HYMN OF MY HEART 10

 

Bar 10, Do I love You? Is it Just a Dream?

‘cklik..’

Terdengar bunyi gagang pintu yang di buka. Seberkas sinar menerangi kamar Gigi. Tampak bayangan Gigi yang sedang meraba-raba dimana sakelar. Begitu lampu menyala, barulah tampak wajah Gigi. Wajahnya yang tersenyum cerah.
Dengan ringan ia melempar sepatunya lalu ia mengganti pakaiannya dengan pakaian santai sambil terus bersenandung pelan.

“upss.. belum ngerjain tugas..” ucap Gigi pada dirinya sendiri.

Dengan santai ia membuka laptop dan menghidupkannya. Harusnya ia gelagapan sekarang, karena ia belum mengerjakan tugasnya sama sekali, tapi nyatanya dia tenang-tenang saja.

Ada apa dengan Gigi? Tumben sekali dia bisa bersikap seperti itu. Ingat gi, kurcaci tidak akan lagi membantu mengerjakan tugasmu saat kamu tidur!

Gigi masih bertahan dengan sikap tenangnya. Ia bahkan memangku dagunya dengan punggung tangan yang ia silangkan di atas laptopnya sambil tersenyum-senyum.
Begitu laptopnya sudah benar-benar siap, ia pun mulai membuka Ms. Word dan mengetik tugasnya. Beberapa kali ia berhenti mengetik dan melamun, lalu tersadar akan tugasnya, ia lalu mengetik lagi. Begitu seterusnya hingga akhirnya dia benar-benar menyerah. Ia tarik jari-jemarinya dari keyboard dan ia sandarkan punggungnya di sandaran kursi. Senyum di bibirnya masih belum luntur juga.

Dia tersenyum sambil memandang langit-langit kamarnya yang tampak seperti proyektor yang menampilkan momen yang ia alami tadi. Bahkan Gigi masih bisa mendengar alunan musik hymne yang ia dengarkan tadi. Dan ia masih bisa merasakan lembutnya belaian angin yang menerpa wajahnya saat Nue memboncengnya pulang ke Kos.

Gigi mengerjapkan matanya lalu ia menoleh ke arah jendela favoritnya. Ia beranjak dari kursi serta tugasnya, dan membuka lebar-lebar jendela tempat ia biasa nongkrong. Di sana ia duduk dengan wajah menengadah ke langit.

Malam itu bukan bulan purnama. Wajah bulan hanya tampak seperti senyum yang melengkung manis, seolah merefleksi senyum Gigi malam itu. Setelah beberapa lama ia menikmati anggunnya bulan dan merasakan hembusan angin malam yang menerpa wajahnya, ia merogoh saku celananya. Ia mengambil ponselnya dan menatap layar ponselnya yang bercahaya temaram.

‘kira-kira dia ngapain ya? sudah tidur kah? Apa dia sudah meminum obatnya..??’ batin Gigi sedikit gelisah.

Jarinyapun segera bergerak dengan lincah mengetikkan huruf-huruf dalam text box ponselnya. Setelah selesai ia kirim, ia kembali melayangkan pandangannya ke depan. Dari bulan, matanya turun ke Jembatan Semanggi. Darisana ia bisa melihat kelip-kelip kendaraan yang berwarna kuning dan merah. Berseliweran seperti kunang-kunang.

‘Kak.. Setiap hari aku bertemu dengan kakak.. Entah kenapa aku makin rindu denganmu. Seperti candu. Kenapa harus kamu, Kak? Padahal aku tahu kamu punya kekasih.. tapi masih tetap saja aku belum bisa lepas dari kamu, kak.. entah sampai kapan aku bisa bertahan, tetap menjadi bayangan seperti ini. tapi kuharap, suatu saat nanti kakak bisa tahu, kalau aku…’

Tepat di titik mata Gigi memandang, seorang pemuda duduk sendiri di sebuah batu buatan diatas bukit. Jembatan semanggi memang melingkar mengitari sebuah bukit, dan bukit itu sengaja dirawat dan ditata sehingga bisa dijadikan tempat nongkrong.

Cowok itu duduk termenung, memerhatikan kendaraan yang berlalu lalang di bawah bukit. Tidak ada seorangpun disana kecuali dirinya, namun samar-samar muncul bayangan-bayangan di sekitarnya. Bagaikan hantu bayangan-bayangan itu muncul begitu saja. Bayangan tentang masa lalu.cowok itu memandang lirih bayangan itu. Bayangan dua orang muda mudi yang duduk tepat di sebelahnya. Dua bayangan itu tampak asik bergurau dan bermanja-manjaan. Mereka berdua juga sedang memandangi kendaraan yang lalu lalang di Jembatan Semanggi itu. Suara tawa ringan mereka terdengar lirih, menggaung di benak cowok itu. Hingga akhirnya cowok itu hanya bisa memandang dengan iri ketika bayangan muda-mudi itu saling berbagi earphone, mendengarkan sebuah lagu yang ia rindukan. Dan ketika si cewek menyandarkan kepalanya di bahu si cowok, begitu juga si cowok yang menyandarkan kepalanya di kepala si cewek, membuat siluet mereka saling terhubung membentuk sebuah bayangan yang kian kabur dan akhirnya menghilang.

Getar ponsel di saku celananya membuat cowok itu tersadar dari lamunannya. Segera saja ia mengambil ponsel dan membukanya. Tampak sebuah pesan singkat di sana.

‘Kak? Sudah tidur blm? Cuma mau ngingetin, apa udah minum obat? Jangan lupa diminum ya.. Malem..’

Mata cowok itu bergerak-gerak membaca pesan itu. Ia matikan ponselnya dan ia genggam erat ponsel itu. Ia menundukkan wajahnya dalam-dalam sambil bergumam pelan. Pelan sekali hingga terdengar seperti isakan.

“Kenapa harus kamu? Saat pacarku sendiri tidak pernah menanyakan tentang aku, justru kamu yang selalu menanyakan kabarku.. Saat pacarku sendiri jarang punya waktu untukku, justru kamu yang selalu hadir disampingku.. Saat pacarku sendiri membuatku luka, jutrsu kamu yang mengobati luka itu..”

Cowok itupun mengerjapkan matanya lalu mendongakkan wajahnya. Ia berbalik membelakangi jalan raya dan menatap jauh ke belakang bukit. Menuju sebuah bangunan dengan beberapa lampu yang berkedip temaram.

“kenapa harus kamu, Gigi.. kenapa selalu kamu? Apa mungkin aku bisa..”

Seolah mata mereka saling bertemu dan malam menjadi ruang hitam yang menciut hingga mendekatkan wajah keduanya hingga beberapa inci. Kedua saling menatap dalam-dalam, mencoba menembus dalamnya mata orang di hadapannya. Seraya bibir mereka bergerak bersamaan.
“mencintaimu..?”
***

Mentari fajar sudah tersembul meski dengan malu-malu. Berkas sinarnya yang hangat menerpa lembut wajah Gigi yang terlelap. Bahkan cahaya keemasan yang sedikit menyilaukan itu masih belum bisa membangunkan Gigi. Tampaknya Gigi masih terlalu asik dengan mimpinya, hingga sebuah suara nyaring membuyarkan mimpinya, seperti cermin yang pecah menjadi keping-keping kecil.

Tangannya segera meraba-raba ponselnya dan di dekatkan ke telinganya.

“halo…” ujarnya dengan suara serak.

“woi,, Gi.. bangun..!!” ujar seseorang di seberang ponsel Gigi.

Masih dengan mata setengah terpejam, bibirnya tersenyum tipis. “kak Nue..” ujarnya pelan.

“hah? Siapa? Aku Uly..!! bangun..! dah jam berapa nih?”

Seketika mata Gigi terbuka. “hah? Uly? Aduh.. sory-sory-sory…” ujar Gigi sedikit gelagapan sambil bangkit dari tidurnya.

“ckck.. mimpi apa aja sih? Udah ya, aku dah melakukan tugasku, sekarang aku tutup yah?! Jangan tidur lagi! Ingat Bu Katrin hari ini yang ngajar!” setelah itu terdengar suara ‘bib’ pelan dan suara Uly tidak terdengar lagi.

Gigi mengucek-ngucek matanya sambil meletakkan lagi ponselnya. Ia memang menyuruh Uly untuk membangunkannya setiap ada kuliah pagi, karena kebiasaan Gigi yang suka molor dan memiliki kemampuan untuk mematikan alarm tanpa sadar. Gigi menoleh ke arah jam dinding, sudah menunjukkan pukul 5.40. Gigi mendengus pelan. Inilah sebabnya dia membenci jam dinding. Selalu saja menunjukkan kejutan yang menyebalkan. Gigi juga teringat akan tugasnya. ah, Gigi sudah pasrah akan tugasnya. ia juga tidak mungkin menyelesaikan tugas itu sekarang.

Gigi pun turun dari ranjangnya lalu membuka jendela lebar-lebar, membiarkan udara dan cahaya pagi menerpa tubuhnya. Dengan lebar ia merentangkan tangannya dan meregangkan tubuhnya sambil menguap.

“Wooaaa….. Selamat pagi dunia..”

Setelah itu ia menurunkan lagi tangannya. Ia lalu menyandarkan bahunya di bingkai jendela sambil tersenyum cerah.

“selamat pagi kak Nue…”
***

Wajah Gigi yang tampak begitu cerah tadi, kini berbalik menjadi muram dan kusut. Dia memangku pipi kanannya dengan punggung tangan. Dengan bosan ia melihat bibir dosennya yang berkomat-kamit tidak jelas.

Diam-diam ia mengambil ponsel di saku celananya dan melihat jam. Ia menghela napas sejenak lalu mengembalikan lagi ponselnya ke dalam saku.

Agak lama setelah itu, Gigi menarik lagi ponselnya dan melihat jam, lalu memasukkannya lagi. Begitu seterusnya, hingga akhirnya dia melihat jam di ponselnya untukyang kesekian kali.

‘hmm.. 2 menit lagi…’ gumam Gigi pelan sambil menghela napas.

Tak lama kemudian, bel berdering (Kayak sekolahan ya?) dan Gigi menegakkan lagi posisi tubuhnya.

Bu Dosen bernama Bu Katrin itu pun menutup laptopnya dan memasukkannya ke dalam tas.

“oke, see you next week..” ujarnya singkat sambil meninggalkan kelas.

“hherrg… i wish i can say good bye to you..” gumam Gigi pelan sambil menenteng tasnya.

“haha.. bisa aja kamu Gi.. Eh habis ini mau kemana Gi? Makan yuk..” ajak Uly.

“oke dah..” ujar Gigi. Semangatnya mulai tumbuh lagi setelah melewati masa perkuliahan yang sangat membosankan buatnya (mahasiswa abal-abal -_-“).

Saat Gigi tengah asik bercanda dengan Uly sabil berjalan menuju kantin, tiba-tiba ia melihat Grace. Grace menghampirinya dengan langkah cepat dan dengan wajah yang sembab.
Gigi dan Uly pun menghentikan langkahnya saat Grace sampai dan berhenti tepat di depan mereka. Grace memandang wajah Gigi lekat-lekat. Wajahnya tampak tanpa ekspresi, tapi masih ada bekas-bekas kesedihan di kelopak matanya.

“Pasti kamu kan?” ujar Grace tiba-tiba. Nada suaranya terdengar begitu berat.

Gigi hanya melongo, sesekali ia menoleh ke arah Uly yang juga bingung dengan apa yang terjadi. “Ma.. Maksud kakak apa?” tanya Gigi dengan senyum tipis.

Bukannya menjawab, Grace justru meraih tangan Gigi dan menariknya. Mau tak mau tubuh Gigi tertarik mengikuti arah langkah kaki Grace yang cepat.

Gigi benar-benar tidak mengerti dengan apa yang sudah terjadi. Ia hanya mengikuti langkah kaki Grace dengan kewalahan.

“kak.. mau kemana sih? Ada apa?” tanya Gigi sedikit panik.

Namun Grace hanya diam dan terus menarik tubuh Gigi. Akhirnya Grace membawa Gigi di panggung terbuka yang terletak di sudut belakang Fakultas Sastra. Disana ia melempar tangan Gigi dan menoleh tajam ke arah Gigi.

Gigi sedikit terkejut, ketika Grace menoleh ke arahnya, tampak mata Grace memerah dan setitik bulir air menggantung di ujung matanya.

“A.. Ada apa sebenernya kak?” tanya Gigi hati-hati.

“Jangan berlagak bego kamu!” bentak Grace.

Gigi terdiam.

“kamu kan? Kamu pasti yang ngadu ke Nue..!”

Alis Gigi seketika mengeryit “Ngadu apa sih kak? Aku sama sekali ga ngerti..”

“sudah kubilang jangan berlagak bego! Kamu kira aku ga tau, kamu disana, kan? Saat aku di PH..!” nada suara Grace makin melengking.

Beruntung tempat itu sepi danjauh dari jangkauan keramaian. Sementara itu, Gigi sedikit terkejut, dia tidak tahu kalau Grace menyadari kehadirannya di PH. Tapi, apakah dia tidak melihat Nue juga?

“Sebenernya apa sih mau kamu? Kamu dendam karena dulu aku bentak, terus nguntit aku dan memfitnah aku di depan Nue?! Gitu?” wajah Grace makin memerah dan matanya sudah nyaris terpejam dan air mata mengalir deras dari celah sempit itu.

Tangan Gigi gemetar mendengar tuduhan Grace yang menyakitkan itu. “Tunggu dulu kak.. bukan seperti itu..”

Grace menggeleng-gelengkan kepala dan mengacungkan telunjuknya di wajah Gigi. “Jujur! Apa yang sudah kamu bilang ke Nue? Apa yang sudah kamu bilang ke Nue, sampai dia mutusin aku kayak gini? Bilang!!”

Pupil Gigi menyempit. Mulutnya sedikit menganga saat mendengar kata-kata Grace. “kak Nue.. mutusin.. kak Grace..?”

Tangis Grace makin keras, dengan putus asa dia mengguncang-guncang tubuh Gigi. Sementara Gigi hanya diam tanpa ekspresi. wajahnya bersinar dingin saat tubuhnya diguncang-guncang oleh Grace yang terus berteriak di wajahnya.

“bilang..! jahat kamu anggian, bisa-bisanya kamu merusak hubungan orang..! kalau kamu marah sama aku, bilang aja! Ga usah kayak gini..! sekarang gimana? Kamu sudah puas, bikin aku sakit seperti ini..”

Belum sempat Grace melanjutkan kata-katanya, Gigi dengan tegas melempar tangan Grace dari tubuhnya hingga tubuh Grace sedikit terhuyung ke belakang. “Kamu bilang aku merusak hubungan kalian?? Kamu bilang kamu sakit?? Kamu ga sadar? Kamu sendiri yang merusak hubungan kalian! Kamu sendiri juga yang selama ini bikin kak Nue sakit!”

Grace terdiam, bibirnya terbuka dan bergetar lirih. Sementara Gigi menyibak kasar poninya hingga tampak matanya yang menyala penuh emosi. Dia bahkan tidak segan lagi memanggil Grace dengan sebutan ‘kamu’. Di dekatinya Grace perlahan.

“Asal kamu tahu, aku sudah lama tahu hubungan gelapmu sama cowok itu. Tapi aku coba tutupi itu dari kak Nue. Itu aku lakuin untuk menjaga hubungan kalian berdua. Aku mencoba menjaga perasaan kak Nue yang aku hormati. Tapi apa? Kamu sendiri yang membongkar semuanya di mata kak Nue. Kamu pikir, aku aja yang ada di PH saat itu? Nggak! Aku bersama kak Nue, dan dia sendiri ngeliat bagaimana kelakuan kakak dengan cowok itu!”

Mata Grace melebar dan dia menutupi mulutnya sambil menggeleng pelan. “Nggak.. Itu salah..”ujarnya lirih.

“Apa yang salah?!” sahut Gigi. “Semua sudah jelas.. Kamu gak perlu nutupin itu lagi. Kak Nue sudah capek dengan sifatmu yang selalu bikin dia kecewa. “

“Nggak.. Kamu salah.. Kamu nggak tahu apa-apa..” jawab Grace lagi dengan nafas tersengal-sengal.

“Kamu yang ga tau apa-apa!” suara Gigi makin meninggi.

Tidak ia sadari bulir-bulir air juga menggantung di kelopak matanya. “Kakak ga tau kan, setiap malam kak Nue melamunkan kamu yang nggak pernah ada buatnya? Kamu ga tau kan, kalau dia nyempat-nyempatin kerja demi beliin kamu BB..? dan kamu tahu? karena pekerjaannya itu bikin kesehatannya memburuk sampai penyakitnya kambuh lagi?!”

Grace yang semula hanya menunduk mendengarkan kesalah-kesalahannya perlahan mendongkakkan wajahnya dengan wajah pucat. “Penyakit..? Pe.. Penyakit apa? Nu.. Nue ga pernah…”

Gigi menundukkan wajahnya. Ia sedikit menyesal telah kelewat batas. Seharusnya ia tidak menceritakan hal itu, tapi sudah terlanjur. Dan Gigi rasa, sudah saatnya Grace tahu tentang penyakit Nue.

“Kak Nue.. Mengidap penyakit Epilepsi.. “

Seketika lutut Grace melemas dan menundukkan wajahnya. Matanya tampak menerawang kosong dengan air mata terus mengucur membasahi lapangan panggung.

“Penyakitnya bisa kambuh setiap saat kalau dia ga rutin minum obat dan stres. Dia nyuruh aku untuk merahasiakan ini dari kakak..” emosi Gigi mulai mereda, membuatnya merasa untuk memanggil Grace dengan sebutan kakak lagi. “Dia nggak pingin kakak tahu tentang penyakitnya.”

“tapi kenapa? kenapa dia ga mau bilang?” ujar Grace lirih.

“karena dia takut.. dia takut kehilangan kak Grace. Ia sudah ragu sejak awal kalau kak Grace tidak lagi mencintainya, itulah kenapa dia memilih menyembunyikan ini dari kakak.”

Mendengar itu, Grace tidak mampu lagi untuk berkata-kata. ia menutupi wajahnya dan tubuhnya menggigil dengan hebatnya. Air mata merembes dari balik ruas-ruas jarinya dan jatuh bebas di panggung.

Melihat itu, Gigi menghembuskan napas dalam lalu berbalik. Perlahan ia meninggalkan tempat itu. “Lebih baik kakak berhenti menangis. Apa yang kakak tangisi? Tidak ada cinta yang patut kakak tangisi. Lebih baik kakak urus hubungan kakak dengan cowok bernama aldo itu dan biarkan kak Nue hidup.” Ujarnya pelan sambil terus melangkah menjauhi Grace.

Meninggalkan dia sendiri di panggung terbuka, layaknya putri yang bersimpuh dan terluka.
***

Malam harinya, Gigi duduk termenung di jendela favoritnya. Pikirannya melayang ke waktu saat ia membentak Grace. Sebenarnya ia merasa sedikit menyesal. Menyesal karena sudah lepas kendali dan terbawa emosi. Bagaimanapun Grace adalah seniornya dan dia adalah pacar Nue (mantan). Gigi benar-benar gelap mata tadi. Tuduhan Grace padanya berhasil membuat hatinya panas dan tangis Grace membuatnya muak. Dia menangis keras seolah dia adalah seorang korban, padahal dia adalah iblis yang sebenarnya. Dia yang menyakiti Nue dengan cinta dan pelukan kasih palsu.

Kedua, yang juga membuat hati Gigi tidak tenang, fia sudah melanggar janjinya pada Nue untuk tidak memberitahukan Grace tentang penyakitnya. Nue mungkin akan kecewa padanya, bahkan skenario terburuknya adalah Nue akan marah padanya. Gigi benar-benar tahu skenario terburuk itu akan terjadi, tetapi dia rasa hal itu sudah seharusnya terjadi. Grace perlu tahu keadaan Nue yang sebenarnya, sehingga dia bisa tahu betapa jahatnya dia yang membuat Nue kehilangan banyak untuknya.

Namun selain rasa menyesal yang menderanya, ada sebuah tanda tanya besar berpendar di kepalanya.

‘Mengapa kak Nue memutuskan Grace?’

Kenyataan yang ia terima dari Grace itu memang sulit diterima oleh akal sehatnya. Ia tahu, kalau Nue sangat menyayangi Grace, tapi kenapa dia bisa dengan sederhananya mememutuskan dia? Apa artinya kesabaran Nue selama ini?

Saat Gigi sedang melamunkan wajah Nue, wajah Nue tampak kian nyata. Wajah itu tampak beberapa inci di depan hidung Gigi. wajah itu tersenyum padanya, dan Gigi pun membalas senyuman itu dengan lirih. Hingga akhirnya sebuah tepukan pelan di pundaknya membuat ia melompat kaget.

“Huwaaah…!!!” Jerit Gigi.

Nue tampak terkekeh di depannya sambil mengusap-usap hidungnya. Ditangan kirinya tampak sedang menenteng sebuah kotak karton.

“Kenapa sih gi? Reaksimu berlebihan”

Gigi masih mencoba mengatur napasnya dan kembali duduk di bingkai jendela. Dengan wajah sewot ia menatap wajah Nue. “Berlebihan gimana?? Kakak tuh yang ngagetin, tau-tau nongol aja!”

“Habisnya aku gedor pintunya ga dibuka-buka.. Untung aku tahu tempat tongkronganmu ini, hehe..” jawab Nue santai.

Mata bulat Gigi melebar seakan tak percaya, “Hah? Masa’ sih?? Masa’ aku ga denger?”

“Iya..! Keasikan ngelamun sih..”

Gigi menggaruk-garuk kepalanya setelah mendengar jawaban Nue. Ia tidak tahu jika ia melamun selarut itu sampai-sampai tidak mendengar Nue yang mengetuk pintu. Lalu ia teringat akan sesuatu dan mendongak lagi ke arah Nue.

“Oh ya, btw kakak ngapain malem-malem kesini?” tanya Gigi.

“Oh.. ga ada sih.. Cuma mau nganterin ini.”

Nue mengangkat kotak di tangannya. Kotak putih, besar tapi pipih. Seketika mata Gigi berbinar-binar.

“Itu…”

Nue tersenyum lalu duduk di samping Gigi. Dia membuka kotak itu di depan wajah Gigi. “Malem itu kan kita belum selesai makan pizzanya sampe habis, jadi tadi aku beliin lagi.”

Mata Gigi tidak bisa berbohong saat melihat isi kotak itu begitu tutupnya dibuka. Sebuah pizza yang masih hangat bagaikan memancarkan sinar-sinar keemasan dan berkelip-kelip. Baik mata, mulut dan perut Gigi seketika meronta-ronta melihat pemandangan lezat itu.

Namun, seperti ditampar, Gigi segera sadar dan melepaskan pandangan nafsunya pada pizaa itu. “Lo..Loh kak.. Ngapain beli lagi? Kan mahal..”

“Halah… Kebanyakan basa-basi kamu Gi.. Uang sisa buat beli BB waktu itu juga masih banyak. Ayok dah, hajar…!” ujar Nue yang mencomot salah satu potong pizza dan mengGigitnya.

Gigi terpaku menatap Nue yang mengGigit pizza dengan lezatnya. Keju mozarellanya yang terulur panjang membuat Gigi menelan ludah.
***

Bulan menggantung makin tinggi di langit yang gelap. Nue memandang jauh ke kerlip lampu kota Jember dari ambang jendela Gigi. Di sebelahnya, Gigi tengah menyantap potongan pizzanya yang ketiga (akhirnya ga tahan juga). Sadar hanya dia sendiri yang kini sibuk menelan pizza, Gigi menoleh ke arah Nue.

“Loh kak, ga makan lagi?” tanyanya dengan mulut penuh, membuat beberapa remah pizza di mulutnya meluncur keluar.
Nue menoleh ke arah Gigi.

“Nggak Gi, kenyang.. Kamu abisin aja.”

“Oh.. Beneran nih? Jangan nyesel ya kalo aku habisin..” ujar Gigi yang kembali mengarahkan pandangannya ke arah sisa pizza yang ada di dalam kotak kemudian mengGigit pizza di tangannya.

Nue tersenyum kecil dan mengeleng-gelengkan kepalanya pelan. “Dasar rakus.. ntar bisa gemuk lo.”

“Nggak bakalan.. Metabolismeku kuat kok.” Jawab Gigi dengan yakin. Nue terkekeh mendengarnya.

Setelah itu, keduanya tidak banyak berbicara. Nue larut dalam pemandangan malam, sedangkan Gigi sibuk mengunyah pizzanya.

Ketika Gigi tengah mengunyah potongan pizza terakhirnya, sebuah benda lembut menyumbat lubang telinganya. Mata Gigi melebar dan dengan gugup ia menengokkan pandangannya ke arah kiri. Dia lihat Nue sedang menyematkan kepala earphone satunya di telinganya. Kini Gigi dan Nue terhubung lagi dalam satu earphone.

“Hymne lagi?” tanya Gigi.

“Nggak.. kali ini aku pingin kita dengerin lagu lain..” ujar Nue sambil tangannya mengusap-usap layar ponselnya.

Setelah itu, sebuah musik terdengar. Jantung Gigi berdegub cukup kencang, ketika mendengar lagu itu. Lagu yang Nue putar saat ini adalalh lagu kesukaannya. Lagu yang sering ia dengar saat ia sedang murung.

‘i know you somewhere out there.. somewhere far away..’

“aku suka lagu ini..” ujar Nue sambil mengangguk-anggukan kepalanya.

Gigi terdiam. Sudah kedua kalinya Nue berbagi earphone dengannya, dan kali ini ia memutar lagu yang cukup menyentuh baginya. Diam-diam timbul keberanian di hati Gigi. Keberanian yang timbul karena adanya harapan, bahwa Nue mungkin…

“kak.. “

“hmm..”

“boleh aku tanya sesuatu, tapi jawab jujur ya..”

“hmm.. oke.”

“kakak.. kenapa putus sama kak Grace?”

Pertanyaan Gigi itu tidak langsung dijawab oleh Nue. Ia tersenyum tipis sesaat lalu bibirnya bergerak. “aku juga ga tau Gi.. mungkin memang sudah begini seharusnya..”

Alis Gigi berkerut mendengar jawaban Nue yang justru menimbulkan pertanyaan lagi. “maksud kakak?”

Lagi-lagi Nue terdiam sebentar. Entah apa dia sedang memikirkan jawaban yang tepat, atau sedang mengumpulkan tenaga untuk mengungkapkannya.

Setelah agak lama, dia mendongakkan sedikit wajahnya hingga sejajar dengan horison malam. Bibirnya melengkung tipis seperti bulan saat ini.

“Aku ga tau Gi.. aku ga tau alasan kenapa aku begini. Mungkin bisa dibilang aku sudah terlanjur kecewa padanya. Aku sudah bosan dipermainkan seperti ini. Mungkin dengan putus denganku, dia bisa bebas jalan dengan cowok yang ia suka. Setidaknya dia bisa bahagia, aku juga sudah tenang.”

Setelah mendengarkan jawaban Nue, Gigi menundukkan sedikit wajahnya. Pizza yang tinggal sepotong tidak ia hiraukan lagi, membiarkannya tergolek sendiri dalam kotak di pangkuan Gigi.

Lagu Talking to the Moon lah yang mengisi kebisuan mereka setelah itu. Gigi tidak punya kekuatan dan ide lagi untuk memulai perbincangan lagi. Sebenarnya Gigi bingung, bagaiamana mengekpresikan perasaannya mendengar jawaban Nue. Haruskah dia senang, karena Nue sudah meninggalkan orang yang Gigi benci. Atau karena ada jalan kecil baginya untuk mengisi ruang hati Nue. Atau sebaliknya, apakah dia harus ikut sedih, melihat kesedihan Nue saat ini. Gigi tahu, hal ini pasti sangat berat bagi Nue. Oleh karena itu, Gigi memilih diam, daripada ia salah dalam mengeksprsikan perasaannya yang berada dalam chaos itu.

“Kamu tahu, kenapa aku kemarin dan malam ini berbagi earphone denganmu, Gi?”

Suara Nue tiba-tiba membuyarkan kebisuan Gigi. Gigi menoleh sesaat ke arah Nue yang tengah tersenyum menatap horison. Lalu dia mendongakkan wajahnya ke langit untuk memikirkan jawabannya.

Setelah beberapa lama, tiba-tiba Nue mengangkat tangannya sejajar dada. Jari telunjuknya mengarah pada bukit kecil di sekitar jembatan Semanggi. Gigi menatap dengan heran ke arah titik yang ditunjuk Nue itu.

“Jawabannya bukan di langit Gi.. tapi di bukit kecil itu.” Ujar Nue. Sementara melihat bukit yang ditunjuk Nue dengan bingung.

“Disana, aku pertama kali nge-date dengan Grace.”

Dada Gigi langsung terasa sesak. Bahkan disaat seperti ini Nue masih membicarakan Grace. Tapi Gigi mencoba menyembunyikan rasa kecewanya dengan bertahan pada kebisuannya.

“Di sana kami duduk di atas batu di bukit itu. Memandangi kilas lampu-lampu mobil dan motor di Jembatan Semanggi, sambil mendengarkan lagu dari earphone ini. Aku dan Grace dulu sering mendengarkan musik bersama. ‘Talking to the Moon’ adalah lagu favorit kami, jadi kami sering memutar lagu setiap kali mendengarkan musik bareng. Tapi.. suatu hari, di ulang tahunku, dia memberiku backphone itu. Dan sejak itu, kamu jarang mendengarkan musik bareng lagi. Backphone tidak bisa buat berbagi, ya kan?” ujar Nue. Tampak segurat senyum lirih di bibirnya.

Gigi hanya mengangguk pelan. Tidak bisa berkomentar apa-apa.

Nue menghela napas panjang dan tersenyum pada langit malam. Matanya bergerak-gerak seolah menghitung bintang di langit. “Aku rindu… Aku rindu saat-saat itu. Saat aku bisa duduk berdampingan dengan orang yang kusayang, berbagi earphone dan mendengarkan musik bersama, dan saat dia menyandarkan kepalanya di pundakku.. Aku rindu saat-saat itu.”

Nue menghentikan kata-katanya. Senyum di wajahnya perlahan meredup, saat sosok bulan mulai tertutup awan tipis. Dan perlahan bibirnya bersuara lagi, dengan nada yang berat.

“Tapi kini semuanya… Sudah menjadi mimpi belaka.”

Dan seketika mata Nue melebar. Jantungnya tersentak kuat, ketika Gigi menyandarkan kepalanya di pundak Nue. Dengan wajah tidak percaya, ia menengok Gigi. Ia bisa merasakan halus belaian rambut Gigi di wajahnya, dan harum rambutnya.

“Gigi..”

“Jangan komentar kak..” kata Gigi cepat.

Matanya tampak bergerak-gerak malu tertutup oleh poninya yang panjang. Jantungnya berdegup sangat kencang, memompa darah lebih cepat ke bagian wajahnya hingga membuatnya merona.

Bruno Mars sudah selesai melantunkan lagunya dengan apik. Nue memandang Gigi untuk sejenak. Dia tidak bisa berkata apa-apa, hingga akhirnya ia tersenyum tipis. Dia memutar lagi lagu itu, dan dia kembali menatap kelip-kelip lampu kota Jember di depannya. Perlahan, ia menyandarkan kepalanya pada kepala Gigi.

Awan tipis yang menutupi sosok bulan sabit di langit perlahan mulai tersibak, dan cahaya temaram bulan kembali menerawang sosok dua insan itu. Hingga akhirnya membentuk sebuah siluet. Siluet dari masa lalu yang Nue rindukan, dan siluet dari angan-angan yang Gigi pendam dalam-dalam.

‘Apakah ini mimpi?’
***

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s