HYMN OF HEART 13

Bar 13, How to Forget Him

Yah.. beberapa hari sudah berlalu sejak malam itu. Kota Jember diselimuti mendung sepanjang hari, dan hujan selalu turun setiap sore. Tak beda jauh dengan suasana di rongga dada Gigi beberapa hari ini, selalu mendung. Meskipun Gigi mencoba menutupi perasaannya itu dengan senyum yang lebar tapi tetap saja, awan kelam di hatinya terpantul di wajahnya. Bahkan beberapa temannya menyadari kalau ada yang hilang dari Gigi.

“Gi.. kamu kenapa sih?”

Gigi menoleh ke arah ully yang menatapnya dengan mata heran. Gigi hanya memberikan senyuman orang linglung,

“gapapa kok..” katanya sambil kemudian memangku lagi pipinya di punggung tangannya.

Ully berdecak dan menggeleng-gelengkan kepalanya sambil berbalik. Sikap temannya yang satu itu memang agak aneh beberapa hari belakangan ini. Gigi yang selama ini dia kenal ceria, rame dan kocak, kini lebih banyak melamun, dan sering tidak nyambung jika diajak bicara.

Seperti saat ini, Ully menoleh sesaat ke arah Gigi. Dia tengah memangku pipinya dan menerawang kosong ke arah jendela. Entah apa yang ia perhatikan selain pepohonan dan semak belukar di luar sana.

Ully jadi sumpek melihatnya. Dengan sedikit kesal ia menepuk pundak Gigi dan menyadarkannya dari lamunan panjangnya.

“Gi, kamu kenapa si? Kalo ada masalah, cerita dong!”

Gigi hanya tersenyum tipis dan berkata, “nggak ap..” Belum sampai ia menyelesaikan ucapannya, tangan Ully sudah mengacung seolah siap menggampar Gigi.

“bilang gapapa lagi aku tabok nih! Dah jelas-jelas ada masalah juga!” ancamnya.

“tapi, bukan berarti aku bisa ceritain ini ke kamu kan?”

Jawaban Gigi seketika membuat wajah Ully menjadi masam. Dengan kesal ia menurunkan tangannya dan kembali menulisi buku bindernya. Saat ini dia memang sedang membuat tugas untuk matakuliah selanjutnya. Dia meminta Gigi menemaninya di sebuah kelas yang sudah kosong dan akhirnya dicuekin juga oleh Gigi.

“ya udah, huh!” dengusnya, sementara Gigi kembali pada posisinya semua, memangku dagu menatap ke luar jendela.

Agak lama keduanya saling mendiamkan dan menyibukkan diri. Ully sibuk dengan tugasnya sedangkan Gigi sibuk dengan pikirannya sendiri. Pikirannya kini berputar kembali pada beberapa hari yang lalu, ketika ia mendengar percakapan para senior di PSM.

“wih? Masa si Dit? Nue beneran dah balikan ma Grace?” tanya Nurul yang tampak antusias mendengar kata-kata Radit. Sementara itu, tak jauh dari tempat Nurul dan Radit duduk, Gigi tampak tercengang mendengar suara itu.

“iya mbak.. kemaren juga Grace sendiri yang bilang.. Emang setia banget dua orang itu. Hmm.. yah, moga sabar aja nih si Angi’..” gurau radit sambil sedikit melirik ke arah Gigi.

“Hush.. apaan sih! “ tegur Nurul sambil memukul tangan Radit. Radit segera memealingkan lirikannya dan kini sibuk mengelus tangannya yang panas karena pukulan nurul.

Sedangkan Gigi..? Gigi hanya menunduk lesu. Dia sebenarnya tidak terlalu kaget dengan berita itu, mengingat malam sebelumnya dia sendiri yang mengusulkan hal itu pada Nue. Tapi tetap saja, kekecewaan berat menimpa hati Gigi.
Kini dia hanya bisa merenung menyesali nasib dan sesekali berandai-andai. Andai saja saat itu Gigi mau jujur dengan perasaannya sendiri dan mengatakan pada Nue jika ia tidak ingin mereka berdua kembali berpacaran… apakah mungkin hal ini tidak akan terjadi? Apakah mungkin Gigi berbalik menggantikan posisi Grace di hati Nue?

Harapan tinggallah harapan. Penyesalan tinggallah penyesalan. Semua itu tidak akan mengubah apapun selain menjatuhkan diri lebih dalam ke sebuah jurang kesedihan. Sayangnya, Gigi sudah jatuh terlalu dalam. Sulit baginya untuk kembali memanjat tebing jurang itu dan kembali ke permukaan. Sementara bayangan Nue menghantui dirinya dari balik kegelapan di belakangnya. Membuat Gigi berulang kali menengok dan terjatuh kembali.

Kini Nue sudah kembali dalam pelukan Grace. Nue mulai kembali seperti Nue yang dulu, yang menomor satukan Grace di setiap urusannya. Gigi pun mulai jarang menerima smsnya lagi, dan mereka juga makin jarang bertemu dan bertatap muka. Sedikit demi sedikit, Gigi merasa bayangannya di hati Nue mulai terhapus. Seolah saat-saat bersama yang mereka jalani dulu sudah tidak berarti lagi.

Selama beberapa hari Gigi merenung dan berpikir, bahwa penantiannya selama ini tidak akan pernah menemui harapan yang ia inginkan. Mencintai cowok ternyata lebih sulit dari yang ia bayangkan. Semua tidak akan berjalan semudah dan seindah dalam cerita. Kenyataannya, cinta itu sulit dilihat, bahkan seringkali menipu. Delusi kita sendirilah yang seringkali mengaburkan pandangan kita. Menganggap seorang cowok memiliki perasaan pada kita, padahal dia hanya menganggap kita sebagai saudara. Huh.. delusi yang Gigi buat, dan ilusi yang Nue ciptakan, telah membuat Gigi sempat percaya jika ia juga memiliki perasaan yang sama dengannya, tapi kini semua terbukti. Gigi salah.

Sempat Gigi berpikir, ‘apakah mungkin aku berhenti menanti kak Nue dan melupakannya? Apakah mungkin mencari orang lain yang bisa mencintaiku dan bisa kucintai seperti aku mencintai kak Nue?’
Dan setiap Gigi memikirkan pertanyaan itu, ia hanya bisa menghembuskan napas dalam seraya memejamkan matanya erat-erat. Bagaimana bisa ia berpikir sesimple itu? Ingatannya akan Nue tidak seperti file di laptop yang bisa dihapus dan direstore sesuka hati, tapi seperti goresan-goresan tinta yang meresap dalam di lembaran kertas. Jika kertas itu dianalogikan sebagai pikiran Gigi, untuk menghapus permanen ingatan-ingatan Nue yang bagai goresan tinta itu, ia hanya perlu merobek dan membakar lembaran-lembaran kertas itu, dengan kata lain, sama saja dengan mengahancurkan pikiran Gigi sendiri.

Di satu waktu, gigi sempat berpikir tentang adanya mesin pencuci otak. Dengan mesin itu, ia akan menghapus semua ingatan yang menyakitinya selama ini. Tapi, apa itu bisa? Nyantanya benda itu tidak ada. Jika adapun, bagaimana bisa seorang mahasiswa biasa seperti Gigi bisa memakainya? Lagi-lagi itu hanya sebuah khayalan.
Mata Gigi sekilas melirik ke arah Ully. Ada sedikit dorongan di hati Gigi untuk menanyakan hal itu pada Ully, tentang perasaannya yang kian meradang. Ia ingin melupan semua itu, ia ingin melupakan Nue! Tapi.. apakah Ully tahu caranya? Ully bukan gadis yang terlalu pandai, tapi dia cukup bijak dalam menangani suatu masalah. Ingat saat Gigi bertanya padanya tentang sikap yang harus ia ambil saat melihat Grace berciuman dengan aldo? Ya.. Gigi rasa Ully cukup dewasa untuk menjawab kerisauan hatinya saat ini.

“ul..”

“apa?!” jawab Ully setengah membentak, dengan mata dan tangan masih fokus pada buku bindernya.

“aku mau nanya Ul..”

“ngapain? Tadi katanya ga mau cerita kan? Ya udah urus sendiri..!”

Gigi terdiam dengan kata-kata Ully. Kata-kata Ully itu sungguh keras menancap di hatinya. Dia benar, tadi Gigi sudah mengacuhkannya. Gigi jadi menyesal padanya.

“maaf lah Ul.. aku lagi bingung Ul.. aku ga tau mau ngapain lagi..” ujar Gigi setengah memelas.

Ully melirik sesaat ke arah Gigi lalu ia pun menghela napas panjang dan meletakkan bolpoinnya dan menatap Gigi dengan simpati. “oke deh.. mau tanya apa?”

Gigi tersenyum tipis. Ia tahu Ully bukan orang yang suka berlama-lama dalam kemarahan. Dia akan luluh jika orang lain sudah memasang wajah memelas. Tidak ingin berlama-lama, Gigi segera mengutarakan maksudnya.

“ul.. kamu tahu gak, caranya ngelupain sesuatu yang ingin kita lupakan..?”

Alis Ully tampak berkerut. Wajah manisnya tampak heran dengan pertanyaan Gigi yang tidak biasa itu. Hingga akhirnya ia kembali meraih bolpoinnya dan menulisi lagi buku bindernya.

“sesuatu apa seseorang?” tanyanya.

“semuanya..” jawab Gigi getir. “ingatan tentang seseorang.. dan segala sesuatu yang berhubungan dengannya.. aku mau ngelupain semua itu..”

Mata Ully melirik Gigi sekilas, lalu kembali menatap bukunya.

“kenapa kamu mau ngelupain dia?”

“karena…” suara Gigi tercekat, seolah ada sesuatu yang mengganjal tenggorokannya. “karena.. ingatan itu hanya bikin aku sakit aja.. “

“terus? Kalo kamu bisa ngelupain dia, emang sakit kamu bisa hilang?”

Kali ini Gigi terhenyak setelah mendengar pertanyaan terakhir Ully. Ia membayangkan jika semua ingatan tentang Nue berhasil ia hapus. Gigi tidak tahu apakah rasa sakitnya bisa hilang atau justru hanya meninggalkan sebuah ruang kosong nan gelap di hatinya.

“aku ga tau.. tapi seenggaknya, itu yang aku butuhkan saat ini.” Jawab Gigi.

“hmm…. gitu..” ujar Ully, dia menutup buku bindernya dan meletakkan tangannya di atas covernya. Tampangnya seolah-olah dia psikolog atau motivator macam Mario Teguh.

“jadi ini yang bikin kamu berubah beberapa hari ini Gi?”
Gigi terdiam lalu beberapa saat kemudian menganggukkan kepalanya dengan pelan.

“Gi.. aku mau ngerti kalau kamu ga mau cerita tentang masalah kamu.. tapi seenggaknya jangan berubah drop kayak gini. Kamu tahu? Temen-temen banyak yang khawatir sama kamu yang lebih banyak melamun bahkan beberapa kali bolos kuliah..”

Gigi hanya diam dan menundukkan wajahnya.
Ully menghembuskan napas dalam dan ia pun merasa harus menjawab pertanyaan Gigi tadi. Ia hanya bisa berharap jawabannya bisa membantu kawannya itu.

“Gi… Jujur, aku ga tahu, gimana caranya melupakan sesuatu yang ingin kita lupakan. Aku juga ga tahu, ingatan seperti apa yang ingin kamu lupakan. Apa ingatan yang sedih, menyebalkan, menjijikkan, menakutkan… aku ga tahu.. Tapi, seandainya kamu mau cerita, mungkin beban kamu bisa berkurang.. aku begini bukannya aku mau tahu urusan orang lain, nggak.. aku Cuma ingin meringankan beban sahabtaku yang sudah beberapa hari ini selalu murung. Percaya sama aku Gi.. kali aja aku bisa bantu.”

Gigi memandang wajah Ully dengan tatapannya yang pilu. Lalu ia palingkan matanya dan menunduk lebih dalam. Hingga tak terasa bibirnya mulai bergerak, meluncurkan semua duri yang mengganjal di dadanya.

“aku pernah suka.. ah bukan.. sampai saat inipun aku suka dengannya. Aku dah lakuin apa aja buat dia. Aku sudah nelan semua kesusahan juga kesenangan saat di dekatnya. Tapi.. selama ini aku seolah cuma berdiri sebagai bayangan.. Dia sudah punya pacar Ul. saat dia sedang tersenyum dan dengan semangat menceritakan hubungannya dengan pacarnya, aku Cuma bisa maksain senyum. Saat dia sedang sedih, aku Cuma duduk disampingnya, mendengarkan semua keluh kesahnya, dan sialnya yang ia tangisi itu orang lain, bukan aku! sudah lama aku bertahan. Aku masih percaya kalau cinta tidak harus memiliki, tapi lama-lama aku sadar kalu itu cuma cerita doang..!sampai akhirnya aku mikir, kalau aku harus lepas dari dia.. aku mau ngelupain dia.. aku ga mau terus-terus sedih karena jadi bayangannya saja. Tapi.. aku ga bisa.. aku ga tahu.. Gimana aku bisa jadi cinta banget ke dia.. susah buat aku ngelupain dia.. ngikhlasin dia dengan orang yang ia sayang.. atau buat sekedar nginget dia. Semuanya, bikin aku ga bisa mikir lagi ul.. “

Ully memandangi Gigi dengan tatapan simpati. Dilihatnya tangan Gigi yang gemetar dan matanya sedikit berkaca-kaca sekarang. Ully baru ini melihat sikap Gigi seperti itu. Selama ini Gigi terkesan sangat polos dan childish. Yang ia lakukan dan pikirkan hanya bermain, bercanda dan bersenang-senang. Sebelum ini Ully tidak pernah mendengar kalau Gigi merasakan yang namanya jatuh cinta, bahkan melihat Gigi frustasi karena cinta sebelumnya. Sekarang ia melihat Gigi yang tampak begitu menyedihkan. Mungkin ini pengalaman cinta pertamanya dan itu langsung membuatnya jatuh. Dari cerita Gigi, terkesan kalau Gigi sudah terlalu lama memendam perasaannya. Ully akui Gigi cukup sabar untuk bisa memaksakan senyum di depan orang yang ia sayang meski hatinya terluka. Itu sebabnya Ully merasa wajar jika melihat mata Gigi berkaca-kaca. Ia yakin, pasti Gigi sendiri mencoba menahannya.

“ini pengalaman cinta pertamamu ya GI?” tanya Ully memastikan dugaannya.

Gigi mengangguk pelan.

“hmm.. Ini pasti berat buat kamu yang pertama kali ngalamin cinta Gi.. tapi yakin deh Gi.. kamu ga bakal bisa ngelupain dia kalau kamu sendiri masih mengingat dia! Jangan biarin kamu ngelamun lagi, pikiranmu yang kosong itulah yang membuatmu selalu teringat padanya. Sibukkan diri kamu. Yakinkan diri kamu, kalau cewek ga Cuma dia.. aku yakin Tuhan sudah ngasih jodoh yang pas buat kita. Kalo memang cewek yang kamu suka itu bukan jodohmu, pasti suatu hari nanti kamu akan nemuin cewek yang lebih baik dan bisa nyayangin kamu.”

Gigi mendengarkan nasihat Ully dengan seksama dan menundukkan wajahnya. Cewek? Yah, Gigi mungkin bisa mengganti kata cewek itu dengan kata cowok. Kata-kata Ully tadi ada benarnya juga. Jika ia tidak mencari kesibukan dan justru hanya melamun, pasti dia akan terus teringat padanya. Tapi jika menurut Ully tadi, bahwa dia akan menemukan ‘cowo’ lain yang lebih baik.. Gigi tidak yakin. Dan satu lagi, meski Gigi berusaha mencari kesibukan lain untuk melupakan Nue, toh kesibukan Gigi salah satunya adalah di PSM, dan celakanya orang yang ingin lupakan adalah mentornya! Ough… sudah Gigi duga, ini tidak akan berhasil.

“Ul.. tapi bagaimana bisa aku ngelupain dia, kalau dia sendiri ada di PSM, tempat aku berlatih untuk dua bulan kedepan? Apa mungkin aku bisa tahan?”

“ya ampun Gigi.. aku yakin kamu bisa… sibukkan diri kamu dengan lagu-lagu yang kamu pelajarin.. kalau kamu mau, kamu bisa mneghindari kontak mata dengannya kan? Yang pasti jangan ngorbanin PSM mu hanya karena masalah pribadi kayak gini.. kamu tahu sendiri kan perjuanganmu untuk bisa masuk di sana?”

Ya, Ully memang benar. Gigi sudah berusaha sekuatnya untuk bisa tergabung dalam tim LPSAF di PSM. Tapi Ully tidak tahu, kalau alasan Gigi memasuki PSM karena dia ingin kenal lebih dekat dengan Nue.

Ah, andai saja saat itu dia tidak bersikeras masuk ke dalam PSM, oh tidak, andai saja dia tidak masuk di Fakultas Sastra, oh tidak, andai saja dia tidak pernah bertemu dengan Nue! Ya, andai sebelumnya dia tidak pernah bertemu Nue, pasti sekarang dia tidak akan seperti ini. Terombang-ambing di tanjung harapan yang tertutup kabut.

‘kriiiing…’

Suara bel pergantian jam berbunyi. Beberapa mahasiswi memasuki kelas sambil tertawa cekikikan. Ully segera memebereskan buku-bukunya dan menarik tangan Gigi. “ayo gi, kita ke warung aja, kelasnya mau dipake.” Ajaknya.
Gigipun dengan lesu beranjak dari tempat itu dan mengikuti langkah kaki Ully.

Selama keduanya berjalan, Ully masih terus menasihatinya dengan kata-kata bijak yang hanya bisa ditemui dalam buku. Gigi hanya diam. semua yang Ully katakan menurutnya terlalu indah untuk diterapkan dalam dunia nyata. Bagaimana bisa orang bahagia dengan cinta yang tak perlu memiliki? Yang ada, setiap harinya kita harus menanggung pedih melihat orang yang kita sayang berbahagia dengan orang lain. Terlebih lagi untuk seorang Gigi. Gigi tidak bisa bersikap naif. Dia cuma orang biasa yang tidak memiliki hati orang suci seperti itu. Seikhlas-ikhlasnya kita merelakan orang yang kita sayang, pastilah ada sisa-sisa pedih yang tertinggal di hati. Dan pedih itu terasa begitu dalam dan menyesakkan.

Ketika Ully masih mencekoki Gigi dengan kata-kata mutiaranya, sekilas Gigi mendongakkan wajahnya untuk melihat keadaan sekitar. Sudah capai rasanya ia menunduk dan melihat ke arah tanah. Namun, rupanya itu keputusan yang salah. Dada Gigi terasa begitu pedih, seolah luka yang masih belum sembuh benar kini terbuka kembali.

Dikejauhan tampak Nue dan Grace duduk di bawah sebuah gazebo. Mereka tampak bahagia dan sesekali tertawa kecil. Wajah Nue terlihat dengan jelas dari tempat Gigi memandangnya, dan semakin jelas saat Gigi berjalan mendekat.

Wajah Nue tampak cerah, seolah kesedihannya di malam itu menghilang tanpa bekas, seolah tidak pernah terjadi apa-apa di antara dia dan Grace..serta seolah tidak terjadi apa-apa di antara dia dan Gigi. Pemandangan itu benar-benar membuat Gigi sakit. Yang ia pikirkan sejauh ini ternyata terbukti. Dia tidak bisa merelakannya pergi.
Gigi memejamkan matanya rapat-rapat seraya memalingkan pandangannya, tapi baru saja ia berpaling..

“bugg..!!’

Tubuh Gigi terpental saat ia menubruk sesuatu yang bidang dan keras. tubuhnya seketika jatuh ke tanah dan segera saja terdengar riuh orang-orang yang tertawa melihatnya terduduk di tanah. Sambil menahan malu, Gigi berusaha untuk bangun dan sebuah tangan terjulur di depannya. Dilihatnya pemilik tangan itu menatapnya dengan khawatir. Ternyata yang menuburuknya tadi tidak lain adalah teman satu Tim LPSAF, seorang cowok dari suara Bass. Gigi pun menerima kebaikan cowok itu dengan meraih tangannya.

“wah maaf Anggian.. aku buru-buru tadi. Kamu ga apa apa kan?” tanyanya setelah menarik tubuh Gigi.

“yah, gimana sih mas, kalo jalan hati-hati dong..” protes Ully, tapi Gigi segera menenangkannya.

“udah ul.. aku juga yang salah, tadi aku ga merhatiin jalan.” Katanya sambil menepuk-nepuk celananya yang kotor.

“maaf ya Gi.. kamu ga papa kan?” tanya cowok itu lagi dengan nada menyesal.

“nggak.. nggak apa-apa kok..” kata Gigi. Matanya kini melirik lagi ke arah Nue. Ternyata Nue juga memandang ke arahnya. Lagi-lagi jantung Gigi seperti tercubit ketika Nue memandangnya dengan tatapan khawatir. Dari posisi tangannya yang menumpu sandaran kursi ,tampak ia hendak berdiri, tapi toh kini dia bertahan pada posisinya. Gigi segara memalingkan wajahnya dengan getir dan menarik tangan Ully.

“udah ya, makasih dah nolong berdiri tadi. Bye..” katanya singkat sambil meninggalkan tempat itu, membiarkan cowok itu termenung melihat kepergiannya, begitu juga Nue.

Nue perlahan menarik lagi tangannya dari sandaran kursi dan matanya mengikuti langkah kaki Gigi yang tergesa. Sampai akhirnya bayangan tubuh Gigi menghilang di balik wajah Grace dan mata Nue berhenti pada mata Grace yang melihatnya dengan heran.

“Nu.. kamu kenapa?” tanyanya sedikit cemas.
Nue pun segera tersadar dan tersenyum kecil. “ah nggak kok.. oh, coba lihat foto yang tadi, aku belum puas ngeliatnya..” ujarnya.

Grace pun tersenyum sambil menyodorkan lagi album foto hasil jepretannya. Dengan bangga ia menceritakan satu persatu foto disana sambil sesekali tertawa kecil. Nue hanya melihatnya dengan senyum kecil menggantung di bibir tipisnya. Namun, sebenarnya ada sesuatu di hati Nue. Sesuatu yang mengganjal, yang membuatnya tidak bisa sepenuhnya tersenyum lega. Saat melihat Gigi, dan memandang tatapan matanya yang sendu itu.
***

Gigi berjalan dengan langkah gontai menuju kursi gazebo favoritnya. Malam ini dia memaksakan dirinya untuk datang latihan. Hari lomba semakin dekat, dan Gigi sudah tidak bisa lagi bolos latihan. Entah Gigi harus bersyukur atau justru kecewa ketika tahu Nue tidak hadir dalam latihan malam ini. Ternyata Grace baru mengalami kecelakaani. Jatuh dari tangga. -_-. Insiden itu membuatnya harus masuk RS dan menjalani perawatan yang intensif karena tulang yang retak. Tentu saja Nue harus menemaninya dan tidak hadir untuk latihan. Kakak senior yang lain juga menjenguk Grace malam ini, karena itu latihan malam ini tidak terlalu lama.

Gigi menjatuhkan dirinya di kursi gazebo dengan berat, seolah lelah yang amat sangat menggelantungi badannya. Aaaargghh… Nue benar-benar membuatnya jadi gila.. !!
Di rogohnya ponsel di sakunya. Cukup lama ia termenung memandangi layar ponselnya yang gelap, hingga akhirnya ia hidupkan ponselnya. Selama jari jemarinya sibuk memencet tombol navigasi, pikirannya terus dipenuhi dengan Nue. Di satu sisi, ia sangat ingin melupakannya, tapi di sisi lain dia juga sangat merindukannya. Candu itu masih belum hilang, justru makin kuat terasa.

Kini tampilan layar ponsel Gigi terhenti pada sebuah foto. Foto yang dulu ia ambil saat ia dan Nue masih begitu akrab. Saat Grace jauh dari hari-hari mereka. Yup, foto itu foto Gigi dan Nue yang tengah menyantap mi instan berdua. Saat itu memang Gigi iseng meminta foto berdua.

Di foto itu tampak wajah Nue dengan mulut penuh mi dan seuntai mi yang tersembul di bibirnya, sementara Gigi disampingnya memberikan senyumnya yang manis sambil menyodorkan garpu dengan gulungan mi. Kedua orang dalam foto itu kini seolah mengejek Gigi yang kesepian dan sakau.

Melihat kenyataan yang ada saat ini, Gigi benar-benar tidak menyangka jika momen-momen seperti dalam foto itu pernah terjadi. Dan Gigi benar-benar tidak tahu, apakah mungkin ia tega membuang ingatan-ingatan ini. Ingatan yang mungkin tidak akan terulang untuk kedua kali.

Tanpa terasa, mata Gigi mulai berkaca-kaca. Dengan lembut ia mengusap layar ponselnya, mengusap wajah Nue di sana, seolah ia sedang mengusap wajah Nue yang sebenarnya. Namun tidak lama kemudian ia buru-buru menutup foto itu ketika sebuah tangan dengan cukup keras memukul meja, persis seperti yang pernah terjadi masa lalu. Mata Gigi sekilas berbinar dan menengadahkan wajahnya.

“hey.. lagi ngapain?”

Secercah senyum yang sempat tersungging di bibir Gigi perlahan memudar, ketika melihat orang yang ada di depannya kini bukanlah orang yang ia bayangkan.

“oh.. Adrian.. Nggak ngapa-ngapain sih..” jawab Gigi dengan lesu.

Adrian adalah cowok yang menabraknya tadi pagi. Gigi benar-benar terkecoh, ia pikir dia adalah Nue, karena Nue juga melakukan hal yang sama untuk megagetkan Gigi yang suka melamun.

“trus, kalo ga ngapa-ngapain, kok masih disini? Kenapa ga pulang Gi?” tanyanya lagi sambil duduk di depan Gigi.

Gigi yang semula memang sedang berada dalam mood yang tidak baik, hanya bisa menjawab dengan asal dan dengan nada malas. “ya nggak ada.. bosen aja di kos sendirian.”

Adrian tampak mengangguk-anggukkan kepalanya sambil meng’ooh’ pelan. “kalo gitu aku temenin boleh..?”

Gigi mengerutkan alisnya sekilas dan menatap Adrian dengan heran. “hah? Ngapain? Kamu ga pulang ?”

Ya, Gigi memang sedang ingin sendirian sekarang. Ia tidak mau ada orang yang mengganggunya saat ini, karena dia mudah sekali marah jika sedang berada dalam mood yang tidak baik seperti saat ini.

“nggak ah, aku juga bosen di kosan. Ini aku baru aja internetan di belakang. “ jawabnya dengan santai.

“ohh..” hanya itu yang Gigi jawab. Ia kembali berlagak sibuk dengan ponselnya dan mengabaikan Adrian.

“ngliatin apaan si?”

“aish.. mau tau aja sih?!” jawab Gigi sedikit sewot.

Adrian tampak nyengir dengan innocent-nya. Ia seolah tidak sadar kalau pertanyaan-pertanyaannya mengganggu Gigi.

“ya kali aja liatin bokep..” serunya, masih dengan senyum jahil.

Spontan Gigi melirik tajam ke arahnya. “sembarangan! Aku orang baik-baik tauk.. “

“terus, apaan kalo bukan bokep? Aku boleh liat?”

“jangan.. ah mau tau aja urusan orang..!”

“hea.. berarti bener bokep itu..”

“huh kah..! terserah lah..!”

Adrian tampak tersenyum penuh kemenangan sementara Gigi mendengus menahan kesal. Ia masukkan lagi ponselnya ke dalam saku dan ia berdiri dari kursinya.

Adrian yang bingung dengan sikap Gigi mulai memudarkan senyum di wajahnya. “loh, Gi.. mau kemana?”

“mau pulang!” jawab Gigi singkat sambil berjalan dengan kesal meninggalkan tempat itu.

Adrian berdiri dari kursi gazebo dan bertanya dengan lantang pada Gigi yang semakin jauh, “ Gi.. aku anter ya?!”

“ga perlu..!” kata Gigi tidak kalah lantang dan terus berjalan menjauh.

Gigi benar-benar kesal. Hari-harinya sudah sangat buruk baginya, dan kini ada orang yang tidak begitu akrab dengannya, mengganggunya dengan pertanyaan-pertanyaan tidak jelas. Gigi juga sedikit heran, tumben sekali Adrian dari anak bass mendatangi dan mengajaknya ngobrol layaknya mereka sudah kenal akrab. Gigi memang belum begitu mengenal dekat anak-anak bass, begitu juga dengan bidang suara lain seperti sopran dan alto. Tadi seorang anak bass menabraknya dan kini ia datang seolah sudah begitu mengenalnya, parahnya lagi…. dia ternyata menjengkelkan!

Belum hilang kekesalan Gigi, suara deru sepeda motor terdengar dengan nyaring, dan sebentar saja, sebuah motor gede sudah mengerem di samping Gigi. Saat Gigi menoleh, ternyata Adrian lagi.

“ayo Gi.. bareng.. kosanmu dimana?” tanyanya dengan kedua tangan menyeimbangkan motornya yang berjalan lambat, menyesuaikan langkah kaki Gigi.

“nggak ah.. “ jawab Gigi singkat.

“loh, udah malem lo Gi.. kamu ga takut jalan sendirian?”

“takut? Emangnya aku anak cewek?? Aish, kamu ni cari gara-gara ya?!” suara Gigi terdengar makin meninggi. Kata-kata adrian benar-benar membuatnya tersinggung.

“ya bukan gitu Gi.. masalahnya gerbang di sebelah Fakultas Ekonomi itu kan sudah ditutup, terus kamu mau lewat mana? Gang di sebelah Hukum?”

“iya lah!”

“yah.. disitu kan angker Gi.. masa kamu ga tau?”

“nggak ah, biasa aja.. aku dah biasa lewat sana sendirian. Sampe sekarag ga ada apa-apa tuh!”

Wajah Adrian tampak kecewa. Gigi menghela napas dalam. Kenapa orang itu keukeuh sekali untuk mengganggu Gigi?

“ayolah Gi.. itung-itung sebagai permintaan maafku karena nabrak kamu tadi..” pintanya.

Setelah berulang kali memaksa, akhirnya Gigi luluh juga (lebih tepatnya risih). “aish… okelah.. bawel ternyata kamu ya?!” ujarnya kesal sambil menaiki sepeda motor Adrian.

Wajah Adrian tampak tersenyum puas saat Gigi bersedia menaiki motornya. “hehe.. udah?”

“belum! Yah, motormu tinggi banget si!” ujar Gigi yang kesulitan menaiki motor gede Adrian, maklum saja, postur tubuh Gigi kan ga tinggi-tinggi amat.

“udah!” katanya begitu tubuhnya sudah bertegger sempurna di motor Adrian.

Adrian pun tersenyum dan dengan perlahan ia melajukan motornya.

Selama perjalanan itu keduanya saling membisu. Adrian hanya bertanya dimana letak kos-kosan Gigi dan Gigi hanya menjawab pertanyaan itu. Setelah itu keduanya tidak terlibat perbincangan lagi. Namun, selama perjalanan itu, wajah Adrian tampak selalu tersenyum. Gigi jadi terheran-heran dengan ekspresi Adrian yang ia tangkap dari cermin spion itu.

‘ada apa dengan anak ini?’ gumamnya dalam hati. Tapi pikiran Gigi segera melayang pada masa lalu, saat seseorang yang ia cintai memboncengnya seperti saat ini.

‘andaikan saat ini kamu adalah dia… mungkin aku akan peluk kamu dengan erat..dan ga akan aku lepas lagi..’

Lagi-lagi Gigi terjebak dalam lamunannya yang dipenuhi dengan khayalan-khayalan penyesalan. Wajah yang semula cemberut dan keras perlahan mulai berganti dengan raut wajah sendu dan pilu. Wajah itu yang kini Adrian tangkap di cermin spion.

Senyum yang daritadi melengkung di bibir Adrian kini berangsur memudar, hingga akhirnya ia palingkan tatapannya dari cermin spion.

‘Gigi.. bersabarlah.. mulai sekarang, aku yang akan bahagiain kamu. Bukan dia.’
***

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s