HYMN OF MY HEART 3

 

Bar 3a, Qualified or Not.

“kriing…kriiing..”

Suara alarm ponsel Nue berdering dengan lantangnya dan seketika Nue terbangun dari mimpi indahnya. (mimpi apaan, kasih tau ga ya…).

Dengan mata masih setengah terbuka, ia mencari ponselnya dan mematikan alarm yang berisik itu.
Matanya sedikit memicing ketika melihat pesan singkat yang masuk di ponselnya. Ternyata dari Gigi. ya, saat duduk di gazebo semalam, Gigi sempat menanyakan nomor hapenya.

‘makasih kak, buat koreksi tgas, tebengan + nasi gorengnya, hehe.. srg2 ya kak! #Gigi’

Segurat senyum tergores di wajah Nue sekilas. Semalam ia memang membantu Gigi mengoreksi tugasnya. Tidak sekedar mengoreksi sebenarya, karena hampir semua yang Gigi tulis itu ngawur, jadi Nue seperti membuat ulang yang baru. Setelah itu ia juga memboceng Gigi karena sudah sangat malam, ia juga membelikannya sebungkus nasi goreng karena ia juga belum makan malam (gengsi kan, kalo senior ngga beliin juniornya..).

Jika dipikir-pikir Nue sangat baik pada Gigi, entah apa yang Nue harapkan dari makhluk(?) itu.

Ia meletakkan kembali ponselnya di atas meja dan ia mengambil peralatan mandi serta handuknya lalu pergi ke kamar mandi.

Beberapa menit kemudian dia masuk lagi ke dalam kamarnya dengan kulit dan rambut yang masih agak basah. Ia pun berpakaian lalu memanaskan sepeda motornya. Setelah persiapannya selesai, ia pun melajukan sepeda motornya menuju kos grace, kebetulan hari ini jadwal kuliah pertama mereka sama, yaitu pukul 7.00.

“maaf honey, aku kesiangan tadi.” Sesal nunu setibanya di kos-kosan grace, dan Grace sudah berdiri di depan pintu menunggu dirinya.

Tampak grace sedikit mendegus lalu duduk di boncengan Nue. “iya deh, jangan kesiangan mulu dok honey…”

“iya.. “jawab Nue, ia pun melajukan sepeda motornya menuju kampus.

Nue dan Grace memang satu fakultas, tapi beda jurusan. Nue di Jurusa Sastra Inggris sedangkan Grace di Jurusan PSTF (Program Studi Televisi dan Film).

Mereka bahkan baru bertemu saat ospek dan darisanalah hubungan mereka mulai terjalin hingga menjadi pasangan kekasih sampai sekarang.

Dari Grace jugalah Nue bertemu dengan UKM PSM. Grace yang mengajari Nue yang pada mulanya sama bodohya dengan Gigi (maaf ya Gi, nggak bermaksud menyinggung, hehe). Grace sejak kecil sudah belajar bermain piano, itulah sebabnya ia sudah mahir membaca notasi. Terlebih lagi ia tergabung dalam UKM PSM UJ (atau sering disebut PSM Pusat, karena disitulah mahasiswa dari setiap fakultas berkumpul dan tergabung menjadi sebuah tim paduan suara UJ), kualitasnyapun tidak diragukan lagi.

“hmm… gimana belajar kelompoknya kemarin?”tanya Nue tiba-tiba saat dalam perjalanan.

“eh? Apa? Oh.. iya.. semalem bikin tugas ilustrasi banyak banget honey.. untung bisa selesai.”jawab grace dengan sedikit tergugup.

Nue menatap ekspresi grace dari cermin spionnya. Alisnya mengeryit sedikit, namun ia segera menghapus ekspresi dan menggantinya dengan senyuman di bibirnya.

“oh.. ya bagus deh kalo gitu.. ga lupa makan kan honey?”

“udah honey.. ih nunu udah kayak mamaku aja deh..”kata grace yang mengalugkan lenganya di pinggang Nue sambil meyadarkan pipiya di bahu Nue.

Nue hanya tersenyum dan menikmati momen itu sampai sepeda motor Nue tiba di depan kampus Sastra.

“oke, see ya honey..” pamit Grace sambil melambaikan tangannya pada Nue.

Nue hanya menanggapi dengan senyuman dan memandang Grace hingga ia memasuki kelasnya. Nue pun berjalan menuju kelasnya. Dalam langkah kakinya, pikirannya melayang pada Grace. Ekspresi gugup Grace tadi sempat membuat pikiran Nue goyah. Nue memejamkan matanya rapat-rapat dan menghapus prasagka-prasangka di kepalanya.

‘i’m believe in you and always will be..’
***

Gigi duduk di kursi aula dengan hati berbunga-bunga. Ia sedang menanti kedatangan Nue. Ia ingin memberitahu sekaligus berterimakasih atas tugas writingnya yang mendapat nilai sempurna. Nilai itu tidak akan mungkin ia peroleh tanpa bantuan Nue (oh..you are my savior.. *gumam Gigi).

Dibukanya lembaran partitur lagu hymne yang mulai lusuh itu. Ia mencoba mereview apa yag ia dapat kemarin. Ia tidak ingin tampil menyedihkan di hadapan Nue lagi. Di kos-kosan pun ia berusaha mempelajari lagu itu dengan mendengarkan rekaman lagu hymne untuk bagian tenor.

“oi, tumben ga telat,GI?”

Gigi segera mengangkat wajahnya, mengira itu Nue. Namun ekspresinya berubah kecut ketika tahu yang meyapanya adalah Budi (namanya..sesuatu banget), teman sesama tenor.

“iya lah.. ga mungkin aku telat terus. Bisa dihukum aku entar.” Jawab Gigi yang kembali mempelajari partiturnya.

“hemm…. semangat bener bacanya..” tukas Budi lagi yang meletakkan tasnya di samping Gigi.

“yah.. namanya juga usaha. Enak kamu sudah bisa! Ayo ajarin aku gih, ini gimana bunyiinnya?”

Budi pun mulai mengajari Gigi, sementara Gigi sedikit-sedikit menoleh ke jendela, melihat apakah Nue sudah datang atau belum.

‘plakk..!!’

“aadoh.. apaan sih Bud?” jerit Gigi saat budi memukul kepala Gigi dengan kertas partitur.

“kamu tuh, yang apa-apaan?! Diajarin malah celingukan ga jelas!” balas budi dengan nada sama tingginya. (dasar tenor, sukanya main nada tinggi)

“ya ga usah mukul napa? nih!” Gigi pun balas memukul kepala budi dengan partitur. Terjadilah perang pukul diantara mereka hingga akhirnya suara super sopran mengagetkan keduanya.

“hoooiii….!!! berantem pake bogem aja! Jangan pake partitur! Itu fotocopynya pake uang tahu!!”bentak kak Nurul. Suaranya seperti 10 TNT diledakkan bersamaan.

“woi..woi.. ada apa nih, mbk?”

Gigi segera menoleh ke arah suara yang familiar itu. Suara yang daritadi ia nantikan.

Tampak Nue berjalan dari balik pintu dengan santai. Ia mengenakan jaket biru dan headset terkalung di lehernya.

‘ohh.. akhirnya kak Nue datang jugaa..’ batin Gigi dengan wajah cerah.

Namun, dibelakang Nue, tampak seorang gadis yang sagat manis dengan rambut panjang dan sedikit bergelombang..
Gigi mengeryitkan alisnya saat melihat gadis itu. Selama ini dia belum pernah melihat gadis itu.

“itu tuh, anak buahmu berantem pake partitur… ayo deh, ayo semuanya baris sesuai suaranya masing-masing.” Perintah kak Nurul.

Tim LPSAF yag semula duduk-duduk pun bangkit dan membentuk barisan.

“nah, kita mulai aja latihannya… oh ya, kelupaan. Ini dia, kakak yang cantik dan pake jaket pink ini yang namanya kak Grace.. hehe.. dan ini dia nih pacarnya kak Nue..”

‘jedaarrrrrr…..’

Petir menyembar-nyambar di mata Gigi saat mendengar kak nurul mengatakan gadis cantik itu adalah………. pacar Nue!!?

‘appppaaaaaaaaaaaa…..!!?’ jerit Gigi dalam hatinya yang mendadak gelap dan penuh dengan badai halilintar cetar-cetar.

Sementara Gigi tercengang, Nue hanya tersenyum salting sambil menggaruk-garuk kepalanya. “apaan sih mbak, pake diomongin segala!” protes Nue.

Sedangkan Gigi, kini tertunduk lesu. Hilang sudah semangatnya tadi yang menggebu-gebu. Dia sama sekali tidak kepikiran kalau Nue sudah punya cewek. Harusnya ia menyadari itu sejak awal.

‘ooh… bego baget kamu Gi…!!’

“oke, sekarang kita langsug latihan persuara ya. eh, Nue.. tolong ajarin bass-nya ya! si Omy ga dateng.” Ujar Nurul.

Nue pun mengeryitkan alis. “lha? Terus yang gurus tenor siapa??”

“ya kan ada aku, Lala, Grace… kalo aku yang ngajar bass, ga bisa aku. Nadanya bass kan rendah banget.” Tukas nurul.

“udah mbak, nunu.. biar aku yang pegang tenor.”

Gigi menengadah dengan tatapan tidak percaya pada pemilik suara itu, yang tak lain tak bukan adalah Grace.

‘hah?? Belum cukupkah kamu bikin aku sakit hatii??’ protes Gigi dalam hati.

Sementara Nue menatap heran pada Grace yang masih dengan ekspresi santai. “beneran nih, honey? “ bisik Nue padanya.

Grace tersenyum santai lalu mendorong tubuh Nue menjauh darisana. “udah nggak apa-apa.. aku juga sekali-kali pengen tahu notasinya tenor. Udah sonno, ke bass.. aku mau ngajar tenor!”

Nue pun akhirnya bersama dengan anak-anak bass. Sesekali ia melayangkan pandangannya ke arah Grace yang tengah memberikan instruksi pada anak-anak tenornya.

Sebenarnya bukan apa-apa jika grace mengejar tenor atau suara lainnya. Tapi… (kali ini Nue memandang Gigi) Nue tahu betul sifat Grace. Entah kenapa Nue merasa khawatir pada anak buahnya.

‘semoga ga bakal kenapa-kenapa..’ batinnya.

Ia pun mulai memandu anak-anak bass dengan memberikan ketukan.

20 menit telah berlalu, perasaan Nue mulai sedikit tenang. Namun saat menit ke 24…

“doo..!! gitu lo..! kamu bisa denger ga sih?!”

Nue seketika menghentikan ketukannya. Ia segera menoleh ke arah sumber suara itu. Ternyata firasatnya benar. Grace tengah berteriak kepada anak-anak tenor. Dan yang ia marahi itu adalah.. Gigi!

Nue pun menghampiri Grace dengan tergesa. “ada apa honey? Kok sampe teriak-teriak segala sih?” tanyanya setengah berbisik.

Grace pun menoleh pada Nue, “ini lo, Nunu! Anakmu yang satu ini kok bebel banget sih diajarin?! Dari tadi, cuma sampe baris ketiga aja ga bisa-bisa!” terang Grace dengan suara melengking.

Saat itu, kecantikan dan keanggunan yang semula terpancar seketika berubah menjadi seperti iblis.

Nue menoleh kepada orang yang Grace tunjuk. Tampak Gigi menunduk namun matanya masih menatap Nue dengan tatapan memelas.

“sudah lah honey… namanya juga masih baru, kalau diajarin pelan-pelan..”

“pelan-pelan mau sampai kapan, nu? Dia tuh bebel banget! Masak nembak nada gini aja ga bisa-bisa?! Tadi aku juga ngecek ke bagian selanjutnya dan notasinya berantakan banget! Ga Cuma notasi, ketukan dan napasnya… aduh… tahu deh! Ini sudah pertemuan ke berapa coba? Masa’ lagu gini aja belum rampung-rampung..”
Sementara Grace masih terus mengoceh, Nue berusaha menenangkan emosi grace dengan mengusap pundaknya.
Dilihatnya juga Gigi yang kini benar-benar menunduk, menyembunyikan matanya di balik poni sampingnya.

“sudah sabar honey..”

“sabar gimana honey…?? kamu juga gimana sih? Katanya maba yang ada disini adalah maba pilihan yang diseleksi ketat kan? Kok anak kayak gini bisa lolos?? Masuk tenor lagi! Udah, daripada kedepanya bikin rusak dan ngerepotin kamu juga, mending dia dibebastugasin aja sekarang!”

Mata Gigi yang tertutup oleh rambut seketika menyempit. tangannya gemetar begitu juga bibir tipisnya.

“ck, apa-apan sih kamu honey? Udah donk sabar… bagaimanapun pelatih yang menyeleksi. Kalau dia keterima, berarti dia juga qualified buat masuk tim LPSAF. Udah biar aku aja yang ngajarin..”

Nue pun berjalan ke arah Gigi yang masih menundukkan wajahnya.
“Gi, coba kita nyanyikan bagian ketiga ini bareng ya.. yok.. 1..2..3.. solfaremifasol…sol..solsoldo..”

Gigi memegang partitur dengan gemetar, begitu pula dengan suaranya yang bergetar lirih. “solfaremifasolsol…sol..do..”

Segera saja grace menyolot masuk setelah mendengar nada sumbang Gigi. “tuh kan, aku bilang juga apa? Dia ga qualified buat masuk tim! Loh, kamu! Ngapain nangis?!”

Nue yang semula memandang grace segera menoleh ke arah Gigi. Gigi menundukkan wajahnya dalam-dalam, namun terdengar suara sesengukan dan satu-persatu bulir air menetes dari wajahnya ke lantai aula.

“Gi,, kamu kenapa nangis?” Nue yang terkejut segera mengguancang pelan bahu Gigi. tapi Gigi masih menunduk dan meringis menahan getir.

bagaimana Gigi ga nangis? sejak awal dia sudah merasa down saat ia tahu nue sudah punya pacar, dan sekarang pacarnya terus membentaknya tanpa ampun di depan teman-temannya. itu menjadi pressure tersendiri untuk Gigi.

Melihat itu, grace memalingkan wajahnya dengan ekspresi masam. “halah,, cowok apaan? Baru dibentak gitu aja nangis..”

Nue memandang kepergian grace dengan tatapan sendu, ia sungguh merasa prihatin karena Grace tidak bisa menjaga emosinya. Iapun kembali melihat kondisi Gigi yang masih menggigil. Ia memberikan instruksi pada anak teor lainnya untuk istirahat, sementara ia membawa Gigi ke luar aula.

Di kursi gazebo, Nue membiarkan Gigi duduk disana dan menghabiskan kesedihannya.
Dirogohnya saku celananya dan dikeluarkannya sebuah saputangan berwarna biru pada Gigi. “nih, hapus air matamu itu. Malu nanti kalo diliat orang..”ujar Nue.

Gigi pun mengusap air matanya dengan punggung tangan lalu meraih sapu tangan Nue dan menyeka sisa air matanya dengan sapu tangan itu.

“makasih kak..”ujarnya lirih.

Nue menghembusakan nafas panjang.

“maaf ya Gi, atas perlakuan garce ke kamu..”

Gigi hanya diam dan menundukkan wajahnya.

“dia memang gitu orangnya. Disiplin banget waktu latian dan dia gak akan segan-segan untuk bicara jujur. Dan kalau dia blak-blakan gitu biasanya kasar juga.. tapi sebenarnya dia baik kok. Dia Cuma parno-an orangnya.” Jelas Nue.

Gigi masih terdiam. Dia mencoba mencerna kata-kata Nue, dan akhirnya ia berani menatap wajah Nue meski perlahan.

“apa.. apa kualitasku seburuk itu,kak?”

Nue terdiam sejenak lalu menyilangkan lengan di dadanya lalu mendongakkan wajahnya ke langit seperti berpikir. “ehmm… ga buruk-buruk amat sih, hehe… kamu harus liat aku dulu saat masih maba kayak kamu. Aku bahkan lebih parah dari kamu.”

Gigi menghapus lagi air matanya dan membelalakkan sedikit matanya ke arah Nue. “ha? Masa’ sih kak? Trus kok kakak bisa…”

“ya belajar donk.. awalnya aku juga pendiem, suaraku lemah dan sama sekali ga bisa baca notasi. Setelah aku pergi klinik tongfang, suaraku jadi kuat dan bisa baca notasi dengan lancar!”

Gigi seketika tersenyum tipis mendengar gurauan garing Nue. “aku serius lagi kak, kenapa bawa-bawa klinik tongfang segala,coba?”

“hehe… selingan lah.. sebenernya orang yang paling berjasa membentuk aku yang sekarang ya dia..”ujar Nue sambil menunjuk sosok bayangan grace di jendela aula.

Gigi mengikuti arah telunjuk Nue, dilihatnya grace sedang berbicara serius dengan Nurul.

Nue hanya tersenyum melihat cara bicara grace yang menggebu-gebu, sementara Gigi hanya bisa memandang Nue dan grace bergantian dengan tatapan sendu.

“Dulu grace yang ngajak aku ke UKM PSM ini. Dia yang ngajari aku dari nol. Dia memang agak keras orangnya (agak??? #batin Gigi), aku juga dulu sering dibentak pas aku fals atau melakukan kesalahan lainnya.” Nue tampak tersenyum-senyum sendiri seolah menikmati nostalgia masa lalu.

“haha.. dia juga sering mukul aku pake partitur. Jadi kamu tadi masih mending ketimbang aku dulu, hehe…”

Gigi masih menatap Nue dengan tatapan sendu juga heran. Jika Nue saja diperlakukan seperti itu oleh grace, bagaimana Nue bisa bertahan bahkan bisa mencintai grace?

“terus kak, kakak kok bisa sih tahan digituin sama kak grace?”

Uups… tampaknya Gigi tidak kuasa menahan rasa penasaran dalam pikirannya. Nue yang semula menerawang aula, kini berpaling menoleh Gigi sambil tersenyum.

“karena aku sayang sama dia.”
***
bersambung ke Bar 3b

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s