HYMN OF MY HEART 11

Image

Bar 11, Bofriend, Brother, or…?

Gigi membuka pelan matanya. cahaya matahari pagi membuatnya silau. ia pun mengerjap-ngerjapkan matanya, lalu menengok ke samping kirinya. tidak ada siapa-siapa di sana. lalu ia berbalik menengok ke arah kanan, di jendela besar. disana juga tidak ada siapa-siapa. kini Gigi melihat ke arah langit-langit, mengingat-ingat apa yang ia alami semalam. saat itu, ia mendengarkan beberapa lagu bersama Nue, dan dengan tanpa bebannya ia menyandarkan kepalanya di pundak Nue.

saat Gigi mengingat momen itu, seketika wajahnya memerah. ia sama sekali tidak tahu, kekuatan apa yang mendorongnya untuk melakukan hal itu. itu terjadi begitu saja! Perasaan Gigi sudah tidak bisa dibendung lagi, dan begitu kepala Gigi menyentuh pundak Nue, sangat susah untuk lepas. seperti besi dan magnet.

Anehnya Nue juga tidak keberatan apalagi berusaha menyingkirkan kepala Gigi dari pundaknya. Gigi memang tidak bisa melihat ekspresi wajah Nue. Ia terlalu malu untuk menatap wajahnya, tapi dari sikap Nue yang tenang itu sudah cukup bagi Gigi untuk merasa kalau Nue tidak keberatan.

cukup lama Gigi bersandar di pundaknya, hingga akhirnya ia tidak bisa mengingat apa-apa lagi setelah lagu ke empat. ia pasti tertidur di pundak Nue.

kini Gigi sudah berada di kasur. pasti Nue yang membawanya kesana. tak terasa, bibir Gigi melengkung tipis saat membayangkan tubuhnya yang sudah terlelap digendong oleh tangan Nue. itu pasti romantis banget -_-.

“Hoaaaahh…. What a beautiful night…” ujar Gigi setengah menguap dan merentangkan tanganya lebar-lebar.

‘aku harap itu semua bukan mimpi belaka..’ batinnya.

Dengan semangat ia meloncat dari ranjangnya dan hendak ke luar kamar, tapi baru saja ia melangkah, kakinya terantuk oleh sesuatu yang kokoh tapi juga tidak keras.

“Hoaaahhh…!!!”

‘gubrakk..!!’ Gigi jatuh terjerembab di lantai berkarpet dan kepalanya terbentur cukup keras.

“Awww… Apaan sih Gi…”

Nue tampak terduduk di lantai sambil memegangi bahunya. sementara itu, Gigi masih tengkurap di lantai. dengan cepat ia berbalik menatap wajah Nue yang tampak polos tanpa dosa.

“Waa..!!! Kenapa kakak masih ada disini? Kenapa kakak tidur disitu!! Ga ada tempat yang laen apa??” bentak Gigi sambil sesekali memegangi dahinya yang tadi sempat terbentur, beruntung saja tidak sampai berdarah.

Tampaknya nyawa Nue masih belum kembali sepenuhnya. sambil menggaruk-garuk kepalanya dan sebelah mata terpejam ia melihat Gigi. “Hmm? ya semalem kan udah terlalu larut gi.. Kosanku juga pasti dah dikunci, jadi aku tidur disini.”

“Ta..Tapi, kok tidur di bawah? Aku sampek kesandung kan jadinya? Untung ga parah, kalo aku amnesia gimana??”

Nue terkekeh pelan lalu ia menurunkan tangan yang ia gunakan untuk menggaruk kepalanya tadi. “Tidur dimana? Kasurmu itu sempit, masa’ dibuat tidur berdua? So sweet badai, kan?”

Gigi sedikit tersentak dan wajahnya memerah. ia segera mencari fokus pandangan lain dan memanyunkan bibirnya.
tiba-tiba ada sesuatu seperti benang-benang yang menyentuh dahi Gigi. saat Gigi menengok, tampak wajah Nue sudah kurang dari 1 inchi dari wajahnya. Dengan polosnya Nue mengusap-usapkan rambut poninya di dahi Gigi yang agak benjol itu.

“Ka.. Kakak apa-apaan sih!!” protes Gigi yang gelagapan. ia menggeliat menjauh dari Nue tapi tangan Nue menahannya hingga tubuhnya tak berkutik dan didekatkan pada tubuh Nue.

“Diem.. Biar ga makin parah benjolnya, diusap-usap pake rambut..” ujar Nue pelan.

Dengan lembut ia mengusap rambutnya yang cukup panjang itu di dahi Gigi.
wajah Gigi seakan mau meledak sekarang. ia hanya melirikkan matanya menjauh dari wajah Nue yang seperti akan menciumnya. ia membisu dan merasakan sensasi nyeri di dahinya saat bergesekan dengan rambut Nue.

“Kolot banget sih..” bisik Gigi.

“Cerewet” balas Nue.

Setelah agak lama barulah wajah Nue manjauh dari wajah Gigi. Gigi seakan baru saja lepas dari belitan ular. ia pun kembali menolehkan wajahnya ke arah Nue.

“Sudah terasa baikan, kan?” tanyanya.

“Hmm.. lumayan sih.” jawab Gigi dengan nada kurang ikhlas.

Gigi memang pintar berakting, padahal dia merasa akan mati nyengir saat Nue melakukan hal itu. hooo…. bahagianya….!!
Nue hanya tersenyum kecut, lalu ia berdiri dan menjatuhkan tubuhnya di kasur Gigi.

“Loh, kak.. Kok tidur lagi?” Tanya Gigi yang langsung berdiri di samping kasurnya.

Nue menggeliat sambil merentangkan tangannya lalu memeluk guling dengan santainya. “Uhhmm…. Aku masi belum puas tidur, apalagi tadi tidurnya di lantai. Kamu mau kuliah kan? Mandi ama siap-siap aja dulu, ntar kalo udah siap, bangunin aku.” ujarnya dengan mata terpejam.

Gigi mengerutkan alisnya dan mulutnya mengaga heran.
“Issh… Kakak males baget jadi orang. Ntar aku ganti bajunya gimana?”

“Hmm…? Aku ga liat kok.. Aku tidur..” Nada suara Nue makin tenggelam sekarang.

Akhirnya Gigi hanya bisa mendengus dan pergi meninggalkan Nue yang sudah terlelap di kasurnya itu. Setelah beberapa langkah, ia berhenti dan berpikir sejenak.

‘Hmm.. Apa aku ganti bajunya di kamar mandi aja sekalian?’

Setelah menimbang-nimbang, Gigi pun berbalik dan berjalan menuju lemarai pakaiannya. ia memilih untuk berganti baju di kamar mandi. ia terlalu malu untuk melepas pakaian di depan Nue, bahkan meski mata Nue tertutup. Terlalu beresiko..!

Setelah ia menyampirkan pakaian ganti di pundaknya, untuk sesaat ia melihat Nue. Tampaknya Nue sudah benar-benar terlelap. Gigi bisa mendengar hembusan napas Nue di balik guling yang menutupi mulutnya itu. Perlahan Gigi mendekati kasur. ia lambai-lambaikan tangannya di depan mata Nue, memastikan Nue benar-benar sudah tertidur. Setelah itu, ia menurunkan tangannya. Gigi bersimpuh di samping kasur dan melipat tangannya di pinggir kasur sambil menatap wajah Nue.

Wajah Nue tampak begitu manis saat tidur. Tak terasa bibir Gigi tersenyum lagi. Perlahan, dengan begitu hati-hati tapi pasti, Gigi mencondongkan tubuhnya ke arah Nue, hingga wajahnya begitu dekat dengan wajah Nue. Ia pejamkan matanya dan dengan penuh perasaan, Gigi mengecup lembut dahi Nue. sebuah ciuman yang tipis dan basah mendarat di dahi Nue.

Jarum jam dinding berdetak untuk ketiga kali sejak bibir Gigi mengecup tipis dahi Nue, dan perlahan Gigi melepaskan kecupannya. Dengan lembut ia usap bekas kecupannya yang agak basah itu sambil tersenyum. Akhirnya ia menarik tangannya lalu ia berdiri dengan cepat dan bergegas meninggalkan tempat itu.

‘Woaaa… Apa yang sudah aku lakukan..!!??’ Teriaknya dalam hati sambil melangkahkan kakinya dengan cepat menuju kamar mandi.

Sementara itu, ketika daun pintu kamar Gigi bergerak menutup dengan pelan, tampak wajah Nue yang terlelap. dan ketika tepi daun pintu itu menyentuh ambang pintu, mata Nue perlahan terbuka. Mata itu tampak diam tak bergerak, dan tangannya perlahan menyentuh dahinya, tepat di titik Gigi menciumnya.
***

5 hari kemudian.

“Huwaaahhh…!! Pelan dikit dong kak..!!” Teriak Gigi sambil berpegangan pada jaket Nue.

“Iya… Udah pelan ini..!” Ujar Nue tak kalah lantang.

“Hah?? Pelan apanya?” Gigi menengok dari balik bahu Nue. dilihatnya speedometer yang menunjukkan angka 70 Km/jam.

“Itu 70 kak..! PElanin dikit dong..”

“Ga bisa Gi, kalo telat, kita bisa didenda! SEkarang kita berurusan dengan mbak Nurul, telat sedetik juga bakal kena denda lima ribu!”

“Ya ampun kak…. Mending aku bayar deh, daripada ntar aku mati muda! Aku belum kawin kak..!”

“kawin mulu pikiranmu Gi.. tenang, aku profesional kok! pegangan yang kencang!”

Nue meningkatkan lagi laju sepeda motornya dan meliuk-liuk melewati kendaraan yang berlalu lalang dengan padatnya.
Gigi pun mencengkran erat jaket Nue dan menundukkan wajahnya di punggung Nue.
“Huwaaaa….!!!”

Sepeda motor Nue berdecit nyaring saat berhenti di tempat parkir kampus. dengan tergesa keduanya berjalan menuju ruang aula. disana, Gigi melihat yang lain sudah hadir.

“Eh, kalian dah dateng?” Sapa Nurul. ditengoknya jam tangannya dan tersenyum penuh arti pada Nue da Gigi. “kalian datang pas jam setengah 7. hebat ya…”

Nue terkekeh bangga sedangkan Gigi hanya memanyunkan bibirnya. “Membahayakan hidup orang lain cuma biar ga didenda?? menyebalkan.” bisik Gigi.

“Sst..” desis Nue yang mendengar gumaman Gigi.

“Oke, Anggian.. Kamu sudah siap kan?” tanya nurul pada Gigi.

Gigi mengangguk sambil tersenyum ramah.

“Maaf sebelumnya ya Gi, kita ga bermaksud mengucilkan kamu dalam tim, tapi memang ini satu-satunya jalan buat membuktikan kalau kamu memang pantas di mata senior yang lain.” ujar Nurul dengan senyum setengah menyesal.

“Iya nggak apa-apa kak.. Aku ngerti kok. Aku juga sudah siap sekarang.” Ucap Gigi lantang.

Mendengar itu, Nue tersenyum.

“Oke, ayo deh kita mulai.” Ujar nurul. Ia mengisyaratkan pada Lala, sang pianis, untuk memberikan nada dasar.
Nue menepuk pundak Gigi yang langsung menoleh padanya.
“Semangat, kamu pasti bisa Gi..” Bisiknya, sambil mengepalkan tinjunya.

Gigi tersenyum dan mengangguk dengan mantap.
Setelah suara piano mulai berdenting, Gigi pun menghela napas sejenak dan bibirnya pun mulai bergerak.
***

“Hahaha.. sip! Aku udah bilang kan? Kamu pasti bisa.. Sekarang kamu dah bener-bener pantes jadi tim LPSAF. Selamat ya..!”

Nue mengacak-acak rambut Gigi sambil berjalan menuju tempat parkir. Gigi hanya diam dan tersenyum malu. Wajahnya menunduk dan memasrahkan rambutnya diacak-acak oleh Nue. Yup, Gigi tadi memang berhasil membawakan lagu Hymne UJ dengan baik. Ga sampai sempurna sih, tapi sudah cukup baik. Dengan begitu Gigi sudah layak menjadi anggota tim LPSAF dan bisa menjalani latihan biasa bersama teman-temannya yang lain.

“Oke, malam ini kita rayain dengan makan-makan yuk!” ajak Nue.

“Oke deh.. “ jawab Gigi. Kini mereka berdua sudah tiba di tempat sepeda motor Nue parkir.

“Tapi kamu yang bayar yah..” ujar Nue yang mencolokkan kunci kontaknya.

Mata Gigi spontan melebar. “Loh, kok aku yang bayar?”

Dengan enteng Nue tersenyum dan menaiki motornya. “Ya kan, kamu yang punya hari special, jadi kamu yang wajib bayar, hehe..”

“heh..??”

Gigipun dengan wajah kecut naik di boncengan Nue, dan motor itupun melaju meninggalkan kampus.

 

Sudah 5 hari sejak Nue dan Grace berpisah. selama 5 hari itu, Gigi dan Nue lebih banyak menghabiskan banyak waktu bersama. Hubungan mereka juga semakin dekat. Sekilas, mereka tampak seperti saudara kandung, tapi wajahnya memang ga mirip sih..

Tapi di lain sisi, Grace, seperti dugaan Gigi, tidak pernah lagi muncul di hadapan Gigi ataupun Nue. Jika bertemu pun, dia seolah malu dan menundukkan wajahnya lalu bergegas meninggalkan mereka. Beberapa kali, Gigi masih menangkap ekspresi sendu Nue saat bertemu dengan Grace, atau saat sedang melamun. Apakah Nue masih mencintai Grace? Kalau ia masih mencintainya, kenapa dia harus memutuskannya? Jika mengingat itu, dada Gigi terasa sesak.

Seringkali Gigi mencoba menanyakan hubungan Nue dan Grace, tapi seringkali pula Nue hanya menjawab dengan senyuman atau jawaban singkat yang justru bikin tambah penasaran.

G: ‘Kak, gimana keadaan Kak Grace sekarang?’
N:‘Hmm? Ga tau, aku ga pernah buka fb buat liat statusnya sih.. hehe.. :p
G: ??? -_-

G: kak, apa kak Grace sudah ketemu sama kakak n minta maaf gitu?
N:🙂
G: kok senyum sih???
N:🙂
G:???

G: kak, kakak masih suka kan, sama kak Grace?
N: hooaaam…. aku laper, makan ayok.. (pergi)
G: loh kok ga dijawab? Kak..! tunggu..!

Hmm.. -_-“

Nue memang orang yang susah ditebak. Apapun yang ia lakukan selalu menimbulkan pertanyaan ‘kenapa’ di benak Gigi. Terutama pertanyaan ‘kenapa dia mutusin Grace’ dan sebuah pertanyaan lagi yang ga kalah bahayanya, ‘apakah Nue masih mencintai Grace?’

Dua pertanyaan itu membuat Gigi nyaris stress. Di satu sisi, dia senang karena Nue semakin dekat dengannya, di sisi yang lain, dia takut. Dia takut jika Nue hanya menjadikan Gigi sebagai pelarian saja. Pelarian seorang cowok?

Gigi masih belum tahu, apakah Nue seorang gay, bisex, atau justru straight. Yang jelas saat ini perhatian Nue padanya sudah lebih dari sekedar senior pada junior. Yang masih belum jelas adalah apakah perhatian itu seperti hubungan kakak beradik atau justru seperti orang yang sedang pendekatan? Gigi masih belum bisa mendefinisikannya.

“Woy.. Ngelamun mulu! Mie-nya ntar dingin lo..”

Suara Nue membuat Gigi tersentak dari lamunannya. Ia spontan menoleh ke arah Nue sekilas dan nyengir lalu menancapkan garpunya di semangkok mie ayam di depannya.

“Nglamunin apa sih?” Tanya Nue lagi sambil menyantap gulungan mie di garpunya.

“Nglamunin banyak hal.” Jawab Gigi singkat sambil menggulung mie pada garpunya.

Nue mengangkat alisnya dan tersenyum kocak. “Wuiss… Kata-katamu kayak orang penting banyak masalah aja.”

Gigi tersenyum kecut dan memasukkan mie ke dalam mulutnya.

Ya, Gigi memang punya masalah, yaitu tentang ketidakjelasan sikap Nue. Apakah dia masih cinta dengan Grace? Apakah dia menyukai Gigi? Atau hanya menjadikan Gigi sebagai pelarian saja? Yang jelas, Gigi sudah menunjukkan sinyal yang kuat, kalau dia memiliki rasa pada Nue, tapi anehnya Nue tidak pernah menangkap sinyal itu, atau mungkin ia mengabaikannya. Dan sampai saat ini Gigi masih menunggu kejelasan hubungan diantara mereka berdua.

‘kakak anggap aku sebagai adik, pacar, atau… bukan siapa-siapa?’

“hmm? Kenapa? kok liat aku kayak gitu?” Nue menatap Gigi dengan heran saat sadar jika Gigi memandanginya.

Gigi segera melepas pandangannya dan menggeleng kecil. “ah, nggak apa-apa kok..”

Nue mengangkat sebelah alisnya dan kembali menurunkan pandangannya pada mangkok mie ayam.

Saat itu Gigi kembali merenung dan menoleh ke arah Nue yang tengah menggulung mi pada garpunya.

“Kak.. “

“Hmm?”

“Setelah ini, aku masih boleh kan, latihan privat bareng kakak?”

Nue mendongakkan wajahnya ke arah Gigi dengan mata bulat. Mulutnya tampak penuh dan terlihat 2 utas mi yang menyembul di bibir merahnya. “Hmm?”

“Ehm.. ya aku pikir, aku lebih cepet nangkep kalo latian sendiri..” kilah Gigi sambil mencari fokus pandangan lain.

Nue pun segera menelan mi dalam mulutnya dan tersenyum. ia menggulung sisa mi di mangkoknya dengan garpu. “Oke dah.. Tapi kalo latian rutin kamu juga harus datang ya..”

Senyum Gigi melengkung cerah. “Iya dong.. Kakak jangan bosen ngajarin aku ya!”

Hhmm.. kalo bosen, gimana?” goda Nue.

Gigi tersenyum kecil dan mengambil segulung mi. “Tenang.. aku ga bosenin kok.”

Nue meletakkan garpu di mangkoknya yang sudah kosong sambil tersenyum jahil ke arah Gigi. “Masa?”

“Iya lah… kalo aku bosenin, gimana kakak bisa betah ngajarin aku selama dua minggu?”

“Hehe.. Itukan tuntutan tugas..”

“Hmm.. ngeles mulu.”

Dan Gigi pun melahap suapan mi terakhirnya.
***

Lima minggu sudah terlalui sejak pertemuan Gigi dan Nue. Banyak hal yang terjadi diantara keduanya, baik sedih maupun senang. Anggaplah semua hal yang berkaitan dengan Grace adalah bagian sedihnya, setidaknya itu yang Gigi pikir, dan selain itu, semuanya berjalan dengan happy.

Mulai dari berlatih bersama..

“Ayok, coba kamu sendiri nyanyikan bagian ini..” ujar Nue sambil menunjuk salah satu bar dalam partitur.

Gigi mengangguk dan menarik napas lalu..
“Dododo…solmisolfami….do..”

Nue melongo mendengar nada Gigi yang kacau, maklum itu lagu baru, mars UJ. “Kamu pake kunci apa sih Gi? Ga karu-karuan gitu nadanya!”

Gigi mendengus sambil meniup poninya. “Kunci inggris!!”

Pulang bareng…

“Dah naik belom gi?”
“Bentar ini naikin galon airnya dulu” jawab Gigi yang sedang membawa galon air untuk minum saat latihan rutin. Mereka memang ditugaskan Nurul untuk mengantarkan galon di rumah salah seorang pengurus perlengkapan.

‘blugg’ dengan susah payah akhirnya Gigi berhasil menumpangkan galon yang masih ¾ penuh itu di atas sepeda. Ia pun mengambil ancang-ancang untuk duduk di atas sepeda.
Belum sempat Gigi mendaratkan tubuhnya di atas sepeda, tiba-tiba hidung Nue terasa gatal dan…

“Haaa…. Haaacchii..!!”

“Greeeng,…!!!”

“Haa? Huwaaaaahh..!!!”

Saat bersin, tanpa Nue sadar, tangannya mengegas sepedanya sehingga motornya melaju mendadak sebelum Gigi benar-benar duduk di atasnya. Tubuh Gigi spontan terjatuh di atas tanah, dan galon air pun jatuh, untung saja tutupnya tidak lepas.

“Yaahh..!!! Galonnya jadi jatoh kan??” ujar Nue yang segera menoleh ke arah belakang.

“Hah? Kok galon sih yang dikhawatirin? Aku dong, aku makhluk hidup tauk!”

Nue hanya nyengir sambil menggaruk-garuk kepalanya saat melihat Gigi terduduk di tanah dan marah-marah ga jelas.

 

Masak bareng..

“Ini apa airnya ga kebanyakan kak?” tanya Gigi sambil membuka tutup heater dan melihat permukaan airnya yang mendidih.

Nue yang semula mengutak atik gitarnya melirik sebentar kearah heater. “Nggak.. mi-nya kan banyak, jadi airnya banyak juga dong..” jawabnya santai.

Gigi mengangguk-angguk kecil lalu menutup lagi tutup heaternya. Baru beberapa detik Gigi menutup heater itu, tutup heater bergerak-gerak, dan tampak air berbuih merembes keluar dari bibir heater.

Mata Gigi spontan membulat dan panik.“Loh..Loh… yaahhh…! kan.. aku bilang juga apa… airnya kebanyakan!”

Nue melirik ke arah heater dan segera meletakkan gitarnya. “Aduh.. Ya buruan copot kabelnya…!”

“aisshh… akhirnya tumpeh-tumpeh kan..?” ujar Gigi sambil menarik kabel heater.

“hehe… iya iyaaa.. maap..”

 

Makan bareng…

Nue dan Gigi tampak sedang makan mi bareng dalam satu piring. Bukan karena ingin romantis, tapi memang karena piring Gigi cuma satu.

“Kak.. Kalo makan napas dong kak… Aku ga kebagian entar..” ujar Gigi yang daritadi memperhatikan Nue yang makan dengan lahap.

Nue melirik sesaat pada Gigi sambil mengunyah makanan di mulutnya. “Makanya kamu makan yang cepet..”

Mendengar jawaban Nue, Gigi memanyunkan bibirnya. Ia layangkan pandangannya ke arah meja belajar di belakang Nue.

“Wah.. kak! Di meja ada tikus gede!!” teriak Gigi tiba-tiba.

Nue mengeryitkan alis sebentar lalu berdiri dan berbalik sambil melihat meja belajar Gigi.

“Mana? Ga ada apa-apa nih..”

Saat Nue berbalik, Gigi sudah duduk memunggungi Nue dengan piring mi di tangannya.

“Woi!! Tuyul.. Tau-tau diserobot aja mi-nya.. Bagi woi..!” kata Nue sambil berusaha meraih piring mi di tangan Gigi.

Sementara Gigi menghalau Nue dengan tangannya.

“humm… hhahak hayi han uyah maem wanyak… (kakak tadi kan udah maem banyak)” ujar Gigi dengan mulut penuh. Tampak untaian mi yang menggantung di bibirnya yang menahan senyum.

“Iya ntar aku bikinin lagii…” bujuk Nue dengan nada memelas.

Tangannya masih menggapai-gapai piring di tangan Gigi.
Dengan kukuh Gigi mempertahankan piringnya dan menelan mi di mulutnya. “Ini persediaan mi terakhir tauk…”

Dimanapun terlihat bareng.

“Woi..!”

Nue menoleh ketika seseorang yang ia kenal melambaikan tangan padanya. “Radit? Ngapain?” tanyanya saat Radit mendekat ke arahnya.

“Biasalah hunting.. Kamu sendiri ngapain Nu?” tanya balik Radit sambil melirik ke arah Gigi.

“Ini.. Nemenin Gigi nyari sepatu.” Jawab Nue sambil menoleh ke arah Gigi. Gigi tersenyum pada Radit.

Radit mengangkat sebelah alisnya sambil tersenyum meledek.“Wuih.. Beli sepatu aja mesti bareng?”

“Haha.. ya, adekku ini emang manja.. uugh..!” Nue merintih saat Gigi menyikut tulang iganya.

“Apaan? Aku cuma minta anterin doang kok, kan jauh!” Protesnya, lalu dengan nada tertahan ia berbisik pada Nue. “Dan jangan panggil aku adek-adekan segala!”

“Haha.. dasar kakak-adek autis.. udah ah, aku pergi dulu ya. hati-hati Nue, pegangi adeknya, ntar nyasar.” Kata Radit sambil berjalan meninggalkan mereka berdua.

“Wah,, Apaan sih kak Radit!”

Sementara Gigi mengomel, Nue terdiam. Dia memandangi Radit yang pergi menjauh dengan tatapan dingin.
***

Nue mengerem sepeda motornya dengan keras, seperti Nue yang biasanya. Saat ia berjalan meninggalkan tempat parkir, ia berpapasan dengan penjaga parkir.

“Ckck… pelan Nu.. “ ujarnya sambil menyeruput kopi hitamnya.

Nue tersenyum sambil terus berjalan. “Santai pak..”

Kemudian Nue berjalan menuju gazebo tempat teman-temannya duduk dan berkumpul.

“Woi..” sapa Nue sambil menepuk bahu salah seorang temannya.

“Woi, Nu.. Ngagetin aja.” Ujarnya sambil membenarkan posisi kacamatanya.

Nue nyengir tanpa dosa sambil duduk di satu kursi yang kosong.

“Eh, Nu.. Tugas dari Pak Derry dah selesai belum?” tanya salah seorang temen ceweknya.

Spontan alis Nue mengangkat. “Ha? Tugas apaan?”

“Bah, jangan belagak lupa Nu.. Tugas bikin review itu lo!” salah seorang temannya juga menyahut.

Seketika Nue menepuk dahinya dan memejamkan matanya rapat-rapat seperti menahan perih di dahinya.

“Aduh… Iya! I’m totally forgot..” Segera saja ia mengeluarkan buku dan peralatan tulisnya sementara ketiga temannya yang lain menggeleng-gelengkan kepala sambil tersenyum.

“Makanya Nu, jangan pacaran mulu..”

Nue melirik ke arah temannya yang berkacamata.
“Kamu nyindir? dah tau aku dah putus juga.” Ujar Nue sambil mulai menulisi bukunya.

“Hmm.. iya sih.. sama yang cewek sih udah putus.. nah yang cowok?”

Kini jari Nue berhenti bergerak. Dengan tajam matanya menyorot ke arah tiga temannya yang tersenyum penuh arti.
“Maksud kalian apa?” tanyanya dengan nada dingin.

“Udah Nu.. Ga perlu ditutupi lagi.. Yang kayak gitu juga udah menjamur di sini. Kami juga masih anggap kami teman kok.. meskipun..”

Kali ini Nue meletakkan bolpoinnya dengan setengah membanting ke atas bukunya. seketika senyum ketiga temannya mulai lunntur.

“Kalian ini ngomong apa sih? Bicara yang jelas.” Kali ini Nue berbicara dengan intonasi yang tegas dan senyum yang dingin.
Ketiga teman Nue saling bertukar pandang dan akhirnya salah satu diantara mereka buka mulut.

“Kamu punya hubungan khusus dengan cowok Maba itu kan?”

Mata Nue melebar. Untuk sesaat ia tercengang hingga akhirnya ia tertawa kecil. “Hahah… ini pasti Radit yang nyebarin gosip ga jelas gini.. Ya nggak lah! Aku masih normal. Jangan percaya sama gosip murahan gitu.”

“Nah lo.. Tapi kenapa kamu tau-tau mutusin Grace? Kalian makin jarang keliatan berdua sejak Maba cowok itu masuk, kan? Apalagi sekarang kamu malah lebih sering sama cowok itu. Hayoo…” tukas si cewek dengan senyum menyebalkan.
\
Senyum Nue kembali luntur, tergantikan oleh raut wajah yang dingin. Ini semua sudah mulai terasa tidak lucu lagi.

“Ini ga ada hubungannya dengan Anggian. Grace yang menjauh dari aku! kalian ga tau apa-apa kan?”

Kini wajah ketiga teman Nue berubah kaples. Nue memang tampak menyeramkan jika sedang marah, bahkan meski dengan segurat senyum di bibirnya.

Nue memalingkan wajahnya dari ketiga temannya itu. Ia kembali pada tugas yang harus ia selesaikan. Dengan mata yang tertuju pada kertas, bibirnya bergerak mengeluarkan bunyi yang ia tujukan pada ketiga temannya sebagai penegasan akhir.

“Anggian itu, udah aku anggap adikku sendiri, karena dia anggota PSM juniorku. Hanya sampai disitu, ga lebih. Dan aku cowok normal. Aku ga akan suka sama cowok, ingat itu!”
***

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s