Hymn of My Heart 1

Nue menghentikan sepeda motornya di halaman Gedung S, Universitas J. Dalam boncengannya tampak seorang gadis yang mengalungkan tangannya dengan mesra pada pinggang Nue.

“eh, udah nyampek? Hehe.. keenakan deh dibonceng Nunu..” ujar gadis itu dengan ekspresi kocak.

Nue hanya tersenyum simpul saat melihat gadis itu turun dari sepeda motornya. “kamu nggak ke fakultas aja?”

“ehm.. nggak dulu deh Nu, aku sibuk ini di pusat, tau sendiri kan aku juga ikut tampil buat choir LPSAF? Jadi harus latihan mulai sekarang.. Nunu nggak apa-apa kan?” ujar gadis itu sambil mengorek-ngorek isi tasnya.

Mendengar kata-kata gadis itu, lagi-lagi Nue hanya tersenyum. “iya.. nggak apa-apa kok. Kenapa? ada yang ketinggalan?” tanyanya saat heran melihat gadis di depannya tampak heboh mencari-cari sesuatu dari dalam tasnya.

“ehmm.. ini cari partitur… nah ini dia.. ya ampun aku lipet-lipet begini.. hehehe… iya udah deh nu, grace latian dulu yah..”

“honey, tunggu..” cegah Nue pada grace yang sudah berjalan beberapa langkah meninggalkannya.

Gadis bernama grace itupun menoleh padanya lalu berjalan kembali ke arahnya. “heum….. katanya ga mau dipanggil honey, tapi nunu sendiri manggil grace gitu..hehe..”

Nue cengengesan dan mendekatkan wajahnya ke wajah grace lalu mengecup lembut pipi grace yang langsung membuat pipi grace memerah.

“ih,, apaan sih nu, kan malu kalo diliat temen-temen…” protes grace yang celingukan ke kanan-kiri, masih dengan wajah memerah. Sementara itu Nue masih tersenyum puas.

“hehe.. dah honey..”ujar Nue lantang sambil melajukan sepeda motornya.

“ih.. nakal nunu ya..!”

Nue tersenyum kecil saat melihat bayangan grace di cermin spion lalu kembali melayangkan pandangannya kembali ke depan, menuju kampusnya.
***

Bar 1, Nue and Anggian

Sesampainya Nue di halaman kampus, tampak tempat parkir yang dipenuhi dengan belasan sepeda motor. Nue pun bergegas memarkir sepeda motornya dan berjalan menuju ruang aula. Mata Nue sempat terbelalak sesampainya di aula, melihat banyak yang hadir pada latihan perdana malam ini.

“hei! Telat! Denda Rp.5000,00 ya..?!”

Nue kaget saat seorang gadis menepuk pundaknya dengan buku absensi. “apaan si mbak? Baru juga telat semenit!” protes Nue pada gadis bernama nurul itu.

“eits, entah kamu telat semenit kek, setengah menit kek, satu detik kek, kalo namanya telat ya telat, dan sesuai komitmen kita di awal, telat sama dengan denda Rp 5000,00!!”

Nue hanya mendengus pendek dan mengeluarkan dompetnya. “hmm.. tahun ini banyak juga yang ikut.” Ujar Nue saat merogoh isi dompetnya.

“iya nih, hehe.. ga percuma kita promosi pas puasa-an, hehe..” jawab nurul yang memandangi para Maba (Mahasiswa Baru) yang sedang menyiapkan barisan.

Nue tersenyum kecil lalu menyodorkan selembar uang limaribuan pada nurul. Nurul pun menyambut uang itu dengan sigap.

“nanti kamu yang seleksi tenor ya..”ujar nurul yang sedang berusaha menarik uang di genggaman Nue.

“oke”jawab Nue santai, masih memegang erat uangnya.

“nu, lepasin.” Kali ini nurul memandang Nue dengan tatapan mengancam.

Nue pun melepaskan uang limaribuan itu sambil cengengesan nggak jelas. Ya namanya juga uang lima ribu, siapa yang rela juga ngelepas gitu aja? :P

Nurul mendengus sesaat pada Nue lalu memasukkan uang itu ke dalam buku absensi lalu berjalan menuju barisan Maba yang sudah tertata rapi. Sementara Nue berdiri bersandar pada bingkai pintu sambil menyilangkan lengannya di dadanya. Tampak beberapa maba cewek yang mencuri-curi pandang ke arahnya. –resiko cowok ganteng-

“selamat malam..” sapa Nurul.

“malam…”jawab para maba serentak.

“terima kasih atas kehadiran kalian malam ini. Aku sampai terharu…” ujar nurul sambil berpolah mengusap kelopak matanya.

“kak.. ga usah lebay kak..” ujar Radit yang langsung direspon dengan gelak tawa para senior dan beberapa maba.

Namun para senior langsung menahan tawanya ketika nurul melotot pada mereka. Nurul pun melanjutkan kata-kata sambutannya.

“oke, saya selaku ketua umum UKM Paduan Suara fakultas Sastra menucapkan terima kasih atas partisipasi kalian pada latihan LPSAF malam ini. Kalian pasti sudah tahu apa itu LPSAF kan? Karena pada ospek kemarin kami sudah menjelaskan panjang lebar mengenai hal itu, tapi disini saya akan jelasin lagi. Jadi, LPSAF, atau Lomba Paduan Suara Antar Fakultas adalah event tahunan yang diadakan oleh PSM (Paduan Suara Mahasiswa) UJ. Lomba ini dikhususkan bagi mahasiswa baru dari setiap fakultas. Karena LPSAF ini adalah acara yang dibuat UKM PSM, sudah pasti yang dilombakan adalah paduan suara. Dalam lomba ini, kita diharuskan menyanyikan 3 lagu. Dua diantaranya adalah lagu wajib, yaitu Hymne dan Mars UJ sedangkan satu lagi adalah lagu pilihan atau bebas. Lagu-lagu tersebut akan dibawakan dengan empat suara, yaitu sopran, alto, tenor dan bass. Huu… kalian pasti bingung nyanyi aja sampek ada 4 jenis suara gitu. Tenang saja, karena kami akan melatih kalian hingga 4 bulan kedepan, tepatnya sampai lomba itu dimulai, yaitu awal desember. Jadi, sebelumnya saya perkenalkan dulu ya kakak-kakak yang akan melatih kalian selama 4 bulan kedepan.” Nurul menghentikan kata-katanya lalu memberikan isyarat pada para senior termasuk Nue untuk berbaris di depan.

“nah, dimulai dari saya sendiri, saya Nurul Aini, ketua umum PSM Fakultas Sastra. Nah lalu yang di samping saya ada kak Lily, dia adalah wakil saya sekaligus menjadi kakak pengajar suara sopran. Lalu yang disebelah saya, kak Nue, adalah satu-satunya cowok di sini..”

“heh! Maksudmu??” potong salah satu cowok senior dengan suara ‘cetarrr’nya..

“upss.. ya, maksudnya kamu juga Mi, hehe… ya ini kak Nue, dia adalah anggota bidang 1 dan akan menjadi kakak pengajar tenor, trus yang sewot tadi kak Omi , juga akan ngajar tenor.”

Nue tersenyum sekilas saat namanya dipanggil, begitu juga para maba cewek juga ikut-ikut tersenyum tidak jelas.

“oh iya, sebenarnya ada kak Grace, dia ketua bidang 1 sekaligus pengajar suara sopran, tapi hari ini dia tidak bisa hadir karena harus berlatih di PSM Pusat. Oh ya dan satu lagi, buat yang cewek-cewek jangan deket-deket kak Nue ya, nanti Kak Grece bisa jadi monster, hehe..”

Langsung saja Nue menyenggol siku nurul dengan ekspresi sewot, namun nurul masih cengengesan saja. Seperti ingin mengacuhkan Nue, nurul segera mengganti topik dan melanjutkan sambutannya.

“well, kalian yang berdiri disini adalah maba pilihan yang telah kami seleksi pada masa ospek kemarin. Tapi kalian masih belum dipilah-pilah berdasarkan jenis suaranya, jadi malam ini kita akan memilah kalian berdasarkan 4 suara tadi. Yak, langsung saja ya, setelah ini, yang cewek ke bagian kanan tangan saya. Kalian akan diuji oleh saya, kak lily dan kak Ruri. Sementara yang cowok ke sebalah kiri saya, kalian akan diuji oleh kak Omi dan kak Nue. Oke, silakan!”

Langsung saja barisan itu terbagi dua dan Nue pun berjalan menuju barisan Maba cowok.

“oke, nanti kalian maju dua-dua.Kalian harus membunyikan nada do re mi fa sol la si do re mi fa sol la…” tampak Omi mempraktekkan membunyikan notasi dari do sampai pada notasi tertinggi yang bisa ia capai, yaitu la tinggi. Beberapa maba cowok tertawa kecil saat mendengar suara Omi yang memang sedikit.. ehm… ‘cetar’ lah istilahnya.

“ngapain ketawa?!”semprot omi sewot. Maba pun kembali diam meski masih menahan senyum.

“nah, sekarang kamu dan kamu, maju. Bunyikan nada do dari kunci C sampai nada yang sekuat kamu. Segini ya ‘do’-nya, ‘doo…’ ayo Nu, kamu urus yang satunya!” ujar Omi, Nue pun segera memberikan instruksi singkat pada maba yang ia uji, setelah itu aula pun mulai dipenuhi dengan suara-suara doremifasol.

Setelah beberapa menit, terpilihlah delapan suara tenor dan sepuluh suara bass. “oke, sip. Jadi sudah terpilih ya, mana yang bass, mana yang tenor. Langsung saja kita mulai latihan lagu Hymne UJ ya.. Bass akan diajari oleh saya, sedangkan kak Nue dan kak Radit akan mengajar tenor.” Terang Omi.

Ya, Omi memang bisa menyanyikan 2 suara, Tenor dan Bass.

“eh, aku di bass aja..” rengek radit pada omi.

“yakin? Emang situ bisa nada rendah?” tanya Omy dengan nada menyebalkan.

“ya bisa lah..! udah aku di bass aja..!” ujar rfadit yang segera nyelonong ke arah barisan bass.

Omy hanya menggeleng-gelengkan kepalanya, “dasar tuh, banci gatel..” umpatnya yang seketika membuat nue menahan tawa.

Anak-anak bass memang lebih tegap-tegap badannya jika dibandingkan dengan anak tenor, wajahnya pun oke-oke. Pantas saja radit lebih memilih ke bagian bass (dan pantas saja omy mengejeknya dengan sebutan itu.)

Kelompok bass pun berjalan menjauh, mencari spot yang lumayan jauh dan terpisah dari tenor suapaya tidak terpengaruh saat latihan. Nue pun mulai membagikan partitur lagu Hymne UJ pada adik-adik bimbingannya.

“oke, sudah dapat semua ya partiturnya. Jadi langsung kita mulai aja ya latihannya. Sebelumnya biar aku contohkan dulu bagaimana lagu hymne ini berdasarkan suara tenor, kalian diam dulu dan dengarkan, oke?”

“ya kak.”jawab para maba singkat.

“sip. Aku mulai ya.. ehm.. sebentar, Mi’, ‘sol’-nya semana?” teriak Nue pada omi yang kini berada di depan tempat parkir.

“soool…!!” suara omi menggema hingga sampai di telinga Nue.

“sol.. oke. Sol fa mi…”

“kak…!”

Nue menghentikan suaranya. Ia segera menoleh ke arah suara itu. Di depannya kini seorang cowok datang sambil terengah-engah. Nue hanya memperhatikannya sambil mengeryitkan dahi.

“kak, maaf terlambat..”ujar cowok itu dengan nafas masih terengah-engah.

“hmm.. oke, besok jangan diulang lagi. Sekarang mending kamu atur nafasmu dulu, setelah itu aku uji kamu, masuk suara bass atau tenor.”

“hosh..iya kak..”ujarnya, ia pun duduk di sebuah kursi tak jauh dari tempat tenor latihan.

“oke, aku lanjutin lagi ya.” Nue pun mulai menyanyikan Hymne itu. Suaranya mengalun dengan halus dan tertata. Bahkan di bagian nada tinggi pun suaranya masih tetap utuh dan tetap‘laki’ (ga kayak si Omi tadi.)

Saat mata Nue sedang fokus pada partitur, diam-diam, sepasang mata yang bulat memandanginya dari sela-sela punggung para maba tenor. Tampak rasa kekaguman dari sinar matanya itu.
Nue pun mengakhiri lagu hymne dan diambut dengan tepuk tangan para maba tenor.

“ya, itu tadi hymne UJ dari suara tenor. Dan untuk..”

“kak, saya belum diuji!” ujar seorang cowok yang tadi terlambat.

“ya.. aku juga mau bilang. Ya udah sini kamu.”

Cowok itu pun berjalan melewati teman-temannya menuju ke hadapan Nue.

“bunyikan nada do, re, mi, sampai nada tertinggi yang bisa kamu bunyikan. Rileks, oke?”

“oke.”jawabnya mantap.

“sip, segini ‘do’-nya, doo… ayo bunyikan.”

“do.. “

Nue seketika mengeryitkan alisnya ketika mendengar suara cowok itu. “kurang tinggi. Do…”

“do..” cowok itu membunyikan nada do sekali lagi, kali ini Nue mengangguk, tanda sudah benar.

Cowok itu pun melanjutkan lagi ke nada berikutnya dengan suara pelan dan ragu. “re.. mi.. fa.. sol.. la..si..do..”

“kok berhenti, ayo teruskan, kalo bisa sampe ‘fa’ tinggi.”ujar Nue.

Cowok itu mengangguk kecil lalu mengambil nafas dalam-dalam.

“do..re..mi..fa…sol.las..si..do..re..”

Suara cowok itu lagi-lagi tertahan. Ia menengok ke arah Nue lagi, lalu mencoba membunyikannya lagi.
“do..re.. mi.. fa..sol..la..si..do..re……………………………..mii..”

Seketika semua tertawa setelah mendengar nada ‘mi’ cowok itu yang tercekik dan terdengar seperti tersedak. Cowok itu segera menundukkan wajah dan menggaruk-garuk kepalanya. Sementara Nue hanya tersenyum kecil.

“ayo lagi, jangan ragu-ragu. Langsung saja tembak nadanya. Mi…”ujar Nue sambil mempraktekkan bunyi ‘mi’ yang benar.

Cowok itupun mencoba lagi, namun lagi-lagi ia ‘miss’ pada nada ‘mi’, meskipun ia telah mencoba berkali-kali.

Nue pun mengujinya dengan membunyikan nada do ke bawah, jadi do, si,la,sol,fa,mi,re,do. Namun cowok itu ternyata hanya sampai pada nada sol, itupun suaranya sudah seperti dengkuran. Lagi-lagi teman-temannya tertawa.

Akhirnya Nue pun menghembuskan nafas cukup panjang. “oke, kalo gitu, kamu mending masuk suara bass saja. Karena sepertinya kamu ga akan mampu nembak nada suara tenor yang tinggi.Di lagu mars, nada tertinggi tenor adalah ‘mi’ tinggi (‘mi’ titik atas) dari kunci C. Jadi..”

“jadi, saya harus bisa nada ‘mi’ tinggi suapaya bisa masuk tenor ya kak?”potong cowok itu.

“hm.. yeah.. idealnya seorang tenor minimal harus sampai nada ‘fa’ tinggi, tapi kalau kamu bisa sampai ‘mi’ tinggi ya boleh lah.. soalnya suara kamu di bass juga lemah.”terang Nue.

“kalo gitu, biar aku coba sekali lagi kak!” tantang cowok itu.

Nue hanya memandangnya dengan tatapan heran, begitu juga temannya yang lain. Kenapa dia begitu kukuhnya ingin masuk tenor, padahal dia tahu sendiri batasannya sampai mana.

“oke.”jawab Nue.

Cowok itupun tersenyum sesaat lalu menarik nafas dalam-dalam.

“do,re,mi,fa,sol,las,si,do,re….” dia menghentikan sejenak untuk bernafas, sementara Nue memandangnya dengan antusias.

“mii…..!!”

Nue tersenyum, akhirnya cowok itu bisa membunyikan nada ‘mi’ dengan benar meskipun sedikit memaksa.

“oke, kamu bisa masuk tenor.”kata Nue.

“uhuu,, yeah!”teriak cowok itu yang kemudian langsung bergabung dengan teman-temannya yang langsung mengacak-acak rambutnya.

“oh ya, aku belum tahu nama…”

“anggian kak!”

Lagi-lagi cowok itu memotong kata-kata Nue.

“namaku Anggian Dwitama! Cukup dipanggil Gigi saja, hiiiiii…”ucapnya sambil memamerkan gigi-giginya yang kecil-kecil dan putih.

“apaan sih kamu, nggi..! sok imut banget!” celetuk salah satu temannya yang bernama Tony.

“sok imut apaan coba? Aku memang imut, hahaha.. aduh!” segera saja kepala cowok bernama anggian itu dijotos teman-temannya yang gemas.

Sementara itu Nue hanya tersenyum sambil menggaruk-garuk kepalanya lalu mendekati keramaian itu.

“sudah?”tanya Nue kepada mereka yang langsung diam dan kembali pada posisi semula.

Nue pun memandang wajah anggian yang semula menunduk.

“Namaku Nue, Nue Lazuardy.”

***

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s