Hymn of My Heart 18

Bar 18, Crying Moon

Seorang cowok dengan rambut yang agak acak-acakan tengah duduk termenung di sudut caffe. Beberapa kali dia meremas rambutnya dengan gelisah dan sesekali menghirup cappuchinonya.

Setelah kejadian malam itu, pikirannya terasa berat sekali. Banyak pertanyaan dan tuduhan yang memenuhi kepalanya. Saat Adrian mengungkapkan perasaannya juga bagaimana perasaan Gigi selama ini padanya.

“Aku cinta sama kamu Gi..”

‘deg..’ suara itu kembali menghantui pikiran Nue. Berulang kali ia mencoba menghapus suara itu dari kepalanya, tapi tetap saja suara itu menggaung di rongga kepalanya. Sebenarnya bukan suara itu yang membuatnya Nue risau, tapi lebih pada apa jawaban atas pertanyaan itu. Apa jawaban Gigi? Apakah ia menerimanya?

‘Kenapa kamu bingung mikirin itu?’ tanya sisi hati Nue pada sisi hatinya yang lain.

‘ya.. karena.. Aku ga suka aja,kalau dia sama Adrian.’

‘Kenapa kamu ga suka jika Gigi dengan Adrian?’

‘Adrian itu cowok!’

‘terus kenapa? Kamu juga cowok.. trus kenapa kamu perhatian
banget sama Gigi?’

‘ka..karena… dia adikku..’

‘adik? Setelah apa yang Adrian ungkapkan kemarin, apakah kamu masih ngerasa kalau kamu pantas disebut kakaknya?’
Seketika Nue termenung.

‘… no..’ gumamnya lirih sambil meremas rambutnya. Ia menundukkan kepalanya seolah ada beban yang sangat berat menimpanya.

‘aku.. sudah jadi kakak yang buruk untukmu Gi.. aku bego.. harusnya aku tahu perasaanmu..’

Kalimat itu terus menggaung di hati dan otak Nue. Terus menggaung dengan kalimat yang sama, hingga Nue benar-benar terlarut ke dalam suara itu dan terpuruk lebih dalam. Hingga akhirnya seseorang memukul meja dan menyadarkannya.

“Hey..! hhehe.. Jenapa sih…? Kok ngelamun aja..?” gebrak

Grace dengan seyum manisnya.
Mata Nue mengarah pada Grace sebentar, terseyum tipis, lalu kembali menudukkan wajahnya.
Grace tampak heran dengan sikap Nue itu, tapi ia justru tersenyum lalu ia berpindah ke kursi di sebelah Nue.
Dengan ringan tangannya merangkul Nue dan tangan satunya mendorong pipi Nue mendekat ke arahnya.

“Kamu keliatan makin sexy kalo diem gitu..” bisiknya. Dikecupnya pipi Nue di tempat itu, otomatis Nue risih dengan sikapnya itu dan berontak.

“Ck, apaan sih Grace.. Banyak orang tahu!”tepisnya dengan sedikit tertahan.

“Hehe… ih, Nunu emang susah banget buat dicium.. Bikin gemes..!” ujar Grace sambil mencubit pelan pipi Nue yang tadi ia cium.

Nue tidak menanggapi rayuan Grace itu. Entah kenapa ia merasa malas sekali untuk menanggapi Grace saat ini. Sebenarnya dia tidak ingin pergi. Ia ingin tinggal di kamarnya dan memejamkan mata untuk menghilangkan semua kepenatan ini. Tapi Grace memaksanya untuk datang di caffe favorit mereka dan menemaninya minum capuchinno.

“Ada apa sih Nu? Kok muram gitu wajahnya?” tanya Grace yang sudah mulai melihat tanda-tanda kurang menyenangkan dari Nue.

“Nggak ada apa-apa.Kamu mau pesen apa?” tanya Nue. Ia merasa harus mengalihkan topik daripada harus diam memikirkan jawaban atas pertanyaan Grace itu.

“Ehmm.. Capuchinno juga.”

Nue pun memanggil waitress yang kebetulan lewat di depan mereka dan memesankan pesanan Grace. Setelah itu Nue kembali pada posisinya semula, melipat tangan dan termenung di meja caffe. Grace hanya bisa duduk dengan canggung di sampingnya.

“Ehmm.. Nu.. Nunu marah karena aku maksa kamu kesini ya?” tanya Grace dengan sedikit takut-takut.

“Nggak..” jawab Nue singkat.
Jawaban Nue membuat Grace makin merasa melempem dan akhirnya hanya bisa duduk diam dan memilin jari-jarinya di bawah meja. “Ooh..”

Tak berapa lama, pesanan Grace datang juga. Grace pun menghirup capucinnonya untuk mencairkan kecanggungannya. Tiba-tiba ponsel Grace berdering. Ia pun buru-buru meletakkan lagi cangkirnya dan mengambil ponsel di tasnya. Nue melihat sesaat ke arah Grace. Ia lihat mata Grace tampak melebar ketika melihat layar ponselnya. Grace buru-buru mereject panggilan itu dan bersikap cuek sambil menghirup lagi capuchinnonya.

Nue masih memandang heran pada Grace dan bertanya dengan nada curiga. “telfon dari siapa? Kok di reject?”
Mata Grace melirik sesaat. Ia turunkan cangkir capuchinnonya dan menelan capuchinno di mulutnya dengan sedikit gugup.

“Temen kok.. Paling telfon buat tanya tugas. Males jawabnya, ya udah aku matiin aja.”

Nue masih terdiam dan terus memperhatikan gerak-gerik Grace hingga membuat Grace risih.

“Kenapa sih Nu?”

Nue pun memalingkan wajahnya dan mengambil cangkir capuchinnonya. Grace tampak kurang senang, terlebih lagi setelah di’kacangin’ oleh Nue, kini ia diperhatikan layaknya seorang kriminal. Ia pun beranjak dari kursinya da meletakkan tasnya di atas kursinya.

“Sebentar ya, aku ke belakang dulu.” Pamitnya singkat. Tanpa menunggu jawaban dari Nue, ia segera berjalan menuju kamar mandi.

Nue menghela napas dalam. Ia akui, ia telah bersikap tidak baik dengan Grace. Ini karena pikirannya yang sedang kacau. Bahkan kehadiran Grace tidak membuatnya merasa lebih baik, justru membuat pikirannya makin keruh.

‘drrrttt……. drrrtttt…..’

Mata Nue melebar. Dilihatnya ponsel Grace yang menyembul dari dalam tas yang tidak ditutup milik Grace. Sekejap Nue penasaran, siapa sebenarnya yang menelfon Grace. Kenapa harus dimatikan? Nue kurang yakin dengan jawaban Grace tadi. Dilihatnya layar ponsel Grace yang menyala. Tidak ada nama nomor kontaknya. Tak lama kemudian, panggilan itu berhenti. Nue memilih untuk tidak menghiraukannya dan kembali pada cangkirnya. Tapi baru saja Nue mendekatkan bibir cangkir di bibirnya, ponsel Grace bergetar lagi. Kali ini getarannya singkat, tanda hanya sebuah sms.

Rasa penasaran dan curiga kembali menjalar di hati Nue. Hatinya merasa tidak enak dengan panggilan dan sms itu. Ia pun melihat ke arah kamar mandi, belum ada tanda-tanda Grace akan keluar. Ia pun mengambil ponsel itu dan membukanya.

Di layar ponsel itu terlihat pesan dari sebuah nomor tanpa nama. Nue yakin jika itu nomor yang tadi menelfon. Dengan ragu, ia pun membuka pesan itu.

‘Honey.. telfonku kok ga dibales sih? Aku kangen sama kamu..
Jangan krn sdh balikan sama Nue kamu blh nglupain aku. Inget, foto2 itu ada di aku. Aku bs kirim ini ke hapenya Nue kalo aku mau😛’

‘deg..’ jantung Nue mulai berdegub kencang. Tangannya bergetar saat memegang ponsel Grace.

‘foto apa? Dan ini.. nomor siapa? Mungkinkah ini..’

Dengan ragu ia menekan keypad-keypad ponsel Grace hingga membentuk sebuah kalimat.

‘foto apaan si?’

Nue tidak tahu apakah si pemilik nomor itu akan menyadari jika yang mengirim pesan itu bukan Grace, tapi ia tetap mengirim pesan itu dan berharap ia akan mendapat balasan yang memuaskan.

Nue menengok ke arah kamar mandi, dilihatnya Grace baru saja keluar. Kini ia tengah bercermin sambil membenahi tatanan rambutnya.

‘drrt.. drrrrt…’

Mata Nue kembali melebar. Dilihatnya ponsel Grace yang bergetar itu, ternyata sebuah pesan lagi dari nomor tadi. Jantungnya makin kencang berdegub. Dilihatnya isi pesan itu.
Seketika, jantung Nue yang semula berdegub kencang, kini seakan meledak memuntahkan darah segar. Isi pesan itu bukan lagi text, melainkan sebuah image. Image yang membuat mata Nue menggelap. Sebuah foto Grace dan aldo yang tengah berciuman dan berangkulan, dalam keadaan tanpa kain sehelaipun menutupi tubuh keduanya!

Tangan Nue gemetar. Dia palingkan wajahnya dengan getir ke arah Grace yang berjalan ke arahnya sambil tersenyum. Tidak, senyum itu tidak mengubah suasana hati Nue kini. Dengan tegas, ia banting ponsel Grace di atas meja dan ia meninggalkan tempat itu.

“Loh… Nu!” panggil Grace yang heran ketika melihat Nue dengan tergesa meninggalkan caffe.

“Nue..!!” teriak Grace di pintu caffe, tapi ia terlambat. Nue sudah mengegas kencang sepeda motornya dan menghilang di keramaian jalan kota Jember.

Grace hanya melongo melihat sikap Nue. Sambil berdecak, ia kembali masuk ke dalam caffe dan mengambil tas serta ponselnya.

Ia sedikit terkejut ketika melihat ponsel yang sebelumnya ada di dalam tas kini tergeletak di atas meja. Ia pun membuka ponselnya dan seketika matanya melebar. Dengan gemetar ia menutupi bibirnya. Matanya mulai berkaca-kaca saat melihat isi pesan yang tidak ia duga itu. “I..ini…”
***

Hari beranjak senja. Gigi membuka pintu kamarnya dan melempar tas pinggangnya dengan sembarangan. Setelah itu, ia langsung membanting tubuhnya di atas kasur. Ia tahu, ini tidak seperti Gigi yang biasa, yang akan meletakkan tas dengan rapi di atas meja belajar, berganti baju, mengambil wudlu dan sholat. Ia benar-benar capek hari ini. Tidak hanya capek karena harus kuliah maraton dari pukul 7 sampai setengah 6 sore, tapi juga lelah pikiran. Kejadian semalam membuatnya risau dan frustasi. Adrian tidak menemuinya lagi sepanjang hari ini. Gigi juga tidak berani untuk menghubunginya lewat sms. Ia merasa tidak tega pada Adrian, tapi ia juga tidak tega pada dirinya sendiri jika harus terpaksa mencintai orang yang tidak ia sukai.

Gigi membalikkan badannya. Kini wajahnya menghadap ke langit-langit kamarnya. Ia termenung menatapnya. Kata-kata Adrian kembali terngiang di kepalanya.

‘Aku tahu, kalau kamu menderita selama bersama dia! Kamu hanya bisa jadi bayangan dia aja. Kamu mencintai dia, tapi sekaligus juga kamu sadar, kalau kamu ga akan mungkin milikin dia! Dia juga ga pernah ngerti perasaan kamu kan? Dia hanya bisa nyakitin dan nyakitin kamu lagi dengan ketidakpekaannya! ia pikir dialah satu-satunya di bodoh yang cuma bisa duduk diam dan bicara dengan bulan, padahal sebenarnya kamu lah, si bodoh yang sepanjang malam duduk dan mengadu pada bulan! Tapi dia tidak pernah mengerti kan?’

Gigi memejamkan matanya rapat-rapat. Damn..! kata-kata itu benar-benar menusuk tepat di jantungnya.

‘kalau itu benar.. berarti aku memang si bodoh itu.. jadi, apa yang aku lakukan waktu itu.. lagu itu.. semuanya, sia-sia..?’tanya Gigi pada hatinya.

Tentu hatinya tidak bisa menjawab. Keheningan mereka membuat Gigi jatuh semakin dalam. Tidak terasa sebuah air mengalir dari ujung matanya. Gigi mengusap tetesan air itu dan memandanginya.

‘Air mata? Kenapa masih ada air mata yang tersisa? Padahal sudah aku kuras selama ini.. selama bersamamu. Sampai kapan air mata ini mengering?’

‘drrt…drrttt….’

Gigi menolehkan wajahnya. Ia dengar ponselnya berdering. Ia pun menurukan tangannya dan mengusap air matanya. Setelah itu ia meraih ponselnya dan membaca isi pesan singkat yang ia terima itu.

Ia agak tercengang ketika melihat pesan itu. Pesan dari Grace. Grace memang pernah memberinya nomor ponselnya saat Gigi bertugas menemani Nue waktu itu. Tak ia sangka Grace akan menghubunginya lagi, dan jika ia meghubunginya pasti permasalahannya tidak akan jauh-jauh dari Nue.

‘Ke kos-kosan Nue sekarang!’

Mata Gigi tampak bergerak-gerak melihat pesan itu. Dari kalimatnya tampak ada masalah yang penting dan mendesak.
Buru-buru ia mengambil jaketnya dan membuka pintu kamarnya. Hatinya merasa tidak enak. Gigi yakin, ada sesuatu yang menimpa Nue sampai Grace memberinya sms seperti itu. Saat ia akan menutup pintu, gerakannya terhenti sesaat.

‘Kenapa? Kenapa aku masih saja mempedulikannya?’

Cukup lama Gigi terdiam, hingga akhirnya dengan mantap ia menutup pintunya dan bergegas meninggalkan tempat itu. Dalam langkah yang terburu-buru itu, bibirnya tersenyum tipis di bawah matanya yang berpendar lirih.

‘Karena.. Aku ga bisa lepas dari kamu kak..’
***

Cukup lama Gigi berjalan karena jarak kos-kosannya dengan kos-kosan Nue yang agak jauh. Akhirnya ia sampai di pintu gerbang kos-kosan Nue. Tampak di tempat parkir hanya ada dua sepeda yang berjejer, salah satunya sepeda motor Nue. Sepi sekali. Mungkin karena penghuni kos yang lain belum pulang dari bekerja. Gigi pun berjalan menuju kamar Nue. Ia lihat di atas meja di depan kamar Nue, terdapat sebuah bungkusan plastik. Gigi yang penasaran pun medekati bungkusan itu. Tapi, belum sampai ia menyentuh bungkusan itu, suara-suara tinggi terdengar menggema dari kamar Nue, mengejutkan dirinya.

“Kamu mau jelasin apa lagi Grace?! Sudah jelas semuanya!”
Mata Gigi terbelalak. Itu suara Nue!

Ia pun berjalan tergesa ke depan pintu Nue. Di sana ia bisa mendengar percakapan orang yang ada di dalam dengan jelas meski tanpa harus menempelkan telinganya di daun pintu. Suara mereka cukup keras terdengar.

“Please Nu.. Maaf… Itu masa lalu Nu.. Aku dijebak..”terdengar suara wanita yang menangis dan bersuara parau.

Setelah itu terdengar suara seorang cowok yang menggelegar dan menakutkan. Gigi benar-benar takut untuk menebak siapa pemilik suara itu.

“Dijebak gimana? Aku sudah percaya sama kamu, tapi apa?! Kamu ga perlu melakukan sejauh itu Grace..!”

“Aku ga sadar Nu.. Aku dijebak… Saat itu aku mabuk…”

“Siapa suruh kamu mabuk?! Siapa yang bolehin kamu minum?!”

“Aku terpaksa Nu… Kamu tahu sendiri aku butuh uang.. “

“Terus kamu anggap aku ini apa? APA..??!”

Suara cowok itu terdengar keras dan mulai serak. Tampak seseorang penghuni kos baru saja keluar dan menoleh sesaat di kamar Nue sambil menghidupkan motornya. Gigi bersikap acuh pada tatapan orang itu sampai akhirnya orang itu pergi meninggalkan kos-kosan.

“Maaf Nu.. Maaf…”

“Udah.. Kamu mending pulang aja..” ujar si cowok itu dengan volume suara yang mulai melemah.

“Tapi Nu..” isak Grace.

“Pulang!!!”

Pintu kamarpun terbuka. Dengan cepat Gigi menepi dan dilihatnya Grace keluar dari kamar Nue dengan wajah sembab, rambutnya acak-acakkan dan air matanya membasahi semua pipinya. Pintu berdebam keras, menghasilkan angin yang menerpa wajah Grace yang menyedihkan. Dengan perlahan Gigi mendekati Grace.

“Kak.. Ada apa?” tanyanya hati-hati.

Grace tidak menjawab. Dia duduk sambil menutupi wajahnya dan bahunya naik turun karena isak tangis. Cukup lama Gigi menunggunya. Ingin sebenarnya Gigi memijat bahunya untuk membuatnya tenang, tapi ketika ia ingin melakukannya, gerakannya tertahan. Ia tidak sanggup dan terlalu ragu untuk melakukannya. Ia pun hanya diam dan menunggu Grace tenang.

Cukup lama akhirnnya Grace membuka kembali wajahnya. Matanya tampak sangat basah dan merah, begitu juga wajahnya yang basah. Sambil mengusap air matanya ia mengumpulkan tenaga untuk berbicara pada Gigi. Diambilnya sebuah bungkusan dari plastik yang ada di atas meja dan disodorkannya pada Gigi.

“Ini.. Kasihkan ke Nue ya..”suaranya tersengal-sengal dan parau. Gigi nyaris tidak bisa menangkap apa yang ia katakan. “…pastikan Nue makan.. dia belum… huk… minum obat..”
Gigi termenung dan diraihnya bungkusan plastik itu dari Grace. Di tengadahkan wajahnya ke arah Grace lagi. “Kak.. Ada apa sebenarnya?”

Grace tidak menjawab. Ia sibuk menghapus air mata yang lagi-lagi keluar dari ujung matanya. Hingga akhirnya ia berdiri. “Maaf gi..” ujarnya singkat dan ia pun berjalan tergesa meninggalkan tempat itu.

Gigi mematung sesaat dengan kantung plastik di tangannya. Dilihatnya pintu kamar Nue. Ia pun berjalan perlahan mendekati pintu itu. Diputarnya gagang pintu itu.

‘cklik’

Rupanya tidak dikunci. Ia pun dengan ragu memasuki tempat itu. Dada Gigi mendadak terasa sesak. Ia melihat Nue duduk memunggungi Gigi dengan kedua tangannya mencengkram dahi dan rambut depannya. Mengingat Nue yang tadi mengeluarkan suara begitu menyeramkannya, Gigi menjadi sedikit gentar ketika mendekatinya. Ia pun memberanikan dirinya dan berjalan mendekati Nue.

“Kak..” panggilnya lirih.

Nue tidak bergeming.

Gigi menelan ludah. Ia pun berinisiatif untuk mengambil sebuah piring di rak dan membuka bungkusan nasi di atasnya. Setelah itu ia kembali mendekati Nue.

“Kak.. Makan dulu yuk..” ujarnya.

Saat ini posisi Gigi ada di belakang agak di samping Nue, sehingga Gigi tidak bisa benar-benar melihat wajah Nue. Ia pun berjalan ke arah depan Nue. Dengan keberanian sekuat hercules ia berdiri di depan Nue lalu berjongkok di depannya sehingga wajahnya berada tepat di wajah Nue yang menunduk itu. Wajah Nue tertutup bayangan kedua tangannya.

“Kak..” panggil Gigi, tapi lagi-lagi Nue tidak bergeming.

“Kak.. Makan yuk.. Kakak harus minum obat..” ujarnya pelan.

Agak lama Nue membisu, akhirnya ia bicara juga, meski dengan kata-kata yang membuat Gigi langsung ingin menangis.

“Pulang..” perintahnya, pelan tapi tegas.

Tenggorokan Gigi seakan tercekat. Ia Gigi bibir bawahnya karena menahan getir, tapi ia tetap berusaha dan menguatkan dirinya.

“Nggak kak.. Kakak harus makan dan minum obat dulu…” sanggah Gigi dengan suara agak bergetar. Ia paksakan senyum sebisanya untuk melawan getir hebat di dadanya.

Nue tidak menjawab kata-kata Gigi itu. Masih pada posisinya.
Untuk kedua kali Gigi menelan ludah, bukan karena takut tapi lebih karena sedih. Ia pun membujuk Nue lagi dan lagi.

“ayo kak…”

Nue tetap membisu.

Gigi pun memegang tangan Nue yang terpaku kaku mencengkram rambutnya itu.

“ayo kak.. mak..”

‘prangg..!!!’

Pupil Gigi melebar. Tubuhnya seakan memematung ketika Nue dengan kerasnya menepis tangan Gigi yang memegang piring hingga piring itu jatuh dan pecah di lantai.

“Aku ga mau makan! Ngerti ga sih!”

Wajah yanng tadi tersembunyi dalam bayangan kini terpampang dengan jelas di mata Gigi. Wajahnya yang tampan itu kini berubah menjadi begitu dingin, seakan bisa membuat siapapun yang melihatnya menjadi patung es. Seperti yang Gigi alami saat ini.

Perlahan, mata Gigi mulai berkaca-kaca. Air mata yang tadi ia pikir sudah mulai surut kini mulai berdesakan di kelopak matanya. Bibirnya bergetar. Melihat itu, Nue memalingkan wajahnya ke arah lain. Alisnya yang tadi mengangkat tajam, kini beralih menajdi turun dan sendu.

“Pulanglah Gi..” ucapnya masih sama dinginnya.

Dengan gemetar, Gigi berdiri. Ia membungkuk ke arah pecahan piring-piring itu. Setetes demi setetes, air mata Gigi mulai jatuh di atas lantai. Gigi memunguti pecahan piring dan nasi yang bercecran itu dengan tubuh menggigil.

“Hug… Kakak kenapa sih..?” ujarnya dengan terisak. Sambil satu tangan mengumpulkan pecahan piring, tangan satu ia usapkan di kelopak matanya untuk menyingkirkan air mata yang menutupi matanya. Meski tetap saja air mata mengalir dan membuat pandangannya kabur.

“Kenapa sih kakak selalu begini? “

Nue terdiam. Sementara Gigi membuang pecahan-pecaha piring itu di tempat sampah.

“Kenapa kaka ga bisa ngeliat orang-orang yang sayang sama kakak..” ujar Gigi.

Agak lama Nue terdiam, hingga akhirnya ia berkata, “Sayang? Siapa yang sayang sama aku? Sudah terbukti sekarang. Semuanya cuma berpura-pura. Ga ada yang sepenuhnya sayang sama aku. Buat apa juga aku makan? Buat apa aku minum obat? Semuanya cuma omong kosong.”

Gerakan Gigi terhenti. Ia berdiri dan berjalan ke arah Nue. “siapa bilang ga ada orang yang sayang sama kakak? Orang tua kakak, temen-temen PSM…. Aku..!”

Kini Gigi sudah berada di hadapan Nue. Ia pandangi dalam-dalam wajah Nue, meskipun saat ini wajah Nue tidak terarah padanya.

“Aku sayang sama kakak..”ujarnya lirih.

Satu jari Nue reflek bergerak mendengar hal itu. Dalam wajahnya yang tertunduk itu, matanya tampak melebar. Tapi lambat laun matanya menyipit kembali dan alis matanya kembali terangkat tajam.

“Aku ga perlu itu.. Sayangi saja pacarmu itu.”

Gigi terkejut dengan kata-kata Nue barusan. Dengan tergugup ia menanyakan maksud Nue itu. “Pacar? Ma.. maksud kakak apa?”

“Nggak perlu ditutup-tutupi lagi.. Aku sudah denger semuanya malam itu. Aku denger. Adrian menyatakan cinta ke kamu kan..? Sudah, ga perlu kamu menampik lagi..”

Gigi terperangah. Ia tidak menyangka malam itu Nue juga datang. Tapi kenapa ia bisa mengambil kesimpulan seperti itu? Apakah Nue tidak mendengarkan sampai akhir? Selain itu, ada apa Nue menghampirinya malam itu?

“Sebentar kak… aku..ak..”

“aku kecewa..!”

Suara Nue memotong kata-kata Gigi dan membuatnya terdiam. Wajah Nue kini menengadah padanya dengan sorot mata yang begitu dingin.

“Aku kecewa.. Punya adik seorang homo.”
‘DEG..’
Tik… tik.. tikk…
Jarum jam berdetak dengan begitu khidmat. Suara itu mengisi kebisuan yang tercipta antara Gigi dan Nue saat itu. Bagi Gigi sendiri, waktu seolah terhenti. Matanya menatap tidak percaya ke dalam mata Nue.

Air mata yang sempat terbendung, kini mengalir lagi. Dengan gemetar, Gigi menundukkan wajahnya dan perlahan serta agak tertatih, ia berjalan ke belakang Nue. Di sisi kasur yang lain, Gigi duduk dengan lemas. Tubuhnya menggigil dengan hebat. Kata-kata Nue tadi menghujam keras ke jantungnya. Tidak pernah Nue mengatakan hal yang kasar padanya selama ini, dan sekalinya ia melakukan itu, seketika menghancurkan hati Gigi berkeping-keping.

Dengan tenaga yang tersisa, ia memaksa dirinya untuk berbicara. Meski suaranya harus tersendat-sendat oleh isak tangis.

“Kakak tahu..? hug… aku.. sebenarnya ga bisa bahasa inggris.. aku bego’.. aku ga bisa nyanyi… aku ga bisa baca partitur… aku malu buat tampil di depan panggung..” Gigi menelan ludah dan menghapus air matanya yang tak hentinya mengalir.

“Tapi aku laluin itu semua.. karena siapa? Itu karena kakak… aku sayang sama kamu kak… “

Gigi menoleh sedikit ke arah Nue. Nue tidak bergeming.

“Aku berusaha semampuku.. meskipun aku harus belajar notasi tiap malam.. harus ngadepin matakuliah yag sama sekali ga aku ngerti.. meski aku harus dibentak-bentak senior.. semua aku hadapi dengan ikhlas, semua karena kakak.. aku dah lakuin semuanya untuk kakak!”

“Sekarang kakak bilang aku homo… oke.. aku akui itu bener.. Tapi, kalau kakak benci sama aku karena pribadiku ini, AKU JAUH LEBIH MEMBENCI DIRI AKU SENDIRI KARENA INI..! kalau akhirnya aku cuma ngerasain sakit karena memendam perasaan sama kakak! Selama ini aku harus mendam sakit karena perasaan cintaku ke kakak.. setiap hari aku harus memaksakan senyum saat Nue bercerita tentang kak Grace.. aku berusaha tetap kuat dan menemani kakak ketika kakak sedih,meskipun yang kakak tangisi itu adalah orang lain. Setiap malam aku cuma bisa nangis ketika bayangin wajah kakak yang rasanya makin jauh dari aku. Asal kakak tahu, akhirnya aku capek hidup seperti ini!kalau bisa memilih, aku ga mau dapet nasib seperti ini.. aku ga pengen suka sama sesama cowok.. aku ingin lepas dari bayanga kakak.. “ suara Gigi yang semula meninggi perlahan mulai melemah.

“tapi aku ga bisa…”

Gigi pun berdiri dari kasur Nue dan berjalan sambil menghapus semua air mata di wajahnya. Hingga ia sampai di ambang pintu, ia menoleh ke arah Nue yang memuggunginya.

“Ternyata benar.. aku ini si bodoh yang duduk sendirian… berbicara dengan bulan.”

Tangan Nue bergetar, dan tubuh Gigi pun meghilang dari ambang pintu. Ia berlari, meninggalkan ‘kakak’ yang mengkhianatinya.

 

‘ting tong…’

Adrian yang tengah terduduk lesu di meja belajarnya mulai terusik. Di rumahnya hanya ada dirinya sendiri. Dengan malas ia pun berjalan menuju pintu ruang tamu.

“cari siap…”

Kata-kata Adrian terhenti ketika ia melihat seorang cowok dengan mata sembab di depannya.

“Malam ini.. aku boleh nginep Dri?” tanya Gigi dengan suara serak.

Adrian tercengang. Ia tidak tahu apa yag terjadi pada Gigi, tapi dilihatnya kondisi Gigi yang menyedihkan. Ia pun mengangguk. “I.. iya boleh Gi.. ayok masuk..”

Gigi tersenyum lalu masuk ke dalam rumahnya. Begitu Adrian menutup pintu, sebuah pelukan erat megunci tubuhynya. Mata Adrian terbelalak. Tak lama kemudian, ia bisa merasakan bajunya basah.

“Gi…?”

Tubuh Gigi menggigil dan air mata terus membasahi baju Adrian.

“Kamu bener Dri… Kamu bener.. aku si bodoh itu.. aku si bodoh….” erang Gigi.

Mendengar itu, Adrian hanya termenung. Setidaknya ia sedikit tahu apa yang sedang terjadi. Ia pun dengan lembut mengelus kepala Gigi di dekapan dadanya.

“udah… Aku disini Gi..kamu menangislah sepuasnya.. habiskan kesedihanmu Gi… “
***

Di kamar Nue yang gelap, Nue mengacak-acak rambutnya dengan gusar. Hingga ia menengadahkan wajahnya. Tampak matanya yang basah oleh air.

“Begoo!!” erangnya.

Ia menundukkan wajahnya dan memangku dahi denga kedua telapak tanganya. Membiarkan air mata dengan bebes jatuh ke lantai yang dingin.

“Apa yang udah kamu lakuin Nu..?” decitnya parau.

Ia ingat apa yag sudah ia lakukan dan katakan pada Gigi. Ia ingat bagaimana wajah Gigi. Ia ingat air mata Gigi. Ia ingat kata-kata Gigi. Semua itu tanpa ia duga sudah meninggalkan bekas luka dalam di hatinya.

Hatinya telah digelapkan oleh amarah juga cemburu. Membuatnya lupa pada orang yang selama ini menyayanginya dengan sepenuh hati.

Ia teringat saat pertama kali berjumpa dengannya. Ia ingat saat Gigi menolongnya saat penyakitnya kambuh. Ia ingat saat ia dan Gigi saling berbagi earphone. Ia ingat saat Gigi mendengarkan curahan hatinya. Ia ingat saat Gigi setiap hari mengingatkannya minum obat. Ia ingat….

Perlahan Nue menengok ke belakang. Di rabanya kasur itu dan air mata Nue kembali mengalir.

Ia bahkan ingat saat Gigi memeluknya saat ia kejang. Ia tidak bisa mengingat dengan jelas. Tapi entah kenapa dia merasakan sebuah pelukan hangat, yang akhirnya mengetuk kesadarannya.

“Gi.. kaukah itu?” gumam Nue pelan.

Tapi seketika bayanga wajah Gigi yang menangis menyeruak di mata Nue.

“sekarang kakak bilang aku homo… oke.. aku akui itu bener.. kalau kakak benci sama aku karena pribadiku ini, AKU JAUH LEBIH MEMBENCI DIRI AKU SENDIRI KARENA INI..!”

Nue langsung memejamkan matanya menahan sesak. Penyesalan hebat menghujani tubuhnya seperti ribuan lembing. Dengan tubuh menggigil ia pun bangkit dari kasurnya.

‘Bagaimana bisa aku berbuat seperti itu? Aku sayang padanya.. dia ga salah apa-apa. Tapi kenapa aku membentaknya? Harusnya itu Grace!’

‘ya.. aku akui.. ternyata aku cemburu.. aku melampiaskan itu dengan amarah pada Gigi. Aku bilang aku kecewa.. padahal..’

Nue memejamkan matanya dan ia mengusap wajahnya. Diatas jari jemarinya yang menutupi mulutnya, matanya mulai terbuka dengan sendu.

‘apa yang harus aku lakukan sekarang? Apakah Gigi membeciku?’

‘aku tahu, aku bukan orang yang pantas lagi berbicara dengannya tapi…’

‘nggak.. aku..’

“Ya.. Aku harus minta maaf ke Gigi..” gumamnya.

Meski awalnya ragu, tapi akhirnya ia membulatkan tekadnya dan ia bangkit dari kasurnya.

Sayangnya tekad yang kuat itu ditopang oleh tubuh yang rapuh. Baru saja kakinya melangkah, seketika kaki Nue serasa tidak bertulang, dan tubuh Nue jatuh ke lantai. Tubuhnya yang semula menggigil karena isak tangis berangsur-angsur berubah menjadi kejang.

“please… janga…”

Tapi sia-sia. Bangkitan itu datang diluar kehendak Nue. Langsung saja tubuh Nue meronta dengan keras di lantai. Seolah dihukum oleh penyesalannya sendiri. Serpihan kecil piring yang masih tercecer menggores dan menancap di sekujur tangan dan wajah Nue hingga wajah tampan dan putih itu kini berhiaskan garis-garis darah. Nue yang tidak bisa merasakan sakit itu terus meronta dengan hebatnya. Berkali-kali tangan dan kaki Nue harus berbeturan dengan benda-benda keras di sekitarnya. Kini dia sendiri. tidak ada orang yang meungguinya sambil menangis, atau memeluknya dan berbagi sakit dengannya. orang itu sudah pergi meninggalkannya. Seolah pederitaan belum puas mencambuk tubuh Nue, sebuah hantaman keras kini mendarat di kepala Nue.

“daaashh!!”

Benturan itu mengenai kepala Nue dengan telaknya. Berangsur, kejang di tubuh Nue mulai melemah. Darah segar menggenang cepat dari kepala bagian belakang Nue. Tubuh Nue akhirnya sudah berhenti menggelepar. Kesadaran nue perlahan bagkit kembali meski hanya berupa pandangan kabur.

Diulurkannya tangannya yang penuh luka ke arah ambang pintu yang terbuka. Di luar sana langit malam tampak cerah. Rembulan bersinar dengan aggunnya, menyinari wajah Nue. Cahaya itu menembus samar di dalam kesadaran Nue. Membentuk sebuah siluet dari sosok yang sebenarnya ia kasihi.

Dengan sisa kesadaran yang ia miliki, bibir pucatnya bergerak lirih. Jari jemarinya merekah seakan mencoba meraih seseorang jauh di sana.

“Gigi….ma…af..”

Siluet itu tersenyum padanya dan ia berlari menjauh. Nue terkejut. Ingin ia memanggil sosok itu, tapi tubuhnya tak bisa lagi ia gerakkan. Bulan yang bersinar seakan kian menciut dan akhirnya tidak menyisakan sedikitpun cahaya di mata Nue. Hingga akhirnya semua berubah menjadi hitam. Tangan itu, jatuh dengan lemah di atas lantai. Bersama dengan tubuh yang tergolek tak berdaya di lantai yang dingin, berselimutkan penyesalan yang tak tersampaikan.
***

17 thoughts on “Hymn of My Heart 18

  1. zalanonymouz says:

    ditunggu komen n kritikx y guys..

  2. Putra Poe says:

    Waduh nyesek amat.. Jd pingen nangis tisu mana tisu *eh lupa gua kan cowok gak buleh nagis hehehehe…
    Keren.. Part 17 18 benar2 membuat kita terhanyut bro..

  3. tsanai says:

    Keren……ini masih belum tamat kan🙂

  4. yuriz says:

    Nyesek banget bacanya. Part 18 bener2 ngena (´._.`) sukses nih bikin orang gulung2..

  5. Rio says:

    #nangisgulingguling ;(

  6. Heizen says:

    Gilaaa…! bikin mewek 7 hr 7 mlam bro… Salut sm Gigi,,,!
    #eh.salah.dech_pastinya.sama*Zalano*Hhehe,😀

  7. akyuza says:

    Kenapa makin ngenes ampe ke ubun2 gini OTL
    wahai penulis ngomong2 tisuku abis ini .>___<. Keren, nyesek, ngenes, Sadislah pokoknya mah :3

  8. novi says:

    kl trnyata ada cewe yg tulus suka sama gigi gimana? mngkin ga gigi suka cewe itu jg? maat oot

  9. chataryne says:

    part yang pnuh emosi dan mnyayat hati.kasian gigi dan si nue. smoga nue bisa di tolong.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s