HYMN OF MY HEART 12

Bar 12, Foolish.

“oke, kalian bisa istirahat dulu.”

Mendengar intruksi Omi, tim tenor pun segera berpencar untuk istirahat. Begitu juga Gigi, dia memilihi untuk duduk di kursi dekat jendela. Dia mengeluarkan ponselnya dan menghidupkan layarnya. Tidak ada pesan. Gigi pun memasukkan kembali ponselnya sambil menghela napas dalam. Agak lama Gigi terdiam, seolah tidak terpengaruh akan bisingnya gurauan teman-teman di sekitarnya, hingga akhirnya dia berdiri dan berjalan menghampiri kak Omi yang sedang menenggak air minum.

“Kak, kak Nue mana sih? Kok dua hari ini dia ga ngelatih?” tanya Gigi setelah Omi menelan air minumnya.

Omi mengangkat pundaknya sambil meletakkan gelas plastik itu di dekat galon. “Tau tuh anak. Ga ada kabar.” Ujarnya dengan nada sedikit kesal.

Tiba-tiba saja seseorang menepuk pundak Gigi dan mendekatkan wajahnya di telingan Gigi. “ciee… kenapa nih? Ditinggal kakak tersayang, jadi galau ye…?”

Gigi menoleh sambil mengerutkan alisnya, segera ia melepaskan diri dari tangan radit dan pergi dengan muka masam. “ck, apaan sih?!”

Sementara Gigi berjalan kembali ke tempat duduknya semula, radit masih tertawa jahil. Omi yang tidak tahu apa-apa hanya bisa mengatakan “kenapa sih?” berkali-kali dengan wajah bodoh. Gigi sudah sampai di kursinya tadi dan duduk dengan sedikit keras. Matanya memicing, melihat radit yang mengatakan sesuatu pada omi dengan volume pelan, lalu radit tertawa dan Omi memandang Gigi dengan alis mengangkat sebelah.

“ck..” decak Gigi. Lama-lama ia tidak suka dengan laki-laki ngondek bernama Radit itu.

Ternyata dia biang gosip yang menyebalkan. Akhir-akhir ini pun teman-teman PSM-nya mulai menertawakannya. Mereka mengira Gigi dan Nue menjalin hubungan terlarang!
Shit..! Gigi tahu itu mungkin hanya candaan, tapi lama-lama gurauan itu juga akan menjadi fakta jika diomongkan terus menerus. (ya Gigi meng-amini jika Nue dan dirinya nantinya bisa jadian, tapi juga bukan buat konsumsi publik kali!) Dan yang paling membuat Gigi gusar adalah, karena gosip inilah akhirnya Nue mulai menjaga jarak dengannya.

Nue yang biasanya menginap di kos-kosan Gigi, mengajak Gigi makan bareng, mengantar Gigi ke kampus, mendengarkan musik bareng…..sekarang tidak lagi.

Hari ini-pun Nue tidak datang di latihan rutin, ini sudah yang kedua kali. Lebih lagi, sms Gigi padanya juga jarang sekali ia balas. Gigi pun hanya bisa menghela napas dalam. Padahal hubungannya dengan Nue sudah semakin dekat sebelumnya,

namun kini? Gigi seolah harus mengulang lagi rasa pahit di masa lampau. Tidak, bahkan dulu lebih baik daripada saat ini. Setidaknya dulu Nue tidak berusaha untuk menjauhinya.
Gigi memangku pipinya dengan telapak tangannya. Hatinya terasa kosong dan hampa ditengah keramaian ruang aula itu.

Padahal hanya 4 hari, tapi terasa 4 tahun bagi Gigi yang merindukan sosok Nue. Kebersamaan dan kedekatannya dengan Nue sebelumnya seperti candu dengan dosis yang makin tinggi, dan kini ia harus berpuasa, tidak bisa menikmati candu itu dengan tiba-tiba. Kini Gigi dilanda sakau yang hebat. Kalau bisa, Gigi ingin berteriak dan memanggil nama Nue, berharap Nue mendengarnya. Tapi ia tidak bisa, ia hanya bisa melakukan itu jauh di dalam hatinya. Bisakah Nue mendengarnya?

 

Di tempat lain, Nue memarkir sepedanya di sisi Jembatan
Semanggi. Ia melangkahkan kakinya menaiki tangga menuju puncak bukit. Setibanya di puncak, ia duduk di salah satu dudukan dari batu atau semen atau apalah itu. Sejenak ia termenung melihat pemandangan di bawahnya. Lalu ia merogoh ponsel di sakunya dan melihat layarnya sejenak. Ia melihat terdapat 4 pesan dari Gigi. Ia buka pesan itu satu persatu.

‘pagi kak.. mau ngingetin aja, sempatkan sarapan dulu, terus obatnya jangan lupa diminum. Have a nice day.. ’

‘kak, sudah sarapan belum? Kok ga dibales smsku tadi? ’

‘ntar, kakak latihan nggak?’

‘kak..?’

Mata Nue bergerak-gerak melihat keempat pesan itu. Ibu jarinya bergetar di atas layar sentuh ponselnya. Lalu setelah Nue menghela napas dalam-dalam, ia mengetikkan pesan balasan.

‘maaf gi, seharian aku ngerjakan tugas, jadi ga bisa bales sms-mu..’

Sejenak Nue merenung, lalu menghapus pesannya tadi. “ck,, keliatan bo’ongnya’ bisiknya.

Lalu ia mengetik pesan lain.

‘maaf gi, tadi hapeku rusak jadi harus nginep di..’

Belum sempat Nue menyelesaikan pesannya, ia buru-buru hapus pesan tadi. Masih dia rasa terlihat berbohong.

Akhirnya setelah cukup lama berpikir, akhirnya ia mengetikkan sebuah balasan yang ia rasa cukup masuk akal.

‘maaf gi, seharian ini hapeku mati ‘cause batere habis, charger hapeku dipinjem temen, n baru bisa nge-charge malam ini. Aku malam ini ga bisa latihan, ada tugas yang msti aku slesein. Maaf ya Gi.. ’

Nue pun mengirim pesan itu. Nue mengembalikan ponsel itu ke dalam sakunya dan menghembuskan napas dengan keras.

Beberapa hari ini Nue memang ‘sedikit’ membatasi kedekatannya dengan Gigi. Gosip yang beredar di telinga teman-temannya membuatnya enggan untuk terlalu dekat dengan Gigi. Meskipun ia tahu, Gigi tidak salah. Nue juga harus mengakui jika selama ini, beberapa kali Nue ingin menemui Gigi di kos-kosannya, atau mengiriminya pesan. Gigi memang teman ngobrol yang menyenangkan, itulah kenapa Nue suka berada di dekatnya. Tapi, Nue menahan keinginan itu. Ia memilih untuk menyibukkan diri di warnet atau dengan tugas kuliah, tapi tetap saja, dia merasa bosan dan kesepian. Terlebih lagi, saat ia melihat sms-sms Gigi. Ia jadi merasa menyesal telah menjauhinya.

Tiba-tiba ponselnya bergetar. Buru-buru ia mengambil ponselnya dan menghidupkan layar ponselnya. Ternyata sms dari Gigi.

‘iya kak, gpp. Ngerjain tugas ya? semangat!!😀’

Nue terhenyak saat membaca sms dari Gigi. Jarinya berhenti di layar ponselnya seolah tidak tahu harus apa. Akhirnya ia putuskan untuk mematikan layar ponselnya dan memasukkannya lagi ke dalam saku celananya.

Gosip itu benar-benar menggelapkan hati Nue. Bagaimana bisa Nue termakan oleh gosip murahan seperti itu. Gigi itu adiknya. Dia tidak perlu menjauhi dia hanya karena kata-kata murahan orang lain. Di lain sisi, Nue juga –entah kenapa- merasa kangen dengannya. Sebelumnya berulang kali Nue harus mengurungkan niatnya saat ingin mengunjungi kos-kosan Gigi.

‘Ya,, Gigi itu cuma aku anggep adik aja. Aku rasa wajar-wajar aja. Kasian dia udah aku cuekin, mending aku jemput dia habis latihan dan minta maaf.’ Gumam Nue.

Iapun berdiri dari dudukan batu tempat ia duduk tadi. Saat kakinya melangkah untuk kedua kali, kakinya berhenti bergerak. Seorang gadis tampak menaiki tangga dan akhirnya kini berdiri di depan Nue.

Nue seolah tak mampu bergerak dan pupilnya menyempit saat berkas sinar lampu menyorot wajah gadis itu.
wajah gadis itu tampak sendu menatap wajah Nue yang memucat.

“Nu..” panggilnya lirih kepada Nue.

Sementara itu, Nue beralih memicingkan alisnya hingga tampak sorot matanya yang dingin, seolah menghujamkan puluhan anak panah dari es kearah gadis itu.

“Grace..”
***

“ternyata kamu di sini Nu…” ujarnya sambil tersenyum lirih.

Nue masih membalas senyum itu dengan tatapan dingin, lalu ia palingkan wajahnya dan bergerak menghindari grace namun dengan cepat grace menghadang Nue dan kedua tangannya memegang bahu Nue.

“jangan pergi Nu.. please… aku mau ngomong sama kamu…” mohon grace, air matanya mulai merembes jatuh.

“ngomong apa lagi? Aku ga punya waktu.” Ujar Nue ringan sambil melepas tangan grace dari badannya dan berjalan melewati grace.

Lagi-lagi grace bersikeras. Dia menangkap tangan Nue dan menahannya erat-erat. “please Nu… dengerin aku.. sebentar aja..”

Nue akhirnya memalingkan wajahnya menghadap grace. Dilihatnya mimik wajah grace yang benar-benar menyedihkan. Dengan sebuah hembusan napas dalam ia akhirnya berbalik dan berjalan kembali ke dudukan batu tadi.

“tiga menit.” Katanya singkat sambil duduk.

Grace pun menyeka air matanya dan berdiri di samping Nue. Tangannya gemetar.

“nu.. aku mau minta maaf nu..” katanya dengan suara serak. “aku ga bermaksud selingkuh Nu.. aku cuma…”

“Cuma apa Grace?”

Grace terhentak ketika Nue tiba-tiba memotong kata-katanya dengan nada tegas. Nue juga mendongakkan wajahnya ke arah grace dengan sorot mata yang menakutkan. Grace sama sekali tidak menyangka Nue bisa seperti itu karena selama ini Nue tidak pernah marah apalagi membentak orang lain.

“nu..” decit grace.

“Cuma apa grace? Aku sudah lama bersabar. Sudah 2 tahun.. dua tahun kamu asik bermanja-manjaan dengan Aldo. Selama ini aku bersabar dan maksa diriku sendiri untuk percaya sama kata-katamu, yang katanya kalian Cuma temen aja. Tapi selama itu juga aku harus memendam sakit grace..! aku sudah kamu bikin seperti mainan!”

Grace hanya menunduk sambil bercucuran air mata mendengar bentakan Nue. Nue sendiri tampaknya melepaskan semua emosi yang selama ini ia pendam. Matanya melebar, urat lehernya menonjol dan sesekali ia memukul dadanya untuk menggambarkan betapa sakit hatinya. Sungguh, Nue tampak bukan Nue malam ini.

“cowok mana yang ga jengkel, ngliat ceweknya jalan sama cowok lain? selama ini aku coba bersabar karena aku yang terlalu sayang sama kamu, dan juga respect-ku sama mas Aldo. Tapi, apa kamu ga bisa lihat? Apa kamu ga bisa merasa? Kalo aku selalu sakit hati kalo ngeliat kalian jalan berdua? Apa kamu ga punya hati grace?? “ tiba-tiba Nue menghentikan kata-katanya. Matanya menerawang seperti baru menyadari sesuatu. Lalu ia tersenyum getir seraya memalingkan wajahnya dari grace. “……oh ya, hati kamu,kan memang buat mas Aldo, mana mungkin kamu bisa ngerasain apa yang aku rasain?”

Tidak tahan dengan tekanan yang Nue berikan, grace bergerak ke arah fokus mata Nue. “kamu kok gitu sih Nu..? aku sama sekali ga ada rasa sama mas Aldo..!”

“itu grace..!” lagi-lagi Nue meotong kata-kata grace. “itu, kata-kata yang selama ini kamu ucapin kan? Aku sudah bosen dengan kata itu.”

“karena ini bener Nu.. aku bener-bener ga ada hubungan special dengan mas Aldo.. asal kamu tahu Nu..” suara grace yang sebelumnya meninggi kini mulai menyusut menjadi sebuah isakan.

“ semester ini, namaku sudah dihapus, dari daftar penerima beasiswa Nu..”

Mata Nue terbelalak. Dia terhenyak dengan kata-kata grace tadi.

“..IPK ku jatuh Nu.. aku langsung ga mendapat uang beasiswa semester ini, padahal aku harus membayar spp, belum lagi kebutuhan kuliah dan hidupku. Aku ga tahu harus cari uang dimana. Sampai akhirnya mas aldo datang dan meminjami aku uang..”

Mendengar penjelasan grace, Nue justru tersenyum sinis. “jadi kamu lebih suka cerita sama orang lain daripada sama pacarmu sendiri..”

“aku ga mau ngerepotin kamu nu.. Jumlah uangnya besar..”

“Tapi aku pacar kamu!” potong Nue kasar.

Grace tak berkutik lagi, dia hanya menangis. Hingga akhirnya ia bersimpuh di depan Nue dan menggenggam tangan Nue erat-erat. “maafin aku nu… please maafin aku.. aku akui selama ini aku bingung nu.. di satu sisi aku cinta ma kamu.. tapi disisi lain.. aku mengagumi sosok mas aldo..”

‘deg’ jantung Nue terasa perih, seperti akan berhenti berdetak.

“tapi ternyata aku salah Nu.. kamu bener Nu.. selama ini aku ga punya mata, ga punya otak, ga punya hati! Karena aku ga bisa ngeliat betapa sayangnya kamu ke aku.. aku sudah terbujuk rayuan dan iming-iming uang mas aldo.. sekarang aku nyesel nu.. setelah aku tahu kamu sudah berkorban banyak buat aku.. aku bahkan ga tahu kalau kamu rela bekerja di warnet Cuma buat beliin aku blackberry.. aku malah meminta pada mas aldo..”

Pupil Nue menyempit mendengar kata-kata grace barusan.

“apa? Darimana.. darimana kamu tahu kalau..”

“aku tahu semuanya dari anggian Nu.. dia ceritakan semuanya ke aku. aku malu.. aku malu, sebagai pacar, aku ga tahu apa-apa tentang kamu.. dan aku nyesel karena ga tahu kalau kamu sakit.. dan penyakitmu sampai kambuh karena aku. please maafin aku nu.. aku janji aku akan bayar kesalahanku ke kamu..”

Nue membisu. Ternyata grace sudah tahu semuanya, bahkan tentang penyakitnya. Gigi sudah ingkar janji.

“sudahlah, aku juga ga mau dikasihani orang lain.” seru Nue sambil melepaskan genggaman tangan grace. Lalu dia beranjak dari tempat itu. Dia sudah merasa tidak ada yang perlu dibicarakan lagi. Semuanya justru makin memperjelas ketidaksetiaan grace padanya, dan itu membuat dada Nue terasa ngilu.

Tubuh Nue tiba-tiba tertahan, ketika grace memeluknya dari belakang, membiarkan air matanya merembes di punggung Nue. “aku mohon Nu.. jangan pergi.. setidaknya jangan pergi sebelum kamu maafin aku.. aku mau bayar kesalahanku ke kamu Nu.. aku janji ga akan nemuin mas Aldo lagi, aku janji aku akan temenin kamu kemanapun kamu mau, aku janji akan selalu di dekat kamu dan ngerawat kamu kalau kamu sakit… aku janji..”

Nue hanya membisu. Tidak ada lagi yang bisa ia katakan. Ia hanya bisa menghembuskan napas dalam dan menoleh ke arah grace yang menyembunyikan wajahnya di punggung Nue. Dan Nue bisa merasakan hangatnya air mata grace yang meresap melalui pakaiannya dan merembes di kulitnya.

Keduanya pun bertahan pada kebisuannya. Membiarkan suara deru kendaraan bermotor menjadi kata-kata mereka dan bintang-bintanng, pepohonan, rumput, dan batu menjadi saksi.
***

Gigi melangkah dengan gontai menyusuri jalan trotoar yang gelap. Sesekali ia mengusap-usapkan tangannya dan memasukkannya ke dalam saku jaketnya. Udara malam itu dingin sekali. Latihan malam itu terasa hambar. Mungkin benar, kalau kak Omy lucu dan teman-temannya suka dengan cara melatihnya yang menyenangkan, tapi bagi Gigi, itu tidak ada apa-apanya. Gigi merindukan Nue. Ia rindu suara Nue, saat Nue menerangkan, saat Nue menyanyi bar demi bar, bahkan saat Nue tertawa. Ia rindu candaan garing Nue. Ia juga rindu saat-saat mereka makan berdua. Ia rindu saat mereka duduk berdua dan mendengarkan musik bersama. Gigi bahkan merindukan earphone dan sepeda motor Nue. Ah.. jika Gigi harus menuliskan daftar kerinduannya pda Nue, satu buku Boss juga tidak akan cukup. Gigi merindukan semua hal tentang Nue. Come on… ini baru 4 hari! Tapi tetap saja… itu terasa lama dan berat bagi Gigi. Candu itu sudah menguasai tubuh dan pikirannya.

‘hmm.. andai saja kakak ada disini..’

Baru saja Gigi memnggumam dalam hati, sebuah sepeda motor berhenti di samping Gigi. Suara decit rem yang keras seketika mengingatkan Gigi pada suara yang familiar. Langsung saja ia menoleh ke arah sepeda motor itu. Mata Gigi membulat ketika melihat sosok orang yang mengendarai sepeda motor itu.

“kak Nue.. “ sapanya dengan suara lemah. Jantung berloncatan kesana kemari, menghabiskan seluruh energi yang ia punya, bahkan untuk bicara.

Nue tersenyum tipis padanya. Ia mengerlingkan matanya ke arah jok di belakangnya. “naik Gi..” pintanya.

Gigi membalas senyuman Nue, lalu dengan sedikit malu-malu ia menaiki sepeda motor Nue. “kok lama ga nongol..” tanyanya begitu tubuhnya sudah mendarat di sepeda motor Nue.

Nue hanya menjawab dengan senyuman lalu melajukan sepeda motornya.

Tidak ada sepatah katapun yang keluar dari keduanya selama perjalanan menuju kos-kosan Gigi, bahkan saat mereka sudah sampai di kamar Gigi.

 

Nue dan Gigi kini duduk di bingkai jendela favorit mereka. Tetap diam tanpa suara. Sesekali Gigi melirik ke arah wajah Nue. Wajah Nue tampak murung, tidak seperti saat mereka akrab beberapa hari yang lalu. Gigi kembali mengalihkan pandangannya, menundukkan kepalanya, menunggu Nue berbicara. Ia tahu, suasanan hati Nue sedang tidak baik. Akan lebih baik jika Gigi diam dan siap mendengarkan keluh kesah Nue.

Tidak lama kemudian, suara Nue membuyarkan renungan Gigi.

“akhir-akhir ini… kamu ngerasa aku cuekin nggak?”

Mata Gigi bergerak-gerak mendengar pertanyaan Nue. Dia benar-benar bingung bagaimana harus menjawab pertanyaan yang baginya lebih sulit daripada soal matematika. Hingga akhirnya, setelah melalui proses pertimbangan yang rumit, akhirnya Gigi tersenyum polos dan berkata,”ehmm? Nggak kok.. emang kenapa?”

Nue terhenyak untuk sesaat lalu mengangguk-anggukan kepalanya. “hmm.. gitu ya. nggak ada sih.. oh nggak. Aku mau minta maaf gi, aku akhir-akhir ini jauhin kamu. Yah.. ini semua karena si radit. Gosip hubungan diantara kita jadi nyebar sekarang.. karena itu..”

“iya kak, aku paham… aku juga kena gosip itu, jadi aku ngerti posisi kakak dan sikap yang kakak ambil juga ga salah..” potong Gigi sambil nyengir. nyengir yang dipaksa.

Nue tersenyum tipis mendengar kata-kata Gigi. Dia terdiam sesaat lalu melanjutkan kata-katanya. “kamu, udah aku anggap kayak adikku sendiri Gi..”

Dalam bayangan poninya, mata Gigi membulat mendengar kata-kata Nue barusan. Nue tidak menangkap pemandangan itu dan terus melanjutkan kata-katanya.

“Aku anak tunggal. Aku ga tahu gimana rasanya punya adik. Tapi semua mulai berubah, ketika aku kenal dan dekat sama kamu. Entah kenapa aku ngerasa sudah punya adik. Itulah kenapa aku suka main sama kamu, manjain kamu kayak adikku sendiri..”

Gigi hanya tersenyum getir, meskipun sebenarnya dia menahan sedih karena asa yang selama ini ia gantung tinggi-tinggi akhirnya kini jatuh dan hancur berserakan. Nue ternyata hanya menganggapnya sebagai adik. Hanya adik! Gigi bukannya serakah atau tak tahu diri, tapi tetap saja Gigi tidak bisa naif, kalau dia menginginkan sesuatu lebih dari sekedar hubungan kakak adik. Dia ingin cinta, cinta sebagai sepasang kekasih dari Nue yang selama ini ia kagumi.

“kamu ga keberatan kan, kalo aku anggep adikku sendiri?”

Lagi-lagi Nue menanyakan hal sulit. Gigi mencoba menghapus kesedihannya dan beralih memasang senyum lebar di bibirnya.

“nggak.. nggak keberatan sama sekali. Tapi kakak harus nanggung konsekuensinya kalo ngangkat aku jadi adek. Yaitu mesti traktir aku makan. Hehe.. kan kewajiban seorang kakak..”

Gigi sedikit tertegun saat melihat wajah Nue yang memandangnya tanpa ekspresi. “lo, kakak kenapa? o.. masalah traktir itu Cuma bercanda kok.. ga usa diambil hati..” kilah Gigi.

Nue segera tersadar akan raut wajahnya yang datar dan memolesnya dengan senyuman. “ah nggak kok,, kalo traktir kamu sih kecil.. ntar aku beliin nasi jinggo (nasi bungkus yang harganya cuma Rp 3000,00. Nasinya dikit banget, kalo diitung, mungkin bisa habis dalam 10 suapan.) satu tiap malem.”

“yah.. mana kenyang..?? uda lah, mending aku beli sendiri juga..”

Melihat wajah Gigi yang cemberut membuat Nue terkekeh. Dia arahkan tangannya ke kepala Gigi lalu mengacak pelan rambutnya. Lalu ekspresinya kembali sendu.
Gigi menangkap ekspresi itu saat berusaha melepaskan tangan Nue dari rambutnya. “kakak.. kakak kenapa sih? Kok daritadi mukanya murung terus?”

Nue tidak langsung menjawab pertanyaan Gigi. Kini berbalik Gigi yang menanyakan hal sulit padanya. Dia memalingkan wajahnya ke arah bukit di kejauhan, tempat ia bertemu dengan grace.

“tadi, aku ketemu sama Grace..”

‘deg’ jantung Gigi tersengat. Ternyata karena Grace lagi. Akhirnya apa yang selama ini Gigi takutkan mulai terjadi. Tapi apakah mungkin…..?

“dia minta maaf ke aku, sambil nangis dan memohon-mohon. Dia ingin kita balikan, tapi…” Nue menundukkan wajahnya sejenak lalu beberapa saat kemudia mendongakkan kembali wajahnya sambil menghembuskan napas dalam.

“kamu bilang ya, kalau aku kerja dan mengidap penyakit?”

Mata Gigi membulat, tangannya mencengkram celananya dengan gemetar.

“I..iya..” jawab Gigi dengan suara bergetar. Ia takut Nue akan marah. “maaf kak, aku udah nglanggar janjiku ke kakak, tapi… “
“nggak apa apa.. semua sudah terjadi.” Potong Nue dengan senyum melengkung tipis di bibirnya. Setelah itu keduanya kembali diam. suasana saat itu benar-benar kaku dan canggung. Sungguh kontras jika dibandingkan dengan beberapa hari yang lalu.

“menurutmu.. aku harus gimana?”

Gigi mengerutkan alis sambil menoleh ke arah Nue yang tiba-tiba membuyarkan kesenyapan diantara mereka itu.

“maksud kakak?”

“aku harus gimana? Apakah aku harus kembali lagi dengan grace, atau ninggalin dia..?”

Gigi seolah tidak bisa bernapas. Pertanyaan demi pertanyaan yang meluncur dari bibir Nue malam itu, seolah menguji Gigi. Gigi benar-benar tidak tahu harus menjawab apa. Dalam hatinya yang paling dalam, dia ingin bilang ‘jangan kak.. jangan kembali..’ tapi dia tidak tahu harus menjawab apa lagi jika Nue tanya ‘kenapa’. di sisi lain, dia juga sangat berat untuk mengatakan ‘ya, kembalilah pada grace, kak..’. hatinya pasti akan sakit jika mengatakan itu. Seolah separuh hatinya dicabut dari tubuhnya. Hanya tersisa satu jawaban yang tersisa yang bisa Gigi katakan, tapi tetap saja, jawaban itu menyisakan sakit di hati Gigi.

“ya.. itu semua tergantung kakak… aku ga berhak mutusin hal itu..” jawab Gigi lirih sambil melirik ke arah fokus lain. menyembunyikan kegetirannya.

Nue terdiam mendengar jawaban Gigi. Tidak ada kata ‘ooh..’ keluar dari bibirnya, atau sekedar untuk menganggukkan kepala. Dia hanya diam dan termenung. Lalu setelah membisu untuk beberapa saat, seolah tidak kenal ampun, dia mengajukan pertanyaan lagi kepada Gigi.

“kamu sendiri, apa sih alasanmu ngasi tahu grace tentang penyakitku dan bagaimana aku kerja keras buat dia?”

“itu….. itu karena aku ingin kak Grace tahu, betapa sayangnya kak Nue ke dia.. “ jawab Gigi.

Nue menoleh ke arah Gigi setelah mendengar jawab itu. Segera Gigi menundukkan wajah dan melirik fokus lain. sementara itu Nue agak lama memandangnya. Entah apa yang ia pikirkan. Lalu Nue kembali memalingkan wajahnya, sama-sama menundukkan wajahnya.

“itu artinya.. kamu ingin aku dan grace balikan..”

Tangan Gigi gemetar. Hatinya sudah berteriak sambil meloncat-loncat untuk menyuruhnya mengatakan ‘tidak’. Ya, Gigi sangat ingin utnuk bilang tidak. Dia sangat ingin untuk bilang jika dia tidak mau melihat Nue dan grace kembali berpacaran. Dia sangat ingin bilang jika ia ingin menggantikan posisi grace di hati Nue, tapi… itu semua hanya bisa tertahan di tenggorokan Gigi.

Gosip yang beredar di kampus, pernyataan Nue yang menganggap Gigi hanya sebagai adik, dan juga perasaan Nue sendiri kepada grace… semua hal itu seolah mencekik leher Gigi untuk mengungkapkan perasaannya.

‘ciee… kenapa nih? Ditinggal kakak tersayang, jadi galau ye…?’

‘kamu, udah aku anggap kayak adikku sendiri Gi..’

Gigi memejamkan matanya rapat-rapat dan mengepalkan tangannya.

“sebenarnya, kakak masih cinta nggak sih sama kak grace?” tanyanya. Dia kuatkan dirinya untuk mengeluarkan suaranya. Bagaimanapun dia harus memastikan hal itu dulu sebelum dia menjawab pertanyaan Nue tadi. Ia sudah tidak tahan dibuat bingung dengan perasaannya maupun dengan sikap Nue.

Nue terdiam sesaat, seolah menimbang-nimbang jawabannya. Diamnya Nue menciptakan suasana yang hening nan gelap, seakan memenjarakan Gigi dalam ruang penghakiman. Dan sebentar lagi, sang hakim akan mengucapkan putusannya dan mengetuk palu.

“… ya.”

Hembus angin menggoyangkan dedaunan menciptakan suara gesekan yang lirih. Suara klakson kendaraan bermotor terdengar samar-samar. Suara derik serangga terdengar bersahut-sahutan dan riuh. Kesemua suara itu seolah berpadu menjadi satu, menjadi sebuah orkhestra yang mengiringi dinginnya malam itu. Dinginnya malam yang seolah merasuk dan membekukan hati Gigi saat ini.

Jawaban Nue tadi sudah memperjelas semuanya. Seolah membangunkan Gigi dari tidur lelap yang dipenuhi dengan mimpi-mimpi indah. Dan saat terbangun, Gigi sudah terbaring di sebuah ruang kosong dan gelap. Tanpa suara, tanpa angin, tanpa cahaya.. kini Gigi seolah tidak punya apa-apa untuk dipertahankan lagi, selain membiarkan dan melepaskannya pergi.

“ya udah…” ujar Gigi. Dengan senyum paling manis, ia menoleh ke arah Nue dan menepuk bahunya dengan mantap. Seketika Nue menoleh dan tertegun dengan kata-kata Gigi selanjutnya.

“kalau memang kakak masih cinta dengan grace, ya kembalilah kak.. Jangan bohongi diri kakak sendiri yang nantinya akan menjebak kakak dalam penyesalan. Sebagai adik, aku dukung setiap keputusanmu kak..”

Mata Nue melebar mendengar semua kata-kata dan wajah polos cowok itu. Seolah tidak percaya dengan apa yang ia dengar. Akhirnya setelah beberapa detik, Nue tersenyum.

“hmm.. gitu ya.. ” Nue terdiam sesaat, lalu menundukkan wajahnya. “ya, kamu bener Gi..”

Meski Gigi bertahan pada senyum di bibirnya, namun samar terlihat senyum itu memudar, dan kian memudar ketika Nue berdiri dari bingkai jendela tempat mereka berdua duduk.

“terimakasih ya Gi, atas support yang kamu kasih.. makasih juga karena kamu dah jadi adik yang baik..”ujarnya sambil mengacak-acak rambut Gigi.
“kakak pulang dulu ya, udah malem.. dah..” sambungnya kemudian.

Sedangkan Gigi yang hanya diam tidak melawan ketika rambutnya diacak-acak oleh Nue hanya bertahan dengan sedikit senyumnya yang tersisa dan ia paksakan.

“iya..” jawabnya singkat dan lirih.

Mau bilang apalagi? Gigi sudah tidak punya kekuatan lagi untuk berpikir akan bicara apa lagi, terlebih lagi untuk bicara. Semua kekuatan yang ia punya sudah ia pakai seluruhnya untuk menahan isak di tenggorokan dan air mata yang mengganjal kelopak matanya.

Akhirnya Nue melepaskan tangannya dari rambut Gigi dan tanpa kata-kata ia meninggalkan Gigi di kamar kosnya. Begitu saja? Ya, begitu saja.

Terdengar suara daun pintu yang menutup, dan beberapa detik kemudian dua-tiga tetes air menetes di punggung tangan Gigi yang mengepal di pahanya.

“Gi.. kamu bego Gi.. bego banget..” isaknya. Dengan gemetar ia mengusap air mata dengan punggung tangannya, namun air mata itu toh masih deras bercucuran juga, begitu juga tubuh gigi yang menggigil karena isakan tangis.

“kenapa sih.. aku ga bisa jujur.. kenapa kamu bisa begitu bodoh Gi..??!!!”

Gigi-pun membenamkan wajahnya dalam kedua tangan yang ia kalungkan di lututnya. Membiarkan semua kesedihannya tumpah dalam gelap.

Di tempat lain, di pintu gerbang kos-kosan Gigi, Nue menuntun sepeda motornya keluar gerbang. Matanya tampak kosong, dan sejenak ia palingkan wajahnya ke arah kamar Gigi di latai dua. Darisana jendela besar Gigi tidak terlihat, karena jedela itu berada di sisi samping baguna kos, sehingga Nue tidak tahu kondidi Gigi sekarang.

Cukup lama Nue termenung memandang kamar Gigi, hingga akhirnya ia palingkan lagi wajahnya dan menaiki sepeda motornya. Nue memejamkan matanya rapat-rapat dan giginya bergemertak. Lalu ia hidupkan sepeda motornya dan dengan keras ia tarik pedal gasnya dan bayangan Nue pun melaju cepat di tengah gelapnya malam, dan gelapnya hati Nue sendiri.
***

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s