Hymn of My Heart 5b

bar 5b

Nue mengamati jam dengan sedikit risau. Sudah pukul 17.27 tapi temannya yang akan menggantikan shift kerjanya belum datang-datang. Nue berdecak lalu merogoh ponselnya, ia pun menghubungi temannya itu, berharap kali ini akan di angkat, karena daritadi ia hubungi namun tidak dijawab.

‘halo’ ucap seseorang dalam ponsel Nue.

“oi, Meng! Cepet kesini! Udah waktunya balik aku!” kata Nue dengan sedikit kesal.

“iya.. sorry bro, aku baru bangun.. tunggu ya, aku mandi dulu. 15 menit doang kok, see ya..”sambunganpun terputus.

“ha? Mandi? Hoi.. tung… yah ditutup, sialan!” Nue mengangkat alisnya dengan emosi. Di letakkannya kembali ponsel itu kedalam saku celananya.

Bagiamana Nue tidak emosi? Pergantian shift seharusnya pada pukul 16.00 tadi. Artinya, sudah hampir satu setengah jam Nue menunggu temannya yang dipanggil Omenk itu. Belum lagi, pukul 18.30 nanti ia harus melatih Gigi. itulah kenapa dia harus cepat-cepat pulang. Nue pun mengacak-acak rambutnya dengan kesal.

“mas… mau bayar..”

Nue spontan menoleh, ternyata ada cewek yang melihatnya dengan tatapan aneh. Nue pun seketika merapikan rambutnya dan berdehem pelan untuk menyumbunyikan rasa malunya.

“ehem.. ya, nomor 7 ya? 4000..”

‘sialan kamu Menk.. mana masih mandi lagi..?! sampe jam berapa entar??’

Pukul 18.10 barulah Omenk datang dengan vespanya.

“sorr..” baru saja omenk menyapa, Nue langsung menyerobot keluar dan melajukan sepeda motornya, meninggalkan omenk yang heran sambil menggaruk-garuk rambut keritingnya.

Nue melajukan sepeda motornya dengan kencang. ‘sialan omenk, jam segini baru dateng!’ gerutunya.

Akhirnya ia sampai di kos-kosannya. Segera ia memarkir sepeda motor, lalu bergegas menuju kamarnya. Mengambil peralatan mandi lalu menuju kamar mandi.

Sementara itu, Gigi tengah menunggu di gazebo ditemani dengan laptopnya. Ia menengok jam, sudah pukul 18.34.

‘nggak biasanya kak Nue dateng telat..’ pikir Gigi.

Baru saja Gigi membatin, tampak Nue dengan sepeda motornya melaju menuju ke arahnya.

“sory Gi, agak telat.”ujar Nue.

“oke, no problem..”jawab Gigi sambil tersenyum.

“hehe.. oke dah ayok langsung latihan!”

Mereka berdua pun mulai mereview bagian yang mereka pelajari kemarin. Tampak Gigi yang sudah mulai fasih melantunkan lagu itu hingga pada bagian tersulitnya. Nue tersenyum puas melihat perkembangan Gigi. ia pun mulai mengajari Gigi bar-bar selanjutnya. Bar-bar selanjutnya tidak begitu sulit sehingga Gigi dengan cepat mencerna dan mempraktekkannya.

“nah sip…! tinggal dikit Gi… tinggal 5 bar lagi, habis itu tuntas deh..” ucap Nue yang duduk di kursi gazebo sambil meminum air yang ia bawa.

“fyuh… iya juga.. ga kerasa cepet juga.. ehmm btw tenor yang lain sekarang sudah sampek mana?” tanya Gigi yang kini juga duduk di gazebo.

Nue menutup botol airnya dan menyerahkannya pada Gigi.

“sudah sampe Mars UJ.”

“haaa!” Gigi melongo sambil mengambil botol air minum Nue.

‘hah? Aku kira aku sudah lebih cepat belajar daripada yang lain. Ternyata mereka sudah belajar lagu mars?!! What the….!!!’

Nue terkekeh saat melihat reaksi Gigi. “hhaha.. kenapa kaget? Biasa aja kali. Mereka mungkin cepet bisanya, tapi belum tentu notasi mereka semateng kamu kan?”

Gigi mengangguk pelan sambil meneguk air, berharap yang Nue ucapkan itu benar. Dia memang sudah dilatih Nue dengan cukup ketat. Jika Nue mengatakan notasi Gigi sudah benar, berarti memang benar-benar tidak ada yang cacat. Gigipun tersenyum bangga pada dirinya sendiri. Tidak percuma ia meluangkan waktunya untuk latihan privat bersama Nue.

“oh iya kak.. makasih ya..”ucap Gigi.

Nue mengangkat alisnya dengan heran. “makasih buat apa?”

Gigi tersenyum malu. Sebenarnya ia ingin bilang ‘makasih buat semuanya..’ tapi ia urungkan itu karena menurutnya itu terlalu… ehemm…

“makasih buat koreksi tugasnya waktu itu, aku dapet A lo.. hehehe..”

“ooh… biasa aja kali.. “

“beneran? Berarti lain kali aku bisa minta tolong lagi donk?”

“hoee.. enak aja. Lain kali bayar… udah yok, latihan lagi..” Nue pun bangkit dari kursinya dan memberi Gigi isyarat untuk berdiri juga.

“yah, cepet banget istirahatnya..” keluh Gigi. Gigi melangkah gontai menuju ke arah Nue.

“iyah.. biar cepet selesai, cepet pulang.. aku belum makan ini..” ujar Nue sambil membaca partiturnya.

Gigi meniup poninya. Ia pun membuka partiturnya dan Nue mulai memberikan ketukan.

“siap ya.. 1..2..3.. solfamisol…”

Gigi menoleh ke arah Nue yang tiba-tiba menghentikan ketukannya. Nue sendiri tampak terdiam dan memegangi pelipisnya.

“kenapa kak?” tanya Gigi heran juga khawatir.

“ehmm.. kamu latihan dulu, aku ke kamar mandi sebentar.”ujar Nue.

Belum sempat Gigi banyak bertanya, Nue sudah berlari menuju kamar mandi. Gigi hanya bengong menatapnya.

‘se-kebelet itukah?’ batin Gigi.

Gigi pun kembali duduk di kursi gazebo. Dibacanya partitur di tangannya. Mencoba sebisanya membunyikan bar selanjutnya.

Agak lama Gigi mencoba dan akhirnya ia menyerah. ‘fuahh.. tauk ah, susah amat!’ keluhnya.

‘gguuhh…’

Mata Gigi terbelalak. Diletakkannya dengan perlahan partitur itu di meja. suara tadi langsung membuat hatinya kecut. Ia baru sadar kalau saat ini dia sedang sendirian di kampus yang gelap dan lengang itu.

‘suara apaan tuh??’ gumam Gigi dengan sedikit gemetar, matanya bergerak ke kanan dan ke kiri dengan gelisah, mecoba mecari sesuatu yang sebenarnya tidak ingin ia lihat.

‘gguuaaahhh….’

Suara itu terdengar lagi. Kini kian keras menggema. Suara itu terdengar seperti eraman yang parau. Dengan lutut gemetar Gigi berdiri. Ia sudah semakin takut. Ia pun mencoba berlari menuju kamar mandi. Ia ingin menjemput Nue. Ia tidak ingin sendirian di tempat itu.

‘Huaa..!!! kak Nuee..!!’ teriak Gigi dalam hati.

Anehnya semakin ia mendekat ke arah kamar mandi suara itu semakin keras, membuat Gigi makin kencang berlari. Hingga akhirnya ia berhenti. Saat suara itu sudah benar-benar ada di depannya. Lutut Gigi sudah lemas. Kiini ia berada di koridor kamar mandi.

Ia melihat kaki seseorang di balik pintu kamar mandi itu. Suara itu kian keras menggelegar. Terdengar begitu pilu dan parau. Sedangkan kaki itu tampak meronta-ronta.

Mata Gigi bergerak-gerak. Di dekatinya ruang itu. Rasa takut itu entah kenapa sudah berganti, dengan rasa khawatir, karena Gigi tahu, sepatu yang dikenakan kaki itu adalah sepatu Nue.

“kak..” panggil Gigi lirih.

Dan begitu Gigi sudah sampai di depan pintu kamar mandi itu, mata Gigi terbelalak. Air wastafel mengucur dengan keras dan tersumbat sehingga airnya tumpah dengan deras di lantai. Dan di lantai itu, sosok yang ia kenal tengah menggelepar-gelepar di lantai.

“kak Nue..!!”

Nue tampak tidak merespon suara Gigi. tubuhnya meronta-ronta dan kejang tidak terkendali. Pupilnya menyempit dan mulutnya menganga.

Gigi benar-benar panik. Tubuh Nue kejang dengan hebatnya, tapi Gigi tidak tahu apa yang harus ia lakukan. Ia pernah melihat hal itu sebelumnya. Ini pasti gejala epilepsi!

Lutut Gigi sudah benar-benar lemas sekarang. Perlahan ia mematikan kran wastafel sehingga airnya berhenti mengguyur tubuh Nue. Lalu ia berjongkok di dekat Nue dan diam.

Mengapa Gigi diam saja? Ia hanya menyaksikan Nue mnggelepar dan meronta-ronta.

Tidak. Gigi hanya bisa duduk dan melihat, karena tidak ada yang bisa ia lakukan. Penderita epilepsi yang sedang mengalami bangkitan/kejang tidak boleh ditahan atau berusaha menghentikan kejangnya, karena hal itu tidak akan berpengaruh apa-apa. Yang ada justru akan melukai diri sendiri maupun penderita. Karena itu Gigi hanya termenung disana, memastikan Nue tidak terbentur benda-benda keras dan… menangis.

“gwaaahhh… haaaaa!!! “ Nue mengerang makin keras, begitu juga tubuhnya yang terus kejang seperti tersengat listrik.

Gigi hanya bisa menangis. Saat ia melihat Nue tampak begitu menderita. Rasanya pasti sakit. Rasa sakit yang juga Gigi rasakan saat ini, karena tidak bisa melakukan apapun selain ‘menonton’. Berteriak minta tolong pun tak ada gunanya mengingat hanya ada mereka berdua di kampus itu.

‘maafin aku kak Nue.. aku ga bisa lakuin apa-apa.. aku cuma bisa ikut menangis..’ batin Gigi.
***

Setelah 6 menit, akhirnya kejang pada tubuh Nue sudah mulai mereda. Hingga akhirnya tubuh Nue tidak bergerak sama sekali. Gigi pun segera menghapus air matanya dan menghampiri Nue.

“kak..”panggilnya pelan.

Sedikit demi sedikit kesadaran Nue mulai muncul. Dengan tatapan sayu, dilihatnya wajah Gigi, lalu ia melihat kesekililingnya dan dirinya sendiri. Tampak ia bingung dengan apa yang terjadi.

“Gi.. ada apa ini Gi..?” tanyanya masih dengan nada bingung saat mendapati tubuhnya basah kuyup. Gigi pun membantunya untuk bangun dan menyandarkannya pada bingkai pintu.

Setelah itu Gigi terdiam, ia masih ragu untuk mengatakan yang sebenarnya pada Nue.

“kakak.. aku anter pulang yuk..” ujarnya pelan.

Mendengar itu Nue termenung. Tidak ada komentar apapun yang ia ucapkan selain mulutnya yang sedikit menganga.

“aku tadi.. kejang kan?”

Gigi meundukkan wajahnya sebelum akhirnya ia mengangguk pelan.

Setelah itu keduanya pun terdiam. Gigi menunduk, begitu juga Nue. Hingga akhirnya Gigi mendekati tubuh Nue dan merangkulnya.

“gi..?”

“aku anter kakak pulang ya..”ujar Gigi, dengan susah payah ia mengangkat tubuh Nue yang masih lemah.

“tapi gi..”

“aku bisa kok, nanti kakak tunjukin aja jalannya..”

“nggak Gi, biar aku yang nyetir..”

“nggak!”

Kata Gigi yang lantang membuat Nue terdiam.

Gigi menoleh ke arah Nue dengan tatapan sendu. “maaf kak, plis jangan salah paham.. aku cuma khawatir kakak masih belum bisa nyetir untuk sekarang. Biar aku yang bonceng kakak.”

Nue pun mengangguk, setelah itu Gigi merangkul Nue berjalan menuju tempat Nue memarkir sepedanya.

Nue tampak menunduk lemas dalam boncengan Gigi. Gigi menoleh wajah Nue sesaat dari spion, lalu dengan satu tangan ia meraih tangan Nue dan menggenggamkannya pada pinggangnya.

“pegangan kak, biar ga jatuh.”

Nue memandang Gigi sesaat lalu diam, tidak mengatakan apapun selain menuruti kata-kata Gigi.

Tak lama kemudian , mereka telah sampai di kos-kosan Nue. Gigi merangkul Nue menuju kamar yang ia tunjuk. Setibanya di kamar, dengan hati-hati Gigi merebahkan tubuh Nue di kursi.

“boleh aku buka lemari pakaiannya?” tanya Gigi.

Nue mengangguk. Gigi pun membuka lemari pakaian Nue dan mengambil baju ganti untuk Nue.

“biar aku pake sendiri Gi..”kata Nue saat Gigi menyodorkannya pakaian ganti.

“oke.. aku beli makan dulu ya kak, kakak belum makan kan?” pamit Gigi.

“eh? Nggak perlu Gi..” cegah Nue, tapi percuma, Gigi sudah menutup pintu kamarnya dan terdengar suara sepeda motor dinyalakan.

Nue termenung. Dengan perlahan ia membuka pakaiannya dan menggantinya dengan pakaian ganti yang tadi Gigi ambilkan.
Setelah selesai, dia mencoba mengingat-ingat kembali apa yang terjadi sebelum ia kejang. Yang ia ingat hanya saat ia mendapat aura (semacam sensasi penglihatan, pendengaran atau penciuman yang dirasakan penderita epilepsi sebelum terjadinya bangkitan.) ia bergegas menuju kamar mandi. Ia tidak ingin seorangpun melihat saat ia kejang.

Setibanya disana, untuk beberapa saat aura itu hilang. Nue pun entah kenapa masih belum kehilangan kesadaran. Nue menghembuskan nafas lega. Ia kira bangkitan tidak terjadi. Sayangnya baru saja ia mencoba untuk membuka kran wastafel untuk mencuci muka, aura itu kembali muncul, lututnya mendadak lemas dan… semuanya menjadi gelap.

Kini Nue memejamkan matanya rapat-rapat. Tubuhnya masih terasa sangat lemas, hal yang biasa ia alami setelah kejang.

Dengan tubuhnya yang selemas ini, Nue bisa mengira-ngira, dia pasti kejang cukup lama. Berapa lama Gigi di sana dan menunggunya? Dan wajah Gigi tadi.. apakah dia menangis?

Beberapa lama kemudian pintu kamar Nue diketuk. “masuk..” sahut Nue.

Gigi membuka pintu dan memasuki kamar Nue. Di tangannya tampak sebuah kantong plastik yang ternyata berisi roti.

“ini kak, makan dulu.. maaf aku Cuma bisa beliin roti. Warung-warung pada tutup soalnya..”sesal Gigi.

Nue pun tersenyum sambil meraih roti itu, “gapapa.. makasih Gi..” ujar Nue yang dibalas dengan senyuman Gigi.

Gigi duduk di sana, menunggu Nue menghabiskan rotinya.

Tampaknya kekuatan otot Nue mulai pulih, Nue memakan roti itu dengan lahap.

“ohm.. Gi.. mau?” tawar Nue.

Gigi tersenyum dan menggelengkan kepalanya. “nggak kak.. kakak makan aja..”

Nue mengangguk-anggukkan kepalanya dan menggigit roti itu. “hm.. ya kapan-kapan aku traktir deh..” ucapnya dengan mulut penuh.

Gigi tertawa kecil. Keduanya kembali tidak terlibat percakapan, sementara Nue sibuk dengan rotinya, Gigi memandangi Nue dengan prihatin.

“kak..”

“hmm..?”

“boleh aku tanya sesuatu?”

Nue memperlambat kunyahannya dan melirik Gigi. “hmm.. silakan..”

Gigi menghirup napas dalam. “sejak kapan kakak sakit begini?”

Nue mencoba menelan sisa roti di mulutnya lalu menghirup napas dalam. Ia tahu Gigi akan menanyakan hal ini.

“sejak aku kecil Gi.. “ jawabnya. Iapun melahap secuil roti terakhirnya, dan dengan mulut setengah penuh ia melanjutkan kata-katanya. “sudah lama aku menjalani terapi, hingga saat ini. Sudah lama penyakit ini nggak kambuh. Tapi hari ini memang aku lupa minum obat karena terburu-buru dari pulang kerja tadi. Aku ga nyangka kalau penyakit ini bisa kambuh secepat itu.”

Gigi mengeryitkan alisnya. “kerja? Sejak kapan kakak kerja? Kakak kan penyandang beasiswa juga..”

Nue tersenyum dan melempar plastik roti itu kedalam keranjang sampah tak jauh darisana. Agak lama, akhirnya dia bicara.

“aku.. pingin ngasi Grace hadiah Gi.. ponselnya sudah usang, jadi aku pingin belikan dia black berry seperti yang dia pinginin.”

Gigi termenung. Hatinya pilu saat tahu alasan Nue bekerja. Nue rela mengorbankan waktu dan tenaga bahkan kesehatannya hanya demi membelikan Grace sebuah Black Berry? sebenarnya sejauh apa cinta Nue pada Grace?

“apa.. kak Grace tahu kalau kakak..”

Nue menggeleng. Matanya menerawang kosong. “karena itu Gi, please… jangan bilang siapa-siapa tentang penyakitku ini.. apalagi Grace..”

Gigi segera memandang Nue denga tatapan protes, “tapi kak,, kak Grace itu pacar kakak.. sudah seharusnya dia tahu tentang penyakit kakak.. kalau dia memang mencintai kakak, dia pasti mengerti dan pastinya akan merawat kakak saat penyakit kakak kambuh seperti ini..”

Nue tersenyum mendengar kata-kata Gigi. “berarti saat ini kamu sudah seperti pacarku ya?”

“apa? Ha? Nggak.. bukan gitu..!!” Gigi tampak kaget dan gelagapan menjawab pertanyaan Nue yang ‘jleb’ di hati itu.

Nue terkekeh pelan lalu ia menerawang kosong pada langit-langit. “aku tahu itu Gi.. aku tahu harusnya dia akan mengerti jika dia benar-benar mencintaiku. Tapi… aku masih takut Gi. Aku takut kalau dia akan ninggalin aku. aku ga mau jadi beban bagi dia..”

Gigi menelan ludah dengan getir. Di satu sisi ia sangat prihatin pada Nue, di satu sisi ia juga marah dan iri, kenapa Nue bisa begitu cinta pada Grace? Padahal Gigi bisa ngelihat dari mata Nue, kalau dia juga belum yakin Grace juga mencintainya dengan tulus.

“Jadi aku mohon Gi.. rahasiakan ini..” ujarnya.

Gigi tidak langsung menjawab. “selain aku, siapa lagi yang tahu?”

“cuma kamu dan bapak-ibu kos..”jawab nue lirih.

setelah mendengar hal itu, Gigi menundukkan wajahnya dan mengusap dahinya.

kali ini Nue memandangnya dengan tatapan memohon, “plis Gi..”

Gigi pun mendongakkan wajahnya dan di tatapnya Nue dengan senyuman tipis. “oke, kak..”

Nue tersenyum. Ia pun bangkit dari ranjangnya, mengacak-acak rambut Gigi sambil terkekeh dan mengambil obat anti-epilepsinya. “makasih ya Gi..”

Gigi hanya tersenyum sambil merapikan kembali rambutnya.
ia pandangi Nue yang tengah menenggak obatnya hingga ia merenung.

‘bisa-bisanya kakak seperti itu. Apa sih yang bikin kak Nue cinta mati sama kak Grace? Padahal aku tadi sudah khawatir setengah mati saat kakak kejang, tapi justru kakak mengkhawatirkan orang lain! Uuughh… kenapa dunia ga adil banget! Tapi.. yah.. aku janji ga akan memberitahukan hal ini pada kak Grace karena memang kakak meminta begitu. Sakit sih.. tapi, ini semua aku lakuin buat kakak. Asalkan kakak bahagia…..’
***

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s