HYMN OF MY HEART 3B

 

Bar 3b

Suara angin malam menggerakkan ranting dan dedaunan, menciptakan suara gesekan pelan dan menyebarkan hawa dingin di antara kedua pemuda itu. Begitu pula hati Gigi yang terasa seperti membeku setelah mendengar jawaban Nue. Jawaban yang sama sekali berada di luar perkiraan dan harapan Gigi.

Gigi kini hanya memandang wajah Nue dengan ekspresi kosong, sementara Nue, yang tidak mengetahui perasaan Gigi, kini bangkit dari kursinya setelah mendapat pesan di ponselnya.

“oke, kak nurul mau bicara sama aku. Aku tinggal dulu ya.. untuk malam ini kamu ga usah latihan dulu ya, nggak apa-apa kan?”

Suara Nue segera menyadarkan kebekuan Gigi. ia pun segera mengangguk dan mencoba menghapus kegetirannya.

“oke, sip.” Ujar Nue setelah melihat respon Gigi. ia pun segera berjalan menuju aula.

“kak!”

Nue berhenti dan menoleh ke arah Gigi yang memanggilnya.

“ada apa Gi?”

Perlahan, Gigi yang semua menunduk mulai menatap wajah Nue dengan mata sendunya. “aku… ga akan dikeluarkan dari tim, kan?” tanyanya dengan suara getir.

Nue terdiam sesaat, sebelum akhirnya senyum lebar menggantung di wajahnya yang cerah. “aku yang jamin, kamu akan tampil di LPSAF nanti.”

Jawaban Nue yang lantang dan tegas bagaikan suntikan stimulan bagi Gigi. Gigi pun melengkungkan senyumnya meski tipis.

“nah, gitu dong… tunjukin senyum dan ‘Gigi’ kamu!”ujar Nue lagi.

Gigi mengangguk sambil memamerkan gigi-gigi mungil dan putihnya itu, begitu juga Nue.

Setelah itu Nue pun berbalik dan berlari menuju aula, meninggalkan Gigi yang duduk sendiri di gazebo.

Senyum Gigi yang tadi mengembang dengan cerahnya,
perlahan mulai meredup. Kembali pada wajahnya yang beku.

Di tempat lain, yaitu aula. Nue sudah sampai dan menemui nurul dan Grace yang masih dengan serius membicarakan suatu hal. Entah kenapa Nue sudah tahu apa yang mereka diskusikan.

“nah Nue, ini gimana? Ada usulan dari Grace untuk mencoret nama Gigi dari tim, menurutmu gimana, selaku pembimbingnya?” tanya nurul

Nue langsung mengangkat alisnya pada Grace lalu memalingkan lagi pandangannya ke arah nurul. “ehm.. gini mbak. Dia memang agak susah..”

“bukan agak, nunu.. tapi susah, pake banget!” potong Grace.

“tunggu..tunggu aku selesai bicara dong honey..” ujar Nue dengan kalem pada Grace, Grace pun mendengus pelan dan menyilangkan lengannya di dada. Sementara Nue kembali mengarahkan pandangannya pada nurul.

“ dia memang agak susah menyerap yang aku ajarin. Pertama,mungkin karena aku yang belum bagus ngajarnya. Aku juga baru ini ngajar maba, jadi mungkin cara mengajarku masih belum matang. Kedua, aku belum ngajarin dia teknik yang benar, jadi mungkin itu salah satu alasan suaranya sering ga pas/ ketiga, masalah utama Gigi adalah kurang percaya diri. Dia masih takut untuk mengeluarkan suaranya. Aku yakin dia sebenarnya bisa kalau lebih pede. Jadi begitu mbak, aku yakin Gigi masih bisa ikut tim LPSAF. Tinggal bagaimana kita mengajari dan menyemangati dia. Bagaimanapun dia adalah hasil seleksi pelatih, Pak Selo. Jadi pastinya ada potensi yang Gigi punya, yang bikin Pak Selo meloloskan dia.”

“tapi mau sampai kapan nu… ? ini sudah pertemuan keberapa dan dia masih belum bisa baca notasi lagu hymne dengan benar. Kalau dia masih dipertahankan dalam tim, dia bisa menghambat progres temen-temennya yang lain! Bayangin aja, kalo yang lain sudah sampe baris keenam, dia masih nyampe baris ketiga. Nah, kalo gitukan ga maju-maju jadinya..” terang Grace.

“oke! Kasih aku waktu, 2 minggu buat melatih dia. Kalo semalama dua minggu itu dia belum bisa menguasai lagu hymne, mbak bisa mencoret nama dia dari Tim LPSAF.”

Tantangan Nue tersebut membuat Grace sedikit terperangah dan menatap Nue dengan tatapan heran. Sementara nurul memejamkan matanya sambil mengangguk-aggukkan kepalanya.

“oke Nue, aku setuju. Kamu latih dia selama 2 minggu, tapi dengan satu syarat, dia harus dilatih secara privat, terpisah dari teman-teman tenor yang lain, dan harus menambah waktu latihan diluar waktu latihan rutin. Gimana?”

Grace spontan menurunkan tangannya yang semula tersilang di dadanya. “loh, kok gitu mbak..? itu artinya nambah kerjaan Nue aja mbak.. terus pas latihan rutin, siapa yang ngelatih tenor?”

“ya aku serahin lagi ke Nue. Pertimbanganku melatih Gigi secara terpisah dan dengan waktu tambahan, supaya dia ga menghambat progres latihan temen-temen yang lain seperti yang kamu katakan tadi Grace. Nanti pas waktu latihan rutin, aku atau kamu bisa ngajarin tenor. Nanti aku juga menghubungi mas Rommy buat bantu ngajar tenor. Tapi yah.. aku serahin lagi ke Nue, apa Nue mau dan sanggup melaksanakan syarat yang aku kasih.” Kini nurul melayangkan pandangannya ke arah Nue.

“oke.”

Jawaban Nue seketika membuat Grace menoleh padanya dengan tatapan protes.

“it’s okay.. kurasa Gigi juga memerlukan latihan privat itu. Aku juga semester ini banyak nganggurnya. Jadi.. aku terima syaratnya mbak nurul.”

Belum sempat Grace mengajukan protes, nurul sudah menepuk tangannya. “oke! Berarti deal ya.. kalo gitu ga ada masalah lagi. Now, Grace, kamu latih tenor! Terus kamu Nue, omongin masalah tadi ke Gigi! silakan kalian atur jadwal latian kalian sendiri!”

“oke..”jawab Nue cepat, sementara Grace menjawab dengan setengah hati.
***

Sementara itu, di gazebo, Gigi masih bertahan pada kegetirannya. Matanya menerawang kosong, menyisakan bayangan hitam kelam di pupil matanya.

‘ternyata kak Nue benar-benar menyayangi kak Grace. Berarti benar kalau kak Nue adalah cowok tulen, yang ga mungkin suka sama aku. Cintanya dengan kak Grace kelihatannya juga ga main-main..Terus, buat apa aku kuliah disini? Untuk apa aku bersusah payah mengikuti UKM ini? Berlatih mati-matian untuk lagu hymne ini? Untuk apa, jika akhirnya seperti ini? Karena semua ini kulakukan untuk dia!’

Gigi menjatuhkan kepalanya diatas pangkuan kedua lengannya yang menyilang di atas meja. entah kenapa dia merasa menyesal. Semua yang ia usahakan selama ini ternyata tidak ada gunanya. Orang yang ia kasihi ternyata sudah dicuri hatinya oleh orang lain. Orang lain yang sukses mempermalukan Gigi malam ini.

hal Ini memang ironi yang menyedihkan. Tapi apa boleh buat, ini sudah terjadi. Malam itu, Gigi tidak tahu apa yang harus ia lakukan, yang jelas hanya satu pertanyaan yang menggaung di kepalanya.

‘mampukan aku bertahan?’

 

‘brukk!!’

Gigi spontan menengadahkan wajahnya ketika seseoreang memukul meja gazebo dengan keras dan tiba-tiba.

“hehe.. ngapain? Jangan kosong pikiranmu, entar digrayangin setan!”

Gigi tersenyum tipis. Ternyata dia adalah Nue. Nue pun duduk di depannya.

“loh, kakak ga ngajar?”tanya Gigi.

“kak Grace yang ngajar tenor.” Ujar Nue santai lalu menguap sambil menjulurkan tangan dan merentangkan badannya.

“loh, terus kakak..?”

“hoaammm…. ya aku ngajarin kamu..”jawab Nue dengan ekspresi santai.

Melihat ekspresi kebingungan Gigi, akhirnya Nue pun menjelaskan semuanya.

“gini, Gi.. kamu ga keberatan kan, kalo kita latihan secara privat dan nambah waktu latihan?”

Gigi spontan membelalakkan matanya. “hah? Privat? Maksudnya.. aku latihan berdua sama kakak doank gitu?”

“iyaa.. namanya juga privat. Gimana? Setuju gak?”Tawar Nue.

Gigi terdiam sejenak. Di satu sisi sebenarnya dia sangat ingin menyetujui tawaran itu. Kapan lagi dia bisa berduaan dengan Nue? Namun di satu sisi yang lain, dia tidak yakin, apakah ia mampu bertahan dengan perasaannya pada Nue yang –bagi Gigi- tidak ada harapan untuk terbalas. Sebenarnya Gigi sudah ingin menghapus perasaannya pada Nue, tapi bagaimana bisa ia melakukan itu jika setiap waktu dia akan bertemu dengannya dan berlatih berdua dengan jarak yang sangat dekat?? Huaaaa…. Gigi serasa ingin berteriak dalam kebingungannya saat itu.

Nue sendiri kian menyadari kekalutan di wajah Gigi (meskipun tentunya ia tidak tahu pasti apa yang dirisaukan Gigi).

“please Gi.. Cuma ini yang bisa aku lakuin buat mempertahankan kamu di tim. Aku tahu, buat kamu mungkin berat atau kamu mungkin merasa terkucil karena dibedakan dengan teman-teman yang lain. Tapi bukan itu maksudku.. aku Cuma pingin kamu juga bisa membuktikan kalau kamu memamng pantas di tim LPSAF ini, dan aku yakin kamu bisa! Kamu cuma butuh waktu dan perjuangan lebih GI.. tapi ya..”nada suara Nue yang semula menggebu-gebu, kini mulai melemah. “kalau kamu memang ga mau ya nggak apa-apa, aku nggak maksa.. aku juga maklum kalau kamu ga terima dibegitukan.. maaf..karena cuma ini yang bisa aku lakuin..”

Kata-kata Nue yang persuasif itu membuat Gigi menunduk lebih dalam. Dia tidak menyangka jika Nue kan membelanya begitu kerasnya. Gigi tidak tahu apa sebenarnya yang Nue harapkan dari dirinya. Kini Gigi semakin tersudut. Mendengar ucapan Nue tadi membuatnya tidak punya pilihan. Dia tidak mungkin tega menyia-nyiakan usaha Nue. Nue juga sudah rela mengorbankan waktunya untuk melatih Gigi.

Tiba-tiba setitik senyum mengembang di wajah Gigi. ia pun mendongakkan wajahnya dan menatap Nue.

“nggak” jawabnya mantap.

Wajah Nue pun berubah menjadi lesu. Segera saja Gigi mengembangkan senyum tengilnya.

“nggak nolak maksudnya..”

Nue mendengus sambil memukul meja dengan pelan. “hmm.. sialan kamu Gi. Korban iklan kamu ya..”

“selinganlah.. hahaha..” balas Gigi yang meniru kata-kata Nue dulu.

Nue pun ikut tertawa mendengarnya. Suasana kembali menjadi hangat, dan merekapun mengatur jadwal latihan mereka.

Selama itu, Gigi menatap Nue sambil memangku pipinya dengan telapak tangannya. Dilihatnya Nue yang tengah menulisi buku binder Gigi dan membicarakan sesuatu yang –anehnya- tidak dapat Gigi dengar. Perhatian Gigi sepenuhnya terpusat pada penglihatannya ke arah Nue.

‘kak, aku mencoba untuk nggak menyesal. Aku mencoba untuk bertahan. Dan aku juga mencoba untuk mengejar kakak. Aku nggak tahu, kenapa kakak begitu baik padaku dan mau berbuat sejauh ini buat mempertahankan aku. apakah itu tanda suka atau hanya delusiku belaka? Tapi entah kenapa aku masih berharap, kalau masih ada ruang di hati kakak yang bisa aku singgahi. Aku akan mencoba menunggu dan bersabar, berharap kelak kakak mau menyisihkan tempat untukku, seorang laki-laki, yang sama sepertimu.’

“woi!”

Gigi mengerlipkan matanya ketika suara Nue membuyarkan lamunannya. “hah? Kenapa kak?”

“kenapa apanya? Kamu daritadi kemana aja pas aku jelasin tentang jadwal latihan kita? Niat nggak?”kata Nue dengan nada sedikit kesal.

“ya niat donk!”jawab Gigi tegas.

“terus?”

“miapah?”jawab Gigi spontan.

“huuft..” (Nue facepalm mode:on)

“hahaha… sorry otakku lagi hang nih. Jadi bisa diulangin nggak kak? Hehe..” Gigi dengan santai tersenyum sambil memamerkan giginya yang mungil dan putih itu.

Sementara Nue? Dia hanya tersenyum tipis, tersembunyi oleh telapak tangan yang menutupi dahinya.
***

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s