HYMN OF MY HEART 6

 

Bar 6, the Fact is ‘F*ck’!

“ya udah kak, aku mau pulang dulu ya..” ujar Gigi yang kini sudah bangkit dari kursinya.

Nue yang baru menelan obatnya langsung mengeryit heran.

“lho, pulang? Udah malem ini. Ga nginep aja?

‘hah nginep? Bareng kak Nue? Dalam satu kamar??’ Gigi menjerit dalam hati meski ekspresinya hanya tersenyum canggung.

“ehmm.. nggak kak.. sungkan sama kakak dan pak kos. Lagian kosnya Gigi juga ga begitu jauh.” Tolak Gigi hati-hati. Ia sudah bisa membayangkan dirinya tidak bisa tidur jika berdua dengan Nue dalam kamar itu.

“oh.. oke kalau gitu aku antar ya.” Nue kini mengambil kunci motornya yang Gigi letakkan di meja.

Gigi segera saja menggelengkan kepala dan melambaikan tangannya, “nggak usah kak..! aku bisa jalan kok, kakak istirahat aja!”

Nue menoleh pada Gigi, melihat ekspresinya apakah ia yakin dengan yang ia katakan. “yakin, nih?”

Gigi mengangguk, ia lalu membuka pintu dan menatap keluar.

‘jedyarrr….’

Gigi melongo tak bergeming, sementara Nue yang di belakangnya hanya garuk-garuk kepala sambil tertawa.

“wahaha.. sudah digembok pagarnya.. sorry Gi, di sini ada jam malam, aku lupa bilang..”

Gigi masih termenung dan sebelah matanya bergerak-gerak.

‘apa-apaan nih??!! Sejak kapan tu gerbang digembok?’

“udah Gi, mending nginep aja.. besok subuh aja pulangnya.“ tawar Nue.

Gigi perlahan berbalik dan menatap Nue, Nue hanya mengangkat bahunya seakan berkata,’sorry, but there’s nothing i can do’

“beneran gapapa nih, kak?” tanya Gigi ragu.

Nue mengangguk, “iya gapapa.. besok aku bilang ke pak kos. Udah, santai aja..’

Dengan santainya Nue berkata seperti itu, sedangkan Gigi deg-degan tak karuan. Bagaimana Gigi tak grogi, saat ia melihat ranjangnya,tidak begitu besar, juga tidak terlalu kecil. Dengan kata lain, ranjang itu sangat pas untuk dua orang. Itu artinya, Gigi dan Nue…

“sreett…”

“eh?” wajah Gigi berubah menjadi pokerface saat Nue menggelar karpet ukuran sedang di samping ranjangnya. Ia juga mengambil salah satu bantal di ranjang dan meletakkannya di atas karpet itu.

“nah, kamu tidur di kasur aja.” Ujarnya sambil membersihkan karpetnya dengan penebah.

“lo..lho… kok gitu? Mending aku aja yang di bawah.. kakak di atas.. ee.. maksudku aku tidur di bawah sini terus kakak di atasnya.. lho? Duh.. “ Gigi mengacak-acak rambutnya. Gara-gara grogi, ia jadi tidak bisa mengerti apa yang akan ia ucapkan.

Nue tertawa kecil melihat tingkah Gigi itu. “haha… ngomong apa sih? Udah kamu di kasur aja, gapapa.. anggap aja kasur sendiri.” Ujarnya yang sudah merebahkan dirinya di karpet itu.

Gigi masih memasang wajah sungkannya, “hmm.. tapi..”

“zzz..” desis Nue. Gigi tahu Nue hanya pura-pura mengorok untuk mengakhiri perdebatan.

Gigi pun menghela napas panjang lalu meletakkan tasnya di atas meja. setelah itu ia merebahkan tubuhnya yang kecil itu di kasur Nue.

‘empuk..’ batin Gigi.

Beberapa menit berlalu. Gigi masih berkedip-kedip menatap langit-langit. Suasana di sana hening sekali. Cuma ada suara detak jam dinding dan serangga di luar.

Benar dugaan Gigi sebelumnya, ia tidak mungkin bisa tidur jika sekamar dengan Nue, memang tidak seranjang sih, tapi gregetnya masih ada.

Gigi menoleh ke arah jam dinding, sudah pukul 01.17. Gigi pun mengalihkan lagi pandangannya ke arah langit-langit.

‘kak Nue sudah tidur belum ya..?’

Penasaran, akhirnya perlahan ia berbalik dan mengintip Nue yang ada di samping bawah kasurnya. Tampak Nue sudah memejamkan matanya, lelap sekali. Gigi bisa memakluminya. Setelah mengalami kejang, badannya pasti kelelahan. Wajar jika ia tidur begitu lelap.

Gigi tersenyum saat melihat ekspresi Nue saat tidur. Bahkan ia terlihat sangat manis ketika tidur. Dan dia ternyata tidak mengorok, jadi terbukti dengkuran Nue yang tadi hanya gurauan saja. Kalau melihat Nue seperti ini, Gigi sama sekali tidak menyangka kalau dia penyandang penyakit epilepsi. Meskipun sebenarnya kenyataan itu sama sekali tidak meggoyahkan perasaan Gigi pada Nue. Bahkan etah kenapa Gigi justru merasa makin sayang padanya.

lama Gigi memandangi wajah Nue, hingga akhirnya ia melepas senyum di wajahnya. Dan dalam hati ia bergumam.

‘andai saja.. kakak ga punya pacar. Andai saja aku cewek.. pasti aku ga akan ragu buat nyatain perasaanku ke kakak. Tapi..” perlahan Gigi menutup matanya.

‘andai saja..’
***

“kriiiingg…!!”

Tangan Nue seperti ular yang buta segera meraba-raba ponselnya. Begitu dapat, langsung saja ia matikan alarm yang berisik itu. Dengan agak malas Nue bangun dan mengucek matanya. Matanya segera terbuka ketika menoleh ke arah samping, Gigi masih terlelap dengan wajah menghadap ke arahnya.

Nue terdiam beberapa lama dan memandang wajah Gigi. Wajahnya tampak begitu polos dan manis. Senyum tipis melengkung di bibir Nue. Perlahan tangannya bergerak mendekati wajah Gigi. Semakin dekat tangan itu ke pipi Gigi, hingga…

“gi, bangun..” ujar Nue sambil menepuk-nepuk pelan pipi Gigi.

Gigi pun membuka matanya yang rasanya masih rapat. dengan satu helaan nafas panjang ia bangun dan mencari ponselnya.

“ehm.. jam berapa ini kak?”

“jam 4.20, sekarang kamu sholat dulu sana. Aku mau ke pak kos, minta dibukakan pintu gerbangnya.” Nue berdiri dan menggulung lagi karpet yang tadi ia pakai.

Sementara Gigi mengangguk, masih dengan mata ¾ terpejam. Rasanya masih belum puas ia tidur, mengingat semalam ia tidak bisa tidur. Gigi pun memaksakan untuk bangun. Dengan langkah gontai ia menuju kran air yang terletak di persis di depan kamar Nue.

“syuurr… kricik kricik..syurrr…. “

‘brrr…dinginn..’ batin Gigi saat tangannya pertama kali tersentuh air.

Gigi sudah selesai wudlu, ia kembali ke kamar Nue dan memakai sarung yang Nue sudah sediakan, sementara Nue kini keluar untuk mengambil wudlu.

Lima menit kemudian Gigi sudah menyelesaikan sholatnya. Saat ia sedang merapikan sarung dan sajadah, dilihatnya Nue baru kembali.

“sebentar ya Gi, orangnya baru bangun tidur. Sebentar lagi dibuka kok gemboknya.” Terangnya.

“oh.. oke.” Jawab Gigi singkat.

Nue kini mengambil sarung dan memakainya, lalu tiba-tiba ia berbalik pada Gigi. “oh ya, jangan pulang dulu sebelum aku selesai sholat, oke??”

“iyaaa…”

Sepertinya Nue tidak perlu bilang begitu, karena kini Gigi justru berbaring lagi di kasur.

“woi keboo..! kok tidur lagi??” sentak Nue sambil menepuk kaki Gigi.

Gigi tidak menghiraukan dan membalikkan tubuhnya sambil memeluk guling. “ehmm… ngantuk nih, tidurku nanggung!”

Melihat tingkah Gigi itu, Nue hanya menggeleng-gelengkan kepalanya sambil tersenyum, lalu ia pun memulai sholatnya.

Beberapa lama kemudian, Gigi mengubah posisi tidurnya. Meski tidur yang kedua, tidurnya nyenyak sekali. Agak lama, akhirnya ia mulai terbangun, dan matanya langsung terbelalak ketika melihat pemandangan di depannya.

Tampak Nue yang masih bertelanjang dada sedang memakai celana panjangnya.

‘gleg’ Gigi menelan ludah.

Meskipun Nue menghadap arah yang berlawanan, tapi Gigi masih bisa melihat lekuk tubuh Nue, tidak begitu besar berotot tapi juga tidak terlalu kerempeng. Entah kenapa Gigi menyesal tidak terbangun dari awal, sehingga ia bisa melihat Nue yang belum memakai boxer, hehe… plak!! #kaplok.

Begitu Nue memakai kemejanya dan mulai berbalik, Gigi buru-buru menutup lagi matanya. Bertingkah seperti masih tidur.
Selama itu, Gigi tidak mendengar banyak suara lagi.

Dalam kegelapan itu, diam-diam Gigi penasaran dengan kondisi disekitarnya, terutama kondisi Nue saat ini.

‘kok sepi sih? Kak Nue lagi ngapain? Apa ganti baju lagi? Hehe..’

Karena semakin penasaran dan juga karena matanya sudah tidak bisa terpejam lagi, perlahan ia pun membuka matanya.

Lagi-lagi mata Gigi terbelalak, ketika di hadapannya Nue sedang memangku dagunya di tepi kasur, memandangi Gigi. Jarak hidungnya dengan hidung Gigi hanya terpaut beberapa inchi saja, otomatis wajah Gigi memerah.

Gigi langsung saja bangun dari bantalnya, “bwahhh..!! kak Nue ngapain?”

Nue terkekeh pelan, “hehe.. nunggu kamu bangun lah.. sudah jam berapa ini?”

“hah? Emang aku tidur berapa lama?” Gigi segera saja menengok jam dinding. “hah?? Jam setengah tujuh lebih! Kakak kok ga bangunin aku sih?”

“habisnya nyenyak banget, ga tega jadinya. He he he..” ujar Nue dengan nyengir kuda.

Gigi melongo sambil menggerak-gerakkan kelopak bawah mata kirinya, lalu dengan sebuah hentakan ia bangun dari kasur itu dan buru-buru keluar dari kamar Nue.

“lho, Gi.. mau kemana?” tanya Nue heran.

“mau ke Ancol! Ya pulang lah.. aku ada kuliah jam 7 ini..!” seru Gigi yang sedang memakai sandalnya. Karena terburu-buru jadi salah masuk terus kakinya.

“oh.. hehehe.. ya dah aku anterin, biar cepet.” Ujar Nue, ia langsung mengambil kunci motornya.

“eh? Gapapa nih?” tanya Gigi ragu, tapi juga pengen.

Nue berjalan melewatinya dan menghidupkan mesin motornya, memanaskannya. “iyalah gapapa.. kamu dah banyak bantu aku semalem juga..”

Gigi pun mengangguk, meskipun sebenarnya ia tidak mengharapkan balasan dari Nue untuk apa yang ia lakukan semalam. “ooh.. oke.”

Jadilah Gigi di bonceng Nue menuju kos-kosannya. Angin pagi yang dingin membuat mata Gigi kering. Di tengah hembusan angin yang mendera itu, lagi-lagi tangan Gigi gatal. Gatal untuk memeluk tubuh Nue. Tapi saat tangan Gigi sudah nyaris tidak terkontrol lagi, suara Nue memanggil namanya, membuat tangannya kembali diam.

“Gi..! katanya kamu orang Jember, kok ngekos?” tanyanya agak lantang.

“iya, rumahku jauh dari kampus.. ga ada kendaraan juga, ya udah ngekos aja, praktis.” Jawab Gigi.

Nue meng “ooh” singkat, lalu tidak ada lagi perbincangan diantara mereka hingga motor Nue berhenti di depan gerbang kos-kosan Gigi.

“oke, makasih kak..” ujar Gigi yang tengah menyentuh gagang gerbang.

“oke, sama-sama.” Nue sudah hendak mengegas motornya,tapi suara Gigi mencegahnya.

“kak..!” panggil Gigi, wajahnya tampak serius memandang Nue.

Nue megeryitkan alisnya melihat ekspresi Gigi. “hm? Ada apa?”

“ja.. jangan lupa minum obat..”

Nue termenung setelah Gigi mengatakan hal itu, setelah itu ia tersenyum dan mengegas motornya. “iya.. makasih “ ujarnya, lalu ia pun melajukan motornya.

Sementara Gigi masih berdiri di sana, memandang sosok Nue yang kian menjauh dan akhirnya menghilang.
***

“bruk bruk brukk..!!”

Deru langkah kaki Gigi yang menuruni tangga menggema di kos-kosannya. Tampak ia tergesa-gesa.

‘yah, apes..! udah jam tujuh lewat baru berangkat..!’ gerutu Gigi.

Tempat kos Gigi memang tidak begitu jauh dengan kampus, tapi juga butuh waktu cukup lama untuk bisa sampai ke kampus, apalagi hanya dengan berjalan kaki.

Akhirnya Gigi harus berjalan cepat dan melalui jalan-jalan tikus supaya bisa cepat sampai. Megingat wajah angker dosennya saja sudah membuatnya merasa berada di uji nyali.

Setelah terseok-seok melewati jalan sempit dan bersemak, akhirnya ia bisa sampai di jalan yang agak luas. Tinggal beberapa meter menuju jalan raya, dan beberapa ratus meter lagi menuju kampusnya. Hyuuh… -_-

Baru saja ia menyusuri jalan itu beberapa langkah, ia berhenti dan cepat-cepat ia bersembunyi di balik pohon di dekatnya. Sementara sebelah matanya mengintip dari balik batang pohon.

Beberapa meter di depannya tampak sepeda motor besar berhenti di depan sebuah rumah. Motor itu dikemudikan seorang cowok yang tidak begitu jelas terlihat wajahnya. Cowok itu membonceng seorang cewek yang familiar di mata Gigi.

‘Kak Grace?? Ngapain Kak Grace pagi-pagi… dibonceng sama cowok lain lagi??’

Cewek itu memang Grace, tidak salah lagi. Gigi terus mengawasinya dengan dada berdebar-debar.
Tampak Grace turun dari motor itu, lalu dengan mesranya ia mencium…

‘hah? Ciumm??’

Mata Gigi benar-benar terbelalak saat Grace dengan santainya mencium bibir cowok itu, di tempat umum!

Gigi buru-buru berbalik dan bersandar pada batang pohon. Pupilnya masih menyempit da dadanya berdebar-debar. Berdebar kencang karena terkejut, juga marah.

‘kak Grace?? Bisa-bisanya..’

Gigi pun berbalik dan mengintip lagi. Kini Grace tersenyum dan melambaikan tangannya pada cowok itu yang segera berlalu, lalu ia pun memasuki rumahyang tampaknya kos-kosannya.

Begitu Grace menghilang, Gigi berjalan mendekati kos-kosan itu. Matanya dengan tajam menatap kos-kosan itu, seolah yang ia pandangi saat ini adalah Grace. Dadanya sudah dipenuhi oleh api kemarahan yang siap meledak keluar.

‘kak Grace, bisa-bisanya kamu… Kamu ternyata sama sekali ga pantes buat kak Nue! Nggak, aku ga rela!’

Gigi pun meninggalkan tempat itu. Tekadnya sudah bulat. Dia tidak bisa membiarkan hal itu. Ia tidak rela melihat Nue yang begitu mencintai Grace, tapi nyatanya Grace bermain di belakangnya. Gigi sama sekali tidak ingin mengalah pada orang seperti itu. Tidak!
***

Gigi menjatuhkan tubuhnya dengan penuh kelegaan di kasurnya. Seharian ia kuliah di kampus. Jadwal kuliahnya memang marathon dari jam 7 pagi hingga menjelang maghrib.

Untuk sejenak ia menikmati relaksasi pada punggungnya sambil berkedip-kedip menatap langit. Pemandangan tadi pagi masih terpatri jelas di benaknya, seolah baru saja terjadi.

‘ Grace keterlaluan! Kak Nue harus tahu hal ini. Dia harus tahu kalau orang yang dia cintai itu sama sekali ga pantes buat dia!’

Dengan tekad yang mantap itu, dan dengan sebuah hembusan napas dalam ia bangkit lalu segera ke kamar mandi.

‘ya, aku harus cepet ngasi tahu kak Nue..’gumamnya dalam hati

Usai mandi dan sholat, ia pun segera berangkat menuju kos-kosan Nue. Letak kos-kosan Nue agak jauh, sehingga akan butuh waktu lama bagi Gigi untuk bisa sampai ke sana. Namun itu bukan masalah bagi Gigi yang sudah terlanjur terbakar emosi.

Gigi akhirnya sampai di depan gerbang kos-kosan Nue. Ia membungkuk berpangku pada lututnya sambil menghela nafas. Karena berjalan dengan tergesa dan emosi membuatnya cepat lelah. Setelah ia meghapus sedikit peluh di dahinya, ia pu melangkah masuk ke dalam kos-kosan itu.
Begitu sampai di depan kamar Nue, ia mengetuk pelan pintunya.\

“dok dok dok… assalamualaikum…”

Hening, tidak ada jawaban.

“dok dok dok… kak Nuee….”

Masih tidak terdengar jawaban.

Akhirnya Gigi pun mencoba mengitip di celah tirai yang sedikit terbuka. Kamarnya gelap.

‘apa kak Nue tidur?’ tanya Gigi dalam hati.

Ia pun menghela napas panjang sambil berbalik. Ia termenung sesaat. Ia tidak melihat sepeda motor Nue. Ya, dia baru sadar kalau sepeda motor dan sepatu Nue tidak ada!

Lutut Gigi serasa lemas. Jauh-jauh ia berjalan kaki untuk bisa sampai ke sini, dan ternyata orang yang ia cari tidak ada di sana.

‘kak Nue ke mana sih??’ bisik Gigi.

“cari siapa dek?”

Gigi menoleh pada suara yag megagetkannya itu, ternyata seorang cowok yang sedang memanaskan mesin motornya.

“emm.. cari kak Nue..”

Cowok itu mgeryitkan alisnya,”Nue? Wah, dia lagi keluar dek. Kerja katanya..”

‘kerja? Kemarin baru kambuh sekarang kerja lagi??’

“hmm.. ya udah deh. Makasih ya kak.” Ujar Gigi sambil melangkahkan kakinya meninggalkan tempat itu.

“oke..” jawab cowok itu singkat.

Sementara Gigi melangkah dengan kecewa.

‘padahal ini urgent, tapi kak Nue malah ga ada. Ya sudahlah.. besok. Besok harus..!’

Sementara itu, di tempat lain, Nue tengah sibuk dengan komputer di bilik operator. Matanya tampak serius memandangi layar komputer. Apa sih yang Nue lihat? Bokep kah? Hehe..

Pastinya bukan bokep. Saat ini dia sedang menuggu seseorang di Fb. Matanya berubah cerah ketika sebuah pesan chat mucul di fb-nya. Segera saja dia buka chat itu.

‘barangnya sudah ada nih. Fotonya ntar aku tag ke kamu.’

Nue pun menunggu sebentar hingga muncul sebuah notifikasi.

Begitu ia buka, ternyata benar, itu foto yang daritadi ia tunggu-tunggu.

Seketika senyum Nue mengembang. Ia pun membalas chat orang tadi. “sip.. besok deh aku transfer ya. kita deal, kan, harga segitu?”

Agak lama, barulah orang itu membalas chatnya. ‘yo’i. Santai mah, kalo sm aku.. btw buat siapa sih? Tumben kamu suka barang beginian.’

Nue tersenyum melihat kalimat itu, dengan lincah jarinya membalas pertanyaan itu. ‘ada sudah.. hehehe. Oke thx ya mas.’

‘oke’ balas orang itu tak lama kemudian.

Setelah itu Nue menyandarkan punggungnya di kursi operator yang empuk. Kepalanya ia sandarkan pada kedua tangannya yang menyilang, sementara wajahnya menerawang ke jendela. Tersenyum, membayangkan bagaimana ekspresi Grace saat ia menerima kejutannya itu.

Malam itu, Nue datang di warnet tempat ia bekerja sebenarnya bukan karena sift kerja, tapi karena ia menerima gaji pertamanya. Kebetulan omenk juga izin tidak kerja karena ada urusan (meskipun Nue ragu apa benar itu urusan yang mendesak.) akhirnya Nue pun menjaga warnet malam ini. Itu bukan masalah bagi Nue, toh dia sudah mendapatkan apa yang ia inginkan.

Setelah beberapa bulan bekerja, gaji yang ia kumpulkan ditambah dengan uang beasiswanya yang baru saja cair, sudah cukup untuk membeli apa yang Grace inginkan.

Nue sengaja memesan pada kenalannya di batam yang bekerja di bea cukai, supaya bisa mendapatkan barang dengan harga yang lebih miring. Hehe.. BM sih.. tapi setidaknya itu seri terbaru , dan setidaknya Grace tidak akan tahu.😛

‘sabar ya Honey… sebentar lagi, akhirnya aku bisa bikin kamu senang.. ‘ bisiknya dalam hati. Membiarkan angannya membumbung tinggi. Seolah tidak pernah takut, untuk jatuh ke bawah, ke dalam sebuah kenyataan yang saat ini Gigi pendam.
***

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s