Hymn of My Heart 16

sebelumnya maaf aku ga bisa upload cerita ini dari awal, melainkan dari part (atau disini aku menyebut nya ‘bar’) 16. ini sebenarnya mendadak, karena sebenarnya sebagian cerita ini (bar 1-15) sudah aku upload ke boyzforum. karena ada masalah, aku ga bisa upload ke boyzforum untuk smentara waktu, jadi untuk bar 16 aku upload di sini. smoga berkenan.:)

Bar 16. Get away and get closer

‘brugg..’

Gigi menjatuhkan kepalanya di meja gazebo. Ully meliriknya dengan heran sambil mengunyah baksonya.

“Kenapa Gi? Dari tadi lemes mulu bawaannya.”

Mata Gigi menyembul dari dekapan kedua lengannya di atas meja. matanya tampak lelah dan redup.

“Ngantuuk….” ujarnya sambil menenggelamkan lagi kepalanya di balik kedua lengannya.

Gigi memang kurang tidur semalam. Dia tidak bisa tidur saat di kamar Nue itu. selain karena dia harus menjaga Nue, juga karena banyak yang ia pikirkan. Akhirnya ia baru bisa tidur pukul 2 dini hari dan pukul 5 ia harus bangun untuk pulang ke kos-kosannya karena dia ada kuliah pagi. Sebelum pulang, dia memeriksa suhu tubuh Nue. Ia merasa sedikit tenang karena suhu badannya sudah mulai turun. Akhirnya Gigi pulang diam-diam tanpa diketahui oleh Nue.

Kini tubuhnya yang berganti lemah tak berdaya. Matanya terasa sangat berat, seakan digelantungi dua ekor gajah. Bertahan untuk tetap sadar saat kuliah berlangsung saja sudah merupakan perjuanga berat. Kini ada waktu baginya untuk memejamkan mata sejenak, setidaknya sepuluh menit sebelum kuliah berikutnya dimulai.

“Ull.. kalo udah mau masuk kuliah, bangunin ya.. jangan ditinggal!” ujarnya dengan mata terpejam.

“hmm..” sahut Ully datar. Dia benar-benar sibuk dengan baksonya.

Gazebo tempat Gigi beristirahat itu dikelilingi oleh pepohonan yang rindang. Semilir angin yang ditiupkan pepohonan itu, dan suara kicauan burung yang merdu, perlahan mulai menuntun Gigi ke dalam titik relaksasinya.

‘ooh.. damainya..’ gumamnya dalam hati.

Berangsur-angsur, kesadarannya mulai memudar dan..

‘Brakk..!!’

Seketika Gigi terperajat. “hah? Apa?? Gempa..!!!” cetusnya dengan gelagapan. Rasanya baru setengah saja nyawanya yang kembali dan ia harus dikejutkan seperti ini, membuat jantungnya mau melompat keluar.

“Hoi… Sadar woi..”

Seseorang dengan suara yang renyah, menepuk pundak Gigi.

Seketika kesadarannya sepenuhnya kembali. Dilihatnya wajah orang yang sudah dapat Gigi tebak itu. Adrian. Tampak wajah Adrian yang terkekeh melihat ke arah Gigi. lalu Gigi juga melihat ke sekitar, dia bisa melihat orang-orang yang sedang duduk-duduk di gazebo lain terkekeh-kekeh dan sebagian menahan tawa sambil melirik Gigi. termasuk Ully yang menahan geli sambil mengunyah baksonya. Berlagak innocent. Spontan wajah Gigi memerah dan dengan sorot mata pembunuh ia menatap Adrian.

“Huaarghh.. Sialann..!!  Bikin orang malu aja!” geramnya sambil tangannya menjitak kepala Adrian. “Kamu juga Ul..! Harusnya kamu bilangin dong, kalau aku lagi tidur dan ga mau diganggu! Enak makan mulu daritadi!” semprotnya pada Ully.

Ully yang baru saja membuang bungkus baksonya hanya menaikkan sebelah alis matanya sambil menatap Gigi.  “Heh? Kamu kan ga nyuruh! Lagian, aku kan lagi makan. Orang makan  ga boleh ngomong..”

Dengan santainya Ully bicara seperti itu, padahal ia tengah mengunyah bakso terakhir di mulutnya.

Mata Gigi berkedut-kedut melihat sikap menyebalkan sohibnya itu. sementara di belakang Gigi, Adrian tampak terkekeh sambil mengusap-usap kepalanya yang masih sakit karena dijitak Gigi.

“Hehe.. Bener tuh kata mbak itu.. Kalau makan ga boleh ngomong, entar nasinya di makan setan..”

“ishh.. diem..!” semprot Gigi.

“eh, ini bakso, oke..! bukan nasi’!” sahut Ully.

“itu metafora oke?!” balas Adrian tak mau kalah.

Kedua orang itu saling berteriak di telinga Gigi, membuatnya benar-benar naik darah.

“aduh..! bisa diem ga sih?! Eh, ulet, kenapa lagi si?” tanya Gigi dengan emosi pada Adrian.

Melihat Gigi yang dibakar emosi, Adrian tampak tenang-tenang saja bahkan bisa nyengir kuda lumping. “hehe.. cuma mau mastiin aja Gi.. kamu beneran mau jadi vokalis di bandku kan?”

Mata Ully seketika terbelalak mendengar kata-kata Adrian itu.

“ck.. iya..!” jawab Gigi tegas.

Wajah Adrian tampak bersinar-sinar sedangkan  mata Ully terbelalak lebih lebar mendengar jawaban Gigi.

“hah..?? kamu ngeband Gi..?jadi vokalis??” tanya Ully dengan ekspresi wajah benar-benar tidak percaya.

Gigi hanya memutar matanya ke atas sambil meniup poninya.

Melihat pertanyaannya tidak dijawab, Ully mengguncang-guncang pundak Gigi sambil menanyakan hal yang sama. “heh? Beneran kamu ngeband Gi?? Jawab donkk..!!”

“issh.. iya..!” gertak Gigi.

Belum hilang guncangan di bahu Gigi, kini Adrian yang mengguncang-guncang bahu kirinya.

“kamu yakin kan gi.. kamu serius kan? Janji ya..!!”

Belum sempat Gigi menjawabnya, bahu kanan diguncang lagi dengan keras oleh Ully.

“haaah..!! masa’ sih GI? Emang kamu bisa nyanyi??”

Baru saja Gigi menoleh ke arah Ully, bahu kirinya diguncang lebih keras oleh Adrian.

“ya udah, nanti kamu datang latian ya! jam 3, aku jemput..!”

‘hah? Jam tiga?’ batin Gigi. Saat ia ingin protes, lagi-lagi Ully mengguncang bahu kanannya.

“ya ampun Gi..!! mending jangan.. bukannya ga percaya sama kemampuanmu.. tapi entar kalo penontonnya pada budheg abis kamu nyanyi gimana??”

‘hah? Maksudmuu..!!!??’ baru saja Gigi membuka mulut, bahu kirinya diguncang lagi.

“Ah, nggak Gi.. aku yakin, kamu pasti bisa! Makanya ntar latian ya, jam 3!”

‘……..!’

“udah jangan Gi,, kamu ga kasian banget ma aku.. ntar aku budheg seumur hidup, gimana?! Mana mau cowok nikah ma aku nantinya..??!”

‘……..!!!’

“Ah, bawel kamu mbak..! ga usa nonton aja, kan beres..!”

‘………!!!!!!!’

“eh, kenapa kamu yang nyolot? Kamu punya masalah??!”

‘….!!!!!!!!!!!!!’

“ya lah..! pokoknya Gigi harus tampil na….”

“Brakk..!!” suara gebrakan meja.

“berisik..!!!”

Gigi berdiri dengan kedua tangan mengepal di atas meja. sosok Ully dan Adrian seolah langsung menciut. Dengan senyum takut-takut keduanya bergeser menjauh. Ully kembali di kursinya sambil belagak sibuk dengan ponselnya. Sementara Adrian belagak melihat-lihat ke atas pohon sambil bersiul kecil. Nyari sarang burung kali.

Gigi melirik ke dua makhluk menyebalkan itu bergantian. Dengan satu hembusan napas dalam, ia kembali duduk di kursinya. Melihat itu, Adrian kembali mendekat.

“GI..”

“Apaa..!!”

Adrian tampak terkejut ketika suaranya yang pelan itu disambut dengan sebuah auman.

“hehe.. jangan lupa, jam 3. Aku pergi dulu ya, see ya..!”

Adrian langsung ngacir ke arah parkiran. Sementara Gigi melihat Adrian dengan tatapan protes. Ia akui, ia menyetujui ajakan Adrian untuk bergabung dalam bandnya, tapi tidak ia kira akan secepat ini waktu baginya untuk latihan.

Gigi pun memilih untuk mengabaikan hal itu untuk sementara. Saat emosinya mulai mereda, rasa kantuk yang pekat kembali membebani matanya. Ia pun kembali menurunkan kepalanya di atas meja dengan berpangkukan kedua lengannya yang disilangkan. Sekilas ia melirik ke arah Ully. Ully yang sempat meliriknya, buru-buru mengalihkan pandangannya dan kembali pada ponselnya. Ia tahu betul arti lirikan Gigi. Artinya, “Awas…”

setelah semua hama dijinakkan, akhirnya Gigi bisa memejamkan matanya. Entah kenapa sejak Adrian datang, semilir angin yang berhenbus dan kicauan burung yang tadi menghipnotisnya kini kabur entah kemana.

Setelah berjuang menenggelamkan dirinya dalam alam bawah sadarnya, akhirnya Gigi mulai bisa merasakan ketenangan dan mulai terlelap.

‘Akhirnyaa…’ batinnya.

“kriiiinggggg…!!!” tanda bel masuk kuliah berbunyi.

(—- _______ —-)”

“Gi… “ panggil Ully takut-takut.

“Ya. Aku denger kok…” jawab Gigi di balik dekapan lengannya.

Sedangkan dalam hati, Gigi serasa ingin menangis dan menjerit.

‘Oh God, Why…………….????????????’

(TToTT)

***

“Ini saya beri resepnya, terpaksa ini dosis obatnya saya naikkan lagi.”

Seorang dokter paruh baya tengah menulis di secarik kertas. Sementara itu di depannya, seorang ibu-ibu menoleh ke arah Nue. Tampak gurat-gurat kecemasan di kelopak matanya yang membuat Nue tidak kuasa melihatnya. Nue hanya menunduk sambil menunggu sang dokter selesai menulis resep obat untuknya.

Ibu itu pun kembali memalingkan pandangannya ke arah dokter, dan dengan sedikit ragu ia bertanya,”Kira-kira kenapa ya dok? Padahal dia rajin minum obat kok..”

Sang dokter itu baru saja menorehkan tanda titik di resep itu lalu menyodorkannya pada ibu itu. “Minum obat bukan jaminan lo Bu.. Kondisi anak ibu juga menentukan, baik fisik maupun psikis..” terang dokter itu. lalu ia melirik Nue. “Jangan terlalu sering stress ya, mas..”

Nue tertegun mendengar kata-kata dokter itu. ibunya tampak memijat pundaknya dan dia hanya menundukkan wajahnya.

Selama perjalanan pulang, ibu Nue tampak terus menasihati Nue. Dia sama sekali tidak menyangka penyakit Nue bisa kambuh lagi bahkan dengan jumlah yang cukup intens dalam beberapa bulan terakhir.

“kamu jangan terlalu mikir berat Nu.. kalau ada masalah, kamu tinggal bilang ke Ibu, atau sama temen kamu.. jangan dipendam sendiri..” ujar ibu Nue.

Semenntara itu, Nue hanya memandang keluar jendela taksi yang mereka tumpangi. “aku ga ada masalah Bu..”

“ah, bohong kamu. Kalau ga ada masalah, kenapa kejang kamu sering kambuh? Inget kata dokternya, kamu ga boleh stress. Liat itu muka sama badan kamu! Luka semua! Makanya rajin minum obat, jangan sampe lupa! Terus juga jangan banyak mikir berat-berat…..”

“Penyebabya kan bukan stress aja bu, ya kali aja emag waktunya makin parah nih penyakit.”Potong Nue yang makin gerah dengan ocehan ibunya.

“Hush! Kamu kok bilang gitu sih?! Udah, ibu ga suka.. “

Ibu Nue terus mengoceh di dalam taksi itu. Nue bisa melihat mata si supir melirik-lirik di kaca spion. Nue hanya menghembuskan napas dalam lalu kembali fokus pada pemandangan di luar jendela. Ia tahu jika tidak baik mengabaikan kata-kata orag tua, tapi kini mendengarkan ocehan ibunya justru akan membuatnya makin stress.

Saat matanya tengah melihat kendaraan yang berlalu lalang melewati taksi itu, tak sengaja ia menangkap sosok yang tak ia sangka. Wajahnya mirip sekali dengan orang yang merawatnya semalam, dan saat ini dia tengah dibonceng bersama seorang cowok dengan motor Byson.

‘rwenngg…!!’

Motor itu melintas ke arah yang berlawanan dengan taksi. Mata Nue tak bisa lagi menjangkau motor itu begitu juga sosok cowok yang menumpanginya.

Ibu Nue keheranan melihat tingkah aneh Nue, ia pun menepuk pundak Nue sambil celingukan melihat arah yang Nue lihat. “Nu.. kamu liatin apa sih?”

Nue tak bergeming. Matanya masih tertegun melihat motor yang bergerak mejauh dan menghilang di tikungan.

“Gigi..”

***

‘jreeeng….’

Suara distorsi terdengar melengkig dari gitar yang Adrian coba. Gigi duduk di tengah ruangan dengan gugup. Dilihatnya personil yang lain, semuanya tidak ada yang ia kenal. Ia hanya tahu namanya setelah Adrian memperkenalkan mereka satu persatu, tapi hubungan mereka masih belum dekat juga. Otomatis hal itu membuat Gigi benar-benar grogi. Belum lagi jika ia mengingat kualitas bernyanyinya. ‘Uaaaarrgh…. Harusnya aku nggak di siniii…!!’

“Gi. Dah siap?” tanya Adrian.

‘gleg..’ Gigi menelan ludah. Tampak yang lain juga memandangnya. Pikiran Gigi jadi blank seketika. Ini pengalaman pertamanya ngeband, jadi dia benar-benar merasa canggung. Padahal di ruangan kedap itu cuma ada 5 orang termasuk dirinya, tapi groginya sudah seperti itu. bagaimana nanti kalau sudah di panggung??

“Gi?” tanya Adrian lagi.

Kali ini Gigi menoleh ke arah Adrian dan nyengir kuda.

“Eh, ngapain cengar-cengir? Ayok, mulai latian..!”

“Hmm…. aku.. malu Dri..”

“ha? Ngapain malu? Jadi vokalis ga boleh malu!” tegas Adrian.

Gigi menggaruk-garuk kepalanya, “iya sih..”

“ya dah, ayok mulai..”

Gigi pun bangkit dari kursinya dan latian perdana Gigi-pun dimulai. Selama hampir satu jam berlatih, banyak kesalahan-kesalahan yang terjadi. Baik oleh Gigi, maupun personil lain. awalnya saja sudah salah…….

#1

“I know you…”

“eh Gi, kecepetan…. nunggu pas aku mainin sampe sini nih..”  Adrian membunyikan bagian dimana Gigi harus mulai bernyanyi. Gigi tampak mengangguk-angguk kikuk.

“oke deh, hehe..sorry..”

#2

“I know…”

“aduh, beluum… tunggu aku mainin ini nih..”

#3 …

“be talks of the town….”Gigi terdiam dengan wajah bodoh.

“….?” Adrian masih memainkan musik sambil memandang Gigi dengan heran.

]“……… hehe.. stop, stop.. aku lupaa…!”

“… -_-“

#4…

“……”Gigi termenung menunggu Adrian yang asik berimprov dengan gitarnya di tengah lagu menuju reff terakhir.

1 menit… 2 menit… 3 menit…

“Eh! Aku kapan nyanyinya??!!”

#7

[color=blue]“.. sit by myself… eh, kok drumnya duluan sih?!”[/color]

[color=green]“adooh… Gustii.. konsen Gus, Konsenn…!” semprot Adrian pada drummer yang salah masuk.[/color]

#8

“cause.. every night i’m tal…. uhuukk..uhukk…”

“hiaah.. kamu ga apa-apa Gi??”

“minum dulu sana! Minum..”

Setelah satu jam dilalui dengan penuh kesalahan dan pengulangan, akhirnya Gigi duduk untuk beristirahat, begitu juga personil lain. Gigi terbatuk-batuk kecil lalu bergegas membuka botol minumnya.

“Gimana Gi?”

Adrian menepuk pundaknya dari belakang dan menggeser kursi di sebelah Gigi lalu mendudukinya.

Gigi melirik sesaat ke arah Adrian saat menenggak airnya. Setelah ia memuaskan dahaganya, ia mengelap bibirnya dengan punggung tangannya. “huuft… not good, Dri..” keluhnya sambil menunduk memandangi botol minumannya.

“Yah.. kok nyerah gitu sih suaranya.. kan ini baru awal, nanti juga kamu terbiasa. Semangat..!” yakin Adrian sambil mengacungkan tinjunya.

Gigi tersenyum sesaat lalu kembali merenung. Ia diam-diam membenarkan kata-kata Adrian tadi. Ini baru pertama kali baginya. Ia hanya perlu waktu untuk terbiasa dan menguasai lagu beserta musiknya.

‘Yup, kamu mesti semangat Gi..! inget tujuan utama kamu ikut band ini! semangat..!!’

“Oke deh, ayok latian lagi!” ujar Gigi denga berapi-api.

Mata Gigi menatap heran pada personil lain yang memandangnya dengan melongo. Adrianpun tampak tersenyum.

“Eh, kenapa? kok malah diem si?” tanya Gigi heran.

Adrian terkekeh pelan dan meletakkan gitar yang tadi ia pakai di sisi ruangan lalu menepuk pundak Gigi.

“Waktunya dah habis Gi..” ujarnya sambil menunjuk papa notifikasi di atas pintu ruangan studio.

Mata Gigi membulat ketika mendengar kata Adrian itu. akhirnya ia tersenyum dengan raut wajah bodoh. “oo.. Ohh…”

***

Hari telah berganti malam. Gigi melangkah gontai menuju aula kampusnya. Padahal ia hanya berlatih nge-band selama satu jam, tapi ia tidak menyangka jika capeknya akan begitu terasa dan memberatkan tubuhnya untuk pergi latihan. Belum lagi suaranya yang juga hampir habis setelah di’kerja paksa’ saat di studio. Sekarang Gigi tengah megusap-usap teggorokannya sambil berharap pita suaranya masih punya tenaga untuk bekerja di latihan padus malam ini.

Sementara itu, Nue baru saja memarkir sepeda motornya di tempat parkir. Saat ia berjalan menuju aula, ia melihat Gigi yang tengah duduk di meja gazebo. Nue pun tergerak untuk menghampirinya. Namun, baru saja kaki kanannya melangkah dan tangannya terangkat, siap untuk menyapa Gigi, ternyata dari arah belakangnya, ada suara yang mendahuluinya.

“Gi..!”

Nue bisa merasakan hembusan angin yang dihasilkan cowok itu saat berlari melewati Nue dan menghampiri Gigi. Nue pun perlahan menurunkan tangannya. Dilihatnya cowok itu mengacak-acak rambut Gigi lalu duduk di sampingnya.

Untuk sejenak Nue hanya tertegun dengan mata getir. Hingga akhirnya ia pejamkan matanya lalu ia putuskan untuk berjalan menuju aula.

Sementara itu, Gigi tampak gusar sambil merapikan lagi tatanan rambutnya yang habis ‘diperkosa’ oleh Adrian. Sekilas ia menangkap sosok Nue yang berjalan menuju aula.

‘kak Nue.. ‘ panggilnya lirih dalam hati. (udah lirih, di dalam hati pula.-_-“)

“eh, Gi..! bengong aja!” Adrian menjentikkan jarinya di wajah Gigi. suaranya cukup keras hingga mengagetkan Gigi.

“issh..! emang napa? toh ga ada dampaknya juga buat kamu!” ujar Gigi sambil menyilangkan lengannya di atas meja.

“hehe.. ada dampaknya lah! Kalo kamu ngelamunin aku kan harus bayar pajak!”

Gigi memandang adrian dengan tampang eneg.”ishh.. ngapain juga ngelamunin kamu? Yang ada juga bikin aku eneg!”

Adrian hanya cengengesan mendengar gerutuan Gigi itu, meskipun sebenarnya, senyum itu tampak memudar dan bercampur dengan kegetiran.

Belum lama keduanya ramai berdebat, terdengar suara melengking dari arah pintu aula.

“Oooi…!!! LATIAAAAANNN…!!”

“wih.. udah dipanggil sama mbak supersoprano tuh, ayo buruan kesana!” ajak Adrian sambil bangkit dari kursinya.

Gigi yang belum selesai mengagumi suara cetar Nurul, akhirnya segera mengambil tasnya dan bergegas menuju aula.

Setelah pemanasan, seperti biasa, peserta dibagi untuk latihan persuara. Nue pun membimbing anak tenornya menuju tempat yang biasa mereka pakai untuk berlatih. Setelah itu, seperti biasa juga, peserta membuat formasi setengah lingakaran dan Nue berdiri di depan ‘cekungan’ lingkaran itu. saat Nue memeriksa apakah anak tenornya sudah lengkap, mata Nue terhenti pada sosok cowok yang berdiri tanpa dosa di samping Gigi.

“kamu ngapain disini?” tanya Nue pada cowok itu.

Cowok yang semula menunduk itu seketika mendongakkan wajah dan memandang Nue. “hehe.. pengen dapet suasana baru mas..” ujarnya sambil cengengesan.

Teman-teman yang lain tampak menahan senyum, sedangkan Gigi hanya menggeleng-gelengkan kepala.

“udah, kamu balik ke barisan bass aja!” perintah Nue.

Namun, seperti yang Gigi duga, Adrian tetap tak bergeming. Ia tetap pada posisinya dan tersenyum nakal.

“sekali-sekali lah mas.. aku dah bisa bagian bass kok.. aku pengen tahu bagian tenor sekarang.”

Sebelah alis Nue mengangkat ketika mendengar jawaban Adrian itu. ‘anak ini..’

“udah kak.. biarin aja, paling juga ntar kehabisan napas dia disini..”

Mata Nue kini berpaling pada Gigi. ia setengah tidak percaya jika Gigi akan mengatakan hal itu. Dia membiarkan Adrian mendekatinya?

“Tap..” saat Nue ingin menolak, suara anggota tenor yang lain segera saja menyekat tenggorokannya.

“iya dah mas.. kasih aja..” ujar Budi.

Anggota yang lain, Kaka juga mengiyakan usul itu. “iya mas, biar rame sekalian!”

“uughh.. terimakasih teman-teman.. dukungan kalian ini membuatku terharu..”ujar Adrian yang belagak menangis.

“aaghhh… kebanyakan bacot kamu!” ujar budi sambil menjitak kepalanya.

Suasanapun menjadi riuh. Di tengah keramaian karena Adrian itu, diam-diam Nue melihat sikap Gigi. Gigi hanya diam, tapi segurat senyum itu terpampang jelas di wajahnya. Dan senyum itu tidak berakhir disitu saja.

“Ayo, kita coba ya.. 1.. 2.. 3.. “

“sol sol dooo..hukk….”

Gelak tawa terdengar lagi ketika mendengar suara tercekik Adrian. Nue hanya menghela napas dalam. Dan saat matanya melihat wajah Gigi, lagi-lagi ia melihat senyum di wajahnya. Kali ini lebih lebar dari sebelumnya.

Nue tidak tahu, apa yang terjadi diantara Gigi dan Adrian. Sebelumnya Gigi sudah pernah bercerita bahwa Adrian memang suka mendekatinya. Meskipun Gigi menampik ketika ia ditanya apakah dia juga punya perasaan dengan Adrian, tapi dari kenyataan yang Nue lihat ini… saat di jalan raya tadi.. saat di meja gazebo.. saat latihan ini.. bahkan saat istirahat dan Nue hanya bisa melihat dengan iri ketika Gigi asik berlatih gitar pada Adrian. Dilihatnya wajah Gigi yang begitu cerah dan sesekali tertawa atau malah gusar dan menjitak kepala Adrian. Pemandangan itu, benar-benar terasa begitu ‘nostalgic’ di mata Nue. Sayangnya posisinya sudah berganti dengan orang lain. Nue seakan sudah makin jauh dengan adiknya itu.

“kak..”

Suara Gigi memanggil Nue saat waktu latihan berakhir dan Nue  baru saja keluar dari ruang aula.

“ada apa Gi? Oh, pulang bareng ya?” tanya Nue sedikit bersemangat.

Wajah Gigi sedikit tertunduk sambil matanya bergerak celingukan. “ehmm… nggak kak.. aku pulang sama Adrian.”

Wajah Nue seketika berubah datar. Dilihatnya Adrian yang tengah menunggu di depan gerbang dan mengegas motornya. “ooh..” jawab Nue pelan.

“ehmm.. kak.” Panggil Gigi lagi.

“hmm..? ya, ada apa gi?”

“hm.. minggu depan, hari senin malam.. para maba kan mau ngadain Pensi..” kata-kata Gigi terhenti dan tampak bingung untuk melanjutkan kata-katanya.

“terus?” tanya Nue sedikit penasaran.

“ehm.. nanti kakak tonton ya..”

Nue terdiam sesaat mendengar permintaan Gigi itu. Gigi masih tampak tersenyum kecil dengan sedikit sentuhan warna malu di wajahnya.

Akhirnya Nue tersenyum tipis padanya sambil mengangguk. Ia sedikit tahu apa maksud Gigi tersebut. Gigi pasti ikut berpartisipasi dalam Pensi itu.

“ya.. nanti kakak pasti datang.” Jawabnya.

Wajah Gigi seketika bersinar cerah, bagai kunang-kunang yang berkelip cerah dalam gelapnya kampus.

“oke, terima kasih kak..!” ujarnya.

‘Diiinn…!’

Gigi menoleh ke arah suara klakson yang tak lain berasal dari byson Adrian.

“iish… bawel tu anak. Ya dah, aku pulang duluan ya kak.,. bye..!”

“Gi..!”

Langkah Gigi terhenti. Ia pun berbalik dan menatap wajah Nue dengan penasaran.

Nue tampak ragu-ragu akan apa yang akan ia lakukan selanjutnya. Tapi akhirnya, toh ia menjulurkan tangannya meski dengan ragu-ragu. Ia mengacak-acak pelan rambut Gigi sambil tersenyum lirih.

“makasih.. udah ngerawat aku malam itu..”

Kontan wajah Gigi bersemu merah. Begitu juga dikejauhan, pupil Adrian melebar melihat kejadian itu. tangannya bergetar hebat di stang bysonnya.

“I.. iya..” jawab Gigi pelan.

Nue pun melepaskan tangannya dari kepala Gigi dan membiarkan cowok mungil itu berjalan pelan meninggalkannya.

“see ya..” pamitnya pelan.

Nue tersenyum lirih dan menjawab salam adiknya itu. “see ya..”

Akhirnya Gigi sudah sampai di byson Adrian. Terdengar dari kejauhan bagaimana Gigi menggerutu karena tingkah laku Adrian.

“udah belom? Lama amat!” seru Adrian.

“iishh.. bentar napa? tau sendiri motormu tinggi banget!” balas Gigi.

Agak lama akhirnya Gigi berhasil menumpangi motor Adrian.

“udah? Peluk yang erat yaa…” goda Adrian.

“ish.. males!”semprot Gigi. ia memilih untuk berpegangan pada pegangan yang ada di ekor motor.

“oke.. aku ngebut ya..!”

Belum sempat Gigi merespon, Adrian sudah mengegas keras sepedanya.

“Eh, Gila!! Kalo aku jatoh gimana, bego??!!”

“haha.. kan aku dah ngingetin..!!”

Suara berisik kedua orang itu masih terdengar menggaung di jalanan gelap kampus. Di tengah suara yang bergerak sayup-sayup itu. Nue berdiri sendiri di tempat parkir kampus. Sebuah lampu di tempat parkir itu menyorot tubuhnya yang jangkung, membentuk sebuah bayangan bagai pangeran yang kesepian.

Matanya menerawang jauh pada kelip motor yang ditumpangi Gigi itu dengan getir, hingga akhirnya sosok cowok manis itu benar-benar hilang ditelan gelap dan jarak.

***

3 thoughts on “Hymn of My Heart 16

  1. yuzz says:

    cek cek…😀

  2. akyuza says:

    Aku suka sm nue yg mulai ngrasa kehilangan gigi, yg ngrasa posisinya tergantikan sm adrian 😄
    maaf tiba2 komen udh di part ini aja, smblny aku baca postingan HOMH di fb, tp gegara blm di lanjut2in pdhal penasaran udah tingkat dewa jdnya ngobok2 gugel dan nemu deh😀

  3. chataryne says:

    sorry sblmnya nih baru bisa comment di part ini.

    kayaknya nue tanpa dia sadari dia mulai jealous ngeliat gigi sm si adrian.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s