HYMN OF MY HEART 4

 

Bar 4, Do=Mi

Jalanan kota Jember mulai lengang saat ini. Tenda-tenda warung yang semula padat menghiasi trotoar jalanan di sekitar kampus, satu per satu mulai menghilang. Gerobak-gerobak sudah di dorong pemiliknya kembali ke rumah. Kendaraan juga sudah mulai kian jarang. Di jalan yang lengang itu nue mengendarai motornya, sementara Grace dalam boncengannya. Tidak ada banyak kata yang terucap dari keduanya, kecuali nue yang diam dan fokus pada setirnya dan Grace yang menyandarkan pipinya di punggung nue dan melingkarkan pelukannya dengan manja.

“nu..” panggil Grace.

“ya?” jawab nue.

“kamu kok baik banget sama anak itu, nu?”

“anak itu? Maksudnya?”

“ya siapa lagi? Si Anggian itu.. kok kamu segitu getolnya belain dia.. kenapa sih?”

Mendengar pertanyaan Grace, nue terdiam sesaat lalu tertawa pelan. “haha.. aku juga ga tau tuh.. mungkin karena dia sama kayak aku..”

Grace melepaskan sandarannya dan memasang raut heran. “sama apanya, Nu?”

Nue tersenyum kecil, “ya sama.. dulu aku juga kayak dia. Kayak kamu ga inget aja, dulu kamu kan yang sering mukulin aku pake kertas partitur? Hehe..”

“hmm.. nggak juga sih.. kamu beda, honey.. kamu ga nangis waktu aku omelin..” ujar Grace yang menyandarkan lagi pipinya pada punggung nue.

Nue hanya menghembuskan nafas sekejap dan tersenyum. “temenin aku makan ya honey..” tawarnya.

“ehm.. maaf honey.. aku capek banget malem ini.. pengen cepet tidur..”jawab Grace sedikit merengek.

“oh.. oke..” kata nue yang tersenyum meski terdengar sedikit rasa getir dari suaranya.

Setelah itu tidak ada lagi perbincangan diantara keduanya. Membiarkan suara angin yang terbelah saat motor nue melaju menjadi musik serenade bagi keduanya.

Sementara itu, Gigi duduk di bingkai jendela kos-kosannya. Merenung dan menatap bulan yang bersinar anggun. Di tangannya, selembar kertas partitur lusuh melambai-melambai tersambut angin malam yang dingin. Sementara di tangan satunya, tergenggam ponsel yang menyala redup. Tampak message box yang kosong dan kursor berkedip-kedip, menunggu input dari pemiliknya. Namun Gigi masih terdiam. Wajahnya tampak seperti pualam yang dingin saat sinar malam berbulan yang putih kebiruan menerpa wajahnya. Perlahan ia angkat ponselnya, dan melihat kursor yang berkedip padanya. Jarinya sudah menyentuh keypad, mengetikkan nama ‘Kak Nue’ di kotak nomor tujuannya. Dan tangan Gigi berhenti lagi saat akan menulis pesannya. Cukup lama Gigi diam melihat layar ponselnya. Hingga akhirnya ia meminimize message boxnya dan meletakkan ponselnya ke lantai.

Wajahnya kembali menatap langit. Mencoba mencari alasan, mengapa ia tidak sanggup meski hanya mengirimkan ucapan ‘selamat tidur’ padanya. Pada akhirnya hanya sebuah jawaban pahit yang ia dapat.

#Talking to the Moon
By: Bruno Mars

I know you’re somewhere out there
Somewhere far away
I want you back
I want you back
My neighbors think
I’m crazy
But they don’t understand
You’re all I have
You’re all I have

At night when the stars
light up my room
I sit by myself

Talking to the Moon
Try to get to You
In hopes you’re on
the other side
Talking to me too
Or am I a fool
who sits alone
Talking to the moon

I’m feeling like I’m famous
The talk of the town
They say
I’ve gone mad
Yeah
I’ve gone mad
But they don’t know
what I know

Cause when the
sun goes down
someone’s talking back
Yeah
They’re talking back

At night when the stars
light up my room
I sit by myself
Talking to the Moon
Try to get to You
In hopes you’re on
the other side
Talking to me too
Or am I a fool
who sits alone
Talking to the moon

Ahh Ahh,
Ahh Ahh,

Do you ever hear me calling?
Cause every night
I’m talking to the moon
Still trying to get to you

In hopes you’re on
the other side
Talking to me too
Or am I a fool
who sits alone
Talking to the moon

I know you’re somewhere out there
Somewhere far away
***

“well.. sudah siap?” tanya nue.

Gigi mengangguk dan membuka partitur hymnenya. “siap..!”

“oke, kita mulai dari awal ya.. 1..2..3.. solfami..sol..sol..” pandu nue, yang diikuti oleh Gigi.

Malam ini adalah latihan eksklusif Gigi yang pertama. Dibilang eksklusif karena berlatih hanya berdua dengan nue dan di waktu yang terpisah dengan jadwal latihan rutin. Gigi sudah pernah mengalami latihan semacam ini begitu juga dengan semua sensasinya. Sensasi saat bernyanyi hanya berdua dengan nue, saat nue berjarak begitu dekat dengannya… ini sudah terjadi di pertemuan sebelumnya. Tapi Gigi masih belum bisa menghilangkan perasaan gugup saat berdua dengan nue. Bayangkan Gigi harus mengalami ini selama beberapa minggu ke depan..! @_@

“eit,, salah Gi.. sol sol do…” koreksi nue.

Gigi menghela nafas panjang. Sudah berkali-kali ia ‘jatuh’ di bagian yang sama. (aku terjatuh dan tak bisa bangkit lagi~… #nyanyi)

“ayok lagi, ikutin aku ya.. solfaremifasol..sol.. solsoldo…la..do..sol..”pandu Nue dengan sabar.

Gigi pun mencoba mengikuti suara nue, tapi tetap saja, ia salah pada bagian ‘do’ tingginya. Gigi pun berjongkok sambil mengacak-acak rambutnya.

‘kenapa aku ga bisa-bisa sih? Ini karena ada nue, apa akunya yang keterlaluan bego’nya??’ racau Gigi dalam hati.

Nue melihat rasa frustasi Gigi itu. Ia pun berjalan menuju tasnya yang ia letakkan di meja gazebo tak jauh dari sana. Di ambilnya sebotol air mineral dan ia lemparkan pada Gigi.

“nih, minum dulu.”ujarnya.

Tidak siap dilempari botol, Gigi pun dengan gelagapan menangkap botol itu. “eits,, pwuh.. bilang-bilang dulu lah kalo kalo mau lempar..! kena kepala lumayan nih..!”

“haha.. biar deh kena kepala, kali aja otakmu langsung nyambung, hehe..” gurau nue yang duduk di kursi gazebo.

Gigi menatap nue dengan tatapan protes sambil meminum airnya. Setelah puas menghilangkan dahaganya, ia pun menutup kembali botol itu dan melemparnya pada nue.

“mau di lempar botol kek, sepatu kek, sepeda kek, pembalut kek, aku juga ga bakalan bisa nyanyiin lagu hymne ini! Huuft… tau deh, kayaknya ada yang salah sama lagunya.”

Dengan sigap nue menangkap botol itu dan membuka tutupnya, “sabar… buat bisa nyanyi lagu hymne itu butuh waktu Gi.. lagunya emang agak sulit, tapi begitu kamu sudah matang notasinya, yakin deh, kamu ga bakal lupa sama lagu itu sampai kapanpun.” Terang nue yang kini menegak airnya. (sebentar, pembalut? #batin nue heran.)

Mendengar itu, Gigi memiringkan bibirnya lalu menepuk pelan partitur di tangannya. ‘lagu kayak gini, jangankan mateng, hapal aja susah!’ batin Gigi.

Nue terus melihat reaksi Gigi itu meski sedang minum. Setelah beberapa tegukan, ia menutup botol air minumnya dan memasukkannya kembali ke dalam tas pinggangnya. “kamu nyerah, gi?” tanya nue tiba-tiba.

Gigi menoleh pada nue sesaat lalu kembali menatap partitur di tangannya sambil menghembuskan nafas dalam. “ya nggak nyerah sih.. Cuma pesimis aja, aku bakal bisa nyanyiin lagu ini..”

Nue terdiam dan mengangguk pelan. Ia tahu perasaan Gigi. mempelajari sebuah lagu memang tidak mudah. Ini bukan lagu yang bisa dinyanyikan hanya dengan mendengarkannya lewat headset dan menyanyikannya dengan beberapa improvisasi-improvisasi seperti penyanyi di televisi. Ini paduan suara. Semua lagu yang dinyanyikan harus sesuai dengan partitur yang ada. Lagu itu harus dibaca dan dihafal. Tidak seperti menyanyi biasa yang bisa berlatih hanya dengan mendengarkan lagunya dan menghafal liriknya, melakukan beberapa improvisasi saat lupa lirik atau notasinya, dalam paduan suara, setiap not harus dibunyikan dengan tepat dan dengan ketukan yang tepat pula. Salah sedikit saja, sudah merusak keindahan seluruh lagu itu. Itulah kenapa nue dengan cermat mendengarkan notasi Gigi dan tak segan untuk menghentikannya bila ia salah. Pasti itu juga yang membuat Gigi merasa frustasi. Nue tidak bisa membiarkan Gigi bertahan dengan perasaan seperti itu.

“Gi, kalau boleh tahu, apa sih alasanmu masuk PSM?”

Mata Gigi sedikit terbelalak saat mendapat pertanyaan seperti itu dari nue. Karena memang sejak awal motivasi Gigi untuk masuk UKM itu adalah karena Nue.

‘hah? Masak aku harus jawab “karena kamu”..? waaaahhh.. bisa kacau entar..! hmmm.. tenang Gi.. pake alasan klise aja dah..’

“ehmm… soalnya pingin cari pengalaman aja dalam bidang tarik suara..”

Yup, sebuah jawaban yang klise. Setidaknya Gigi tidak perlu mengutarakan isi hatinya.

Tidak ada perubahan ekspresi pada wajah nue, tanda bukan itu jawaban yang ia harapkan. “well.. yang lain?”

‘mampus.. harus jawab apa? Ga ada alasan yang lebih kuat apa ya?’ tanya Gigi pada dirinya sendiri, celakanya pikirannya tidak mampu menjawab pertanyaannya.

Melihat Gigi yang masih terdiam berpikir, nue melanjutkan pertanyaannya, seperti detektif yang kelaparan. “pastinya ada alasan lebih dari itu yang bikin kamu mau gabung ke PSM ini. Aku liat dari karakter kamu, kayaknya kamu bukan tipe orang yang suka dengan seni tarik suara.. aku harap aku salah sih.. tapi apa sih yang kamu inginkan dari PSM ini?”

Gigi terdiam beribu bahasa. Analisis nue tepat sekali. Ia bukan orang yang suka berkompromi dengan nada-nada, juga bukan orang yang telaten. Secara kasat mata, PSM sangat tidak sesuai untuk dirinya. Sungguh beruntung dia bisa lolos seleksi, meskipun akhirnya saat ini dia sukses membuktikan bahwa pilihannya masuk ke PSM adalah salah. Kini Gigi tidak punya waktu untuk menyesali keadaan. Nue disana sedang menunggu jawaban darinya.

“hmm.. yang pasti ada lah.. rahasia tapi.” Ujar Gigi final.

Nue mengeryitkan dahi sesaat pada Gigi. Gigi membalasnya dengan senyuman tanpa dosa. Melihat itu, nue hanya tersenyum kecut sambil mengusap hidungnya. Lalu ia pun memandang Gigi, Gigi langsung saja menghindari matanya, ia tidak sanggup melihat langsung mata orang yang ia taksir. Bisa mati salting dia..

“kamu masih inget saat kamu diuji pemilahan suara?”tanyanya.

Gigi mencoba mengingat-ingat kejadian itu, saat ia nyaris masuk suara bass karena tidak sanggup membunyikan nada ‘mi’ tinggi. “ehm.. ya.. kenapa?”

“saat itu, kamu nyaris gagal masuk tenor kan? Tapi pada akhirnya kamu bisa juga masuk tenor setelah mencoba berulang kali. Aku sendiri heran kenapa kamu getol banget buat nyoba, aku pikir kamu nggak akan sanggup. Tapi ternyata kamu bisa, menembak nada ‘mi’ tinggi itu.” Ujar nue.

Gigi hanya terkekeh saat mengingat kejadian itu.
Nue pun berdiri dan berjalan ke arah Gigi duduk.
Gigi sempat ‘dag dig dug’ ketika nue duduk tepat disampingnya.

“kamu tahu, nada ‘do’ tinggi dalam lagu hymne ini.. sebenarnya adalah nada ‘mi’ tinggi dalam kunci C, nada yang sama yang bisa kamu bunyikan saat itu.”

Mata Gigi sedikit terbelalak, dan dengan perlahan ia melihat partitur lagu hymne di tangannya. Di bagian kiri atas, terdapat tulisan do=E.

“tapi kak.. ini kan kunci E, ‘do’ tingginya tinggi banget, nggak kayak nada ‘mi” tinggi saat itu..”kilah Gigi.

Mendengar itu, nue tersenyum lalu memegang tangan Gigi. “ayok ikut aku..”

‘deg…’ mungkin tangan nue menggenggam lengan Gigi saat ini, tapi rasanya nue seperti menggenggam jantung Gigi erat-erat hingga rasanya akan meledak. Ini pertama kalinya nue menggenggam lengannya.

“ke.. kemana kak?”tanya Gigi sedikit tergopoh-gopoh saat nue menariknya ke suatu tempat.

“Ke aula..” jawab nue singkat.

“ngapain?? Di situ kan angker??” protes Gigi.

“ah, cemen… udah ikut ajaa..” ujar nue yang membuat Gigi tidak bisa mengelak lagi.

Setelah nue mendapat kunci aula dari security, ia pun membawa Gigi masuk ke ke dalam aula.

Di salah satu sudut ruangan aula itu terdapat sebuah piano yang biasa dipakai PSM untuk latihan. Nue pun membawa Gigi menuju piano itu. Disana nue melepaskan genggaman tangannya pada Gigi dan membuka tutup piano itu.
Gigi hanya berdiri diam melihat nue yang sedang memainkan tuts-tuts piano itu sambil memegangi lengannya yang tadi digenggam nue, rasanya masih hangat.

“nah Gi.. ini ‘do’ biasa dari kunci C.. denger dan liat ya.. do..re..mi..fa..sol..la..si..do..re..mi..” nue menekan tuts-tuts itu satu persatu lalu memandang Gigi, melihat apakah Gigi mengerti atau tidak.

Gigi mengangguk-angguk, meski ia masih tidak tahu apa yang nue ingin tunjukkan.

Lalu nue menekan tuts-tuts yang berbeda. “nah, ini ‘do’ sama dengan E, do..re…mi..fa..sol..la..si..do…”

Bibir Gigi menganga sedikit dan matanya berbinar. Kini ia mengerti. Ternyata benar apa yang nue katakan sebelumnya. Jari nue berhenti pada tuts yang sama saat ia memainkan nada kunci c. Meski berbeda kunci, dan nada lagu Hymne terdengar begitu tinggi, tapi ternyata nada tertingginya, ‘do’ tinggi, sebenarnya sama dengan ‘mi’ tinggi dalam kunci C.

“hehe.. kok bisa gitu ya..”ujar Gigi dengan nada bodoh.

“nue tertawa pelan.” Ini uniknya musik. Not mungkin cuma ada tujuh, tapi dari tujuh bisa menjadi berbagai bunyi yang berbeda-beda tergantung kunci nadanya. Termasuk bunyi ‘do’ tinggi dalam lagu hymne yang bikin kamu frustasi itu sebenernya cuma nada ‘mi’ tinggi dalam kunci C, kamu dulu bisa kan membunyikan nada itu? Trus, kenapa kali ini kamu pesimis?” nue mengerling pada Gigi yang masih termenung pada piano itu.

Ya, selama ini dia cuma menganggap nada ‘do’ itu begitu tinggi dan susah untuk diingat apalagi dibunyikan. Padahal itu adalah nada yang sama yang ia perjuangkan saat mencoba masuk ke dalam suara tenor.

“aku mungkin nggak tahu apa motivasimu saat itu, saat kamu berusaha membunyikan nada ‘mi’ itu. Tapi, kenapa kamu nggak gunakan motivasi itu untuk lagu hymne ini? Kalau dulu aja kamu bisa, kenapa sekarang ga bisa? “

Gigi menimbang kata-kata nue. Kata nue itu benar adanya. Dulu dia memang memiliki motivasi dan semangat yang meletup-letup. Tapi kini, setelah semua yang terjadi, pantaskah ia berharap lebih jauh dari itu?

“tapi kak, memangnya aku bisa, menggunakan alasanku itu.. karena alasan itu bagiku sudah tidak mungkin terwujud..”

“tentu aja bisa.”jawab nue cepat.

Gigi membelalakkan matanya menatap nue yang tersenyum penuh kehangatan.

“siapa bilang alasanmu itu nggak akan terwujud? Sebelum kamu mencoba, alasan dan keinginan kamu ga akan terwujud. Aku yakin, apapun keinginanmu itu, pasti akan terwujud. Asalkan kamu mau mecoba dan bersabar.”

Wajah Gigi bersemu sedikit, ia pun menundukkan wajahnya. Nue tidak tahu, jika motivasi utama Gigi adalah dia.
bagai percikan api yang meledak-ledak, semangat di hatinya pun mulai menjalar ke seluruh tubuhnya. Ia pun berpaling dan menatap wajah nue. “aku mau coba lagi kak! Coba kakak iringin pake piano.” Ujar Gigi tegas.

Nue tersenyum dan mengangguk, ia pun kembali melayangkan fokusnya pada tuts-tuts piano. ingat.. pernapasan perut.. dapetin powerya..”

Gigi mengangguk kemudian menatap partiturnya. ‘saat itu, satu motivasiku, yaitu bagaimana caranya aku bisa masuk dalam suara tenor jadi aku bisa makin dekat dengan nue. sekarang? Pantaskah aku berharap jika aku bisa mendapatkan cintanya? Dia bilang ‘bisa’ dengan tegasnya. Aku tahu dia tidak menyadari apa yang telah ia ucapkan dengan apa yang kupikirkan. Yang jelas, setidaknya kini bolehlah aku merasa pantas, untuk mencintaimu..’

Gigipun mulai melantunkan lagu hymne itu, ia tuangkan semua obsesi dan harapannya pada tiap notasinya, hingga ia sampai pada bagian tersulitnya.

‘demi kamu, kak.. ‘

“solfaremifasol..sol..solsoldo…do..ladosol…”

Gigi mengatupkan bibirnya. Nue-pun menghentikan permainan pianonya. Dengan tatapan harap-harap cemas Gigi menunggu nue menoleh padanya. Hingga Gigi akhirnya bisa melihat wajah nue yang tersenyum cerah padanya.

“nah, itu bisa kan?”

Gigi mengembangkan senyumnya dan menundukkan wajahnya. Ia ingin menyembunyikan wajahnya yang memerah saat ini. Namun jantungnya serasa akan berhenti ketika tangan nue merangkul bahunya. Saat Gigi menoleh, wajah nue begitu dekat dengannya meskipun nue tidak menoleh padanya melainkan ke arah langit-langit.

“kamu ngerti kan Gi? Sebenarnya ga ada yang sulit dan ga mungkin di dunia. Tergantung bagaimana dan dari sudut pandang mana kita melihat masalah itu. Sama seperti nada ‘mi’ dan ‘do’ tadi. Sekilas, nada ‘do’ kunci E itu begitu tinggi, tapi nyatanya, nada itu sama aja dengan nada ‘mi’ dalam kunci C. Kalo kamu ga bisa, dengan nada ‘do’ tinggi E, ya pake aja nada ‘mi’ tinggi C, sama aja kan? Hehe… So, be positive, Gi..!” ujar nue yang kemudian tersenyum dan mengacak-acak rambut Gigi.

“aduuh.. iya iya..! ga perlu ngacak-acak segala lah!”

“haha… udah ah, capek, ayok pulang!”ujar nue yang saat ini sudah beberapa langkah meninggalkan Gigi.

“looh, kak? Kok pulang..? tunggu!!” tanya Gigi yang berlari kecil mengejar nue.

Malam itupun Gigi dibonceng oleh Nue. Selama perjalanan itu, Gigi bisa mendengar nue yang bersenandung pelan, melantunkan suatu lagu yang terdengar familiar di telinga Gigi tapi ia tidak tahu judulnya. Gigipun dengan tersenyum simpul memandang wajah nue dari cermin spion.

‘ya.. kak nue benar.. jika kita merasa itu sulit dari 1 sisi, lihatlah dari sisi yang lain. Begitu juga denganmu kak.. di satu sisi kakak mungkin ga akan cinta sama aku. tapi di satu sisi, bukankah aku bisa mencintai kakak? Haha.. konsep itu memang terlalu sederhana, nyatanya mencintai tanpa balasan cinta itu rasanya tidak akan begitu menyenangkan.. tapi… apa sih cinta itu? Aku rasa yang kakak tunjukkan padaku selama ini sudah seperti cinta buatku.. Ini cuma soal kunci nada, hehe ‘

“Gi, makan yuk..!”

“Oke dah.. traktir tapi..”

“habuh.. maunya gratisan mulu!”

“haha… namanya juga mahasiswa.. “

“aku juga mahasiswa kali..”
***

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s