HYMN OF MY HEART 14

Bar 14, Beetwen Prince and Caterpillar.

“Nu..!”

Nue seketika mengerjapkan matanya ketika suara Grace memanggil namanya.

“kenapa si? Kok bengong?” tanya Grace heran. Dia kini tengah duduk bersandarkan bantal di kasur kos-kosannya. Tampak tangannya yang diperban ketat dan ia sandarkan pada bantal di pahanya. Sedangkan Nue duduk disisi kasur sambil memegangi mangkuk berisi bubur.

“oh, nggak.. hehe..” kilah Nue sambil tersenyum. Segera saja ia menyendok bubur lalu menyodorkannya pada Grace.

Grace sedikit tersentak ketika bubur itu menyentuh bibirnya. “aw.. huuff… Nu.. masih panas Nu…” ujarnya sambil mengipasi bibirnya.

Nue jadi salah tingkah dengan sikapnya sendiri dan meletakkan mangkuk bubur di meja lalu menghampiri Grace.

“aduh, maaf hani.. kamu ga apa apa kan?”

Grace tersenyum tapi kemudian memasang wajah cemberut. “nggak apa-apa sih.. kamu kenapa sih Nu.. kok bengong terus dari kemarin??”

Nue termenung sejenak. Dilihatnya wajah Grace yang tampak mengerut heran padanya. Hingga akhirnya Nue tersenyum sambil mengambil mangkuk bubur di atas meja.

“nggak kok.. perasaanmu aja..” jawabnya.

Ia tiup sesendok bubur di depan bibirnya itu beberapa kali lalu ia sodorkan pada Grace yang tampaknya masih belum puas dengan jawaban Nue.

Selama tangan Nue sibuk menyuapi Grace yang tak berdaya menggerakkan tangannya, pikiran Nue masih melayang ke tempat lain. ada satu hal yang membuatnya merasa tidak nyaman. Ada sesuatu yang membuat dirinya tidak seutuhnya bahagia, padahal ia sudah kembali pada Grace, orang yang ia sayangi.

“udah hani.. kenyang nih..” rengek Grace.

Nue mengerutkan alisnya sambi melihat sisa bubur di mangkuk yang masih tinggal setengah. “loh.. ini masih banyak lo..”

Grace menggelengkan wajahnya dengan wajah memelas. Nue pun menghela napas dan beranjak dari kasur Grace. “ya udah.. aku cuci dulu ya mangkuknya..”

“nggak usah hani.. taruh aja di meja, ntar aku cuci sendiri.”

“ha? Nyuci? Jangan! Tangan kamu belum sembuh juga. Udah aku aja yang nyuci.”

Grace hanya bisa terdiam dan pasrah saat Nue keluar dari kamarnya sambil membawa mangkuk dan sendok kotor.

Di tempat cuci, Nue membuang sisa bubur lalu membersihkannya. Saat ia mencuci pun pikirannya masih tertuju pada satu hal itu. Ia merenungkan kata-kata Grace tadi.

“kamu kenapa sih Nu.. kok bengong terus dari kemarin??”

Nue mengerjapkan matanya dan menundukkan wajahnya. Tidak hanya sekali itu saja Grace mengatakan hal yang sama. Beberapa kali Grace menegurnya ketika ia mendapati Nue terdiam dengan tatapan kosong. Nue akui akhir-akhir ini dia memang sering terhanyut dalam pikirannya sendiri. Dia seolah merasa selalu ada yang kurang. Hingga akhirnya pikirannya membawanya pada bayangan seseorang. Seseorang yang memang sudah jarang ia temui lagi akhir-akhir ini.

Waktu-waktunya kini lebih banyak ia habiskan dengan Grace. Untuk beberapa waktu, Nue sangat senang, karena ia akhirnya bisa mengahabiskan banyak waktu bersama Grace. Ia juga mendapatkan perhatian dan kasih sayang Grace yang dulu tidak sempat ia rasakan.

Ya.. kali ini Grace memang sangat memeperhatikannya. Sebelum terjadi kecelakaan yang mengakibatkan tangannya cidera, Grace sangat memanjakan Nue. Grace sering menghubunginya dan menanyakan kegiatannya, apakah Nue sudah makan, dan yang pasti Grace selalu mengingatkannya untuk minum obat. Grace juga sering menghampiri Nue di kos-kosannya dan membawakannya makanan atau sekedar mendengarkan permainan gitar Nue.

Sekilas senyum Nue melengkung saat mengingat saat-saat itu, tapi akhirnya senyum itu memudar kita ia mengingat sesuatu. Sesuatu yang hilang dan selama ini tidak ia sadari. Ada seseorang yang kian lama makin tergeser dari kepalanya.Baru kemarin ia melihatnya lagi dan membuatnya tersadar. Seseorang yang sebelumnya selalu ada di dekatnya, menemaninya makan, memainkan gitar, mengingatkannya untuk minum obat…

mata Nue terbelalak. Segera ia keringkan kedua tangannya dan merogoh ponsel di sakunya. Dilihatnya list pesannya, hingga matanya berhenti pada salah satu thread. Ternyata benar, beberapa hari ini sudah tidak ada lagi pesan darinya. Dia yang dulu selalu setia mengingatkannya untuk minum obat melalui pesan singkat.

Untuk sejenak Nue terdiam. Air dari keran mengucur pelan, menimbulkan suara bergemiricik riuh. Akhirnya tangan Nue memutar keran itu dan airpun berhenti mengalir. Ia hembuskan napas dalam dan ia menengadah ke langit. Langit yang berwarna biru muda dan awan putih yang menggumpal-gumpal seperti kapas yang empuk. Mata Nue tampak bergerak-gerak menatap awan-awan itu, seolah-olah awan-awan itu membentuk sebuah bentuk yang ia kenal.
Sekilas Nue tersenyum sambil masih menatap awan itu.

“gimana kabarnya adikku itu?”
***

Di tempat lain, Gigi tengah mengerjakan tugas bersama sohibnya yang selalu berjilbab, Ully, di kos-kosan Ully. Di sana ada sebuah ruangan terbuka yang khusus disediakan untuk tamu, jadi setiap tamu cowok tidak boleh masuk ke dalam kamar.

“eh, Gi.. bentar deh.” Ujar Ully tiba-tiba.

Gigi menoleh ke arah Ully yang duduk di depannya. Perlahan Ully mengulurkan tangannya ke arah mata Gigi. Gigi spontan mengerutkan alis sambil bergerak menjauhi tangan Ully.

“eh? Apaan si Ul?” tanyanya agak panik ketika tangan Ully makin dekat dengan matanya.

“ih, diem!” ujar Ully yang memegangi bahu Gigi dengan tangan lainnya. Akhirnya Gigi bisa diam dan membiarkan tangan Ully mengambil sesuatu di bawah kelopak matanya.
Perlahan Ully melepaskan tangannya dari bahu Gigi dan sambil nyengir ia mendekatkan ujung jari yang tadi mencolek bagian bawah kelopak mata Gigi.

“wuih… ada yang kangen nih..” ujarnya.

Gigi masih mengerutkan alisnya lalu ia mendongak ke arah telunjuk Ully dan melihat sehelai bulu mata di sana.

“hah? Bulu mata rontok gitu.. apa hubungannya?” tanyanya polos.

“eh, bego kamu Gi.. kalo bulu matamu jatuh, tandanya ada yang kangen sama kamu Gi.. ihiiy..!”ucap Ully sambil memicingkan matanya dengan genit pada Gigi.

Gigi termenung mendengar penjelasan Ully tadi. Selama Ully masih sibuk men’ciee..ciee..’ dirinya, matanya terpaku pada bulu mata yang jatuh itu. Dengan perlahan ia mengambil bulu mata itu dan mengamatinya dalam-dalam.

Apa mungkin yang dikatakan Ully benar? Terdengar begitu konyol dan takhayul banget. Tapi bagaimana jika itu benar? Gigi akui dia juga sedikit penasaran, siapa yang sedang merindukannya? Apakah mungkin…

‘drrt…’

Mata Gigi terbelalak, dirasakannya ponsel di dalam sakunya bergetar sekilas, tanda ada pesan masuk. Gigi cepat-cepat mengambil ponselnya itu dengan jantung yang berdebar-debar.

‘apakah mungkin?’ gumamnya dalam hati di tengah degup jantungnya yang memburu itu.

Hingga akhirnya mata Gigi sudah terpaku pada layar ponselnya, dan wajahnya berubah getir ketika melihat nama pengirim pesan itu.

‘ulet bulu’

“kenapa Gi? Kok mukamu berubah kecut gitu? Sms dari siapa?” tanya Ully heran sambil mengetikkan sesuatu di laptopnya.

“tau nih, dari orang gaje. Males juga bacanya.” Ujar Gigi. Dengan hati penuh kecewa ia memasukkan lagi ponselnya ke dalam saku.

Jantungnya yang semula berdebar kencang kini berangsur melambat pada kecepatan normalnya. Gigi pun kembali mencoba fokus kembali pada tugasnya, tapi meski mata sudah terpaku pada kertas folio dan jari memegang bolpoin, pikiran Gigi masih terpaku pada hal lain. Berkat bulu mata jatuh tadi, kini ia teringat lagi akan ‘dia’. Gigi jadi merasa serba salah. Sebenarnya ingin sekali ia melupakan orang itu, tapi kenapa dia selalu saja mengharapkan kedatangannya, atau sekedar mendapat kabar darinya. Gigi masih dan selalu merindukannya.

Dan kini Gigi justru berubah jadi merasa kesal, karena harapannya yang menggebu-gebu tadi kandas karena sebuah pesan dari seseorang yang sama sekali tidak ia harapkan. ‘ulat bulu’ ia menyebutnya. Sebutan itu ia tujukan pada cowok yang baru-baru ini dekat dengannya. Adrian.

Jujur, Gigi menyesal telah memberikan nomor ponselnya pada Adrian. Ia akui Adrian sebenarnya adalah orang yang supel dan ramah. Terlalau ramah malah. Yang Gigi tidak suka darinya adalah sifatnya yang sok akrab dengannya. Gigi tahu jika maksud Adrian itu baik, tapi tetap saja Gigi sebal padanya, karena dia selalu datang dan selalu tidak tahu bagaimana suasana hati Gigi saat itu. Sialnya Adrian, Gigi selalu dirundung bad mood akhir-akhir ini. Tak pelak Adrian selalu mendapat sambutan yang kurang ramah dari Gigi. Anehnya, dia seolah tidak pernah kapok, malah justru makin berusaha untuk semakin dekat dengan Gigi. Lebih dari itu, Adrian juga orang yang tidak mudah menyerah bila keinginannya tidak terpenuhi. Sifat Adrian inilah yang akhirnya memaksa Gigi untuk memberikan nomor ponselnya. Bayangkan saja, Adrian mengancam tidak akan menurunkan Gigi dan membawanya terus berkeliling Jember dengan kecepatan penuh jika tidak memberikan nomor ponselnya. Gila kan?

“haha.. paling juga sms dari operator suruh isi ulang!” tebak Ully asal.

Gigi hanya menanggapinya dengan senyum tipis.

‘tik tok tik tok tik tok..!!’

Seperti dipanggil, Ully mendongakkan wajahnya dengan wajah cerah. “wah, sip.. Baksonya dateng juga. Aku beli dulu ah, kamu beli juga nggak Gi..?!” ujarnya sambil beranjak dari tempat ia duduk.

Gigi menggeleng. “nggak ah, udah makan. Kamu aja sana yang beli.” Ujarnya sambil membuang sehelai bulu matanya tadi.

“oke, bentar ya..” pamit Ully. Ia pun bergegas keluar meninggalkan Gigi sendiri di tempat itu.

Gigipun kembali memalingkan pandangannya pada kertas folionya yang masih berisi setengah halaman. Ia berusaha untuk tetap fokus dan melupakan semua yang berhubungan dengan Nue, lebih lagi Adrian. Ia ingin fokus pada tugas kuliahnya karena harus dikumpulkan dua hari lagi.

Namun, baru saja bolpoinnya bergerak, sesuatu benda kecil tipis jatuh di kertas folio Gigi. Pupil Gigi melebar. Perlahan ia letakkan bolpoinnya dan ia ulurkan jari telunjuknya ke arah benda itu. benda itu tak lain adalah bulu matanya sendiri. Warnanya yang hitam tampak begitu jelas di kertas folio yang putih. Dengan hati-hati Gigi mengambil bulu mata itu dan dilihatnya dalam-dalam. Itu adalah bulu matanya yang kedua yang jatuh hari ini. Lagi-lagi pikiran Gigi kembali melayang. Kata-kata Ully tentang mitos bulu mata itu kembali terngiang di benaknya.

‘jika mitos itu benar… apa mungkin..?’
***

Hari sudah berganti malam. Suara adzan isya’ sudah mulai berkumandang dan tak terasa, kaki Gigi sudah sampai di gerbang Fakultas Sastra. Langkahnya terhenti sejenak saat matanya melihat sepeda motor yang familiar di benaknya.

‘deg-deg deg-deg..’ jantung Gigi mulai meningkatkan ritmenya. Gigi yakin betul, jika itu sepeda motor Nue, orang yang beberapa hari ini ia rindukan sekaligus juga sangat ia takuti. Ia takut bukan karena Nue suka makan orang, tapi karena Gigi takut makin larut dalam perasaannya kepada Nue.

Akhirnya, setelah lama berkutat dengan perasaan takut dan rindunya, Gigi mengepalkan tangan lalu menghela napas dalam. Setelah itu, dengan mantap ia melangkahkan kakinya menuju aula, tempat dia latihan malam ini dan juga tempat Nue berada.

Sebelum Gigi memasuki aula, ia melihat dari jendela, memastikan apakah teman-temannya yang lain sudah datang atau belum. Ternyata, baru anak-anak sopran dan alto yang sudah datang, sedangkan teman-temannya dari suara tenor belum ada yang datang, begitu juga dari suara bass. Gigi melirikkan matanya ke arah lain. Dilihatnya di depan ruangan, Nurul sedang berbincang-bincang dengan beberapa senior lain, salah satunya adalah Nue. Nue tidak menyadari mata mungil Gigi mengintip dari balik jendela. Wajahnya tampak serius saat berdiskusi dengan senior lain, tapi sesekali ia melihat ke arah pintu ketika ada orang yang masuk lalu sesekali juga melihat ponselnya.

Gigi membalikkan wajahnya. Kini punggungnya bersandar di tembok dan wajahnya tampak gelisah. Gigi merasa canggung. Sudah lama ia tidak bertemu dengan Nue. Ia tidak tahu bagaimana nantinya jika ia masuk dan Nue menghampirinya lalu berbicara dengannya. Gigi tidak tahu harus bicara apa ketika di dekatnya. Gigi benar-benar merasa bukan dirinya. Ia tidak pernah seperti ini sebelumnya.

Akhirnya, Gigi memutuskan untuk menjauhi aula dan duduk-duduk di kursi gazebo sambil menunggu teman-temannya datang. Setidaknya teman-temannya bisa menjadi alibi Gigi untuk menghindar dari Nue.

“Gi…”

Sebuah suara yang familiar membuat langkahnya terhenti. Dengan canggung dia menoleh dan dilihatnya Nue yang berjalan dari pintu aula menghampirinya dengan senyum lebar menggantung di bibirnya yang tipis kemerahan. Jantung Gigi mulai tertabuh seperti genderang perang. Ritmenya seakan terus meningkat sejalan dengan Nue yang kian mendekat kearahnya. Ingin Gigi lari, namun kakinya sudah lemas. Ia hanya bisa tersenyum tipis dan pasrah pada posisinya saat ini, berdiri canggung dan menunggu Nue mneyusulnya.
‘Oh My.. di jauhin malah dateng sndiri… please guys… cepet dateng..’ mohon gigi dalam hati.

“hei.. mau kemana?” tanyanya saat langkahnya kian dekat di depan Gigi.

Gigi menundukkan matanya lalu memalingkan wajah ke arah gazebo. “mau.. mau duduk.” Jawabnya dengan canggung.

“Oh.. ayok deh kalo gitu, ngobrol di sana yuk..” ajak Nue yang kini berjalan melewati Gigi.

Gigi pun dengan pasrah mengikuti Nue dan setibanya di gazebo, dia duduk di depan Nue.

“Gimana nih kabarnya adikku? Kok lama ga kedengeran kabarnya?” tanyanya mengawali perjumpaannya malam itu.

“Hm.. ya.. banyak tugas.” Jawab Gigi pelan.

Dalam hati, ingin sekali Gigi menjawab,’karena kakak gak pernah tanya!’ tapi tentu saja ia tak kuasa untuk mengucapkan hal itu.

Nue membulatkan bibirnya seakan mengatakan ‘ooh’ pelan lalu ia menyandarkan punggungnya di sandaran kursi. Setelah itu keduanya saling diam. seolah keduanya sedang berpikir keras untuk menentukan topik pembicaraan selanjutnya. Sesaat Gigi melirik ke arah Nue. Nue tampak sedang duduk dengan santai dan mata memandang ke bawah. Entah apa yang ia lihat, cari uang receh jatuh kah?

Cukup lama Gigi memandangnya diam-diam. malam itu Nue memakai jaket biru tua dan di dalamnya memakai kaos berwarna putih. Rambutnya yang agak panjang dibiarkan setengah acak-acakan benar-benar menguatkan sosok ‘slanker’nya, tapi anehnya, dia masih tampak begitu tampan dan keren. Terlebih lagi ketika cahaya bulan yang kebiruan menerpa wajahnya, hingga tampak seperti manekin marmer yang dibuat Michael Angelo.

#issh.. eh GI, emang situ tau Michael Angelo? ## tahu lah..! tukang siomay itu kan? #gubrakk.. pingsan.

Betah rasanya Gigi berlama-lama menatap wajahnya, tapi dia juga berjuang untuk melepas pandangannya itu. ia tidak ingin jatuh semakin jauh ke dalam bayangan Nue.

‘uugh… ayo Gi… palingkan matamu… ayoo…’ ujar salah satu sisi hatinya.

‘nggak bisa…. dia terlalu tampan..’ balas satu sisi hati yang lain, nada bicaranya seperti iklan salah satu produk sabun cuci muka.

Akhirnya, alih-alih berusaha memalingkan wajah, Gigi justru membuka bibirnya untuk mencairkan suasana.

“Kak, gimana kabarnya Kak Grace?”

Nue pun berhenti memandangi tanah dan beralih menatap Gigi. Sorot matanya yang langsung menusuk mata Gigi seketika membuat jantung Gigi berloncatan. Bahkan sampai saat ini Gigi masih belum bisa tahan melihat mata Nue lama-lama.

“Oh.. dia sudah mulai baikan kok, tapi ya ga boleh mengerjakan pekerjaan yang berat-berat.”

Gigi mengangguk-anggukan kepalanya. Setelah itu, lagi-lagi mereka kehabisan topik untuk dibahas. Suasana benar-benar canggung seperti suasana uji nyali. Gigi kembali pada posisi kepalanya yang agak menunduk. Tangannya sibuk mengutak atik ponselnya, padahal dia cuma membuka pesan-pesan yang sudah ia baca. Sekedar untuk terlihat sibuk.

Sementara itu, Nue tengah melamunkan sesuatu sambil mengetukkan jari jemarinya di atas meja sehingga menimbulkan suara semacam derap kuda. Agak lama, barulah Nue mengehentikan ‘derap kuda’nya dan menatap Gigi.

“Gi.. Gimana nih, katanya kamu mau latihan privat lagi?” tanyanya.

Gigi menoleh saat Nue menyebut namanya, tapi kemudian matanya bergerak ke fokus lain setelah mendengar pertanyaan itu. Dia berpikir. Setelah yang terjadi selama ini, apakah mungkin dia sanggup untuk berlatih secara privat lagi dengan Nue. Suasana sudah berubah. Dia tidak mungkin bisa seperti dulu lagi. tapi, bagaimana cara menolaknya? Dengan alasan apa?

“Gi? Kok diem aja?” Nue memiringkan sedikit kepalanya, mencari fokus pandangan Gigi.

Gigi tersentak dari pikirannya sendiri pun tersenyum kecil dan melihat wajah Nue sesaat.

“ehmm.. nggak jadi deh ya kak.. Soalnya tiap hari ada aja tugas yang musti aku kerjain. Jadi.. mungkin kalo pas ketemu kakak aja aku minta ajar bagian yang sulit.. selebihnya aku coba belajar sendiri.” Terang Gigi.

Nue tampak mengeryitkan alisnya sekilas, seolah heran, tapi lambat laun ekspresi itu hilang dan Nue mengangguk-anggukkan kepalanya pelan. “hmm.. ya udah.. begitu juga bagus. Hitung-hitung kamu mulai belajar membaca notasi sendiri..”

Gigi mengangguk setuju sambil tersenyum lirih, dan keduanya kembali menunduk dan larut dalam pikiran masing-masing.

Dalam keheningan itu, diam-diam Nue melihat ke arah Gigi. Dia merasa ingin berbicara banyak hal, tapi dia merasa canggung dan juga bingung mau bicara apa. Akhirnya ia menghirup udara sebentar lalu membuka bibirnya.

“Gi..”

“Nue..!!”

Sebuah suara yang melengking seolah menghancurkan tekad yang Nue kumpulkan tadi. Ia pun menoleh ke arah suara itu. tampak Nurul melambai-lambaikan tangannya dengan tegas ke arah Nue. Nue berdecak pelan. Ia pun menoleh ke arah Gigi lagi dan beranjak dari kursinya. “aku tingal dulu ya Gi..” pamitnya.

Ia pun bergegas berjalan menuju tempat Nurul setelah Gigi mengangguki kata-kata pamitnya. Tapi setelah Nue melangkah beberapa meter dari tempat Gigi duduk, sebuah suara keras mengganggu niatnya.

“Gigi..!!”

Nue yang sudah sampai di dekat pintu aula pun berbalik dan melihat Gigi yang duduk di gazebo. Tampak seorang cowok datang dengan sepeda motor gede menghampirinya.
Alis Nue mengerut dan matanya sedikit memicing ketika tangan cowok itu dengan ringannya mengacak-acak rambut Gigi.

Sementara itu, Gigi tampak dengan gigih memberontak dan melepaskan tangan Adrian dari kepalanya.

“Ishh..!! Apaan sih! Resek banget!” umpatnya dengan kesal. Ia tidak suka kepalanya disentuh apalagi diacak-acak oleh orang lain. ia hanya rela diperlakukan seperti itu oleh Nue, meskipun ia berpolah tidak suka di depan Nue.

Adrian tampak nyengir innocent pada Gigi dan duduk di depannya, tempat yang tadi diduduki Nue. Air muka Gigi berubah masam dan seolah ada uap mengepul dari kedua telinganya. Suasana mendebarkan dan canggung yang dihasilkan Nue tadi seolah langsung berubah 180% menjadi panas dan menjengkelkan ketika Adrian duduk di tempat itu.
Tidak seperti Nue yang cool, tenang dan berwibawa, Adrian adalah sosok yang lebih supel dan rame. Secara fisik, dia termasuk cowok yang keren. Gigi yakin tidak sedikit cewek yang menggandrunginya. Wajahnya runcing seperti Nue, hidungnya juga mancung seperti Nue. Bedanya, alisnya lebih tebal dan tegas. Rambutnya agak pendek dan bergaya mowhawk. Kulitnya juga tidak seputih Nue, tapi cenderung ke kuning langsat. Dari cara berpakaian dia juga –istilahnya- lebih klimis/rapi dibanding Nue. Badannya juga lebih berisi. Ya, anak bass memang sebagian besar berbadan besar dan tegap, itulah kenapa Radit banting setir ke suara bass.

Dengan banyaknya kelebihan yang dimiliki Adrian, tidak menjadi jaminan Adrian bisa menggantikan posisi VIP Nue di hati Gigi. Bagi Gigi yang memang sejak awal sudah menjadikan Nue sebagai patokan untuk cowok yang ia suka, Adrian masih belum melampaui Nue, sehingga sulit bagi Adrian untuk menggantikan posisi Nue di hati Gigi saat ini. Selain itu, sikap Adrian yang menyebalkan dan tidak peka –setidaknya begitu menurut Gigi- juga berperan untuk menjadikan Adrian berada di nomor kesekian di hati Gigi. Ya, bagi Gigi, Nue adalah yang terbaik.

“hehe… ga siang ga malem, bawaannya marah-marah mulu nih.” Kata Adrian, masih dengan senyum nakalnya.

“ya gimana ga marah kalo ga siang ga malem situ gangguin aku mulu.” Jawab Gigi dengan ketus.

Gigi memilih untuk berpura-pura sibuk membaca pesan-pesan singkatnya.

Adrian memiringkan bibirnya setelah mendengar kata-kata ketus Gigi itu. beberapa detik kemudian, dengan cepat Adrian mencondongkan tubuhnya dan merebut ponsel Gigi dari tangannya.

“eh..!! apa-apaan nih!” protes Gigi.

Adrian tidak menghiraukan Gigi dan kembali di kursinya dan mengutak atik ponsel Gigi dengan senyumnya yang menyebalkan.

“eh, balikin!” ujar Gigi sambil beranjak dari kursinya dan mencoba merebut ponselnya dari tangan nakal Adrian.

“pinjem bentar lah.. aku cuma mau liat, apa aja sih isi hapemu, kok sampe sms-ku ga dibales-bales.” Kata Adrian enteng.

Tangan kirinya tampak dengan lincah membuka-buka isi pesan singkat Gigi, sedangkan tangan kanannya dengan sigap mencegah Gigi merebut ponselnya.

“jangan buka inbox!” seru Gigi yang berusaha menggapai ponselnya, tapi tangan Adrian yang panjang sukses menahan tubuhnya untuk bisa mendekati ponselnya.

Kepala Adrian sibuk menoleh ke arah ponsel lalu ke arah Gigi yang terus memaksa mengambil ponselnya. “bentar lah… emang apa isinya sih, inbox mu? Jadi penasaran.. hehe..”

Gigi membelalakkan matanya. Wajahnya sudah memerah padam. Tak ia sangka Adrian bisa begitu menyebalkan! “huaaah…!!!!” jeritnya penuh amarah.

“Oi..”

Sebuah suara yang berat dan dingin seketika membuat gerakan Adrian dan Gigi membeku. Gigi pun menoleh ke arah suara itu.

“Kak Nue..?”

Adrian dengan canggung menoleh ke arah belakang, dan ternyata benar, Nue sudah berjalan begitu dekat dengannya. Dengan tenang Nue meraih ponsel di genggaman Adrian dan menyodorkannya pada Gigi.

“jangan bercanda terus. Ayok latihan..! kamu, anak bass kan? Motormu parkir di depan aula..!” ujar Nue dengan kalem.

Gigi pun meraih ponsel itu sambil menunduk, sementara Adrian tampak memalingkan wajahnya dengan ekspresi kurang mengenakkan, lalu ia berdiri dan menghampiri motornya. Sementara itu Nue berbalik dan berjalan menuju aula. “Ayo Gi..” ajaknya. Gigi pun dengan canggung mengikuti Nue dari belakang.

Di aula, Gigi duduk menunggu di sebuah kursi sambil menunggu Nue yang sedang membicarakan sesuatu dengan Nurul. Gigi memperhatikan Nue dari belakang. Dia cukup senang tadi, saat Nue datang membelanya ketika Adrian mengganggunya. Meskipun sebenernya Gigi merasa bodoh jika terlalu senang dengan hal kecil seperti itu.

Sementara itu, Adrian baru saja memarkir motornya di depan aula. Setelah dia berjalan melwati pintu aula, dia mengerling nakal pada Gigi sambil menjentikkan jarinya seperti pistol ke arah Gigi.

Gigi mengeryitkan sebelah alisnya sambil menganga. ‘apaan sih tu anak??’ gumamnya dalam hati.

Tak lama kemudian Nue berjalan ke arahnya dan teman-teman dari tenor.

“ayok, kita mulai aja pemanasannya.” Serunya.

Gigi beserta temannya yang lain pun beranjak dari kursinya masing-masing lalu membentuk barisan. Nue juga ikut masuk ke dalam barisan tenor, tapi dia berada di ujung terluar barisan, karena barisan diurut dari tinggi-agak tinggi-tinggi. Jadi Gigi yang tubuhny paling pendek berada di posisi tengah dan Nue yang paling tinggi berdiri di barisan paling luar. Gigi menjadi bingung harus lega atau justru kecewa karena hal itu.

‘hei…’

Sebuah bisikan yang tiba-tiba saja menyulut sumbu kejengekelan Gigi terdengar pelan di sebelahnya. Saat Gigi menoleh, Adrian sudah berdiri di sebelahnya dengan wajah menghadap ke depan tapi dengan senyum simpul di bibirnya.

“heh! Kamu ngapain disini?!” seru Gigi dengan nada tertahan.

“hehe.. emang napa? masalah?” ujar Adrian, masih dengan mata tidak menoleh Gigi.

“ya masalah lah! Harusnya kamu kan di sebelahnya putra!”

“Anggian!”

Suara melengking Nurul sukses membuat Gigi tersentak dan langsung kembali menghadap ke depan. Dia tidak sadar kalau suaranya makin keras dan itu mengganggu konsentrasi Nurul saat meniup pitchpipe (alat tiup yang berfungsi untuk memberikan nada dasar).

Kontan saja beberapa mata menoleh ke arah Gigi dan Adrian. Gigi hanya bisa menunduk malu sedangkan Adrian tersenyum-senyum tanpa dosa. Entah dia sadar atau tidak jika ada sepasang mata yang terus memperhatikannya dengan tajam dan dingin.
***

‘bugg..!!’

Dengan penuh amarah Gigi meninju bantalnya. Kejadian saat latihan tadi benar-benar membuatnya malu, dan dia sangat benci dipermalukan!

‘Uggh… Sialan kamu ulet bulu…!!!!’ geram Gigi dan sebuah pukulan keras mendarat di bantalnya sampai meninggalkan bekas pukulan yang dalam.

# beraninya mukul bantal, kalo berani nonjok tembok sono… =3=

Setelah puas melampiaskan amarahnya, kini Gigi merebahkan punggungnya dengan keras di kasur itu dan menjadikan bantal yang tadi ia pukuli hingga babak belur sebagai sandaran kepalanya.

#abis ditonjok-tonjok sekarang ditidurin. =_=

Gigi benar-benar tidak mengerti, apa yang sebenarnya ada dalam pikiran Adrian. Kenapa dia selalu saja mengganggunya, padahal sebelumnya, berbincang-bincang saja tidak pernah. Namun kini, hanya berbekal sebuah insiden kecil, yaitu saat Adrian dan Gigi tanpa sengaja bertubrukan, Adrian jadi begitu sok akrab pada Gigi. Hanya dengan tabrakan!

Huff.. jika memikirkan Adrian, tidak akan habis emosi dan kekesalan Gigi. Oleh karena itu, Gigi memillih untuk menghapus bayangan Adrian dari kepalanya sejenak. #tendang Adrian.

Lalu ia kembali teringat pada Nue. Tadi Gigi sempat tidak percaya, jika ia akan dibonceng lagi oleh Nue. Sudah sekian lama Gigi tidak duduk di atas motor Nue itu. Gigi juga menyesal telah melanggar janji yang ia ucapkan dulu saat ia dibonceng Adrian, bahwa seandainya Nue memboncengnya, dia akan memeluk tubuh Nue dengan erat dan tak akan ia lepas. Nyatanya? Untuk berpegangan pada pinggang jaket Nue saja Gigi tidak berani. Ia terlalu malu dan canggung untuk melakukannya. Bahkan keduanya tidak banyak bicara saat dalam perjalanan.

Malam ini Nue terlihat kaku dan tidak banyak bicara. Sudah Gigi duga, semua sudah tidak sama seperti dulu. sekarang semua kembali canggung. Adik? Ah.. sepertinya itu cuma embel-embel saja.. toh pada akhirnya Gigi tidak dianggap layaknya seorang adik. Bukankah seorang adik itu disayang-sayang, dimanjakan, dielus dan diperlakukan kasih sayang lah pokoknya, tapi…. alih-alih seperti kakak Gigi, Nue justru bersikap seperti orang asing padanya.

‘Ah, masa’ sih Gi..? lalu yang kak Nue lakuin pas Adrian gangguin kamu itu apa?’

Salah satu sisi hati Gigi angkat bicara. Gigi pun teringat kejadian tadi. Sisi hati Gigi itu benar juga, Nue bisa saja bersikap cuek dan membiarkannya diusili oleh Adrian, tapi toh dia datang dan ‘menyelamatkan’ Gigi dari ‘keganasan’ Adrian, layaknya pangeran dengan kuda putih.

‘Uugh…. tadi kak Nue keren banget..’ gumam Gigi setengah gemas.

Gigi seolah lupa akan misinya untuk melupakan Nue dari benaknya. Memang susah jika terjebak dalam ilusi-ilusi surgawi. Seakan ia sedang berjalan di atas benang tipis menuju taman surga yang memamerkan segala bentuk keindahan yang menggiurkan, sedangkan ia tahu bahwa di bawahnya , jurang kesedihan yang dalam dan berapi selalu setia menantinya. Sedangkan taman surga itu seolah tampak makin menjauh dan menjauh.

Ya, candu itu kembali menguasai tubuh Gigi.

Saat Gigi tengah larut mereview beberapa waktu bersamanya dengan Nue yang sebentar tadi, tiba-tiba ia teringat akan kata-kata Nue yang terputus tadi. Nue tadi sempat memanggil nama Gigi sebelum Nurul memanggilnya.

‘hmm…. kira-kira tadi kak Nue mau ngomong apa ya? kok wajahnya..’

Lagi-lagi Gigi terjebak dalam delusinya sendiri. Dia mencoba menguatkan kemungkinan-kemungkinan yang sebenarnya begitu lemah untuk terbukti. Hingga akhirnya muncul pikiran-pikiran ‘apakah kak Nue ingin minta maaf sudah kembali pada kak Grace?’, ‘apakah kak Nue ingin menjelaskan jika selama ini dia juga punya perasaan denganku?’, ‘apakah kak Nue ingin menyatakan cinta padaku?’,

Ketika Gigi sedang asik-asiknya memikirkan kemungkinan-kemungkinan yang ia suka, tiba-tiba saja ponselnya berdering dengan cukup keras, membuyarkan keheningan dan lamunannya.

‘hah? Telfon? Kak Nue kah?’ tebak Gigi sambil terbangun dari kasurnya. Segera saja ia mengambil ponsel yang tergeletak tak jauh dari tangannya dan melihat siapa nama penelfonnya. Raut wajahnya yang sekilas tampak berbinar penuh harap seketika berubah masam ketika melihat nama yang terpampang di sana bukan nama ‘Kak Nue’, melainkan ‘Ulet Bulu’.

Emosi yang sempat terlupa, kini mulai merebak lagi. Dengan kesal ia mereject panggilan itu dan membanting tubuhnya di atas kasur.

‘ssh.. kenapa malah dia yang nelpon si?!’ gumamnya geram.

Bayangan-bayangan indah yang sempat tercipta di kepalanya kini berantakan sudah. Daripada dirinya diliputi kekesalan pada Adrian, Gigi memilih untuk memejamkan matanya dan melupakan semuanya. Untuk sementara.

Baru saja Gigi memejamkan mata, ponselnya berdering lagi dengan lantangnya. Gigi berusaha untuk memejamkan matanya lebih erat sambil mengambil napas dalam. ‘sabar gi.. abaikan aja..’ ujarnya pada dirinya sendiri.

Tapi makin lama Gigi biarkan, ponsel itu terus saja berdering. Akhirnya habis sudah kesabaran Gigi. Dengan kesal ia menyambar ponselnya dan mengangkat panggilan dari Adrian itu.

“Apa sih..!! ga punya jam apa?!” bentak Gigi.

‘maaf gi.. tapi jangan tutup telfonnya ya..’ jawab Adrian dari seberang telfon.

“issh.. apaan sih? Ga bisa besok aja apa? Sud..” kata-kata Gigi terhenti ketika telinganya menangkap suara petikan gitar dari speaker ponselnya.

Setelah beberapa detik petikan gitar itu mengalun dengan merdu, sebuah suara yang tidak begitu Gigi kenal terdengar. Suara seorang cowok yang sedikit serak namun terdengar begitu renyah di dengar. Cowok itu menyanyikan lagu ‘Hal Terindah’ dari Seventeen. Gigi tahu lagu itu karena dia juga menyukai lagu itu. Untuk beberapa saat Gigi ragu, apakah ini suara Adrian? Yang jelas, kekesalan yang menumpuk di hatinya beberapa saat yang lalu, entah kenapa mulai sirna. Suara itu dan lagu itu, harus Gigi akui, menghipnotis dirinya.

Cukup lama Gigi terpaku dengan ponsel di telinganya. Matanya tampak bergerak-gerak saat lagu itu mendekati akhir.

‘takkan rela melepasmu.. walau di hadapanmu ku kan terus menangis… bahagia..’

Cowok itupun mengakhiri lagunya dengan sebuah petikan terakhir di satu senar gitarnya, dan sampai saat itu Gigi masih tidak bergeming.

‘gimana Gi..? hehe.. suaraku bagus kan?’

Gigi mengerjapkan matanya dan tersadar dari lamunannya. “oh.. itu.. itu suaramu?” tanyanya.

‘ya iyalah! Masa’ suara setan??’

“oh..”jawab Gigi singkat masih dengan wajah tertegun.

‘kenapa? kamu terkesima denger suaraku ya..?’

“ish.. terkesima? Bahasamu sok sastra banget si.. nggak lah, aku dengernya biasa aja..”

‘iya dong, aku kan dari Sastra Indonesia, jadi ngomongnya kudu ‘nyastra’. Biasa aja? Tapi kok kamu dari tadi diem aja, harusnya kalo biasa kamu tutup aja?’

“ya.. kebetulan itu lagu kesukaanku tau! Aku cuma mau ngoreksi kamu bener nggak nyanyinya.” Kilah Gigi.

‘oh gituu.. terus gimana tadi penampilan saya, dewan juri? Apakah pitch control saya kurang?’

“ehmm…. kamu nyanyi tadi… biasa banget…”

‘ooh… gitu ya, kalo gitu ayok contohin gimana nyanyi yang bener! Aku iringin pake gitar dari sini.’

Mata Gigi terbelalak. “heh? Ga perlu! Suaraku mahal!”

‘yah… jual mahal bener.. berapa sih? Aku bayar. Ayo lah Gi.. nyanyi dikiiit… aja..’

“ah nggak ah! Lima juta dulu!”

‘oke, lima juta kan? Aku bayar deh besok. Sekarang nyanyi aja Gi..’

“ish… jelas banget bo’ongnya. Udah aku tutup ya!”

‘eit eit…. jangan tutup dulu.. nyanyi dikit dulu lah..’ lagi-lagi Adrian merengek.

“nggak ah, ngapain juga sih? Penting amat dengerin aku nyanyi..”

‘ya penting-penting ga penting sih.. hehe… ‘

“ya udah, case closed, bye…”

‘eit eit eit…’

‘piip..’

Gigi memutuskan sambungannya dan merebahkan lagi kepalanya di bantal.

“resek banget” gumam Gigi pelan.

Baru saja Gigi selesai bergumam, ponsel Gigi berdering lagi dengan lantangnya.

“huuhuuu…. ya Tuhan… beri aku kesabaran… (TT_TT)” rengek Gigi. Ia pun kembali bangkit dari bantalnya yang tipis itu dan menyambar ponselnya.

“apa sih Dri…” ujar Gigi setengah putus asa.

‘ayo dong Gi… dikiiit aja.. tadi kan aku dah nyanyi, sekarang gantian kamu, biar fair..’

“siapa juga nyuruh situ nyanyiiii…!!” seru Gigi agak lantang. Ingin rasanya Gigi menjerit sambil menangis putus asa.

‘ya.. inisiatif sendiri sih.. tapi kamu juga kan dengerin, makanya sekarang kamu ganti nyanyi.. dikiiiiiiiii…’ suara Adrian yang berdecit melengking saat memanjangkan kata ‘dikit’ itu sukses juga membuat kuping Gigi memerah.

“aaaarrrggghh…!!! oke! Tapi janji habis ini jangan ganggu aku lagi ya! aku ngantuk!”

‘oke sip..!! hhaha..’

Gigi mendengus kesal. Ia tidak tahu apa yang Adrian pikirkan. Menyanyi di telfon malam-malam lalu menyuruh orang lain menyanyi juga. Ini benar-benar membuat Gigi kesal, bingung dan juga putus asa (TT_TT).

‘lagu apa nih Gi..? lagu yang tadi?’

“nggak..”

‘he? Terus lagu apa? Jangan yang sulit-sulit ya..’

Gigi termenung cukup lama, memikirkan lagu apa yang akan ia nyanyikan. Matanya tampak bergerak-gerak , dan dengan sedikit gemetar, bibirnya bergerak.

“’Talking To The Moon.’”
***

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s