Hymn of My Heart 17

Bar 17. Confession

“kita mau kemana Nu..?” tanya Grace yang ada di boncengan Nue.

“liat Pentas Seni Maba..” jawab Nue.

Grace mengangguk pelan namun kemudian memasang wajah cemas. “ooh.. tapi kamu nggak apa-apa kan Nu.. kamu kan baru sembuh..”

Mendengar kekhawatiran Grace, Nue menanggapinya denga senyuman. “hehe.. nggak apa-apa.. aku kan udah sehat nih.”

Akhirnya motor Nue sudah membawa mereka di tempat parkir kampus yang sudah dipenuhi denga puluhan kendaraan mahasiswa. Setelah Nue memarkir sepedanya, ia berjalan menghampiri Grace yang menunggunya.

“ayok..” ajaknya pada Grace.

Nue sedikit tertegun ketika Grace menggandeng tangannya, tapi akhirnya ia tersenyum dan berjalan mendekati kerumunan penonton.

Saat Nue datang, sebuah pertunjukan baru saja selesai. Nue melihat arlojinya. Ia berharap ia tidak ketinggalan penampilan dari Gigi yang sebelumnya sudah Gigi janjikan pukul sembilanan.

Sementara itu, di belakang panggung, tampak Gigi duduk dengan kaki dan tangan gemetar. Ia menyimpulkan jari-jarinya lalu meniup-niupnya karena jari jemarinya itu terasa begitu dingin sekali sekarang. Ia benar-benar-sangat-amat-grogi-sekali. (kalimat tidak efektif, jangan ditiru!)

Adrian menangkap kecemasan Gigi itu. ia pun menghampiri Gigi lalu menepuk pundaknya.

“setelah ini kita yang maju..” ujarnya. Kini ia menggeser kursi dan duduk di samping Gigi.

“iya.. huuftt..”jawab Gigi, ia meniup lagi jemarinya yang kian dingin ketika mendengar kata-kata Adrian itu.

Adrian tersenyum melihat sikap Gigi itu. ia merangkul pundak Gigi dan menepuk-nepuk pelan pundaknya.“santai… jangan grogi.. kamu pasti bisa!”

Gigi terdiam. Rangkulan Adrian itu, sedikit demi sedikit bisa membuatnya tenang. Rangkulan dan kata-kata Adrian terasa hangat, dan kehangatan itu menjalar hingga ke jari jemarinya. Kini jari-jemarinya tidak sedingin es lagi.

Dari balik panggung, terdengar suara host yang menggaung hingga ke rongga hati Gigi.

“yak, itu tadi penampilan dari peserta nomor 5. Sekarang mari kita sambut penampilan peserta nomor 6, “Toothfairy” band!!”

‘gleg!!’

“To..Toothfairy..??!!!!” pekik Gigi.

Adrian bangkit dari kursinya dan menepuk punggung Gigi. “ayok berdiri! Kita tampil nih..”

Seketika Gigi menoleh Adrian dengan tampang putih pucat seperti casper. “hah? Jangan bilang kalau toothfairy itu…..”

Adrian tampak tersenyum nakal sambil mengangguk.

Gigi hanya bisa melongo dan berdecit lirih.”… nama band kita..?”

Penonton tampak antusias bertepuk tangan dan ada juga yang tertawa mendengar nama yang…. ‘aneh’ itu. terlebih lagi ketika yang keluar adalah cowok-cowok dengan tampang angker dan memegang alat musik band. Hanya satu yang keluar dengan malu-malu tapi sempat membuat penonton terdiam. Beberapa yang mengenal Gigi tampak berbisik-bisik karena sebagian dari mereka tidak menyangka Gigi adalah ‘anak band’.

Sementara itu, Nue tertegun melihat Gigi yang berdiri diatas panggung bersama dengan Adrian. Terlepas dari nama band yang aneh itu, Nue juga tidak menyangka jika Gigi akan menampilkan sebuah pertunjukan musik dalam group band. Lebih tidak menyangka lagi ketika ia harus tampil dengan Adrian dan ketika ia memegang microphone.

“wih.. itu kan Anggian? jadi vokalis lo dia…!” seru Grace sambil tertawa kecil.

Nue masih tertegun. Dilihatnya Gigi yang berdiri canggung di panggung sementara teman-temannya yang lain sedang melakukan check sound.

‘aaarrghh..!! apa-apaan si ulet bulu ini! masa namanya toothfairy?? Menjijikkan banget!!’ gerutu Gigi.

ia juga tak habis pikir, bagaimana bisa teman-teman yang lain diam saja dengan nama band seperti itu. jauh-jauh hari, Gigi memang pernah mengingatkan Adrian tentang nama band mereka, tapi Adrian tidak menjawab dan dia bilang akan mengatakannya nanti, ketika akan tampil. Tapi… please…. diantara beribu nama keren, kenapa harus ‘toothfairy’? kata itu bahkan tidak termasuk dalam kategori ‘keren’ (setidaknya begitu bagi Gigi).

Ingin rasanya Gigi menangis di panggung itu ketika melihat gelak tawa dan pandangan mengejek para penonton ke arahnya. Tapi ketika mata Gigi menyisir mata penonton itu, ia melihat mata yang berbeda. Mata yang sejuk dan mengingatkannya akan tujuannya bergabung dalam band itu. ya, itu mata Nue. Wajah Nue tampak jelas menyembul dari kerumunan yang padat karena tubuhnya yang tinggi. Wajah Nue tampak tersenyum, seolah sedang memberikan semangat padanya.

Adrian menoleh ke arah Gigi. “Gi, udah siap?” tanyanya.

Gigi agak lama terdiam dan memandang wajah Nue lebih lama lagi, hingga akhirnya ia mengangguk pada Adrian.

Ia pun mendekatkan bibirnya ke depan microphone, dan entah kenapa seketika penonton terdiam.

“lagu ini.. buat kamu, yang setiap malam, hanya duduk termenung dan berbicara pada bulan..”

Sebagian penonton tertawa karena menganggap kalimat itu aneh, tapi berbeda bagi seseorang disana, yang wajahnya menyembul sendiri di atas kepala para penonton. Bagi Nue, kalimat itu sungguh berarti, hingga membuat kegetirannya menjalar ke seluruh pembuluh nadinya.

“talking to the moon..” sambung Gigi, dan tepuk tangan pun menyambut penampilan perdana gigi itu.

Rasa canggung, takut dan malu berpadu menjadi satu, saling berdesakan di dinding dada Gigi. mata para penonton makin menguatkan perasaannya itu. tapi Gigi pejamkan matanya rapat-rapat, lalu ia fokuskan pandangannya pada satu titik, sehingga seolah hanya ada dia dan orang itu di sebuah ruang kosong yang gelap. Dua buah sinar menyinari tubuhnya dan sosok yang ia pandang itu, dan pada akhirnya keduanya saling terhubung dalam sebuah dimensi yang berbeda dengan orang lain disekitarnya.

Musik mulai mengalun, dan Gigi pun membuka bibirnya.

“I know you somewhere out there..

Somewhere far away..

I want you back

I want you back

My neighbours think i’m crazy

But they don’t understand

You’re all i had

You’re all i had”

Tanpa Gigi sadari, penonton makin hening. Mata mereka terpaku pada Gigi, meskipun mata Gigi hanya terpaku pada satu orang. Orang yang juga tak bergeming memandangnya.

“waw… suara Gigi bagus juga ya Nu.. aku ga nyangka kalau dia bisa seperti ini..”gumam Grace, tapi Nue tetap tak bergeming.

“at night when the stars light up my room..

I sit by myself…

Talking to the moon…

Trying to get to you…

In hopes you’re on the other side

Talking to me too,

Or am i fool.. who sits alone,

Talking to the moon..”

Tepuk tangan penonton meledak riuh. Suara Gigi memang mengalun dengan jernih dan bening. Memang tidak banyak lekukan-lekukan dan vibra seperti seorang pro, tapi suaranya yang bening dan tinggi berhasil merebut hati penonton di sana. sementara itu, diam-diam Adrian melirik ke arah Gigi. Dilihatnya Gigi yang memandang getir ke satu titik. Adrian pun menelisik titik fokus Gigi itu, dan ia harus menelan pahit ketika yang ia lihat adalah Nue. Sedikit demi sedikit, Adrian kini memahami, tujuan Gigi mau bergabung dengannya.

“aaa… aaa…aaa…

Do you ever hear me calling..?

Aaa…aaa…aaa…

Cause everynight i’m talking to the moon…!”

Penonton tampak ber’wuuuh..’ kagum sambil bertepuk tangan lirih mendengar capaian nada tinggi Gigi yang baik. Sementara itu Gigi menjulurkan tangannya ke arah Nue, seolah memperjelas pada siapa lagu ini ia tujukan.

“still trying to get to you..

In hopes you’re on the other side

Talking to me too

Or am i fool who sits alone

Talking to the moon..”

Mata Nue bergerak-gerak memandangi Gigi yang baginya sedang bernyanyi untuknya. Tampaknya Nue menangkap dengan jelas apa maksud lagu itu. makna berbeda yang lagu itu sampaikan ketika dibawakan oleh Gigi.ya, sebuah makna yang berbeda.

Alunan musik mulai berhenti, hanya Adrian dengan gitarnya yang mengiringi kata-kata terakhir Gigi dalam lagu itu.

“I know you somewhere out there…. somewhere far.. away….”

Dan gelak tepuk tanganpun memenuhi lapangan kampus itu. saat Gigi masih tersenyum getir memandang wajah Nue jauh disana, tiba-tiba pandangannya terhalang oleh tangan-tangan penonton yang bertepuk tangan di atas kepala mereka.

Sementara itu di barisan penonton, Nue tersenyum sambil memberikan tepuk tangannya, dan Grace bertepuk tangan dengan meriahnya. “waw..!! Anggian keren!!” teriaknya.

‘ya.. dia memang keren..’ gumam Nue dalam hati. Tak hentinya dia tersenyum melihat Gigi hingga ia turun panggung.

Di bawah panggung, tampak Adrian dan kawan-kawannya merangkulnya dan mengacak-acak rambutnya dengan girang. Nue juga bisa melihat, wajah Gigi yang tersenyum dengan begitu lepasnya.

Akhirnya, Nuepun berbalik dan berjalan meninggalkan tempat itu. Sementara Grace yang bingung, hanya bisa mengikutinya dari belakang.

“Loh, Nu.. mau kemana? Ga liat Pensinya? Masih banyak lo..” tanya Grace heran.

“Nggak.. Pensinya.. sudah selesai.” Ujar Nue. Senyum yang tadi tersungging lebar, perlahan kini berubah menjadi senyum yang bercampur dengan kesedihan.

‘Gigi.. Maaf‘

***

Di kamar kosnya, Nue hanya bisa berbaring menatap langit-langit kamarnya. Satu-satunya yang terkenang di benaknya hanya suara Gigi ketika menyanyikan lagu ‘Talking To The Moon’ itu.

Banyak pertanyaan muncul setelah momen itu. ‘apakah Gigi benar-benar mencintainya?’

‘tapi Gigi adalah cowok, dan Nue juga adalah cowok!’

‘mungkinkah jika Gigi adalah seorang…’

‘terlebih lagi, apakah aku juga memiliki perasaan padanya?’

‘rasa yang selama ini kupendam untuknya, apakah itu cinta?’

‘tapi bukankah aku cowok?’

‘mungkinkah jika aku….’

Nue seketika bangkit dari kasurnya. Ia memejamkan matanya rapat-rapat sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.

‘nggak.. nggak mungkin.. aku ga seperti ini sebelumnya.. aku punya Grace! Ya, aku punya Grace, dan aku mencintainya..’

‘tapi, kenapa? kenapa aku selalu memikirkan wajahnya bahkan saat aku sedang bersama Grace?’

‘kenapa aku selalu merasa kosong jika jauh dengannya?’

‘kenapa aku merasa tidak nyaman, ketika dia dekat dengan cowok lain?’

‘Adrian? Yah.. Adrian.. aku tidak suka jika Gigi dekat dengannya. Tapi.. tapi kenapa?’

‘Adrian ga pentes buat Gigi! dia itu cowok yang ga bener! Karena dia… dia… aahh! Harus aku akui dia bukan cowok ga bener.. dia baik.. tapi..’

‘aku ga bisa.. membayangkan dia mengacak-acak rambut Gigi aja, aku udah geram!’

‘sebagai kakak, aku… ‘

‘kakak?’

‘adik?’

‘apakah benar? Jika selama ini aku hanya….’

Kini Nue benar-benar terdiam. Cukup lama, barulah ia menoleh ke arah meja belajarnya. Ia pun beranjak dari kasurnya dan duduk di depan meja itu. diambilnya secarik kertas dan bolpoin.

Matanya menerawang getir pada kertas putih kosong itu. hingga akhirnya, tangannya yang memegang bolpoin itu mulai bergerak dengan ragu.

‘To: Anggian’

***

“Aaarrghhh….!!!” Gigi memukul-mukul kepalanya ketika mengingat kejadian di Pensi tadi. Kini dia sama sekali tidak mengerti apa yang ia pikirkan sampai-sampai berbuat sejauh itu. dilihat orang banyak, dan terlebih lagi disaksikan oleh Nue sendiri!

‘aarrhh..!!! narator sialan!! Kenapa malah diperjelas??!! (cekik narator)’

Uggh…ughh.. ampun…. !! oke..oke.. narator ga akan ungkit hal itu lagi.

Gigi pun merebahkan tubuhnya di tas kasur dengan keras, sayangnya, saking ia luput memposisikan posisi jatuh yang tepat, sehingga..

‘dug..!’

“aww..!!! adooh… apesss….!!” keluh Gigi sambil memegangi kepalanya yang terbentur bingkai kasur dari kayu solid yang pastinya… hmmm… sedap untuk dibenturkan di kepala..

‘sialan lu narator… seneng bener liat lakonnya menderita..!’

Huhu.. salahkan authornya sono..!

Sementara Gigi mengelus-elus kepalanya, tiba-tiba ia mendengar pintu kamarnya di ketuk.

somebody’s knocking in the door~

Somebody’s knocking in the door~ (nyanyi)

Tanpa mengabaikan nyanyian narator, Gigi segera saja menuju di dekat pintu. Jantungnya berdegub cukup kencang.

‘ini.. apakah mungkin kak Nue..?’ tebak Gigi dalam hati.

Suara ketukan terdengar lagi. dengan ragu, Gigi pun memutar kunci pintunya dan menarik gagang pintu.

Dan seketika pupil Gigi melebar ketika melihat wajah orang yang menemuinya malam itu.

“assalamualaikum..” sapanya dengan senyum yang khas.

Sementara itu, Nue baru saja menghentikan sepeda motornya di depan gerbang kos-kosan Gigi. matanya terpaku pada motor byson yang juga bertengger gagah di depan gerbang. Dengan tangan mengepal dan bergetar ia pun memasuki kos-kosan itu.

Tangga terakhir menuju lantai dua sudah ia tapak. Dengan perlahan ia berjalan menuju kamar Gigi. kamar Gigi tampak tertutup, tapi Nue bisa melihat lampu kamarnya masih menyala. Ia yakin Adrian ada di sana, tapi tekadnya sudah bulat. Ia harus menyerahkan surat itu pada Gigi. dia tidak mau membuat Gigi menunggu dan mengharap lagi. mungkin ini berat, tapi Nue harus mengungkapkan hal ini, meskipun hanya melalui surat.

Saat Nue akan mengetuk pintu, tangannya terhenti ketika mendengar suara Adrian di dalam kamar itu.

“aku cinta sama kamu Gi..”

Mata Nue melebar. Begitu juga Gigi yang ada di dalam juga terbengong tidak percaya mendengar kata Adrian itu.

“heh.. kamu mesti bercanda deh.. udah bercandanya ah, udah malem..!” tepis Gigi sambil melambaikan tangannya. Tapi Adrian langsung menangkap tangan Gigi dan mendekap Gigi dalam pelukannya.

Otomatis Gigi terkejut dan segera meronta melepaskan diri.

“issh..! kamu apa-apaan sih!” seru Gigi saat berhasil lolos dari pelukan Adrian.

Adrian tampak memandangnya dengan memelas. Akhirnya ia menjatuhkan dirinya di kursi dan menundukkan kepalanya. pada akhirnya ia harus mengakui semuanya pada Gigi. semua perasaan yang ia pendam dalam hatinya.

“udah lama Gi.. sejak pertama kali liat kamu saat ospek. Aku sudah tertarik sama kamu..”

Pupil Gigi bergerak-gerak seolah tak percaya dengan apa yang ia dengar. “jadi.. kamu.. gay?”

Adrian tidak berani menjawab pertanyaan itu selain menunduk lebih dalam. “aku ga tau Gi.. aku ga tau, ‘apa’ sebenarnya aku ini.. aku ga pernah merasa seperti ini sebelumnya. Semua berubah sejak aku ngeliat kamu.. aku ga bisa lepas dari ingatan tentang wajahmu.”

Dari balik pintu, Nue tertegun. Ia mengakui, apa yang Adrian rasakan, sama dengan apa yang ia rasakan.

“tapi aku takut Gi.. aku ga bisa ngungkapin itu ke kamu. Aku merasa diriku ini pengecut. Jantungku berdetak lebih cepat ketika dekat denganmu. Melihat matamu aja aku ga sanggup. Aku cuma bisa berdiri dan melihatmu dari jauh, tanpa bisa berkata atau sekedar menyapa. Bahkan ketika kamu dekat dengan Nue..”

Secara bersamaan, mata Gigi dan Nue terbelalak setelah mendengar kata Adrian itu.

“ma.. maksud kamu..?” tanya Gigi gugup.

“kamu ga perlu bohong ke aku Gi… bahkan sebelum gosip tentang kedekatan kamu dan Nue itu nyebar, aku sudah tahu hubungan spesial kalian.”

Gigi melongo dan tidak bisa berucap lagi. dia benar-benar shock ada yang mengetahui hubungannya dengan Nue.

“sudah lama, aku ngawasin kamu Gi.. maafin aku. tapi aku memang ga bisa lepas dari kamu.. jadi, begitu denger kamu akan menjalani latihan privat dengan Nue, diam-diam, setiap kamu latihan privat itu, aku mengawasi kamu. Aku lihat gimana cerianya kamu jika ada di dekat Nue. Aku lihat bagaimana bahagianya kamu ketika berbagi earphone dengan Nue.. aku lihat itu semua..”

“jadi.. yang nyebarin gossip itu?!” tanya Gigi sedikit emosi.

Buru-buru Adrian melambaikan tangannya dengan tegas. “Bukan! Meskipun hati aku sakit ketika kamu dekat dengan Nue, aku ga mungkin tega nyebarin gosip yang akan nyusahin kamu..”

Emosi Gigi kembali mereda. untuk sejenak, ia merasa prihatin dengan keadaan Adrian. Ia tahu apa yang Adrian rasakan, karena itulah yang selama ini Gigi rasakan ketika Nue berada di dekat Grace.

“Semenjak Nue dengan Grace putus, hubungan kalian makin dekat kan? Aku lihat itu semua. Saat kalian berdua duduk disana..” Adrian menunjuk jendela besar tempat Gigi dan Nue dulu dering duduk bersama. “saat kalian saling berbagi earphone.. saat kamu bersandar di pundaknya.. saat ia menggendongmu.. aku tahu itu semua..”

Kali ini emosi Gigi kembali merangkak naik. “kamu..!!” serunya sambil berdiri.

“maaf Gi.. aku ga bermaksud menjadi stalker, tapi… aku cuma ga bisa lepas dari kamu..” jawab Adrian dengan nada memelas.

“tapi.. kamu… issshh… ya udah lah!” decak Gigi sambil duduk lagi di kasurnya. Ia benar-benar tidak menyangka jika setiap kegiatannya selama ini diawasi oleh Adrian. Yang membuat Gigi tidak kalah bingung adalah bagaiamana Adrian bisa tidak terdeteksi olehnya maupun oleh Nue? Apakah dia adalah mata-mata dari FBI? Apakah dia seorang ninja? Entahlah..

“terus, kenapa kamu tahu-tahu deketin aku? aku sudah lama curiga, kenapa kamu yang sebelumnya ga pernah ngobrol sama aku, ga pernah nyapa aku, tahu-tahu ngacak-acak rambutku dan berlagak kenal banget. Apa sih maumu?”

Adrian menelan ludah pahit. Ia menundukkan kepalanya dan memandang jari jemarinya yang ia simpulkan. “aku juga lihat ketika kamu nangis gi.. kamu nangis karena Nue memutuskan untuk balik ke Grace..”

‘deg’ jantung Gigi seakan membeku, begitu juga Nue.

Jari-jemarinya yang menempel di daun pintu tampak gemetar. ‘Gigi menangis..?’ batinnya. Tampak gurat rasa tidak percaya dan penyesalan di wajahnya.

“ssh… seberapa banyak yang kamu lihat sih Dri..” ujar Gigi sambil tersenyum lirih dan memalingkan wajahnya. Jujur, ingatan tentang kejadian itu seakan membuka jahitan luka lama di hatinya.

“aku tahu Gi..!” seru Adrian tegas.” Aku tahu, kalau kamu menderita selama bersama dia! Kamu hanya bisa jadi bayangan dia aja. Kamu mencintai dia, tapi sekaligus juga kamu sadar, kalau kamu ga akan mungkin milikin dia! Dia juga ga pernah ngerti perasaan kamu kan? Dia hanya bisa nyakitin dan nyakitin kamu lagi dengan ketidakpekaannya! ia pikir dia-lah satu-satunya di bodoh yang cuma bisa duduk diam dan bicara dengan bulan, padahal sebenarnya kamu lah, si bodoh yang sepanjang malam duduk dan mengadu pada bulan! Tapi dia tidak pernah mengerti kan?”

Gigi sebenarnya marah ketika mendengar Adrian menjelek-jelekkan Nue, tapi dia juga tidak bisa berkutik, karena apa yang Adrian ucapkan itu benar adanya. Ia tidak bisa menampik kenyataan jika dialah si bodoh yang duduk sepanjang malam untuk berbicara dengan seseorang belum tentu mendengarnya melalui perantara bulan.

Sementara Nue, wajahnya tampak pucat. Tak ia sangka, Gigi selama ini begitu menderita karenanya. Ternyata lagu yang ia bawakan bukan omong kosong Bruno Mars belaka, tapi benar-benar pengalaman sedih yang ia alami. Terpaksa Nue harus membenarkan kata-kata Adrian. Selama ini ia mengira dirinya adalah orang paling malang di dunia karena cinta yang tak terbalas. Namun siapa sangka jika juga adalah orang yang tak membalas cinta seseorang yang jauh dari perkiraannya, tapi begitu dekat dengannya.

Perlahan Nue membalikkan badannya. Kini ia menyandarkan punggungnya di tembok dengan kepala tersandar lelah di tembok yang dingin, meskipun tak sedingin hatinya kini. Kata-kata Adrian tentang dirinya, semuanya benar. Tak ada yang salah sedikitpun. Dia adalah seorang yang buta dan tuli, yang tidak bisa memahami perasaan Gigi. ia cuma bisa mempermainkan hati Gigi dengan sebutan ‘adik’. Bahkan jika sebutan ‘adik’ itu benar-benar berlaku, Nue merasa dirinya tidak pantas disebut ‘kakak’. Dia adalah kakak terburuk yang pernah ada.

Perlahan ia tarik lipatan kertas yang ia simpan di saku jaketnya. Agak lama ia memandangi lipatan bertuliskan ‘to: Anggian’ di satu sisinya itu dalam-dalam. Setitik dua titik air tak terasa jatuh membasahi lipatan kertas itu, sebelum akhirnya tangan Nue meremas kertas itu dan membuangnya ke lantai yang dingin.

‘aku bukan cowok yang baik buat kamu, Adrian yang lebih pantas buat kamu Gi..’

Bisik Nue, dan bayangnya pun menghilang dari tempat itu.

Sementara itu, Gigi masih tertegun bingung mendengar pengakuan Adrian yang mengejutkan itu. ia tidak tahu harus berkata dan melakukan apa kecuali diam dan mendengarkan.

“Aku ga mau melihat kamu seperti itu lagi Gi.. kamu berubah sejak malam itu. kamu seperti orang yang ga bernyawa Gi! Aku makin yakin setelah nabrak kamu waktu itu, aku lihat matamu yang memandang sedih ke arah Nue. Aku lihat bagaimana kamu mencoba menghindari dia dan melupakannya. Karena itu, sejak saat itu, aku putuskan untuk membuang semua rasa takut dan gugupku. Aku kuatkan diri aku sendiri untuk nemuin kamu. Mungkin selama ini kamu pikir aku orang yang supel dan SKSD, tapi kamu tahu? Jauh di dalam hati aku, aku masih memendam gugup padamu Gi.. jantungku berdegub kencang setiap kali di depanmu.”

Gigi tertegun mendengar penjelasan Adrian itu, ia hampir tidak percaya jika selama ini Adrian gugup jika ada di depannya. Jika itu benar, Gigi harus mengacungkan empat jempol untuk kemampuannya dalam berakting. Bahkan Gigi tidak bisa melakukan sebaik Adrian ketika ada di dekat Nue.

Tak lama kemudian, Adrian mendongakkan wajahnya ke arah Gigi dan tersenyum padanya. “Tapi aku bahagia Gi.. ketika aku ada di dekatmu, berbicara denganmu, meskipun kamu sering marahin aku, jitak kepalaku, tapi jujur, aku bahagia GI.. kamu ga tau kan betapa bahagianya kau saat kamu bilang mau gabung di band ku? aku senang, ketika lihat kamu mulai bersemangat lagi dan ikut berlatih sama aku, saat aku bisa mengiringi suaramu yang indah dengan gitarku.. aku senang sekali.. meskipun akhirnya aku tahu, kalau kamu cuma memanfaatkan kesempatan itu untuk menyatakan cintamu ke Nue..”

Tenggorokan Gigi tercekat. Ternyata Adrian mengetahui hal itu juga. Ternyata Adrian memang memahaminya begitu dalam.

“tapi ga apa.. aku ikhlas selama kamu juga bahagia. Tapi untuk malam ini Gi.. aku mohon ke kamu, lupain dia..”

Sebuah petir menggelegar dengan keras di dada Gigi. mata Gigi tampak membulat pada wajah Adrian. Gigi makin terkejut ketika Adrian menjatuhkan diri dan bersimpuh di bawah kakinya sambil menggenggam erat tangannya.

“Nue ga mungkin mencintaimu Gi.. kenapa kamu harus memaksakan diri kamu GI? Kenapa kamu harus mencintai orang yang ga bisa memahami perasaanmu? Kenapa kamu ga bisa lihat aku, orang yang benar-benar mencintaimu? Sekarang aku bersimpuh di kakimu gi.. aku mohon.. jadikan aku orang yang bisa bahagiain kamu.. aku akan jadi apapun yang kamu minta. Meskipun tentu aja aku ga bisa menjadi Nue, tapi percaya sama aku Gi.. aku akan menjadi lebih baik dari Nue… “

Gigi terdiam. Dengan sedih ia memandang mata Adrian yang berkaca-kaca menatapnya. Akhirnya bibir Gigi bergetar dan lidahnya mulai bergerak.

“benar Dri.. aku juga buta. Aku ga bisa liat mana yang benar-benar mencintaiku, mana yang tidak. itu benar. Aku juga yakin kalau kamu akan menjadi orang yang lebih baik dari Nue. Aku yakin kamu bisa, karena saat inipun kamu sudah selangkah lebih baik dari Nue. Kamu supel, kamu asik, kamu perhatian, kamu cakep, kamu kaya, kamu sehat… kamu seolah menambal apa yang Nue tidak punya.” Gigi memutus kata-katanya.

Bibirnya seolah tidak kuasa untuk melanjutkan kalimat berikutnya, sementara Adrian tampak menunggu dengan antusias.

“aku sayang kamu Adrian…”

Tampak mata Adrian berbinar sesaat. Tapi Gigi segera menyambung kalimatnya.

“tapi sayangku ke kamu, ga lebih dari sekedar sayangku pada seorang sahabat baikku..”

Kata-kata Gigi itu seketika membuat senyum Adrian memudar. Matanya berubah sayu dan tertunduk lesu.

“mmafin aku Adrian. Kamu benar. Aku sudah buta dan tuli. Yang bisa aku liat cuma dia yang tidak akan mencintai aku. tapi masalahnya adalah.. aku mencintainya.. aku ga bisa menghapus perasaan itu.. aku lemah.. sekarang coba bayangkan, jika kamu memang cinta sama aku, lalu aku nyuruh kamu untuk mencintai Ully? Apakah kamu sanggup?”

Adrian tertegun sesaat, hingga akhirnya ia menggeleng pelan.

“Kan? itu yang aku rasakan Dri.. aku ga bisa, menghapus cintaku karena dia tidak cinta sama aku.. cinta tuh ga sesimple itu.. “

Belum sampai Gigi menuntaskan kata-katanya, Adrian bangkit dari posisi bersimpuhnya tadi. Ia tersenyum tipis pada Gigi. “hm.. oke.. aku bisa menerima itu kok..”

Gigi tampak menengadah ke arah Gigi dengan ekspresi bersalah.“dri..”

Adrian seakan tidak kuasa melihat wajah Gigi itu. dengan cepat ia palingkan wajahnya dan berbalik. “maaf Gi.. udah ganggu malam-malam.. have a tight sleep..” ujarnya sambil membuka pintu.

Setelah itu sosoknya hilang dari pandangan Gigi seiring dengan menutupnya daun pintu itu. untuk beberapa saat Gigi menundukkan wajahnya dengan gurat sedih di wajahnya. Malam ini adalah malam yang berat baginya. Malam ini dia mengungkapkan cintanya secara tersirat kepada seseorang, tapi malam ini juga seseorang menyatakan cinta secara terang-terangan padanya.

Mengingat ekspresi Adrian, Gigi paham, betapa sakit hatinya. Gigi juga pasti akan merasakan sakit yang sama apabila Nue menolak cintanya.

Perlahan, setetes embun mengalir dari ujung matanya. Ia meringkuk dalam dekapan lengan yang ia kalungkan di lututnya.

“kak Nue.. apakah benar, kakak ga mencintai aku..?”

Sementara itu, di depan pintu kamar Gigi, Adrian duduk bersandar di pintu. Tangannya tampak mencengkram dahi dan rambut bagian depannya. Bulir-bulir air mengucur dari ujung matanya. Air mata yang daritadi ia coba tahan saat di depan Gigi, kini mengalir tak terbendung lagi. harusnya ia menyangka hal ini akan terjadI, bahwa Gigi akan tetap pada cintanya pada Nue, tapi ia tak menyangka hasilnya akan sesakit ini. Dalam pandangannya yang kabur karena air mata itu, sekilas ia melihat remukan kertas di dekat kakinya. Cukup lama ia memandangi kertas itu sambil menangis. Hingga akhirnya ia sadar, kalau kertas itu tidak ada ketika ia datang. Dengan gemetar ia meraih kertas itu dan dibukanya perlahan remukan kertas itu.

‘to: Anggian’

Air mata Adrian seolah ingin terhenti. Dia memegang surat  itu dengan gemetar.

‘apakah mungkin  dia… dia tadi ada disini?’ gumamnya.

Cukup lama ia gemetar dan memandangi surat itu dengan tajam. Hingga akhirnya ia berdiri dan menyelipkan surat itu ke dalam sakunya.

“tidak untuk saat ini.” bisiknya dengan nada tertahan.

Dan jadilah malam itu, sebuah malam pengakuan antara hati yang terkunci rapat-rapat. kini beberapa kunci itu telah dibuka lebar-lebar, meskipun pada akhirnya menebar luka. Hanya satu yang tersisa. Kunci yang akan menentukan akhir kisah antara dua orang cowok yang bertemu dalam sebuah paduan not. Notasi do bisa menjadi re, mi, fa, sol, la,si hingga do tinggi, semua tergantung  pada kunci nada dasarnya. Dan kunci itu, kini tengah disimpan, oleh orang yang sedang patah hati. Akankah Gigi bertemu dengan kunci itu?

***

9 thoughts on “Hymn of My Heart 17

  1. lara says:

    fiuh..part ini bener2 woow!!
    romantis bercampur sedih di awal, dan endingnya nyesek banget! T.T

    seneng cerita ini dshare d wp krn dg begitu aku bisa komen.hehe
    cerita ini unik. tema paduan suara dan epilepsi kan langka. alurnya ngalir,gak maksa,lumayan kocak jg dan yg penting gak vulgar! i’m lovin it!

    keep update!

  2. Bee says:

    Ooooooowwwwwwhhhhh akhirnya ketemu juga blog nya,,,
    seneng nyaaaa😀😀
    gigi jahat ya,,, adrian jadi patah hati deh,,😦
    nue sebaik nya kamu sepat nikah sama grace deh,,, biar gigi bisa lupain kamu,, and jadian ma adrian,,
    hhhhhmmmmmm :>
    i hate you nue,,,

  3. yuzz says:

    Ada typo tuh..
    Gigi tampak menengadah ke arah Gigi dengan ekspresi bersalah.
    harusnya adrian kan..😀
    cup cup adrian..

  4. Putra Poe says:

    Gua salah satu silent reader di BF hehehe
    bukan gak komen sih tp rada2 malas klau komen di BF tapi klau disini komentar ababil gua bakalan nongol di goresan tangan mu… *pengantar
    ehmmmmm… kemarin gua dukung andrian tapi setelah baca part ini jadi kasian ma nue… ayyo donk buat haapy ending yaa.. pliss.. takdir mereka kan diujung pena mu zalano hehehehehe…🙂

  5. akyuza says:

    Njiiirrr mewek!! T^T
    baca sepanjang part ini smbil dengerin talking to the moonny bruno, doooohh~ rasanya JLEB BANGET!! :’)
    *pukpuk Nue Gigi & adrian* totally love this story..

  6. chataryne says:

    wah kasian nue jdinya. btw apa yg di tulis sm nue buat gigi???
    for to zalano please buat nue dan gigi bersatu dan bahagia. karna nasib mrk brdua ada di tangan mu zalano.
    akhrnya bisa comment lagi.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s