HYMN OF MY HEART 15A

Bar 15 A, The Thrilling Duty

Dua hari telah berlalu sejak malam itu. Adrian dan Gigi sudah mulai akrab, setidaknya Gigi tidak terus marah seperti saat Adrian mulai dekat dengannya. Sebenarnya bukan akrab sih, hanya saja mungkin Gigi sudah mulai terbiasa dengan sikap Adrian yang seperti anak kecil itu. tapi tetap saja, bukan berarti Gigi sudah bisa beramah tamah dengan Adrian, seperti yang tampak hari ini. Adrian tampak mengikuti langkah kaki Gigi sambil berbicara sesuatu, sementara Gigi dengan santai berjalan dan seolah mengabaikan Adrian.

“ayo lah Gi.. “ rengek Adrian.

Gigi melirik sekilas ke arah Adrian dan berdecak pelan. “nggak ah!”

“loh kenapa sih Gi? Suaramu kan bagus..”

“issh.. bagus apanya? Bagusan juga suaramu. Udah kamu aja vokalisnya..”

“ah, nggak..! aku kan udah megang gitar. Susah tau, nyanyi sambil nggitar!”

“Kak Nue bisa tuh..”

“ya… “ wajah Adrian tampak sedikit kikuk dan bingung mau menjawab bagaimana. “pokoknya kamu aja ya jadi vokalis bandku.. ayo lah Gi.. waktunya tinggal seminggu nih…”

Gigi menghela napas panjang. Setelah Adrian mendengarnya menyanyi malam itu, Adrian jadi tidak henti-hentinya membujuknya untuk bergabung dalam grup bandnya. Gigi sama sekali tidak mengerti, padahal ia sadar betul kalau suaranya pas-pasan. Setidaknya dibanding Adrian, suaranya kalah bagus. Entah apa yang dipikirkan Adrian, tapi Gigi tahu jika ia tidak akan berhenti merengek.

“Ya gampang lah.. Aku pikir-pikir dulu.” ujar Gigi sambil mempercepat langkah kakinya.

Wajah Adrian tampak berbinar dan berlari kecil menyusul Gigi.

“beneran ya? oke, aku tunggu ntar malem pas latihan kepastiannya ya..”

“hmm..” jawab Gigi singkat dan ia pun memasuki kelas.

Sementara Adrian tampak nyengir kuda sebelum akhirnya ia berjalan menghilang dari pandangan Gigi. Gigi langsung saja mengambil tempat duduk di sebelah Ully.

“eh Gi, bukannya cowok itu yang dulu nabrak kamu itu kan?” tanya Ully.

Gigi melirik Ully sesaat sambil melepaskan tas pinggangnya.
“Iya, kenapa?”

“uhmm.. ga ada sih. Tapi… diliat-liat, dia cakep juga ya?”

“ah, biasa aja si.. masi gantengan juga aku..”

“ish.. kamu sih ga ganteng, tapi cantik!”

“ish.. sialan kamu Ul..!!” Gigi sudah akan menjitak Ully tapi
sebuah suara deheman membuat tangannya kaku seketika.

“ehemm…”

‘jglek…’

Ully dan Gigi tertegun ketika menoleh, ternyata pak Dosen sudah ‘bertengger’ dengan manis di meja dosen sambil menatap mereka berdua dengan tatapan sedingin es balok. Ully dan Gigi pun tersenyum kikuk lalu kembali pada duduk dengan manis sambil berpura-pura sibuk mengambil buku binder atau bolpoin.

Gigi sudah membuka buku bindernya dan dosennya pun sudah siap dengan materi perkuliahan yang dia ampu. Selama itu, seperti biasa, bukannya memerhatikan penjelasan dosennya, Gigi lebih suka merenungkan hal lain. seperti saat ini, Gigi tengah risau dengan tawaran Adrian padanya. Haruskah ia menyetujui tawaran Adrian, mengingat ia sudah berjanji akan memberikan jawaban nanti malam saat latihan PSM.

Cukup lama Gigi merenung akhirnya ia memutuskan untuk berhenti memikirkannya. Terlalu banyak pertimbangan justru membuatnya makin bingung juga khawatir akan penampilannya jika ia menjadi vokalis nanti.

‘Ugh.. tau’ ah, ntar aja mikirnya. Toh masih ntar malem juga..’ batin Gigi.

Gigipun kembali memfokuskan perhatiannya pada penjelasan dosennya.

“Ya, Bagaimana? Bisa dipahami?” tanya Pak Dosen.

Gigi tercengang.“hah? Emang tadi jelasin sampe mana??” (-_-)”
***

“Aargghh….!! Gilak!!” Gigi setengah menjerit sambil meremas rambutnya setelah Pak Dosen keluar ruangan. “ Ngajar cuma 15 menit, cuma buat ninggalin tugas aja..!!” gerutunya.

Ully hanya menghembuskan napas dalam sambil membereskan buku dan alat tulisnya. “Yah.. gimana lagi Gi.. Udah nasibnya mahasiswa disiksa dosen..” ujarnya dengan nada yang terdengar begitu memprihantinkan.

Gigi menurunkan tangannya dengan kesal lalu membereskan buku dan alat tulisnya juga. “Huuft… Kapan ya, aku bisa santai tiap malam sambil minum susu coklat panas… Tanpa tugas!”

Ully menoleh ke arah Gigi sambil memandangnya dengan ekspresi mengejek. “Heh? Emang bukannya tiap malem kamu juga gitu? Sejak kapan kamu bikin tugas di kosan? Paling juga di kampus…”

Gigi melirik Ully sambil menyipitkan matanya dan mendesis. “Isssh… Ga usah dijelasin kali..”

“Eh.. Emang napa? Udah ‘terpampang nyata’ kok.. hahaha.. udah yok, ke kantin, laper nih..” Ully nyengir sambil berdiri dan menenteng tasnya.

“Sialan.. Belagak Syahrini segala.. Jangan di kantin, mahal.. Di warung ajaa…”

Gigi pun beranjak dari kursinya dan menyusul Ully.

 

“Eh gila.. Nasinya banyak bener..” keluh Gigi sambil memegangi perutnya.

Sementara itu Ully baru selesai menyeruput sisa es tehnya.
“Hmm.. kebanyakan protes kamu Gi..! Tadi diajak ke kantin ga mau, sekarang di ajak makan di warung, ngeluh juga?”

“Yaah… Di kantin kan mahal.. Masa’ nasi campur gitu aja Rp 8.000,00? Kalo di warung dah sekalian es teh nih..” Gigi mengangkat es tehnya lalu menyeruputnya.

“Haha… Ya kan harga kantin itu termasuk PPN to..”

“Gleg..! Emang KFC?? Ah udah ah, pulang yuk..” ajak Gigi. ia letakkan gelas teh yang sudah kosong itu dan ia beranjak dari tempat itu.

Baru saja Gigi akan membayar nasi yang ia makan, tiba-tiba ia melihat Grace melintas di depannya.

Grace juga melihat Gigi, dan ia segera menepuk pundak temannya. “Eh.. Eh.. Stop..” ujarnya, dan sepeda motor yang ia tunggangi pun berhenti.

Gigi melihat Grace dengan heran hingga akhirnya Grace berada di depannya dan lagi-lagi menarik tangan Gigi.

‘Waduh.. ada apa lagi nih??’ batin Gigi cemas ketika Grace menariknya ke tempat yang lebih sepi.

“A..ada apa kak?” tanya Gigi begitu langkah Grace berhenti di sebuah trotoar yang sepi.

Grace tampak tersenyum canggung padanya. “ehm.. gini gi.. aku boleh minta tolong nggak?”

Wajah Gigi beralih heran, alisnya mengangkat sebelah dan bibirnya yang merah menganga sedikit. ‘heh? Kak Grace minta tolong? Langka amat…’

“iya, minta tolong apa kak?”

Grace tersenyum lagi meski sebenarnya ada rasa bimbang di raut wajahnya. “ehm.. gini Gi.. Nue lagi sakit…”

Spontan mata Gigi terbelalak. “hah? Sakit apa kak? Apa… penyakitnya kambuh lagi..?” suaranya ia lirihkan ketika menyebut ‘penyakitnya kambuh lagi’. ia tidak mau hal itu terdengar orang lain, siapa tahu ada orang yang Nue kenal di sana.

“Demam Gi.. Nggak tahu Gi, hari ini kondisinya drop. Malah sempat ‘bangkitan’nya kambuh, padahal dia juga rutin minum obat. Aku khawatir Gi..”

Mata Gigi menatap Grace setengah tidak percaya. Tidak hanya tidak percaya jika Grace benar-benar khawatir pada Nue (Gigi masih keukeuh pada pendiriannya jika Grace masih tidak sepenuhnya mencintai Nue) , tapi juga tidak percaya jika kondisi Nue bisa menurun sedrastis itu. Bahkan bangkitannya sampai kambuh?? bukankah semalam Nue masih bugar-bugar saja? ia pikir Nue adalah sosok yang tangguh. Tapi, yah.. Nue juga manusia biasa yang bisa sakit.

“Terus.. kakak mau minta tolong aku buat….”

“Gini gi… Habis ini aku harus latihan buat penutupan Lomba di Pusat… mungkin sampe malam. Jadi aku minta tolong sama kamu, temenin Nue. Dia harus diawasi terus Gi, karena selain demamnya, ‘bangkitan’nya juga bisa kambuh sewaktu-waktu. Kalau bisa, bujuk dia ke dokter.. dia ga mau saat aku ajak. Mungkin dia mau kalau kamu yang ajak.”

‘deg..’ wajah Gigi berubah pucat.

‘hah..?? aku..? harus nemenin Nue..? Lagi?’

Gigi bukannya tidak mau. Gigi juga cemas dengan kondisi Nue. Gigi sangat ingin sebenarnya, mendampinginya dan merawatnya saat ia lemah. Tapi , sisi hatinya yang lain mulai bawel.

‘lalu apa gunanya kamu berusaha ngelupain dia selama ini?? Nggak kapok apa, kamu cuma di PHP-in ama dia?? Ga nyadar apa Grace cuma manas-manasin kamu doang??’

Kata-kata salah satu sisi hatinya itu sempat membuat pikiran Gigi terpengaruh. Namun ia coba tekan pikiran itu dan mencoba berpikir jernih.

“Ehmm.. memang kakak bener-bener ga bisa absen dulu latihannya? Aku juga da latihan soalnya malam ini..” tanya Gigi hati-hati.

“Ga bisa GI.. mentor di Pusat galak dan aku sudah absen kemarin karena tanganku cidera.. lagian aku ga bisa nemenin Nue terus, kamu tahu kan kalo dia ngekos.. jadi..”

Grace tidak melanjutkan kata-katanya karena melihat Gigi yang menganggukkan kepalanya.

“Oke Kak..” ujar Gigi singkat.

“Beneran? Makasih Gi..! Nanti aku yang minta izin ke Mbak Nurul, kamu tenang aja.. “

Gigi mengangguk dengan senyum yang ia paksa. Melihat itu Grace pun tersenyum lega. Dengan tanpa ragu ia menggenggam tangan Gigi. “Makasih ya Gi.. aku ga tau mau minta tolong siapa lagi.. “

“I..iya kak..” jawab Gigi. dia tersenyum risih sambil melihat tangannya yang Grace genggam dengan erat.

‘gila nih cewe.. gampang bener pegang tangan cowok laen..’

“Dan..” ekspresi wajah Grace tampak berubah menjadi malu-malu. “aku.. minta maaf dulu sudah bentak-bentak kamu..”

Gigi tersenyum kecil (sebenarnya senyum mencibir sih) “iya kak.. aku dah lupa kok..”

‘Lupa?? Hah! Aku ga akan pernah kejadian itu!!’ batin Gigi.

Grace tampak mengangguk dan tersenyum lega. “Makasih ya Gi.. Nue berungtung punya temen sebaik kamu..”

Lagi-lagi Gigi hanya membalas dengan senyuman kaku.
Setelah itu Grace pun melepaskan tangan Gigi dan pamit padanya. “Oke aku pergi dulu ya, see ya..”

Gigi masih terpaku dengan senyum hambarnya pada Grace. “See ya…”

Grace sudah duduk di boncengan temannya lagi, dan sosoknya kian menghilang seiring dengan menjauhnya sepeda motor yang ia tunggangi. Sedangkan Gigi masih tertegun di tempatnya ia berdiri, sampai akhirnya ia melihat Ully melambaikan tangan padanya. Segera Gigi tersadar dan berlari kecil menghampiri Ully. Ia ingat kalau dia belum membayar nasi yang ia makan tadi.

“Eh, kenapa Gi? Perasaan mbak itu suka narik-narik orang deh..!” seloroh Ully saat Gigi sudah sampai di depan warung.

“biasalah.. ngefans..” jawab Gigi singkat sambil mengeluarkan sejumlah uang dari dompetnya.

Ully tidak puas dengan jawaban Gigi. Dia terus merengek sampai Gigi selesai membayar, tapi Gigi hanya menanggapinya dengan acuh sambil terus berjalan menuju kampusnya.

“Ayo dong Gi.. ada apa sih? Masalah kah?” tanya Ully untuk yang kesekian kali.

Gigi tidak menjawab. Sejujurnya, dia juga bingung, apakah permaintaan Grace tadi adalah sebuah masalah atau justru peluang. Kalau peluang, sudah jelas. Kapan lagi bisa berduaan dengan Nue? Jika dulu mungkin sering, tapi sekarang? Di masa ‘paceklik’ seperti saat ini? Ini benar-benar kesempatan emas bagi Gigi untuk mendekati Nue, terlebih lagi dia sudah mendapat lampu hijau dari pacarnya. Wih.. kapan lagi ada kesempatan seperti itu?

Tapi, selain peluang emas, masalahnya juga sudah jelas. Masalahnya adalah perasaan Gigi sendiri. Mungkin benar kalau Gigi bisa semakin dekat dengan Nue, tapi itu hanya dipermukaan, hanya secara fisik. Tapi, secara batin? Tetap saja Gigi merasa ada sekat pemisah nantinya. Sekat itu adalah orientasi seks Nue (yang pertama dan yang paling utama. Apakah Nue gay atau straight?) , kedua, tentu saja, yang paling menyebalkan dan menyesakkan dada, yaitu Grace sebagai pacar ‘asli’ Nue.

Gigi masih ingat kata-kata Nue sebelumnya, bahwa dia menyukai Gigi karena dia dianggap seperti adiknya sendiri. Kata-kata itu membuat Gigi merasa kecewa berat. Seolah apa yang Nue lakukan padanya hanya sekedar iming-iming belaka. Lalu sekarang pantaskah Gigi berharap terlalu banyak dari kesempatan yang Grace beri ini? toh pada akhirnya Gigi hanya akan menemui jawaban pahit.

Pada saat-saat seperti inilah kedua sisi hati Gigi kembali berdiskusi, berdebat, otot-ototan, saling jambak, cakar… (loh?)

“Gi..! kok malah ngelamun sih!” seru Ully sambil menepuk pundak Gigi.

Gigi spontan mengerjapkan matanya. “Ah nggak.. cuma mikir aja..”

“wih, mikir apa’an?”

“ada lah.. biasa kan orang cerdas bawaannya mikir mulu..”

“yah.. cerdas apa’an? Paling juga mikirin utang..”

Gigi hanya memanyunkan bibirnya sambil terus melanjutkan jalannya. Pada akhirnya ia jadi bingung dengan perdebatan diantara dua sisi hatinya, sehingga otaklah yang harus turun tangan. (emang otak punya tangan?)

Mata Gigi sedikit berbinar dan wajahnya mulai bersinar saat otaknya mulai bicara.

‘kamu ga perlu bingung dalam bersikap.. ini bukan apa-apa..! Anggap aja kamu sedang bertugas jagain Kak Nue..! ga perlu mesti sedih karena PHP lah.. atau anggep ini sebagai peluang lah… Grace cuma minta kamu jagain dia aja kok! Cuma itu, kamu ga perlu mikir kemana-mana Gi..!’

Kedua sisi hatinya lambat laun mulai menerima ide itu dan akhirnya hanya bisa mengangguk lemah. Ya, saat ini mungkin bisa mempertahankan ide itu sebagai alasannya untuk menerima permintaan Grace. Tidak perlu di dramatisir dan diambil pusing. Ini cuma amanat. Gigi hanya perlu menjalaninya, hanya dengan tujuan menolong karena prihatin atas kondisi Nue. Gigi juga harus bersikap sebagai adik sekarang. Setidaknya Gigi mengambil sisi positifnya, dia bisa belajar untuk terbiasa menekan ego dan perasaannya di depan Nue. Mungkin dengan begitu, lambat laun ia bisa melupakan perasaannya pada Nue.

‘drrt..drtt..’

Gigi segera merogoh ponselnya yang bergetar. Ternyata itu pesan dari si ulet bulu.

‘jangan lupa ya, nanti pas latian😀’

Seketika bibir Gigi tersenyum. dengan lincah ia mengetikkan pesan balasan pada Adrian.

‘Hmm.. sorry ya Dri.. nanti malem aku ga bisa dateng latian. Ada urusan mendadak n ga bisa dtinggal. I’m so sorry..😀’

#pesan bernada menyesal dengan emoticon ‘smiling face’.
***

Dengan bergegas, Gigi melepas sarung dan merapikan sajadahnya. Waktu sudah beranjak malam dan ia harus pergi sekarang. Pergi bukan untuk latihan, melainkan pergi ke tempat Nue untuk menjalankan ‘amanat’ dari Grace. Di ambilnya ponsel yang ada di atas meja dan langsung ia matikan dan ia masukkan ke dalam sakunya. Ia tidak mau ponselnya aktif dan menerima banyak sms protes dari Adrian. Yah.. Gigi memang sudah berjanji akan memberikan keputusan malam ini, dan Gigi –dengan ringannya- melanggar janji itu. Adrian pasti akan bawel lagi. sudah hampir 9 jam terhitung dari saat Gigi memberitahu jika ia tidak akan datang latihan sampai adzan maghrib, Adrian terus menghujaninya dengan sms. Isinya juga rata-rata sama.

‘ha? Yah.. kok gitu sih Gi.. kamu kan udah janji…’

Gigi hanya membalasnya dengan emot smiley dan kata’ sorry..’

‘Gi, dateng latian lah..’

“nggak, urusanku ga bisa ditinggal.” Ketik Gigi.

‘urusan apa si? Penting amat sampe ninggalin latian?’

“it’s my bussiness.. :-)”

Gi, datang latian!’

“:-)”

‘Gi.. aku di kasi tau mbk nurul, katanya kamu harus dateng latian!’

Gigi hanya tersenyum tipis dan mengabaikannya.

‘Gi.. ini mbk nurul. Kamu harus latihan!’

“hahaha.. gila. ‘Ulet’ bener jadi ulet..” tawa Gigi sambil membaca pesan Adrian itu. lagi-lagi kali ini ia mengabaikannya.

Begitu seterusnya, Adrian –seperti yang telah Gigi duga- tidak pernah berhenti berusaha membujuk Gigi. Sayangnya kepala Gigi sudah sekeras batu. Susah untuk membujuk Gigi jika Gigi sudah dalam ‘Stone Sage mode’. Hingga pesan Adrian berakhir saat menjelang adzan maghrib tadi.

‘Ya udah deh Gi, ga latian ga apa-apa. Tapi bls smsku sekarang, kamu mau nggak jadi vokalis bandku? Kalo ga dibales berarti kamu setuju. Deal ya? sip! Oke, kalo kamu setuju. Aku tunggu ya..’

Gigi yang baru saja mengambil wudlu kontan mengerutkan alis. “ish.. ni ulet, nanya tapi dijawab sendiri. Ababil nih orang..” gumam Gigi.

Tampaknya ultimatum Adrian itu belum bisa menggentarkan hati Gigi. dengan santai ia meletakkan ponselnya di atas meja dan menggelar sajadah lalu sholat.

Selama ia sholatpun, ponselnya masih bergetar beberapa kali. Karena itu, kini Gigi memilih untuk menonaktiifkan ponselnya dan tidak membaca sms-sms itu. ia sudah tahu pasti siapa pengirimnya dan apa isinya. Dengan menonaktifkan ponselnya, dia bisa tenang menjalankan ‘tugasnya’ tanpa harus terganggu oleh rengekan Adrian. Hehe.. kejam emang.

Kini ia berjalan meninggalkan gerbang kos-kosannya dengan jaket abu-abunya. Disingkapkan hoodie jaketnya lalu ia masukkan kedua tangannya ke saku jaketnya. Udara kota Jember memang agak dingin saat itu karena baru saja turun hujan. Bahkan kini gerimis ringan tengah menerpa wajahnya dan kakinya basah karena jalanan masih basah dan beberapa tergenang air. Jember memang seringkali banjir jika hujan deras, meskipun dampaknya tidak sebesar di Jakarta. Tidak sampai mencapai setengah tulang kering/betis, tapi cukup mengganggu bagi kendaraan bermotor. Lebih mengganggu lagi, cipratan besar yang di akibatkan kendaraan-kendaraan tersebut saat melintasi genangan air. Gigi selalu waspada bila berjalan mendekati genangan air di jalan, jangan sampai ia terkena ‘gelombang tsunami’ itu.

Di tengah perjalanan mata Gigi melirik ke arah warung-warung yang berjejer di pinggir trotoar. Ia pun menghampiri salah satu warung nasi goreng yang sering ia kunjungi.
“pak, nasgornya satu, dibungkus!”
***

‘tok tok tok..’

Gigi menunggu di depan pintu dengan sedikit ‘dag dig dug’. Lama tidak ada respon dari dalam. Gigi pun menguatkan tangannya untuk mengetuk pintu kamar Nue lagi.

‘tenang Gi.. ingat.. ini cuma tugas.. cuma tugas..’ seru Gigi pada dirinya sendiri.

‘tok tok tok..’

Untuk beberapa detik, masih tidak ada jawaban, hingga sebuah

‘klik’ pelan terdengar dan daun pintupun terbuka.

Mata Gigi sedikit tertegun saat melihat sosok pemuda yang terlihat di balik pintu, begitu juga dengan pemuda itu yang menatap wajah Gigi dengan tatapan kurang percaya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s