragu apakah Grace masih punya hati! (sekarang malah perasaan marah itu kembali menyeruak)

“mas, nunggu siapa?”

‘deg..!’

Gigi refleks berbalik ke arah suara yang mengagetkannya itu. Ternyata itu dosennya!

“o..oo.. bukan siapa-siapa.. hehe..” jawab Gigi dengan nyengir kuda.

Melihat raut wajah dosennya yang makin tidak bersahabat, Gigi pun segera mencari tempat duduk.

“pagi-pagi dah disapa pak Gatot.” Celetuk Dody, teman Gigi yang kebetulan saat ini duduk di sebelahnya.

“diem! Aku ga mau disapa lagi gara-gara kita rame sendiri.” Ujar Gigi sedikit ketus, sementara Dody kembali pada posisi duduknya semula sambil tertawa kecil.

Kuliah pun dimulai. Gigi menghirup napas dalam dan memperhatikan Pak Gatot yang mulai berbicara. Jujur, saat ini Gigi tidak bisa mendengar kata-kata dosennya itu. Bukan karena Gigi tuli, tapi karena pikirannya kini masih terpaut pada Nue.

Gigi pun memejamkan matanya, mencoba untuk melepas sejenak bayangan Nue dan Grace dari pikirannya. Untuk saat ini Gigi ingin merelakan kecurangan Grace demi Nue. Ditambah lagi, Gigi masih belum punya bukti konkrit yang bisa menguatkan tuduhannya pada Grace. Gigi tidak ingin perasaan Nue hancur atau justru berpaling menjauhi gigi karena hal itu.

‘ya, untuk saat ini lebih baik aku diam dan aku saja yang sakit, tapi ingat Grace.. lebih baik kamu pintar-pintar menyembunyikan belangmu itu! Jangan sampai kak Nue bersedih karena tahu sifat aslimu itu.’
***

Sepeda motor Nue melaju dengan kecepatan sedang menembus padatnya jalan kota Jember. Perasaan Nue sangat baik hari ini. Ia sudah tidak sabar untuk memberikan kejutan untuk kekasihnya, Grace. Saat ini ia hanya perlu pergi ke ATM terdekat untuk mengirim uangnya.

Saat bibirnya sedang asik bersiul, untuk beberapa saat ia teringat pada gigi. Ekspresi dan sikap Gigi tadi cukup mengganggu pikirannya.

‘Gigi tadi kenapa ya? aneh banget. Sebenernya apa yang ingin ia omongkan ke aku?’

Nue tahu, kalau alasan Gigi tentang pizza itu hanya pengalihan belaka, tapi Nue masih penasaran untuk mengalihkan apa.

Bilik ATM sudah terlihat, Nue pun menghapus pikiran itu sejenak dan kembali pada kejutannya.

‘kapan-kapan aja kamu tanyain lagi. Sekarang ada gadis yang harus kamu bahagiakan Nu..’ batin Nue.

Nue pun menghetikan motornya di depan pintu mesin ATM. Kebetulan saat itu masih ada orang di dalamnya. Nue pun menunggu di depan pintu sambil iseng-iseng ia melayangkan pandangannya ke arah Campus Resto yang letaknya berada tak jauh dari bilik-bilik ATM.

Campus Resto tampak riuh. Wajar saja, karena memang tempat itu adalah tempat tongkrongan favorit remaja Jember. Tiba-tiba saja dari keramaian itu, ada sesuatu yang membuat mata Nue memicing.

Seorang gadis keluar dari pintu CR ditemani dengan seorang cowok di sampingnya.

‘i..itu.. Grace?’ batin Nue setengah tidak percaya.

Kakinya seolah terpaku dan dia tidak mampu bergerak selain berdiri mematung di sana sambil memandangi Grace yang kini duduk di boncengan motor cowok itu. Ternyata mata Grace juga menangkap wajah Nue, ia pun menepuk bahu cowok di depannya dan membisikkan sesuatu. Cowok itu menoleh lalu mengarahkan matanya pada Nue. Ia lalu membelokkan laju motor gedenya ke arah Nue.

“hai honey..” sapa Grace yang baru saja turun dari motor. Wajahnya sama sekali tidak menampakkan rasa bersalah apapun pada Nue.

Sementara Nue hanya tersenyum tipis, itu pun sudah ia paksakan sekuatnya. Ia menoleh ke arah cowok yang juga turun dari motornya dan melepas helm teropongnya. Itu wajah yang juga Nue kenal.

“hey.. Nu.. Nunu ngapain di sini?”tanya Grace lagi .

Nue kembali menatap Grace dan menjawab pertanyaannya dengan nada agak berat. “ini.. mau ngambil uang.”

Grace meng’ooh’ pelan dan saat ia membuka mulutnya untuk bertanya lagi, suara Nue menndahuluinya.

“kamu sendiri.. ngapain di sini?”

Mendengar pertanyaan Nue yang terkesan dingin, Grace tersenyum polos lalu menarik tangan cowok di belakangnya. Tangan Nue sedikit gemetar saat ia melihat Grace memegang tangan cowok itu. Sampai akhirnya Grace melepas tangan cowok itu dan berganti memegang kedua tangan Nue.

“ini lo honey.. Kak Aldo baru dateng dari Jakarta. Jadi ceritanya kita nih, sama anak-anak PSM Pusat juga, habis reuni sambil makan-makan gitu deh.. tadinya aku juga mau ngajak Nunu.. tapi aku inget kalo Nunu ada kuliah, jadi ya ga jadi deh… Nunu nggak papa kan?” tanya Grace dengan polosnya, tangannya menggenggam kedua tangan Nue.

Nue hanya mengangguk pelan. Cowok yang bernama Aldo pun mendekati Nue dan menepuk pundak Nue.

“hoi.. lama ga ketemu, gimana kabarmu Nu? Kamu kok tambah kurus sih?” tanyanya dengan suara yang hangat.

Nue paksakan lagi senyumnya pada Aldo. Bagaimanapun Aldo adalah seniornya. Dia dulu adalah mahasiswa Sastra juga, 2 tahun di atas Nue, dan dia juga anggota UKM PSM Sastra dan Pusat. Dia dulu juga yang menggembleng Nue selain Grace. Hubungan Aldo dengan anggota psm memang sangat dekat, salah satunya pada Grace. Nue memang sedikit tidak suka pada Aldo sejak lama karena kedekatannya dengan Grace. Ia pikir begitu ia lulus dan pergi ke Jakarta untuk bekerja, semuanya akan menjadi baik-baik saja, ternyata sekarang.. dia kembali, dan membonceng Grace di depan matanya.

“baik mas, mas sendiri gimana? Ada angin apa nih, balik ke Jember?” tanya Nue, masih dengan senyum yang dipaksa.

“baik. Ga ada angin apa-apa sih.. hahaha.. kebetulan aja lagi ga ada job di sana, berhubung aku juga kangen ma anak-anak PSM ya aku balik aja..” jawab Aldo yang dengan santainya mengacak-acak rambut Grace. Langsung saja pupil Nue menyempit melihat pemandangan itu.

“mas, dia sudah punya pacar lo.”

Wajah Aldo dan Grace segera berubah sedikit pucat saat mendengar kata-kata Nue. Wajah Nue memang tersenyum, tapi tekanan pada suaranya sangat jelas terasa. Aldo pun segera melepaskan tangannya dari kepala Grace dan memasukkannya ke dalam saku celananya.

“uups.. yeah.. my bad.” Ujarnya pelan.

Grace menatap Nue dengan wajah canggung, ia pun menggoyang-goyangkan tangan Nue dan tersenyum manis pada Nue.
“ehm… kita mau latihan di pusat. Nunu ikut yuk..”

Nue terdiam. Dari wajahnya tampak dia sedang berpikir. Aldo pun ikut membujuknya.

“ikut aja Nu.. kita kan udah lama ga latian bareng.” Ajaknya.

Nue pun mengangkat wajahnya dan memandang kedua wajah di depannya bergantian. “aku ga ikut. aku anterin Grace aja..”

“loh, kenapa? ayo dong honey.. kamu kan udah lama ga latian di pusat..” tanya Grace setengah merengek.

Nue tersenyum tipis sambil menggeleng pelan. “nggak honey.. aku ada kerjaan. Udah yuk, aku anter sekarang.. ayok mas.”

Ujarnya pada Grace, ia juga mengangguk pada Aldo.

Grace pun menurut dan mengikuti langkah Nue menuju motornya. “Nu.. katanya mau ambil uang?” tanya Grace yang tengah mengikuti langkah Nue.

“nanti aja..” jawab Nue singkat.

 

Di perjalanan, keduanya lebih banyak diam. Dalam diam itu, Nue melirik Grace dari kaca spion. Dilihatnya Grace sedang asik memainkan ponselnya.

Tunggu.. mata Nue memicing saat melihat benda yang dipegang Grace saat ini. Benda itu tidak tampak seperti ponsel yang biasa Grace gunakan.

“honey.. sejak kapan kamu punya BB?”

Grace yang semula hanya mengarahkan pandangannya ke arah layar BB, seketika mendongak menatap belakang kepala Nue.

“oh.. ini.. aku habis gajian nih honey.. udah lama aku nabung buat beli ini..”jawab Grace agak lantang utuk melawan arus angin yang cukup kencang.

Nue hanya diam mendengar jawaban Grace. Dilihatnya lagi sosok Grace di spion. Perhatian Grace kini kembali pada layar BB-nya. Nue pun menghela napas dalam.

Beberapa menit kemudian, motor Nue sudah membawa mereka sampai di gedung S, tempat latihan PSM Pusat. Saat motor Nue berhenti dan Grace turun dari boncengannya, Aldo datang dari arah belakang dan masuk ke dalam tempat parkir. Aldo juga membunyikan klakson sesaat ketika berpapasan dengan Nue dan Grace.

Setelah Nue membalas membunyikan klakson sebagai tanda membalas sapaan, ia kembali menatap Grace.

“kamu beneran ga mau ikut?” tanya Grace. Matanya yang bulat hitam tampak memelas pada Nue.

Nue tersenyum sekilas lalu menghidupkan lagi motornya.

“nggak honey.. lain kali aja. Udah ya, kamu hati-hati di sana..”

Saat Nue hendak melajukan motornya, Grace menahan lengannya. Dan saat Nue menoleh, sebuah kecupan hangat mendarat di pipinya.

Beberapa detik kemudian Grace melepas kecupannya sambil tersenyum. lalu ia melambaikan tangan ke arah Nue dan setengah berlari meninggalkannya.

“hehe.. da-dah.. honey…”

Sementara sosok Grace makin jauh dan meghilang, Nue termenung dengan tatapan kosong. Ia buang pandangannya dan ia lajukan motornya kembali ke jalanan kota Jember yang ramai. Bersikap seolah tidak ada hal spesial yang terjadi, dan rintik hujan mulai berjatuhan dari langit yang mendung. Sekelabu rongga dada Nue saat ini.
***

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s