Pantaskah Hukuman Mati untuk Para Homoseksual

Baru-baru ini saya membaca sebuah artikel, atau postingan mungkin lebih tepatnya, tentang pendapat seorang mahasiwa terhadap issu LGBT, atau yang kata teman-teman saya disebut dengan “LeGit BangeT”.

Issu Legit Banget ini memang makin hangat setelah pemerintahan Amerika yang dipimpin oleh Presiden Barrac Obama melegalkan pernikahan sesama jenis di Amerika. Kebijakan tersebut tentu saja mendapat gelombang reaksi, baik reaksi positif maupun rekasi negatif. Reaksi positif datang dari kalangan Legit Banget dan para aktivis HAM, karena kebijakan tersebut menandakan makin terjaminnya kebebasan hak asasi manusia dalam menjalani orientasi seksualnya.

Layaknya bayangan yang menyertai cahaya, reaksi negatif pun tak kalah gemuruhnya dengan reaksi positif terhadap kebijakan tersebut. Tidak perlu menerawang terlalu jauh ke luar negeri untuk melihat reaksi negatif tersebut, di negara kita sendiri pun banyak kita temui reaksi negatif terhadap adanya kebijakan di Amerika tersebut. Bagaimana tidak? Reaksi dukungan terhadap kebijakan itu bahkan sampai di tanah air dengan diadakannya pesta serta beberapa aksi lainnya (aksi paling simpel adalah digunakannya profil picture dengan motif pelangi). Tentu saja banyak dari kalangan rakyat Indonesia yang memprotes aksi-aksi tersebut.

Mungkin issu itu sudah tersiar tahun lalu dan sudah cukup lama berlalu, namun belum tentu riaknya hilang begitu saja. Dengan adanya kebijakan itu, seperti angin segar bagi mereka di kalangan Legit Banget. Mulai muncul berita-berita tentang pernikahan sesama jenis di tanah air (sebut saja di Bali) yang tentu saja memantik api di tanah air.

Kembali pada pegalaman saya membaca sebuah postingan dari seorang mahasiswa yang cukup tenar akhir-akhir ini karena kritiknya terhadap rektor di kampusnya. Saya acungi jempol keberaniannya, dan saya pun tertarik pada salah satu postingannya yang dishare hingga sampai di timeline facebook saya. Kebetulan dia membahas topik yang membuat saya tertarik. Yah.. topik tentang Legit Banget cukup menarik bagi saya yang memang sempat sibuk menulis cerita tentang mereka di dunia maya.

Mahasiswa tersebut menulis tentang bagaimana seharusnya pemerintah menindak para homoseks, terutama pada pelaku sodomi. Dia menggunakan asas agama dalam membedah issu tersebut. Menurutnya Homoseksual (dan kawan-kawannya di Legit Banget) merupakan kelainan yang tidak bisa dibiarkan dan dibiasakan. Perlu suatu tindakan preventif untuk mencegah ‘penyakit’ itu menyebar di tanah air. Sejauh itu saya setuju. Sekarang orang tua mana yang ingin anaknya termasuk dalam kalangan Legit Banget?

Satu hal yang membuat saya berdebar saat membaca postingan tersebut adalah tentang pendapatnya untuk memberlakukan hukuman mati pada para pelaku sodomi. Hal itu berasal dari hadis Rasulullah yang secara ringkas menganjurkan/memerintahkan umatnya untuk membunuh para pelaku sodomi, baik yang mensodomi maupun yang disodomi.

Jujur, itu bukan pertama kalinya saya mendengar tentang hadist itu, karena sebelumnya saya memang sudah pernah membaca hadist itu di suatu jejaring sosial. Jadi menurut saya, yang ditulis mahasiswa itu bukan isapan jempol belaka, melainkan argumen dengan dasar yang sangat kuat. Kalau saya, jika ada seseorang yang menjawab dengan dalil dari kitab suci atau dari hadist, saya langsung angkat tangan sambil tersenyum tanda menyerah dan setuju.

Ya, saya setuju akan hal itu. Jika memang hukum dari pelaku sodomi adalah hukuman mati, saya sebagai manusia mau bilang apa? Meskipun saya sendiri masi bingung dengan ketaatan beragama saya (di KTP  sih, tertulis agama Islam), namun bukan berarti saya orang yang berani mengingkari kata-kata Tuhan. Jadi, okelah jika mahasiswa tersebut berpendapat  seperti itu. Namun, saya pun memiliki sebuah pertanyaan besar.

Kenapa hukuman yang sarat akan syariat agama Islam itu hanya diberlakukan pada pelaku sodomi saja? Lantas bagaimana dengan para pencuri, penjudi, penzina, dan pelacur? Kenapa mereka hanya mendapat hukuman penjara? Sejauh ini saya hanya mendengar hukuman mati dijatuhkan pada mereka pelaku teror/terorist dan kurir serta pengedar obat-obatan terlarang. Sedangkan pelaku pembunuhan berencana yang sadis dan pelaku korupsi bermilyar bahkan trilyunan rupiah kesannya sulit banget tuh dijatuhi hukuman mati. Padahal, menurut hukum Islam, pencuri yang tertangkap dan sudah terbukti, harus dijatuhi hukuman potong tangan, jika mencuri lagi potong salah satu kaki, jika mencuri lagi, potong tangan satunya, dan jika mencuri lagi, dipotonglah kaki sebelahnya yang tersisa. (silakan koreksi bila saya salah). Pelaku zina harus dihukum mati dengan dirajam, begitu juga dengan pelaku pembunuhan.

Yang saya inginkan adalah kesetaraan dan konsistensi. Saya tidak menyalahkan pendapat mahasiswa tersebut. Sudah saya katakan sebelumnya bahwa saya setuju dengan argumennya. Saya pun angguk-angguk saja jika “secara ajaibnya” pemerintah mendengar saran tersebut dan membuat peraturan tentang hukuman mati pada pelaku sodomi. Saya setuju-setuju saja. Tapi ya itu tadi, argumen saya di paragraf sebelumnya pun petut dijadikan bahan pertimbangan. Kenapa kita terkesan “mengkhususkan” mereka kalangan Legit Banget. Hanya karena mereka berbeda?

Apakah hanya karena kita normal, dan mereka tidak normal, lalu kita bebas menghinakan posisi mereka? Sama seperti anak-anak yang berada di dalam kelas memandangi serta menertawakan teman-teman mereka yang berdiri di depan kelas sambil menjewer telinga mereka sendiri karena mereka datang terlambat. Apa seperti itu? Kita merasa suci ya?

Perlu diingat bahwa mereka juga manusia, sama seperti kita. Janganlah memposisikan mereka begitu hina karena anda percaya atau tidak, banyak diantara mereka yang berkata, “Bila boleh memilih, aku tidak mau hidup dengan kondisi seperti ini.”  Dan anda pun boleh tidak percaya jika anda sekalian mungkin jarang yang melihat dari sudut pandang mereka. Bagaimana mereka hidup dengan kondisi yang “tidak normal” bagi kalian. Tidak. Selama ini ‘kita’ hanya bisa memandang mereka seperti orang yang asing dan berbeda ‘species‘ dari kita, sehingga kita bebas menghinakan dan mencaci mereka. Okelah kalau dasar kita adalah agama. Tapi ingat, jadilah orang-orang yang konsisten. Jika anda berpendapat pelaku sodomi harus dihukum mati demi menjunjung nilai agama serta mencegah penyebaran praktek sodomi, maka patri dalam pikiran serta cita-cita anda untuk melontarkan seruan menjatuhkan hukuman mati bagi pelaku zina, pembunuhan, serta hukuman-hukuman lain yang sudah sepatutnya berdasarkan agama anda. Itu baru konsisten dan pukul rata, sehingga tidak ada pihak yang merasa dikucilkan serta diperlakukan berat sebelah.Tentu saja anda sekalian juga perlu mmpertimbangkan suara umat beragama lain, karena kita adalah warga negara NKRI yang mengakui adanya 6 agama, Islam, Hindu, Kristen Katholik, Kristen Protestan, Budha, dan Konghucu, Jadi harus selaras ya.. Jangan semaunya sendiri.

Sebagai penuntun menuju penutup, saya hanya menyampaikan pemikiran saya yang mengganggu akhir-akhir ini, hingga akhirnya harus saya salurkan melalui tulisan. Mungkin akan terkesan saya membela kaum Legit Banget. Silakan saja jika anda sekalian berpikiran demikian. Namun perlu dipahami, bahwa saya tidak mencari pembelaan, melainkan saya mengajak pembaca untuk memandang dari sisi yang selama ini dianggap tabu. Monggo jika ada yang tidak setuju dengan merasa geli untuk mengkritik atau mengajak saya berdebat, tapi sebelum itu, coba renungkan dahulu. Bayangkan anda di posisi mereka. Mereka yang hanya bisa merasa tertarik pada sesama jenis. Mereka yang merasa ada yang salah dengan gendernya. Mereka yang kebingungan menentukan orientasi seksualnya. Coba anda bayangkan terlebih dahulu secara manusiawi, buang dulu pemikiran idealis dan naif, karena saya percaya sejatinya manusia adalah tempatnya salah dan lupa.

Saya juga ingin mengutip sebuah pemikiran dari sosok yang paling saya kagumi di Indonesia, Gus Dur. Saya sempat terenyuh saat membaca kutipan dari beliau yang isinya, “Jika kamu membenci orang karena dia tidak bisa membaca al-Qur’an, berarti yang kamu pertuhankan itu bukan Allah, tapi al-Qur’an. Jika kamu memusuhi orang yang berbeda Agama dengan kamu, berarti yang kamu pertuhankan itu bukan Allah, tapi Agama. Jika kamu menjauhi orang yang melanggar moral, berarti yang kamu pertuhankan bukan Allah, tapi moral. Pertuhankanlah Allah, bukan yang lainnya. Dan pembuktian bahwa kamu mempertuhankan Allah, kamu harus menerima semua makhluk. Karena begitulah Allah.”

Dari sanalah hati saya tergetar untuk menulis artikel ini, dengan dasar pemikiran, jika kita menghinakan seorang kaum karena orientasi seksual mereka, berarti kita lebih mempertuhankan kenormalan orientasi seksual kita daripada Allah. Sesungguhnya hanya Tuhan yang boleh menghakimi benar atau salah, mana yang lebih tinggi dan mana yang lebih rendah. Kita sebagai manusia hanya bisa melakukan apa yang bisa kita lakukan di jalan yang telah Dia tentukan. Kita dianjurkan menghukum, tapi kita tak pernah diajarkan untuk saling membenci sesama manusia.

Terakhir, sekali lagi saya setuju saja dengan hukuman mati untuk pelaku sodomi. Namun tolonglah mereka, para kaum Legit Banget yang belum melakukan hal itu. Sejauh ini saya hanya mendengar dalil hukuman mati untuk pelaku sodomi, saya belum menemukan dalil yang menyeru kita untuk menghukum mereka yang memeiliki perasaan pada sesama jenis, namun tetap saja hal itu salah. Oleh karena itu, jika ada kenalan atau kerabat kalian yang kalian tahu “menyimpang”, temani dia dan bimbinglah supaya tidak tersesat lebih jauh. Sebagai sesama manusia, jangan biarkan dia sendiri atau bahkan mengucilkan serta merendahkan mereka, karena itu tidak mengubah keadaannya menjadi lebih baik, malah menjerumuskan dia ke jalan yang lebih gelap hingga dia menjadi sasaran hukuman mati yang pernah kalian cetuskan. Tidakkah hal seperti itu sama halnya dengan kalian membunuh seseorang secara tidak langsung?

Membunuh, mencela dan menyalahkan memang mudah, namun mengubah sesuatu ke arah lebih baik lah tantangan yang sebenarnya, yang menjadikan kita “manusia yang manusia”.

 

WW 1

 Bagian 1

“Gaby..”

“ya?”

“kira-kira saat kamu dewasa nanti, apa yang ingin kamu lakukan?”

“erhmm… entahlah”

“hah? Kok gitu? Dijawab dong..!”

“iya..iya.. kenapa sih, pertanyaanmu aneh banget”

“ya tanya aja..”

“ehm… kalau aku besar nanti, aku ingin bersekolah, lalu bekerja dan mendapat banyak uang. Setelah aku punya banyak uang, tanah ini akan ku beli dan kubangun sebuah pondok kecil. Nanti halamannya akan kujadikan ladang untuk menanam berbagai sayuran dan bunga.”

“hmm…”

“gimana Raff? Bagus kan? Hehehe..”

“iya, bagus juga, tapi apa yang ingin aku lakukan besok akan lebih hebat..!”

“o ya? Memang, apa yang ingin kamu lakukan kelak?”

“kelak.. aku akan menghentikan perang dan menjadi pahlawan.”

“hummbhhfff…”

“eh, kenapa tertawa?? Ada yang lucu?”

“wahahahahaha… kamu? Menghentikan perang..?? jadi pahlawan..? yang ada juga kamu jadi pemimpi di siang bolong..! hahaha…”

“aku serius..! awas kau ya,, suatu saat aku akan buktikan ke kamu..!”

“hhaha.. oke, oke tuan pahlawan..”

“ck,, kamu menyebalkan sekali.”

“hahaha…”

***

–Gabe POV–

“Gabe…!!!! cepat bangun..!! kamu ingin tidak sekolah lagi? “

Suara ibu sukses menyetrum telingaku dan langsung tersalur ke otakku. Dengan perlahan aku buka mataku yang terasa masih berat sekali. Kulihat jam weker di meja belajarku bahkan belum berdering. Aku beranjak dari ranjang dan dengan langkah gontai mematikan jam weker yg berdering terlambat. Ibuku memang selalu terdepan, bahkan untuk jam weker.

“GAAABE..!!”

“oh my.. IYAA IBUU…!!!” gatal juga rasanya hati ini ketika ibu mengeluarkan jeritan soprannya, terpaksa aku keluarkan juga suara tenor abal-abalku.

Dengan setengah berlari aku menuruni tangga dan menuju kamar mandi. Di dapur terlihat ibu sedang hebohnya menyiapkan sarapan.

‘aroma ini..? oh my… jangan katakan telur urak arik lagi..’gumamku dongkol dalam hati. Aku pun memilihi untuk pasrah dengan menu pilihan ibu yang tak terbantahkan dan masuk ke dalam kamar mandi.

“jangan berlama-lama mandinya..!! kau tahu berapa harga air perliternya sekarang..!!”

“YAAA… AKU TAHU! PLIS JANGAN TERIAK LAGI..! OKE?”

Yah, beginilah hari-hariku. Mencoba bersikap biasa seolah tidak sedang terjadi apa-apa. Meskipun aku tahu, jika dunia tidak sedang duduk tenang. Semua bersiap dalam suatu pelampiasan nafsu massal. Sudah 6 tahun sejak gencatan senjata antara blok timur dan blok barat. Kini kami memasuki masa-masa perang dingin yang tidak kalah mencekamnya. Masing-masing kubu berlomba-lomba mencipatakan senjata baru yang semakin praktis sekaligus makin mematikan. Situasi ini seperti memutar kembali sejarah, antara Amerika dan Uni Soviet. Kini, pada tahun 2029, masa-masa itu terulang kembali. Mungkin dunia sedang bersiap menuju World War III.

Aku benci situasi ini. Perang sudah berkecamuk sejak tahun 2012, tepatnya saat malam sebelum pergantian tahun baru, kotaku diserang oleh blok timur.

Karena perang, aku harus kehilangan ayahku, adikku, keluargaku. Karena perang aku harus kehilangan sahabat-sahabat dan tetanggaku. Karena perang, kehidupan ekonomi kami menjadi makin sulit, harga melambung tinggi dan ketersediaan air bersih dan energi menjadi makin langka.

Untuk sejenak aku merenung. Entah kenapa aku teringat padanya. Setelah sekian lama, kira-kira dimana dia sekarang? Bagaimana keadaannya? Apakah dia masih hidup??

“GABEE…!!! Sampai kapan kau akan mengurung diri di kamar mandi hah??”

“iya buu..”

Lamunanku buyar seketika. Akupun bergegas membersihkan sisa busa sabun yang menempel di badanku.

‘raff, aku harap kau baik-baik saja.. ‘

***

–author POV–

“Gazelda Gissele..” panggil seorang pria paruh baya berkacamata dengan nada datar membosankan.

“hadir..”jawab seorang gadis manis dengan rambut dikepang dua.

“Gabrielle Way”seru si pria berkacamata sambil menandai nama giselle. Untuk sejenak tak ada jawaban dari nama yg baru ia sebut tadi.

“Gabrielle Way..”

Si pria membenarkan posisi kacamatanya sambil menyapu seluruh ruangan untuk mencari keberadaan orang yang ia panggil tadi.

“Gabrielle!!”

Terdengar suara derap kaki dan sesosok bayangan muncul di balik pintu kelas sambil terengah-engah.

“ha..hadir pak..” ucap laki-laki itu terengah-engah.

“sekarang sudah tahun 2029, apa anda masih belum mengenal jam nak?”sergah si pria dingin menusuk.

Gabrielle menelan ludah sesaat dan matanya bergetar pelan memandang mata sedingin es si pria berkacamata itu.

“maaf pak, saya janji ini akan menjadi yang terakhir.”

“saya tidak butuh janji nak, yang saya butuhkan adalah bukti dan perbuatan.”

“ehm.. karena itu beri saya kesempatan untuk membuktikannya pak..”

“ya, dan kesempatanmu adalah detensi setelah jam sekolah berakhir.”

‘apa?!’ pupil gabrielle menyempit setelah mendengar kata detensi. ‘oh ayolah.. aku cuma terlambat.. masa harus detensi segala?’

“tapi pak, saya baru terlambat sekali, apa perlu detensi..?”

“lalu anda butuh berapa kali terlambat untuk dapat detensi? Jika dengan detensi pertama bisa membuat anda kapok, tidak akan ada terlambat yang kedua, ketiga, atau kesepuluh. Jika memang anda ingin terlambat berkali-kali, tidak perlu detensi, langsung saja anda ajukan surat pengunduran diri anda.”

Yap, Gabe tidak berkutik sekarang. Kata-kata Pak Marcus benar-benar menancap di hati.

“baik pak” Gabe pun dengan hati gerah menyanggupi detensi itu.

“oke. Silakan anda duduk, atau perlu saya tunjukkan kursi anda?”

“tidak pak, terima kasih”jawab Gabe dengan sedikit sewot.

‘pagi-pagi sudah berurusan dengan si botak Marcus membuatku malas untuk hidup’ gerutu Gabe sambil mendaratkan pantatnya di kursi kayu yang keras. Pak Marcus adalah bujangan tua. Seumur hidupnya ia habiskan untuk buku, buku, buku, buku dan 10% sisa waktunya untuk kebutuhan primer sehari-hari seperti makan, minum, buang air, dll. Bahkan Gabe masih ragu apakah dia tersentuh air mandi setiap harinya.

“sst..”

Gabe mengalihkan pandangan kearah siulan, dilihatnya tony mengerling padanya.

“pagi yang menyenangkan hah?”

“tentu.. tidak ada pagi yang seindah pagi ini. Apa kau mau berbagi denganku?”

“hahaha… tidak bung, lebih baik aku membantu ibuku menjahit celana dalam dari pada menghabiskan jam-jam akhirku bersama si botak marcus.”

Mendengar gurauan tony, Gabe hanya menghembus pelan sambil melengkungkan bibirnya tipis-tipis. Dia tak punya waktu untuk tertawa ketika harus mengingat waktu detensinya yang menyebalkan. Gabe tidak bisa membayangkan seberapa membosankan dan buruknya waktu detensi nanti.

“baiklah, kita lanjutkan pelajaran minggu lalu, sampai dimana kita?”

***

Suara detak jam dinding di depan ruangan seolah terdengar begitu nyaring di telingan Gabe. Ia sandarkan pipinya pada telapak tangannya dan sesekali ia melirik ke arah Pak Marcus yang entah sedang sibuk mengerjakan apa. Ia melirik lagi ke arah kam dinding.

“huuft.. 34 menit lagi…”geramnya dalam hati.

Ia harus sabar menahan gemas. Sedikit saja ada kata protes atau satu keluhan saja, maka jam detensimu akan ditambah. Mengingat itu membuat kepala Gabe seakan mendidih dan siap membakar rambutnya. Uups.. jangan lah, bisa hilang ketampanannya jika ia botak.

Gabe menhembuskan nafas berat. Ia lelah menyandarkan pipi di tangannya. Ia pun melipat kedua tangannya dan menumpukan dagunya pada punggung tangannya. Seperti anak yang sedang duduki manis sekarang. Matanya sesekali terpejam menahan kantuk, hingga suara Pak Marcus membuatnya siaga.

“ckck… El memang hebat..”

Mata Gabe terbelalak. Sejak kapan Pak Marcus membuka surat kabar? Dilihatnya Pak Marcus sedang serius menatap lembar surat kabar. Dari sampulnya terlihat foto El terpampang lebar.

“pak.. boleh saya pinjam korannya?”

Pak Marcus langsung mengintip dari tepi koran, menatap Gabe dengan pandangan dingin. Gabe segera menelan ludah dan menyambung kalimatnya.

“setelah bapak selesai membacanya tentu saja..” sambung Gabe dengan senyum semanis mungkin.

Pak marcus diam saja dan kembali menyembunyikan wajahnya di balik koran. Mengacuhkan Gabe yang kembali berpangku pada telapak tangannya.

Dia sangat ingin membacanya. Dia tidak berlangganan koran. Bahkan pendapatan ibunya masih terlalu pelit untuk dibagi dengan ongkos berlangganan koran. Padahal Gabe sangat ingin membaca segala artikel tentangnya. Ya, El.

El adalah sosok yang misterius namun sangat fenomenal. Bahkan kehadirannya cukup berpengaruh di dunia global. Penemuannya berupa sebuah reaktor energi mini yang lebih praktis,kuat, aman, bersih dan ajaibnya sangat tahan lama. Jika kau pernah melihat film Iron Man di tahun 2010-an, dan melihat sebuah reaktor bernama reaktor busur/arc reactor, maka seperti itulah. Bedanya, reaktor itu tidak ditempel di tubuhnya sendiri, melainkan ia jual secara bebas pada publik.

Penemuannya berhasil mendobrak rupa teknologi dunia. Tidak hanya menemukan sebuah solusi mutakhir mengenai krisis energi, El juga yang memperbarui teknologi komputer, alat transportasi dan komunikasi yang secara langsung maupun tidak langsung mengubah setiap aspek kehidupan di bumi. Tapi dari semua itu, hanya 1 yang paling membuat El sangat menarik, yaitu topengnya. Dia selalu mengenakan topeng kemanapun dia pergi. Tak seorangpun tahu siapa dia, asalnya, pendidikannya. Semua ia tutupi dengan sangat sempurna.

Gabe sangat mengaguminya, sejak dia dengan sukarela membagikan seribu El-Core (sebutan untuk reactornya) untuk sepuluh ribu masyarakat tidak mampu. Ya, satu reactor El mampu mensuplay listrik untuk 10 rumah. Dan salah satu rumah yang beruntung itu adalah rumah keluarga Gabe. El sendiri turun tangan dalam instalasi El-Core di rumah Gabe. Itu adalah momen yang paling mengesankan bagi Gabe. Gabe masih ingat betul kejadian itu. Tepatnya 2 tahun yang lalu, saat itu cuaca sangat terik dan El duduk disampingnya sambil menyaksikan para teknisi bekerja.

——2 tahun lalu——

“ehmm.. Tuan, sekali lagi terimakasih..” ucap Gabe sedikit malu-malu.

El tampak menoleh padanya lalu menyenggol pelan lengan Gabe.

“haha.. sudahlah, tak perlu berterimakasih seperti itu. Kamu sudah mengatakannya ratusan kali sejak aku datang kemari.”

Gabe tersenyum padanya, lalu menunduk lagi, masih dengan senyumnya.

“ehmm.. tuan.”

“berhenti panggil aku tuan, panggil aku El saja”

“ya, El..”

“apa?”

“ehmm.. apa kamu tidak rugi banyak dengan membagikan reactor sebanyak ini secara cuma-cuma?”

Tampak El termenung sejenak lalu tertawa pelan.

“haha.. aku tidak punya alasan untuk rugi. Aku membagikan seribu El-Core secara gratis, tapi puluhan ribu core-ku sudah laku dibeli oleh negara-negara lain. Dengan harga yang tidak masuk akal pula. Keuntunganku sudah tak mampu aku tampung lagi, kalau perlu ingin aku terbangkan saja uang-uang itu dengan roket. Hahaha…”

Gabe ikut tertawa melihat tawa El yang tidak terlihat itu. Hingga akhirnya el terdiam lagi.

“tapi aku tidak bisa melakukannya. Untuk sementara ini aku membutuhkan uang-uang itu.”

Alis Gabe mengeryit heran,”memang kenapa?”

El terdiam lalu menoleh pada Gabe seakan menatapnya dalam-dalam.

“untuk menyelamatkan dunia.”

Beberapa detik kemudian mereka berdua terdiam dan saling berpandangan. Seolah mencoba saling mengerti pikiran masing-masing, dan akhirnya El tertawa lagi.

“haha.. kau terlalu serius menanggapi kata-kataku.” Ujarnya sambil mengacak-acak rambut Gabe dan beranjak dari kursi tempat ia duduk tadi.

“eh, El, kau mau kemana?”tanya Gabe heran ketika melihat El berjalan meninggalkannya.

“maaf Gabe, aku harus pergi. Masih banyak rumah yang harus kukunjungi. Dan masih banyak pula biskuit yang harus aku cicipi.” Ujar El sambil mengacungkan biskuit yang dihidangkan ibu Gabe.

Gabe tersenyum tipis, seolah dia juga bisa melihat (membayangkan lebih tepatnya) El tersenyum dibalik topeng hitamnya. Hingga akhirnya sosok El menghilang, Gabe melunturkan senyum di wajahnya, berubah menjadi wajah sendu. Matanya menerawang kosong pada setoples biskuit di depannya. Perlahan tangannya bergerak, mengusap rambutnya yang tadi El acak-acak. Gabe seperti mengingat-ingat sesuatu. Sesuatu yang begitu nostalgic baginya.

—–0—–

“DUAAARRR….!!!”

Sebuah hentakan besar membuyarkan lamunan Gabe. Gabe benar-benar tidak sadar. Tiba-tiba tubuhnya sudah terpelanting ke lantai dan debu menyeruak menutupi pandangan dan menyesakkan dada. Dengan terbatu-batuk, Gabe untuk memahami apa yang sedang terjadi. Tubuhnya kini terbaring di lantai, tertutupi debu dan pecahan tembok yang jebol. Ia mencoba berdiri meski dengan sedikit terhuyung. Sesaat awan debu mulai menghilang, dan pupil Gabe menyempit melihat keadaan disekitarnya.

Gabe seolah telah berpindah di sebuah tempat yang sama sekali berbeda dari ruang kelasnya tadi. Kini semua menjadi puing dan debu. Dilihatnya tembok di sisi kiri ruang sudah jebol dan meja-meja serta kursi berhamburan dan menumpuk di sisi ruang yang lain, seperti baru saja disapu oleh tangan raksasa.

‘apa.. apa yang terjadi??’ batin Gabe yang masih mematung tanpa suara.

“uhuk..uhukk..”

Kepala Gabe segera menoleh ke arah suara itu. Dilihatnya sebuah kilatan kacamata dari balik reruntuhan.

“pak..!”

Gabe segera melewati tumpukan puing-puing menuju tempat tubuh Pak Marcus tertimbun.

Sesampainya disana, Gabe segera menyingkirkan puing yang menutupi tubuh pak Marcus, hingga akhirnya Gabe bisa melihat wajah Pak marcus dan dadanya yang kembang kempis menahan perih.

“lari..”ucapnya lirih.

“pak, tunggu sebentar, saya bantu keluarkan tubuh bapak..!”ujar Gabe sedikit cemas dan mencoba sekeras mungkin mengangkat puing-puing yang menutupi sebagian perut dan kaki pak Marcus.

“lari..! lari kubilang..!” bentak Pak Marcus.

Gabe spontan menghentikan usahanya dan menatap wajah pak Marcus.

Dalam keheningan itu, Gabe bisa mendengar suara mendengung di udara dan dilanjutkan dengan suara dentuman di kejauhan. Pupil Gabe bergetar.

“kau dengar itu? Kita diserang nak.. sekarang larilah! Cari tempat berlindung! Pergilah ke bunker El di sector76, segera cari keluargamu dan pergilah ke bunker itu..”ujar pak Marcus yang terengah-engah.

“tapi pak, bapak..”

“sudah, jangan hiraukan bapak! Percuma, aku sudah tidak bisa merasakan kakiku lagi.”

Bibir Gabe bergetar, ia alihkan pandangannya ke arah reruntuhan yang menutupi kaki Pak Marcus, dan ia juga bisa melihat rembesan darah di bawah puing itu. Mengalir bebas diantara debu dan puing.

“larilah nak, kau masih punya keluarga yang harus kau selamatkan.”

Gabe kembali memalingkan wajahnya ke arah pak marcus, matanya mulai basah. Dilihatnya wajah pak marcus lekat-lekat. Lalu sejurus kemudia dia menggenggam reruntuhan tembok yang menindih kaki pak Marcus dan mengerahkan seluruh kekuatannya untuk mengangkat reruntuhan itu. Namun sekuat apapun dia mencoba, tembok itu tak bergeming.

“wooaaaa…!!!!” jeritnya.

“hentikan Gabe! Sia-sia saja! Pergilah! Lari..!”

Gabe terus berusaha mengangkat puing itu dengan air mata yang terus mengalir deras di wajahnya.

‘apa-apaan ini? Kenapa situasi berubah seperti ini? Kenapa harus terjadi lagi? Kenapa harus terulang pemandangan-pemandangan dimasa lalu? Saat aku harus kehilangan orang-orang yang aku kenal. Bahkan meski orang itu adalah guruku yang paling menyebalkan sekalipun. Aku tidak rela!’

Gabe masih berusaha mengangkat reruntuhan itu, samar-samar ia melihat wajah gurunya lewat matanya yang setengah terpejam karena menahan berat. Ia melihat wajah gurunya yang sedang berteriak-teriak tidak jelas. Gabe sudah tidak mendengarnya lagi. Ia fokuskan seluruh tenaganya untuk mengangkat tembok itu. Pak Marcus terus berteriak hingga akhirnya sebuah ledakan menghempaskan tubuh Gabe.

Awan debu kembali mengepul. Perlahan Gabe membuka matanya. Matanya terasa pedih, darah mengalir ke matanya. Dengan sebelah matanya, dari kejauhan dilihatnya tubuh pak marcus yang makin tertutup puing, menyisakan wajahnya yang menoleh ke arah Gabe.

“larilah..”bisiknya.

Gabe tak kuasa lagi menahan air matanya, dengan susah payah ia berdiri. Untuk sejenak ia menangis dan menatap wajah pak marcus yang tertutup oleh darah dan debu.

“maafkan saya pak.. saya lemah.. saya..”

Pak marcus menggeleng pelan dan tersenyum tipis, “bapak tidak menyalahkanmu nak, maafkan bapak jika bapak terlalu keras padamu selama ini. Bapak hanya ingin kau tumbuh menjadi pemuda yang tangguh dan disiplin. Hingga bisa mengubah dunia seperti El yang kita kagumi. Sekarang larilah.. cari keluargamu.. bapak tidak tahu, apakah setelah ini kita bisa bertemu lagi, untuk itu, ingat kata-kata bapak ini. Barangkali ini adalah kata-kata bapak yang terakhir.”bisiknya.

Gabe tidak bisa berkata apa-apa selain bersimpuh di sisi pak marcus. Masih dengan mata basah.

“ingatlah Gabe, bapak tahu selama ini kau sudah terlalu sering menangis. Kita sudah kehilangan terlalu banyak karena perang, tapi janganlah kau terlalu larut dalam kehilangan Gabe.. menangis bukanlah jawaban atas peperangan. Simpan tangismu, hingga kita benar-benar berada dalam kemenangan. Perdamaian yang hakiki. Untuk saat ini bolehlah kau menangis. Tapi berjanjilah ini adalah yang terakhir. Jadilah kuat Gabe.. jadilah kuat..ingatlah bahwa kau adalah seorang lelaki. Lelaki tak sepantasnya menangis.”

Mendengar itu, Gabe terpaku. Hingga akhirnya ia mengusap air matanya dengan punggung tangannya dan mengangguk ke arah pak marcus.

“bagus.. sekarang pergilah..”ujar pak Marcus lagi.

Gabe mengangguk pelan. Dia berdiri dan untuk sejenak dia terdiam melihat Pak Marcus untuk terakhir kali, hingga suara dengungan itu terdengar lagi, Gabe-pun berpaling dan berlari meninggalkan tempat itu.

‘maafkan aku pak.. aku lemah.. aku tidak bisa melindungi bapak. Aku hanya bisa berlari dan menangis. Hanya inikah yang bisa aku lakukan?’ sesal Gabe.

Suara dentuman datang silih berganti. Menyemburkan apapun yang ada di sekitar. Gabe berlari seperti orang dirasuki. Matanya menyapu sekeliling. Api dimana-mana. Jeritan wanita dan anak-anak menggema seperti alunan musik mars pemakaman. Langit yang semula biru berubah menjadi kelabu dan diantara awan yang gelap melesat beberapa pesawat tempur yang saling menjatuhkan satu sama lain.

Tiba-tiba kaki Gabe terantuk sesuatu hingga membuatnya terjatuh. Dilihatnya benda yang membuatnya terjatuh. Mata Gabe terbelalak, saat melihat tubuh seorang lelaki yang tergeletak tertindih reruntuhan. Gabe segera berdiri lagi dan bergegas meninggalkan tempat itu.

‘ibu… kuharap ibu baik-baik saja.. Tuhan kumohon, lindungilah dia…’ harap Gabe dalam hati. Sementara ia terus berlari. Ditengah api dan ledakan. Diantara puing dan mayat yang bergelimpangan. Dan ditengah alunan jeritan pilu yang menyayat hati.

file 1

 

Tuk-tuk-tuk-tuk-tuk,.

Bunyi ketukan jemari di atas meja terdengar lirih tapi ajeg. Entah sudah berapa ketukan yang ku lakukan sejak duduk di meja ini.

Tuk.

Ah! Berhenti aja. Capek. Bisa kapalan jariku kalau tetap meneruskan ketukanku. Sudah hampir 25 menit aku duduk di salah satu sudut restoran cukup ternama di Jember. Sengaja  kupilih restoran itu untuk membuat seseorang yang kutunggu menjadi terkesan. Ehem! Sayangnya orang yang kutunggu-tunggu tidak kunjung tampak kilau lipstiknya (gantinya batang hidung, biar ga mainstream bro!

Untunglah baru beberapa menit setelah kuhentikan aksi ketuk-ketuk meja, wajah yang kutunggu-tunggu dari tadi muncul dari balik pintu. Ini dia kilau lipstik yang aku tunggu!

Sekejap saja lelaki jangkung ini melambaikan tangan pada wanita itu. Wanita itu membalas lambaian tangannya dan berjalan mendekati mejaku. aku terus tersenyum sejak wanita itu datang, namun senyumku sedikit, sedikit sekali, luntur ketika melihat seorang remaja cowok di belakangnya. Alisku sedikit berkerut.

‘itu..?’

“hai.. aduh maaf yah, tadi jalanan macet, ada perbaikan jalan sih!”

Kukerjapkan mataku dan kembali tersenyum pada wanita manis di depanku ini.

“iya.. gapapa. Baru aja dateng kok.” Ujarku sambil tersenyum . kata-kata yang sudah terlalu klise.

wanita itu tersenyum simpul lalu mengisyratkan cowok di sampingnya untuk duduk. Perhatianku kembali tertuju pada cowok yang kini sedang menarik kursi dengan malas. Wajahnya terlihat sendu.

Melihat wajah cowok itu membuat tanda tanya di kepalaku kian membengkak seakan mendesak kepalaku keluar. Hingga akhirnya bibirku tergelitik untuk berceletuk.

“Hehe.. ini adikmu ya? Kenalin, aku Denov.” Ujarku sambil menjulurkan tanganku ke hadapan cowok itu, tidak lupa dengan senyum yang paling ramah.

Wajah wanita itu berubah menjadi sedikit gelisah dan tersenyum kikuk. Aku juga bingung dengan apa yang terjadi karena entah kenapa saat cowok itu akan menyambut uluran tanganku saja terasa begitu lama. Aku hanya tetap bertahan dengan senyumku. Hingga akhirnya tangan cowok itu menyentuh tanganku, dan wanita itu berkata.

“Dia bukan adikku Nov, ini anakku.”

Mataku yang semula agak menyipit karena tertarik oleh senyumku kini terbuka bulat. Menatap utuh pada wajah cowok itu yang sambil menunduk menggerakkan bibirnya.

“deva.”

Part 1. What?? Once again… what??

Krriiiing….!!

Setelah tiga kali berturut-turut aku matikan bunyi alarm, akhirnya aku berhasil juga mengalahkan rasa kantuk yang melekat di mataku. Begitulah aku. Alarm harus di set 30 menit sebelum waktu bangun, karena aku biasa men-‘snooze’ alarmku selama 10 menit  dan melanjutkan tidurku. 10 menit berikutnya alrm akan berbunyi lagi dan aku matikan lagi. 10 menit berikutnya berbunyi lagi dan aku matikan, nah baru deh aku benar-benar bisa melek. Kalau tidak begitu, bablas!

Kini aku terduduk di ranjang. Kuraih segelas air putih yang  sengaja kusiapkan dari tadi malam di atas meja. Meminum air putih setelah bangun tidur itu baik untuk kesehatan, tapi alasannku sebenarnya adalah untuk membuat mataku benar-benar terbuka. Nah baru deh aku bisa bangun secara sempurna. Ribet memang tapi yah beginilah aku.

Namaku Denov Pramudya. Aku seorang cowok sederhana yang lahir dari rahim seorang wanita sederhana namun berhati mulia pada tanggal 14 November 1988. Umurku akan genap menjadi 25 saat bulan November nanti. Ah! Tidak terasa umurku sudah sebanyak itu, padahal rasanya baru kemarin aku pergi ke sekolah, memakai baju putih biru, dan merasakan cinta monyet dengan beberapa gadis di SMA. Tidak terasa juga, aku sudah menjalani  3,5 tahun paling ngebut di kampusku. Aku juga ga nyangka bisa lulus secepat itu, hehe.. (plakk!! Sombong!). meski hanya sebentar, namun aku mendapatkan banyak hal selama 3 tahun 7 bulan itu. Salah satunya adalah sesuatu yang berhubungan dengan profesiku saat ini; choir. Aku memang sudah pernah tergabung dalam paduan suara sekolah saat SMA, namun bisa dibilang hanya seujung kuku jari. Saat aku kuliah aku sudah mendapatkan banyak materi, ilmu baru dan teman baru. Darisanalah akhirnya aku dikenal sebagai Denov, sang pelatih dan arranger paduan suara UX (Universitas X). Aku juga sekarang bekerja sebagi staff kehumasan di UX, ini juga berkat relasiku dari UKM Paduan Suara. Ah,, serasa sempurna rasanya. Seorang sarjana muda yang mendapatkan pekerjaan dengan pendapatan yang lumayan di umur 24 tahun. Banyak yang bilang aku ini super beruntung! Tapi tidak juga bagiku. Kenapa? Karena ibuku…

“Denov! Sekarang kan kamu sudah sarjana dan bahkan sudah mendapatkan pekerjaan di dua tempat seklaigus. Nah, ini sudah saatnya kamu cari jodoh! Jangan main terus!”

Ya.. sudah 3 tahun aku hidup menjomblo. Hiks.. rekor yang menyedihkan. Ya Tuhan, kumohon beritahu aku kalau ada orang yang lebih lama menjomblo daripada aku! Aku sendiri juga tidak menyangka kalau selama kuliah, tidak ada seseorang yang nangkring di hatiku. Entahlah, mungkin karena aku terlalu sibuk pada kegiatan akademis maupun padus. Tapi menurutku tidak normal juga jika selama itu tidak ada satu wanitapun yang dilirik oleh hatiku. Semepet-mepetnya kegiatan seseorang, sesibuk-sibuknya pekerjaan lelaki, kalau ada cewek mantep sedikit, pasti juga bakal ada deg-deg serr di dada. Nah aku? Am i Gay? Oh no!!

Tidak juga, eh maksudku, tidak! Sudah aku jelaskan sebelumnya kalau aku sudah menjalani beberapa kali momen cinta-cintaan saat aku SMA dulu. Dengan cewek, tolong digarisbawahi ya, cewek. Kegiatanku saat di paduan suara memang agak ekstrim. Kebanyakan orang juga sudah tahu kalau biasanya cowok-cowok di padus itu bengkok, belok, nikung atau apalah itu. Aku sendiri sudah melihat situasi sebenarnya di lapangan. Memang banyak cowok melambai di sana, namun bukan berarti aku harus ikut-ikutan nyiur melambai kan?

Selama kuliah mungkin aku belum menemukan orang yang tepat, karena orientasiku saat itu hingga kini bukanlah mencari pacar, melainkan mencari jodoh. Ya, jodoh yang sesuai sehati denganku, dan kelak akan membesarkan anak-anakku. Ehem, kejauhan kayaknya. Yang jelas pencarianku sepertinya sudah menemukan titik terang. Aku menemukannya saat aku bekerja sebagai staff kampus. Di ruang kehumasan itulah aku bertemu dengannya, Rena.

Singkat cerita, selama beberapa bulan aku mendekatinya, dan tampaknya dia juga menaruh hati padaku. Aku semakin terbuka padanya seiring makin dekatnya hubungan kami. Dia pun melakukan hal yang sama, menceritakan apapun padaku seolah sedang menjelaskan bagaimana dirinya dari sisi baik maupun sisi buruknya. hingga saat aku sudah sangat yakin jika ia juga menyukaiku dan aku yakin jika ia adalah pasangan hidupku, aku pun mengajaknya ke suatu tempat yang jauh dari jangkauan orang lain. Aku ingin mengutarakan sesuatu padanya hari itu. Namun tak disangka-sangka, ia juga mneyiapkan sebuah kejutan yang nggak kalah ‘kurang ajar’ daripada kejutan yang aku siapkan untuknya

“kamu mau bicara apa Nov?”

“hmm.. kamu dulu deh, katanya kamu juga ingin ngomongin sesuatu.”

Rena menunduk. Tampaknya ia ragu dengan apa yang akan ia katakan, hingga bibirnya bergerak ringan.

“aku janda Nov..”

‘jeder..!!jdeerrr..!!’ ratusan kilat seakan menyambar kepalaku, menyetrumku hingga ke ulu hati.

Aku terdiam, melongo padanya dengan senyum hambar yang membuatku tampak seperti orang bodoh. Kulihat dia juga tersenyum gelisah dan matanya juga mulai memerah.

“kumohon kamu mau mengerti. Aku ga mau ada kebohongan di antara kita, karena itu aku mengungkapkan hal ini. Aku harap kamu mau mengerti dan ga berubah.”

Aku masih terdiam dalam sunyi. Leherku terasa begitu kering, dan ludah yang kutelah seakan membawa duri yang membuat tenggorokanku tercekat.

“ehemm..” aku terbatuk pelan.

Kali ini rena sudah mengeluarkan sapu tangannya dan mengelap air matanya, membuat aku jadi tidak tega melihatnya. Akhirnya aku hirup nafas dalam dan kugerakkan bibirku yang nyaris lumpuh ini.

“nggak apa-apa Ren.. kalau boleh tahu, sekarang suamimu di mana?”

Rasanya aku menyesal telah menanyakan hal itu saat melihat air yang keluar dari mata rena makin deras.

“ehm.. maaf Ren.. ya sudah, nggak perlu dijawab ren..”

Tapi dia menggelengkan kepalanya dan menengadahkan wajahnya supaya air matanya kembali masuk ke dalam kelopak matanya.

“suamiku sudah meninggal, satu tahun sebelum aku bekerja di sini. Dia meninggal karena penyakit jantung . sekarang aku tinggal berdua dengan anakku.”

Aku mengangguk pelan. Rasanya otot di leherku sudah tidak bertenaga lagi. Kenyataan ini terlalu pahit untuk kutelan bulat-bulat. Apalagi saat mengingat benda di dalam saku celanaku ini.

“apakah ada orang lain yang tahu mengenai statusmu ini Ren?”

Dia mengangguk, “ya.. beberapa orang dalam staff Universitas sudah tahu. Hanya kamu yang nggak aku beritahu, karena… karena aku ingin makin dekat denganmu. Dan.. dan aku ga mau hal ini membuatmu berubah menjauhiku.”

Aku kembali terdiam. Terhenyak dan khidmat dalam suara rena yang serak dan terisak.

“tapi, makin hari hubungan kita makin dekat dan entah kenapa aku merasa aku harus mengungkapkan hal ini.” Sambungnya lagi, dan kali ini dia benamkan wajahnya dalam helai sapu tangan berwarna pink. Basah.

Saat itu aku tidak sanggup berpikir lagi. Aku sudah terlanjur sangat dekat dengannya. Sudah ada ‘sayang’ yang tumbuh menjalar di hatiku. Tapi, dia justru menggocangnya dengan sesuatu yang nyaris tidak bisa kuterima. Hingga akhirnya aku tidak mau berpikir lama lagi. Kurogoh isi saku celanaku dan kukeluarkan sebuah kotak hitam mengkilat ke arahnya. Perlahan, saat ia menurunkan sapu tangan dari wajahnya, matanya bergerak-gerak melihat kotak kecil yang kuarahkan padanya. Wajahnya tampak kebingungan, sampai aku tersenyum kecil dan membuka tutup kotak itu.

Sebuah kilau keperakan terpantul di bola matanya. Matanya bergerak-gerak, menatap bergantian ke wajahku dan pada benda kecil yang terselip di busa kotak itu. Sebuah cincin perak dengan permata mungil di tengah lingkarannya.

“I..ini.. maksudnya apa Nov?”

Yah..dia berlagak ga tahu segala. Aku tersenyum makin lebar. “aku ingin melamar kamu Ren.. cincin ini aku berikan sebagai tanda permohonanku untuk menjadikanmu calon istriku.”

Nah lo.. gantian sekarang aku yang membuat petir menyambar-nyambar di kepalanya. Ia tampak gelagapan. Ekspresinya berganti-ganti antara senang, sedih terkejut dan tidak percaya. “ta.. tapi.. aku sudah..”

Kata-katanya berhenti, karena aku menggenggenggam tangannya dengan lembut dan kutatap matanya yang berkilauan itu dalam-dalam. “aku sudah siap menanggung semua itu Ren.. aku sudah lama menyukaimu dan aku sudah benar-benar yakin kalau kamu adalah pasangan hidupku. Yah.. meski hal itu cukup membuatku terkejut, tapi… percaya sama aku Ren.. aku janji akan menanggungnya bersamamu. Beban berat yang selama ini kamu pikul, biarkan aku turut memikulnya. “

Rena memandang wajahku dengan rasa takjub dan tidak percaya, ia hanya membisu dan menatapku.

“ren.. menikahlah denganku..”

Kesunyian seolah merebak. Bagai kabut tipis yang sangat dingin, yang bahkan membekukan waktu. Udara di sekitar kami seakan berhenti bergerak dan membuat dadaku sesak. Namun semua itu kembali berjalan ketika tangannya menutup kotak cincinku. ‘apa??!! Kau menolak?!’ batinku panik. Namun ia menggenggam tanganku dengan erat dan senyum getir yang elok.

“terima kasih Denov.. jujur, aku juga sudah lama menyukaimu sejak kita pertama kali berjumpa di kantor. Aku juga benar-benar merasa terharu kamu mau mengerti bahkan mau menanggung beban ini bersamaku. Tapi.. aku pikir, kita butuh waktu lebih lagi untuk mengenal Nov.. ini terlalu mendadak buatku. Dan… kamu juga belum mengenal keluargaku, dan anakku.”

Tenggorokanku kembali tercekat. Ya, saat itu tenggorokanku seolah terganjal sebuah duri panjang dan menyakitkan sekali rasanya. Namun aku mengangguk dengan senyumku yang paling hangat.

Dan jadilah momen seperti saat ini. Aku berjanji akan mengajaknya makan malam di sebuah restoran yang cukup menguras dompet. Aku sudah berlatih untuk bersikap ramah dan semenyenangkan mungkin di hadapan anaknya, karena bagaimanapun dia adalah kunci sukses perjalanan cintaku dengan rena. Dan, dia juga akan menjadi anakku nantinya. Aku pikir aku harus menyiapkan wajah dan senyum seceria mungkin karena aku pikir anak rena pasti berumur sekitar 3 tahunan, karena menimbang umur rena sekarang yang baru 27 tahun (‘baru’? ya, rena memang lebih tua 3 tahun denganku) Hmm.. kadang aku berpikir, padahal ga ikut bikin, ga dapet enaknya tau-tau dah dpt anak, ha..ha..ha.. (tawa getir).

Hussh..! pikiran itu sudah aku  buang jauh-jauh sebelum aku duduk menunggu di meja restoran itu. Hingga akhirnya ia datang, membawa kejutan kedua yang membuatku ingin mencabut seluruh helai rambut di kepalaku.

Senyum ramahku berubah menjadi senyum orang bodoh, sampai anak bernama deva melepas uluran tanganku dengan cepat. Kulirik rena dengan tatapan bingung. Wajah rena juga tampak malu dan agak menunduk seperti cowok yang ia aku sebagai anaknya.

Suasana menjadi beku untuk beberapa detik. Kuturunkan tanganku dan tanpa sadar aku tersenyum kecil. Ternyata perkiraanku tentang umur anak rena jauuuuhh sekali meleset. Penampilan anak rena sudah seperti anak remaja, suaranya juga… aaaarghh tidak mungkin. Pertumbuhan anak zaman sekarang kan cepet kayak anak nyamuk. Mungkin dia masih sd kelas.. yah… 3 atau 4.

“oh.. ini putramu yang kamu ceritakan dulu.. wah..aku ga nyangka kalau sudah sebesar ini. Haha.. pertumbuhan anak zaman sekarang emang pesat ya..”

Rena masih terdiam, hanya senyum kecil yang manis. Sementara cowok itu tampak cuek dan memainkan ponselnya. Gila.. anak SD udah punya hape? Aish… anak zaman sekarang.

“emm.. deva, sekarang deva kelas berapa?” tanyaku dengan nada manis yang terlalu kentara dibuat-buat.

“sebelas.” Jawabnya singkat.

“oh.. umurmu sebelas tahun.. berarti sudah kelas lima ya..” terkaku. Tentu saja ini makin membuatku bingung. Perkiraanku salah lagi! Aku makin ga nyangka rena yang berumur 27 tahun sudah mempunya anak berumur sebelas tahun. Apa mungkin ia menikah dan melahirkan di usia  18 tahun?? Tutup buku, buka terop, gitu? Arrrgh.. rena.. kau membuatku makin takjub.

“ck, maksudku kelas 11. Kelas 2 SMA. Jangan belagak bego lah..”

Jariku yang semula memegang menu book seketika membeku. Kutengadahkan wajah melongoku padanya. ‘anak ini…’

“hush.. deva! Jangan bilang gitu!” pekik Rena tertahan. Wajahnya begitu tegang dan cemas luar biasa. Ia bahkan tidak berani menatap wajahku.

Apalagi ini? Aku tidak bisa mengucapka apa-apa lagi setelah itu. Aku hanya bisa bilang; “nggak apa-apa kok Ren.. haha.. iya aku yang terlalu belagak bodoh. Ayo Dev, kamu mau makan apa?”

Setelah menyatakan pesanan kami masing-masing, tidak ada percakapan lagi di antara kami bertiga. Aku terdiam, memandangi rena yang tertunduk diam tanpa kata, dan berganti memandangi deva yang sudah kehabisan ide dengan ponselnya, kini memangku pipinya di atas meja dan memandang ke arah lukisan-lukisan di dinding restoran.

Rahangku mengeras. Aku sama sekali tidak menyangka kalau anak ini akan menjadi anakku nantinya. Bukan tidak menyangka sih, lebih tepatnya tidak rela! Jujur saja, melamar rena yang berumur 3 tahun lebih tua dariku dan statusnya yang janda saja sudah menjadi bahan pertimbangan keras orang tuaku. Sudah kutelan ratusan teriakan tangisan dan omelan kedua orang tuaku, namun aku tetap bersikukuh dengan kemauanku dan akhirnya mereka mau menerima, itupun dengan seonggok pentol mengganjal di hati mereka. Kini aku tidak tahu bagaimana lagi menjelaskan fakta terbaru, bahwa mereka akan memiliki seorang calon cucu yang sudah lancing* seperti ini. Ibuku pasti akan menangis sambil mengepel lantai. Bagaimana nanti dilihat orang-orang? Seorang sarjana muda dan tampan memiliki seorang istri janda yang lebih tua tiga tahun dan dengan seorang anak tiri yang duduk di bangku SMA? Semua terlihat jadi mustahil, satu logika yang terbersit dipikiran pastinya Aku atau Rena adalah orang yang ga bener, yang mungkin melakukan hal tidak senonoh di umur yang masih belia.

Dan satu hal lagi yang memborok di hatiku adalah.. mulut anak ini… siapa sangka dengan wajahnya yang tampak begitu polos dan sendu bisa mengeluarkan kata-kata kurang ajar itu pada orang yang baru dikenalnya. Meng-ha-ru-kan!!

Aku menghela nafas panjang. Tanpa kusadari ritual makan malam yang berlangsung alot dan dingin itu berakhir. Makanan mahal yang seharusnya terasa super enak itupun jadi terasa hambar di mulutku.

‘ting’

Mataku kembali menyorot ke arah deva. Dia baru saja menghabiskan daging panggangnya dan kini mengelap bibirnya dengan kain lap. Lalu ia berdiri. “terima kasih om atas makanannya.” Kemudia dengan tanpa beban dan tanpa menunggu jawaban dariku –yang hanya melongo- ia berjalan meninggalkan meja kami.

“Dev.. Deva..!” panggil rena.

“aku tunggu di mobil.” Ucap anak itu tanpa menoleh.

Rena hanya menggeleng dan wajahnya memerah antara mau dan marah. Ia masih sesekali menatap mataku dan langsung ia menunduk. “maaf Nov.. mungkin.. deva masih belum siap..”

“rena..”

Rena seketika menatap wajahku.

“sepertinya kamu ingin menjelaskan sesuatu.”

Mata rena tampak membulat dan ia tertunduk dengan bibir bergetar.

“maaf denov.. aku saat itu nggak bilang ke kamu.. inilah kenyataannya nov. Dia sebenarnya bukan anak kandungku.”

Untuk kesekian kalinya aku melongo. Aku heran, kenapa rena bisa menyimpan begitu banyak kejutan untukku.

“dia adalah putra almarhum suamiku dengan almarhum istrinya.”

Alisku yang semula naik tajam, perlahan menurun dan aku menunduk. ‘anak itu… ternyata.. yatim piatu?”

“saat aku menkahi ayahnya, aku berumur 24 tahun. Ayahnya begitu baik padaku dan entah kenapa aku juga mencintainya meski jenjang umur kita begitu jauh. Saat itu juga aku mengenal deva dan aku berjuang menjadi ibu yang baik untuknya. kasihan deva, Nov.. saat ayahnya meninggal,  umurnya masih 15 tahun. Hal itu pasti sangat berat baginya, apalagi sanak kerabat ayah maupun ibunya tidak ada yang mau merawatnya. Hanya tinggal kami berdua di rumah, dan hanya aku yang dia punya. Kehilangan ayah dan ibu itu yang mungkin membuatnya menjadi anak tertutup dan sensitif. Tampaknya dia juga kurang menyukaiku sejak awal kami bertemu dan kini mungkin makin tidak menyukaiku karena aku menjalin hubungan dengan lelaki lain selain ayahnya.”

Aku menunduk lesu. Mataku bergerak-gerak pilu membayangkan wajah anak itu. Aku ga nyangka kalau hidupnya bisa setragis itu. Kematian kedua orang tuanya pasti sangat berat untuknya, terlebih lagi ia harus hidup dan tinggal bersama ibu serta ayah baru. Aku ga bisa membayangkan bagaimana rasanya, tapi yang pasti akan terasa ‘ganjil’. Sedikit demi sedikit aku sudah mulai mengerti dia dan mengenai kata ’bego’ tadi aku sudah memaafkannya.

“karena itu denov, aku harap kamu mau me…”

Sebuah suara dering hape terdengar cukup lantang dari dalam tas tangan Rena. Sedikit terburu ia mengambil hapenya dan mengangkat panggilan telfon itu. “iya Deva..? iya mama habis ini keluar kok. Sabar ya sayang..” wajah rena tampak getir,”.. sudah ditutup.” Sambungnya sambil mengembalikan hape ke dalam tas.

‘hmm.. anak itu.. kenapa menyebalkan sekali sih??!’ batinku. Rasa iba yang tadi sempat merebak di hatiku kini kembali berkobar. Namun aku berusaha untuk tidak menunjukkan itu di wajahku. Aku hanya tersenyum kikuk.

“hmm.. sekali lagi maafin aku dan deva ya.. aku harap kamu mengerti..” ujar rena sambil bangkit dari mejanya. “oh ya, ini uangnya..” sambungnya lagi sambil merogoh tasnya.

Aku langsung saja berdiri dan mencegahnya. “eh, nggak usah ren, biar aku yang bayar.. kan aku yang mengundang kalian kemari.”

“aduh.. nggak apa-apa nih?” tanya rena ragu. Tampaknya dia paham betul kalau harga makanan di restoran ini tidak murah. Tolong digarisbawahi, sama sekali tidak murah.

“iyaa gapapa… udah kamu pulang aja duluan nggak apa apa. Kasian si deva nungguin.”

Rena terdiam, aku pun juga perlahan jadi ikut terdiam dan senyumku kian memudar menjadi getir, sama seperti wajahnya.

“nov.. melihat kenyataan seperti ini, apakah kamu masih bertahan dengan keputusanmu waktu itu?”

Pertanyaan rena menghujam dalam di jantungku. Itu juga pertanyaan yang daritadi aku pikirkan dan tidak juga menemukan jawabannya. Aku menatap mata rena yang masih setia tidak berkedip menanti jawabanku. Melihat itu seketika hatiku menjadi luluh, bibir ini bergerak dengan sendirinya.

“tentu saja! Aku tetap mencintaimu dan aku akan mencintai deva layaknya anakku sendiri. Aku janji!”

Seketika bibir rena melengkung terharu, dan tak kusangka, dia memelukku!

“terima kasih denov… aku dan deva pasti beruntung,  mempunya sosok ayah sepertimu.” Bisiknya di pundakku.

Seketika wajahku memerah. Ia melepas pelukannya dan tersenyum padaku sebelum akhirnya ia berjalan menuju pintu keluar restoran. Meninggalkan aku berdiri terpaku di sana dengan wajah yang bersemu. Tak kuperhatikan lagi bagaimana mata para pengunjung melihatku. Aku langsung duduk di kursi dan tersenyum simpul. Entah kenapa aku makin yakin kalau dia adalah jodohku, meskipun begitu banyak halangan dan ganjalan yang terhampar di depanku.

Saat mataku jatuh di piring deva yang kosong, sekilas aku terbayang wajahnya. Wajah sendu polos namun menyebalkan. Aku tersenyum lagi, kini lebih lebar. Aku pun menyandarkan punggungku di sandaran kursi.

“hmm… rena… deva.. ini pasti akan menjadi perjalanan menuju bahtera keluarga yang seru!” gumamku pelan.

“permisi pak..”

Sebuah suara asing memecah lamunanku. Kulihat seorang waiter yang menyodorkan secarik kertas padaku.

“ini bill-nya pak..”

“oh iya, terima kasih..”ujarku dengan senyum yang paling ramah. Namun semua berubah ketika aku melihat angka-angka yang tertera di secarik kertas itu.

“wha…. whatt..!!!?”

to be continue

 

 

 

 

 

 

 

LUKISAN #1

LUKISAN 

by: Zalanonymouz

 Sebuah mobil hitam mengkilat tampak merayap menerobos padatnya keramaian pasar. Di tengah panas teriknya matahari, kehadiran mobil itu tampak jelas kentara di antara warna-warna kusam pakaian orang-orang pasar. Refleksi warna lukisan-lukisan yang terjejer di tepi kanan kiri jalan tampak berpendar redup di badan mobil hitam itu. Akhirnya bayangan-bayangan lukisan yang terus bergerak mengikuti laju mobil itu berhenti. Berhenti pada sebuah bayangan seorang lelaki muda bertelanjang dada dengan jari jemarinya yang sibuk mengoleskan cat pada kanvas. Semula lelaki itu tak peduli pada mobil mewah yang berhenti di kios lukisannya, hingga akhirnya ia terpaksa menoleh ketika mendengar bunyi pintu mobil yang terbuka. Matanya menoleh ke arah sosok yang menyembul dari pintu mobil yang terbuka. Matanya seketika membeku.

Dari pintu itu, dia keluar. Rambut hitamnya yang legam tampak berkibar ringan tertiup angin pasar yang kering. Jari jemarinya yang putih memegangi bingkai pintu bagian atas, dan wajahnya yang sama putihnya menengok ke arah kios lelaki itu. ia tersenyum.

Lelaki itu tampak tidak bisa berkata apa-apa selain menjatuhkan kuasnya. Perlahan dia berdiri, menyambut lelaki yang keluar dari mobil itu berjalan ke arahnya. Bahkan hingga saat lelaki putih itu sudah berada dalam jarak peluknya, dia masih tetap tak bergeming. Matanya bergerak-gerak menatap sosok yang telah lama ia rindukan. Dan kini ia datang dengan penampilan yang ‘sedikit’ berbeda. Dia mengenakan setelan jas berwarna hitam selegam rambutnya, tampak begitu kontras dengan warna kulitnya. Di tangan kirinya, terpaut dengan manis sebuah jam berwarna keperakan dengan kilau yang menyilaukan mata lelaki itu. Sepatunya yang berwarna hitam itu mengkilat, seperti mobilnya. Seorang lelaki dengan pakaian rapi baru saja keluar dari mobil hitam legam itu. Supir tampaknya. Sungguh dia, lelaki putih itu, benar-benar seperti seorang eksekutif. Namun, balutan mewah itu tetap tidak mampu menutupi kemudaannya. Dia, di dalam balutan hitam itu, masih sama seperti dulu. Wajah yang kaya akan warna. Lelaki itu tak bisa melupakan sama sekali bagaimana parasnya sejak terakhir kali ia bertemu. Ya, ia masih sama seperti dulu, hanya satu detil saja yang berbeda, dan itu membuat lelaki itu ragu untuk meyakinkan dirinya kalau lelaki putih di depannya itu adalah orang yang dulu pernah mewarnai hatinya. Satu detil. Matanya.

Bagian 1. Mata

Seorang anak kecil berlari sambil sesekali mengusap matanya, hingga akhirnya ia sampai di depan sebuah pintu rumah yang sangat sederhana. Dengan sedikit keras, anak itu menggedor pintu rumah itu.

“Nenek…!”

Suaranya yang kecil terdengar serak dan parau. Beberapa kali ia meneriakkan kata itu dengan dahak kental yang mencekat tenggorokannya, juga isak yang sesekali mengganggu nafasnya. Memutus kata-katanya seperti orang cegukan.

Akhirnya sebuah jawaban dari dalam rumah terdengar samar dan lama kelamaan terdengar kian mendekat. Pintu terbuka. Dan seorang nenek berumur 60an langsung mendapati tubuhnya dipeluk anak itu. Daster tipis yang nenek itu kenakan langsung basah oleh air mata anak itu.

“aduuh… kenapa lagi..?”  tanya nenek itu dengan alis berkerut menurun.

Diusapnya rambut anak kecil itu sambil membawanya masuk ke dalam rumah. Di ruang tamu ia di dudukkan di kursi, masih dengan wajah terbenam di perut neneknya.

Nenek itu terus mengusap kepala si anak yang kian menangis histeris dan sesengukan. Sesekali nenek itu juga menyiulkan desis pelan untuk menenangkan cucunya. “ada apa Bintang.. cerita ke nenek..”

Anak itu masih terus menangis di perut nenekya, hingga suaranya yang putus-putus terdengar pelan, teredam di perut neneknya.

“Bintang.. ga mau seko..lah lagi.. nek…. “

Mata tua nenek tampak melebar mendengar jerit parau cucunya itu.

“Loh.. kenapa? Bintang jangan bilang gitu… Bintang harus sekolah..”

Anak bernama Bintang itu menggeleng-geleng di perut neneknya, membuat air matanya merembes makin luas di daster nenek.

“Nggakk..!!”

Nenek akhirnya menghela napas panjang. Dia terus membelai kepala cucunya. Terasa seakan makin dalam perasaannya dalam tiap belaian itu.

“Kenapa? Kenapa tiba-tiba Bintang ga mau sekolah? Katanya mau jadi ilmuan? Kok sekarang minta ga sekolah? Kenapa? Cerita ke nenek..”

Tangis Bintang mulai mereda, namun masih terisak dan sesengukan, hingga ia mengangkat wajahnya. Seketika nenek merasa kalau ia tahu permasalahannya. Harusnya ia sudah tahu sejak awal. Permasalahan ini sudah lama menjadi momok bagi cucu satu-satunya itu.

Melihat wajah cucunya itu terasa seakan ada pisau yang menusuk hatinya, membuatnya terasa begitu berat untuk berdetak. Mata nenek itu mulai terasa basah ketika melihat wajah cucunya yang basah oleh air yang mengalir deras dari kedua matanya. Mata yang kiri yang berwarna hitam mengkilat, penuh dengan berkas-berkas cahaya karena tergenang oleh air mata, seperti biji buah sirsak yang basah oleh embun. Namun mata satunya, mata sebelah kanan, sebuah kabut putih tipis melayang di biji sirsak itu. Dan mata itu juga sama-sama menangis.

“Bintang di ejek lagi nek… temen-temen pada ngejek bintang..  ramai-ramai! Bintang ga kuat.. Bintang ga mau sekolah lagi..!”

Sebuah pisau lagi menghujam jantung tua nenek, membuat nenek kian berat untuk bernapas. Ia seharusnya sudah bisa menebaknya sejak awal. Nenek itu tak bisa berkata apa-apa lagi, selain merapatkan wajah cucunya itu di dadanya, di tempelkan pipinya di kepala cucunya dan tangan kanannya mengelus lembut kepala cucunya itu dengan perasaan yang begitu dalam dan haru.

“Sabar ya Bintang… Kamu harus tetep sekolah.. Sakit Bintang cuma sebentar kok. Besok juga sembuh.. Udah bintang jangan nangis lagi ya..” ujar nenek dengan suara yang setengah pilu. Mencoba menahan.

“Beneran nek? Bintang bisa sembuh?”

Bintang bisa merasakan di kepalanya, wajah nenek yang mengangguk.

“Iya.. Nanti kalau nenek sama ibu sudah punya uang, kita beli obat buat Bintang biar Bintang bisa sembuh.”

“Kapan nek?”

Agak lama nenek tidak menjawab, hingga terdengar suara yang begitu rapuh dan tipis. Seolah hanya bergantung pada asa yang setipis kabut.

“Besok..”

Anak kecil itu, yang memang belum dapat memahami maksud terlalu dalam akan kehidupan hanya bisa tersenyum, menghapus air matanya dan membenamkan wajahnya di pelukan sang nenek. Hatinya mulai terasa ringan. Dalam hati mudanya ia bersorak, akhirnya besok dia sembuh, dan tidak ada lagi teman yang mengejeknya.

Namun, lambat laun ia harus mengerti. Besok demi besok, lusa demi lusa, minggu demi minggu, bahkan bulan dan tahun terus bergulir tanpa ampun. Dan ‘besok’ yang ia nantikan tidak pernah datang.

Dia harus terbiasa untuk mendengar kata ‘besok’ dari nenek dan ibunya. Dia harus terbiasa untuk menutup telinga dan matanya ketika teman-temannya mengejeknya.

“Bintang mata picak! Bintang anak Dajjal!”

Bintang mencoba untuk mencacatkan satu bagian lagi dari tubuhnya, yaitu telinganya. Sekalian saja agar ia tidak bisa lagi mendengar suara-suara menyakitkan itu. Tapi percuma, itu adalah hal yang mustahil ia lakukan. Ia tidak bisa berbuat apa-apa selain membiarkan suara-suara itu menerobos masuk ke dalam lubang telinganya, dan tak jarang menembus masuk ke hatinya.

 Air mata Bintang lambat laun sudah kering. Dia tidak lagi menagis karena ejekan-ejekan yang sebenarnya masih memberikan rasa sakit menusuk di hatinya. Namun semuanya berjalan seperti angin lalu.

Anak-anak makin tumbuh dan berkembang. Tidak hanya tubuh yang semakin tinggi dan bongsor, namun pikiran dan rasa kepedulian juga makin berkembang. Lambat laun, mereka sadar, atau mungkin bosan. Dan akhirnya ejekan ‘mata picak dan anak dajjal’ itu menghilang.

Bintang saat itu sebenarnya tidak begitu mengerti arti ejekan ‘anak dajjal’ yang dilontarkan teman-temannya, meski entah kenapa Bintang merasa itu tidak baik. Suatu hari ia bertanya pada neneknya. “Apa Dajjal itu nek..?”

Nenek yang mantan anak pesantren hanya tersenyum sambil menjemur pakaian. Dia menerangkan deskripsi sederhana yang mungkin bisa diterima oleh anak berumur 8 tahun.

“Dajjal itu.. raksasa jahat yang matanya satu. Nanti saat hari kiamat, dia datang dan menculik anak-anak yang malas solat. Makanya kamu harus rajin solat!”

Nenek mengatakan itu dengan ringan dan sedikit bercanda. Ia tidak melihat di belakangnya, cucunya, mengerutkan bibir dan matanya. Dengan cepat ia berbalik dan berlari meninggalkan neneknya. Dia kesal, dia sedih. Dia merasa teman-temannya terlalu tega padanya. Akhirnya yang bisa bintang lakukan adalah membanting tubuhnya di kasur dan membenamkan wajahnya di bantal. Menangis.

Tapi toh, itu tidak berlangsung selamanya. Semakin tinggi jenjang sekolah dasar yang bintang dan teman-temannya lalui, makin matang pula otak mereka. Ejekan itu makin hilang, dan akhirnya pada kelas 5, olokan itu tidak pernah terdengar lagi.

Bintang hanya tersenyum getir ketika mengingat masa lalunya. Di depan cermin, ia duduk dan tanpa terasa satu tetes embun menggantung di kantung matanya. Dengan sigap ia mengusapnya dengan jarinya. Kini ia memandangi cermin. Di sana tampak bintang yang tentu tidak lagi sama dengan bintang yang dulu. Pipi agak tembem berwarna putih kemerahan itu sudah tidak setembem dulu. Giginya yang dulu jarang-jarang, kini berganti menjadi deretan Gigi putih mungil yang rapi. Wajah yang dulu bulat mungil kini berubah menjadi wajah remaja dengan dagu yang agak runcing. Tapi tentu ada beberapa yang tidak berubah. Rambutnya yang lurus dan hitam tergerai begitu kontras dengan kulitnya yang putih. Bibirnya yang tipis berpendar merah segar, meski tanpa polesan lipstik. Dan mata itu. Masih sama seperti dulu. Mata kirinya yang mengkilat hitam seperti biji sirsak masih di temani dengan pasangannya yang tertutup kabut putih. Seketika bintang memejamkan matanya dan menghela napas dalam.

Lelaki itu bernama Bintang Fahreza. Sekilas penampilannya begitu cerah seperti bintang fajar. Semua orang pasti akan berpendapat sama sepertiku ketika melihatnya. Seorang lelaki yang sekilas tampak nyaris sempurna. Nyaris saja. Seseorang akan menyadari kekurangan Bintang ketika ia menatap lurus wajahnya, ketika matamu bertemu langsung dengan kedua matanya. Mata kanannya seolah tidak kompak dengaan mata kirinya yang hitam legam. Ya, mata sebelah kanan Bintang terkena penyakit katarak sejak ia masih dalam kandungan. Dan masih ia sandang hingga kini.

Ini bukanlah hal yang ringan bagi Bintang. Sedari kecil ia harus mendapatkan perhatian dan perlakuan yang berbeda dengan anak-anak lain seusianya.setiap orang akan menurukan alis atau menggerak-gerakkan matanya dengan sedikit heran bercampur iba, melihat bergantian ke kedua mata bintang. Tatapan mata yang sangat Bintang benci.

Bintang juga harus menguatkan hatinya ketika ada orang yang menanyakan berbagai hal tentang mata kanannya.

“Mata kamu kenapa?”

“Sejak kapan mata kamu sakit?”

Bintang sangat memaklumi wujud simpati mereka, namun tetap saja pertanyaan-pertanyaan itu membuat Bintang risih. Setelah sekian lama Bintang hidup dengan olok-olok tentang matanya, Bintang mencoba untuk tegar dan membangun kepercayaan dirinya. Ia berusaha melupaka kekurangannya dan meyakinkan dirinya bahwa ia adalah orang yang normal sama seperti yang lain. Namun pertayaan-pertanyaan itu datang, seolah menjadi perkembangan lanjut dari olok-olokan masa kecilnya. Pertanyaan-pertanyaan itu membuat benteng yang ia bangun susah payah, hancur lebur, menjadi tumpukan debu di kakinya. Memperlihatkan kembali pada Bintang tentang dirinya yang sebenarnya. Bintang yang cacat mata sebelah kanannya.

Kadang Bintang harus menghela napas dalam sebelum menjawab pertanyaan itu, kemudian menjawabnya denga sebuah seyum yang ia paksakan lengkungnya.

“Bintang…! ayo turun! Dimas sudah datang tuh!”

Suara ibunya dari kejauhan itu seketika membuka matanya. Dengan segera ia merapikan rambut dan menyelimpangkan dasi sekenanya di kerah seragam lalu menyambar tas pinggangnya. Masih dengan tergesa ia setengah berlari menuju dapur dan menyambar roti yang di sediakan ibunya.

“Ngapaian aja sih? Ganti baju aja lama banget! Buru-buru kan jadinya!”

Bintang seakan tidak mempedulikan omelan ibunya. Ia terlalu sibuk mengunyah roti dan meminum susunya dan setelah menghabiskan satu lembar roti dan segelas susu, ia berdiri dan bergegas menuju halaman rumah.

“Loh? Ga dihabisin rotinya?” tanya ibunya yang menyusul ke halaman rumah.

“Nggak bu, nanti telat!” ujar bintang sambil terus berjalan menuju pagar.

Di balik pagar itu, sebuah motor Tiger bertengger dengan gagahnya, tidak kalah dengan cowok yang menungganginya. Saat Bintang membuka pagar, cowok itu membuka kaca helmnya, memperlihatkan wajah segar yang seketika membuat Bintang tersenyum malu.

“Maaf lama ya?” bisik Bintang.

“Nggak kok, aku juga baru datang.”jawabnya dengan senyum yang hangat.

Bintang membalas senyum itu dan berbalik untuk menyalami tangan ibunya yang berjalan mendekati pagar.

“Bintang sekolah dulu ya..”

“Ya..” balas ibu bintang sambil membiarkan punggung tangannya dicium. Lalu ia mencondongkan wajahnya di dekat wajah Bintang sambil berkata dengan suara pelan, nyaris berbisik. “Uang sakunya masih ada kan?”

Bintang nyengir dan mengangguk. “Masih kok.”

“Hmm.. ya deh. Nak Dimas..” ujar ibu bintang saat dimas turun dari sepeda motornya dan menyalami tangan ibu bintang. “Hati-hati, jangan ngebut-ngebut.”

“Iya tante.. Tenang aja, hehehe..”

Setelah itu keduanya menaiki motor. “Ya dah Bu, kita berangkat dulu ya..! Lekum!”

“Ck.. Iya.. Waalaikum salam… “ balas ibu bintang. Saat motor yang bintang tunggangi berjalan menjauh, Bintang bisa melihat ibunya menggeleng-gelengkan kepala dengan bibir bergerak-gerak seolah mengucapkan sesuatu. Bintang bisa mengira kata-kata apa yang diucapkan ibunya itu. Pasti, “lekum..lekum… doa kok dibuat mainan!”

Bintang hanya tersenyum kecil, dan ia memalingkan wajahnya kembali ke arah depan. Tanpa ragu, ia mengalungkan tangannya di tubuh Dimas dan menyandarkan pipinya di punggungnya.

“Duh.. Bintang.. ntar kalau ada yang ngeliat gimana?”

Bintang seolah tak peduli dan mempererat pelukannya. “Biarin.. toh mereka ga kenal aku juga.”

Dimas tidak menjawab lagi setelah itu. Mata Bintang melirik ke arah spion dan melihat Dimas menggeleng pelan dengan senyum tipis. Bintang tersenyum geli dan memejamkan matanya.

Kapan lagi ia bisa merasakan hal seperti ini? Memeluk orang yang membuat merasa berarti. Melupakan sejenak akan ketidaksempurnaan yang ia sandang. Kalau bukan karena dia.

Dia bernama Dimas Aprilio. Bintang bertemu dengannya saat ia memasuki bangku SMA. Mereka satu kelas saat masih kelas 1, namun justru mereka tidak mengenal akrab satu sama lain pada mulanya. Hubungan mereka benar-benar dimulai ketika mereka pergi ke Bali dalam kegiatan study tour.

Bali menawarkan banyak sekali tempat wisata. Rombongan kelas Bintang lebih banyak tour dari pada study. Banyak tempat wisata yang mereka kunjungi, dari Sanur, GWK, Dream Land, Benoa, Pulau Penyu, Joger, Sukowati, Tanah Lot, dan yang pasti ke pantai Kutha, Las Vegasnya Pulau Dewata. Selama study tour itu, Bintang dan  Dimas satu kelompok. Masing-masing murid memang dibagi mejadi beberapa kelompok.

Malamnya, mereka menginap di sebuah hotel yang tidak begitu mewah namun sudah sangat nyaman untuk ukuran Bintang. Ranjangnya ada dua dilengkapi dengan AC, televisi, kulkas, dan kamar mandi dalam. Wah.. ini fasilitas yang sangat bagi Bintang. Malam itu, teman-teman satu kamarnya tidak terlihat batang hidungnya sejak turun dari bis. Rupanya mereka asik berpesta arak di kamar teman yang lain. Jadilah kamar yang Bintang singgahi kini menjadi miliknya sepenuhnya. Dengan ringan ia membanting tubuhnya di atas ranjang empuk berpegas itu, membuat tubuhnya terpental ringan beberapa kali, seperti mengambang di kolam yang sejuk. Ranjangnya tidak berpegas seperti yang saat ini ia tiduri. Tidur di ranjang itu langsung saja memanjakan matanya untuk segera menutup, dan tertidurlah Bintang.

Tik..

Tik..

Tik..

Suara detak jam dinding memecah kesunyian dan lelap Bintang. Ada sesuatu yang membuatnya terjaga. Perlahan ia membuka matanya yang redup. Ia merasakan sesuatu yang hangat menyelubungi tubuhnya. Bukan selimut. Tubuh Bintang tidak tertutup seluruhnya seperti saat mengenakan selimut. Tubuhnya masih bisa merasakan dinginnya udara AC meraba kulitnya. Namun ada perasaan hangat yang mengalungi punggung dan perutnya. Hingga akhirnya ia sadar, ada seseorang yang memeluknya.

Perlahan bintang mencoba untuk melepaskan diri. Ia tengok ke arah belakang, mencoba melihat siapa yang memeluk dirinya.

Deg!

Mata kecil bintang melebar, ketika melihat wajah yang begitu dekat dengan wajahnya. Wajah Dimas. Jantung bintang seketika memburu. Ia tidak bisa mengontrolnya. Ia memalingkan wajahnya dengan gelisah. Ia melihat ke sekeliling, teman-temannya tidak ada. Suara tertawa mereka juga sudah tidak terdengar lagi. Tampaknya mereka sudah pada teler dan tidur di kamar lain. Suasana benar-benar sepi sekarang, tapi jantung bintang terus saja bertabuh kencang. Dia bingung. Dia merasa tidak percaya.

Apa yang dimas lakukan? Apakah ini hanya kebiasaan tidurnya saja? Tapi..

Sekali lagi bintang mencoba menengok ke arah wajah dimas. Pertama kalinnya bagi bintang melihat wajahnya sedekat ini. Selama ini ia tidak berani menatap wajahnya. Bintang memang tidak suka melihat wajah orang lain, ia takut orang-orang bisa melihat kedua matanya. Bintang juga tidak berani memandang mata lelaki, terutama lelaki yang berparas tampan seperti dimas. Bintang tidak tahu apa arti semua itu. Tanpa bintang sadari, kebiasaan dan perasaan itu tumbuh dengan subur pada dirinya. Kini wajah dimas sudah berada kurang dari 5 centi dari hidungnya. Ia bisa melihat betapa wajah itu menghipnotis jantungnya untuk terus bergemuruh. Hingga akhirnya mata wajah itu terbuka tipis. Seketika bintang memalingkan wajahnya. Tubuhnya juga menggeliat untuk melepaskan pelukan dimas darinya. Namun, jantung bintang seakan mau berhenti. Tangan dimas menaham tubuhnya dan memeluknya lebih erat. Membuat bintang tak bergeming lagi, seperti rusa yang terbelit ular.

Ia lemas.

“maaf Bintang.. untuk malam ini saja, izinin aku meluk kamu.” Bisiknya. Dan dimas membenamkan hidungnya di rambut bintang, membuat bintang bisa merasakan desir napasnya di kulit kepalanya.

Bintang tidak bisa berkutik lagi selain pasrah. Ya, ia pasrah dalam pelukan dimas. Entah kenapa ia tidak lagi takut akan ketahuan teman-teman yang lain. Bintang mungkin masih ragu kenapa dimas tiba-tiba datang dan tidur di sampingnya bahkan memeluknya begitu erat. Bintang meragukan banyak hal, namun ia mencoba memejamkan matanya. Ia tidak pernah merasakan perasaan hangat ini sebelumnya.

Merasakan pelukan seorang lelaki. Seperti ayahnya yang tidak pernah memeluknya,bahkan sebelum ayah dan ibu bintang bercerai.Terakhir kali ia dipeluk seperti ini adalah saat ia masih SD, ia dipeluk oleh ibunya yang jarang pulang ke rumah karena bekerja.

Kini seorang cowok memeluknya dengan erat dan tak ingin bintang lepas dari pelukannya. Bintang tidak berpikir lagi. Ia ingin menikmati momen ini. Ia ingin merasakan tiap bulir kehangatan yang mengalir di tubuhnya. Ia ingin merasakan hembusan napas dimas di kepalanya. Dan perlahan bintang menutup matanya.

Malam itu menjadi malam pembuka hubungan dimas dan bintang. Keesokan paginya dimas memohon-mohon pada bintang untuk memaafkannya. Dimas juga mengatakan kalau dirinya sudah lama mengagumi bintang. Semula bintang tidak percaya, namun akhirnya ia percaya ketika dimas memegang tangannya dan secara terang-terangan menyatakan cintanya pada bintang.

“Bintang.. aku sudah lama pingin bilang ini ke kamu, tapi aku takut, karena ini bukanlah hal yang biasa. Aku mencintai kamu Bintang.. aku ingin selalu ada di dekat kamu dan meluk kamu. Aku ingin bisa menjadi seseorang di hati kamu.. “

Bintang tak mampu berkata-kata. Matanya membeku menatap mata dimas yang berpendar memohon.

“aku tahu Bintang.. ini tidak wajar. Aku cowok dan kamu juga cowok. Tapi entah kenapa aku merasa aku ga bisa jauh dari kamu.. plis jangan marah sama aku, jangan jijik sama aku.. aku cuma ingin mencintai kamu ..”

Tenggorokan bintang tercekat. Wajahnya memerah, ini pertama kalinya ada seseorang yang menyatakan cinta padanya. Apalagi dia cowok! Bintang benar-benar bingung. Akhirnya bintang berkata dengan lirih.

“tapi.. kamu tahu.. aku nggak sempurna. Apa kamu mau menerima aku yang seperti ini?”

Dimas terdiam memandangi bintang. Bintang menundukkan wajahnya. Ia tidak berani menatap wajah dimas. Lalu sebuah pelukan kedua mendarat di tubuh Bintang. Kini dada bintang dan dada dimas menyatu. Bintang bisa merasakan jantung dimas yang berdegub sama kencangnya dengan jantung bintang.

“jangan bilang gitu! Aku mencintai kamu apa adanya.. aku ga lihat kekuranganmu Bintang.. aku cuma mau cinta dari kamu..”

Bintang tak bergeming. Dia bisa mendengar dimas terus memohon di telinganya dengan suara lemah tapi bintang tidak bisa menangkap suaranya lagi. Suara-suara itu seolah hanya lewat saja di telinganya. Pikiran bintang melayang ke lagit. Tanpa ia sadari, tangannya meraih punggung dimas dan memeluknya dengan erat.

“iya.. aku mau..” ucapnya.

Bintang tersenyum-senyum saat mengingat kejadian itu. Kini ia bisa menikmati hasil keputusannya waktu itu. Sebuah dekapan yang hangat dari seorang lelaki yang ia cintai. Bintang tidak tahu sejak kapan ia merasa begitu sayang pada dimas. Sejak dimas menyatakan cinta padanya, hati bintang seolah terikat oleh kontrak batin. Dari dulu memang bintang punya sedikit kekaguman pada sosok dimas, namun ia tidak pernah membesarkan perasaannya itu dan terus menunndukkan wajah jika berpapasan dengan dimas. Ia tidak tahu jika diam-diam dimas menyukainya. Tentu tidak sulit bagi bintang untuk jatuh cinta padanya.

Tapi sebenarnya, jauh dari itu, ada satu hal yang membuat bintang sangat terikat pada dimas. Kata-kata dimas. Dimas yang mencintai bintang seleuruhnya, beserta dengan kekurangannya. Hal itulah yang membuat bintang bahagia. Dimas menjadi perwujudan impiannya yang telah lama ia nantikan. Seseorang yang mau menerimanya apa adanya.

Bersama dimas, bintang seolah menjadi manusia seutuhnya. Dia sudah lupa akan segala kekurangannya, karena dimas memperlakukan dan menganggap bintang begitu special.

Tidak terpikir lagi tentang bintang yang cacat matanya. Sudah hilang dari ingatan bintang si anak Dajjal.

Yang ada kini adalah bintang yang berpendar cerah di langit yang kelam.

“Bin.. Udah mau sampai nih.. “

Suara Dimas segera saja menyadarkan Bintang dari lamunannya. segera saja menegakkan kepala dan melepaskan pelukannya dari pinggang Dimas. 

“hehe.. ketiduran ya?” tanya dimas sambil terkekeh.

Bintang hanya tersenyum. Ia pejamkan matanya dan ia sandarkan dahinya di punggung Dimas yang bidang. Berharap Dimas bisa mendengar kata-kata yang ia sampaikan dari hatinya.

“Bagaimana aku bisa tertidur? Aku ga akan melewatkan satupun momen bersamamu.”

 

 #Bersambung cuy…

 

 

 

 

 

 

LUKISAN #1

LUKISAN 

by: Zalanonymouz

 Sebuah mobil hitam mengkilat tampak merayap menerobos padatnya keramaian pasar. Di tengah panas teriknya matahari, kehadiran mobil itu tampak jelas kentara di antara warna-warna kusam pakaian orang-orang pasar. Refleksi warna lukisan-lukisan yang terjejer di tepi kanan kiri jalan tampak berpendar redup di badan mobil hitam itu. Akhirnya bayangan-bayangan lukisan yang terus bergerak mengikuti laju mobil itu berhenti. Berhenti pada sebuah bayangan seorang lelaki muda bertelanjang dada dengan jari jemarinya yang sibuk mengoleskan cat pada kanvas. Semula lelaki itu tak peduli pada mobil mewah yang berhenti di kios lukisannya, hingga akhirnya ia terpaksa menoleh ketika mendengar bunyi pintu mobil yang terbuka. Matanya menoleh ke arah sosok yang menyembul dari pintu mobil yang terbuka. Matanya seketika membeku.

Dari pintu itu, dia keluar. Rambut hitamnya yang legam tampak berkibar ringan tertiup angin pasar yang kering. Jari jemarinya yang putih memegangi bingkai pintu bagian atas, dan wajahnya yang sama putihnya menengok ke arah kios lelaki itu. ia tersenyum.

Lelaki itu tampak tidak bisa berkata apa-apa selain menjatuhkan kuasnya. Perlahan dia berdiri, menyambut lelaki yang keluar dari mobil itu berjalan ke arahnya. Bahkan hingga saat lelaki putih itu sudah berada dalam jarak peluknya, dia masih tetap tak bergeming. Matanya bergerak-gerak menatap sosok yang telah lama ia rindukan. Dan kini ia datang dengan penampilan yang ‘sedikit’ berbeda. Dia mengenakan setelan jas berwarna hitam selegam rambutnya, tampak begitu kontras dengan warna kulitnya. Di tangan kirinya, terpaut dengan manis sebuah jam berwarna keperakan dengan kilau yang menyilaukan mata lelaki itu. Sepatunya yang berwarna hitam itu mengkilat, seperti mobilnya. Seorang lelaki dengan pakaian rapi baru saja keluar dari mobil hitam legam itu. Supir tampaknya. Sungguh dia, lelaki putih itu, benar-benar seperti seorang eksekutif. Namun, balutan mewah itu tetap tidak mampu menutupi kemudaannya. Dia, di dalam balutan hitam itu, masih sama seperti dulu. Wajah yang kaya akan warna. Lelaki itu tak bisa melupakan sama sekali bagaimana parasnya sejak terakhir kali ia bertemu. Ya, ia masih sama seperti dulu, hanya satu detil saja yang berbeda, dan itu membuat lelaki itu ragu untuk meyakinkan dirinya kalau lelaki putih di depannya itu adalah orang yang dulu pernah mewarnai hatinya. Satu detil. Matanya.

Bagian 1. Mata

Seorang anak kecil berlari sambil sesekali mengusap matanya, hingga akhirnya ia sampai di depan sebuah pintu rumah yang sangat sederhana. Dengan sedikit keras, anak itu menggedor pintu rumah itu.

“Nenek…!”

Suaranya yang kecil terdengar serak dan parau. Beberapa kali ia meneriakkan kata itu dengan dahak kental yang mencekat tenggorokannya, juga isak yang sesekali mengganggu nafasnya. Memutus kata-katanya seperti orang cegukan.

Akhirnya sebuah jawaban dari dalam rumah terdengar samar dan lama kelamaan terdengar kian mendekat. Pintu terbuka. Dan seorang nenek berumur 60an langsung mendapati tubuhnya dipeluk anak itu. Daster tipis yang nenek itu kenakan langsung basah oleh air mata anak itu.

“aduuh… kenapa lagi..?”  tanya nenek itu dengan alis berkerut menurun.

Diusapnya rambut anak kecil itu sambil membawanya masuk ke dalam rumah. Di ruang tamu ia di dudukkan di kursi, masih dengan wajah terbenam di perut neneknya.

Nenek itu terus mengusap kepala si anak yang kian menangis histeris dan sesengukan. Sesekali nenek itu juga menyiulkan desis pelan untuk menenangkan cucunya. “ada apa Bintang.. cerita ke nenek..”

Anak itu masih terus menangis di perut nenekya, hingga suaranya yang putus-putus terdengar pelan, teredam di perut neneknya.

“Bintang.. ga mau seko..lah lagi.. nek…. “

Mata tua nenek tampak melebar mendengar jerit parau cucunya itu.

“Loh.. kenapa? Bintang jangan bilang gitu… Bintang harus sekolah..”

Anak bernama Bintang itu menggeleng-geleng di perut neneknya, membuat air matanya merembes makin luas di daster nenek.

“Nggakk..!!”

Nenek akhirnya menghela napas panjang. Dia terus membelai kepala cucunya. Terasa seakan makin dalam perasaannya dalam tiap belaian itu.

“Kenapa? Kenapa tiba-tiba Bintang ga mau sekolah? Katanya mau jadi ilmuan? Kok sekarang minta ga sekolah? Kenapa? Cerita ke nenek..”

Tangis Bintang mulai mereda, namun masih terisak dan sesengukan, hingga ia mengangkat wajahnya. Seketika nenek merasa kalau ia tahu permasalahannya. Harusnya ia sudah tahu sejak awal. Permasalahan ini sudah lama menjadi momok bagi cucu satu-satunya itu.

Melihat wajah cucunya itu terasa seakan ada pisau yang menusuk hatinya, membuatnya terasa begitu berat untuk berdetak. Mata nenek itu mulai terasa basah ketika melihat wajah cucunya yang basah oleh air yang mengalir deras dari kedua matanya. Mata yang kiri yang berwarna hitam mengkilat, penuh dengan berkas-berkas cahaya karena tergenang oleh air mata, seperti biji buah sirsak yang basah oleh embun. Namun mata satunya, mata sebelah kanan, sebuah kabut putih tipis melayang di biji sirsak itu. Dan mata itu juga sama-sama menangis.

“Bintang di ejek lagi nek… temen-temen pada ngejek bintang..  ramai-ramai! Bintang ga kuat.. Bintang ga mau sekolah lagi..!”

Sebuah pisau lagi menghujam jantung tua nenek, membuat nenek kian berat untuk bernapas. Ia seharusnya sudah bisa menebaknya sejak awal. Nenek itu tak bisa berkata apa-apa lagi, selain merapatkan wajah cucunya itu di dadanya, di tempelkan pipinya di kepala cucunya dan tangan kanannya mengelus lembut kepala cucunya itu dengan perasaan yang begitu dalam dan haru.

“Sabar ya Bintang… Kamu harus tetep sekolah.. Sakit Bintang cuma sebentar kok. Besok juga sembuh.. Udah bintang jangan nangis lagi ya..” ujar nenek dengan suara yang setengah pilu. Mencoba menahan.

“Beneran nek? Bintang bisa sembuh?”

Bintang bisa merasakan di kepalanya, wajah nenek yang mengangguk.

“Iya.. Nanti kalau nenek sama ibu sudah punya uang, kita beli obat buat Bintang biar Bintang bisa sembuh.”

“Kapan nek?”

Agak lama nenek tidak menjawab, hingga terdengar suara yang begitu rapuh dan tipis. Seolah hanya bergantung pada asa yang setipis kabut.

“Besok..”

Anak kecil itu, yang memang belum dapat memahami maksud terlalu dalam akan kehidupan hanya bisa tersenyum, menghapus air matanya dan membenamkan wajahnya di pelukan sang nenek. Hatinya mulai terasa ringan. Dalam hati mudanya ia bersorak, akhirnya besok dia sembuh, dan tidak ada lagi teman yang mengejeknya.

Namun, lambat laun ia harus mengerti. Besok demi besok, lusa demi lusa, minggu demi minggu, bahkan bulan dan tahun terus bergulir tanpa ampun. Dan ‘besok’ yang ia nantikan tidak pernah datang.

Dia harus terbiasa untuk mendengar kata ‘besok’ dari nenek dan ibunya. Dia harus terbiasa untuk menutup telinga dan matanya ketika teman-temannya mengejeknya.

“Bintang mata picak! Bintang anak Dajjal!”

Bintang mencoba untuk mencacatkan satu bagian lagi dari tubuhnya, yaitu telinganya. Sekalian saja agar ia tidak bisa lagi mendengar suara-suara menyakitkan itu. Tapi percuma, itu adalah hal yang mustahil ia lakukan. Ia tidak bisa berbuat apa-apa selain membiarkan suara-suara itu menerobos masuk ke dalam lubang telinganya, dan tak jarang menembus masuk ke hatinya.

 Air mata Bintang lambat laun sudah kering. Dia tidak lagi menagis karena ejekan-ejekan yang sebenarnya masih memberikan rasa sakit menusuk di hatinya. Namun semuanya berjalan seperti angin lalu.

Anak-anak makin tumbuh dan berkembang. Tidak hanya tubuh yang semakin tinggi dan bongsor, namun pikiran dan rasa kepedulian juga makin berkembang. Lambat laun, mereka sadar, atau mungkin bosan. Dan akhirnya ejekan ‘mata picak dan anak dajjal’ itu menghilang.

Bintang saat itu sebenarnya tidak begitu mengerti arti ejekan ‘anak dajjal’ yang dilontarkan teman-temannya, meski entah kenapa Bintang merasa itu tidak baik. Suatu hari ia bertanya pada neneknya. “Apa Dajjal itu nek..?”

Nenek yang mantan anak pesantren hanya tersenyum sambil menjemur pakaian. Dia menerangkan deskripsi sederhana yang mungkin bisa diterima oleh anak berumur 8 tahun.

“Dajjal itu.. raksasa jahat yang matanya satu. Nanti saat hari kiamat, dia datang dan menculik anak-anak yang malas solat. Makanya kamu harus rajin solat!”

Nenek mengatakan itu dengan ringan dan sedikit bercanda. Ia tidak melihat di belakangnya, cucunya, mengerutkan bibir dan matanya. Dengan cepat ia berbalik dan berlari meninggalkan neneknya. Dia kesal, dia sedih. Dia merasa teman-temannya terlalu tega padanya. Akhirnya yang bisa bintang lakukan adalah membanting tubuhnya di kasur dan membenamkan wajahnya di bantal. Menangis.

Tapi toh, itu tidak berlangsung selamanya. Semakin tinggi jenjang sekolah dasar yang bintang dan teman-temannya lalui, makin matang pula otak mereka. Ejekan itu makin hilang, dan akhirnya pada kelas 5, olokan itu tidak pernah terdengar lagi.

Bintang hanya tersenyum getir ketika mengingat masa lalunya. Di depan cermin, ia duduk dan tanpa terasa satu tetes embun menggantung di kantung matanya. Dengan sigap ia mengusapnya dengan jarinya. Kini ia memandangi cermin. Di sana tampak bintang yang tentu tidak lagi sama dengan bintang yang dulu. Pipi agak tembem berwarna putih kemerahan itu sudah tidak setembem dulu. Giginya yang dulu jarang-jarang, kini berganti menjadi deretan Gigi putih mungil yang rapi. Wajah yang dulu bulat mungil kini berubah menjadi wajah remaja dengan dagu yang agak runcing. Tapi tentu ada beberapa yang tidak berubah. Rambutnya yang lurus dan hitam tergerai begitu kontras dengan kulitnya yang putih. Bibirnya yang tipis berpendar merah segar, meski tanpa polesan lipstik. Dan mata itu. Masih sama seperti dulu. Mata kirinya yang mengkilat hitam seperti biji sirsak masih di temani dengan pasangannya yang tertutup kabut putih. Seketika bintang memejamkan matanya dan menghela napas dalam.

Lelaki itu bernama Bintang Fahreza. Sekilas penampilannya begitu cerah seperti bintang fajar. Semua orang pasti akan berpendapat sama sepertiku ketika melihatnya. Seorang lelaki yang sekilas tampak nyaris sempurna. Nyaris saja. Seseorang akan menyadari kekurangan Bintang ketika ia menatap lurus wajahnya, ketika matamu bertemu langsung dengan kedua matanya. Mata kanannya seolah tidak kompak dengaan mata kirinya yang hitam legam. Ya, mata sebelah kanan Bintang terkena penyakit katarak sejak ia masih dalam kandungan. Dan masih ia sandang hingga kini.

Ini bukanlah hal yang ringan bagi Bintang. Sedari kecil ia harus mendapatkan perhatian dan perlakuan yang berbeda dengan anak-anak lain seusianya.setiap orang akan menurukan alis atau menggerak-gerakkan matanya dengan sedikit heran bercampur iba, melihat bergantian ke kedua mata bintang. Tatapan mata yang sangat Bintang benci.

Bintang juga harus menguatkan hatinya ketika ada orang yang menanyakan berbagai hal tentang mata kanannya.

“Mata kamu kenapa?”

“Sejak kapan mata kamu sakit?”

Bintang sangat memaklumi wujud simpati mereka, namun tetap saja pertanyaan-pertanyaan itu membuat Bintang risih. Setelah sekian lama Bintang hidup dengan olok-olok tentang matanya, Bintang mencoba untuk tegar dan membangun kepercayaan dirinya. Ia berusaha melupaka kekurangannya dan meyakinkan dirinya bahwa ia adalah orang yang normal sama seperti yang lain. Namun pertayaan-pertanyaan itu datang, seolah menjadi perkembangan lanjut dari olok-olokan masa kecilnya. Pertanyaan-pertanyaan itu membuat benteng yang ia bangun susah payah, hancur lebur, menjadi tumpukan debu di kakinya. Memperlihatkan kembali pada Bintang tentang dirinya yang sebenarnya. Bintang yang cacat mata sebelah kanannya.

Kadang Bintang harus menghela napas dalam sebelum menjawab pertanyaan itu, kemudian menjawabnya denga sebuah seyum yang ia paksakan lengkungnya.

“Bintang…! ayo turun! Dimas sudah datang tuh!”

Suara ibunya dari kejauhan itu seketika membuka matanya. Dengan segera ia merapikan rambut dan menyelimpangkan dasi sekenanya di kerah seragam lalu menyambar tas pinggangnya. Masih dengan tergesa ia setengah berlari menuju dapur dan menyambar roti yang di sediakan ibunya.

“Ngapaian aja sih? Ganti baju aja lama banget! Buru-buru kan jadinya!”

Bintang seakan tidak mempedulikan omelan ibunya. Ia terlalu sibuk mengunyah roti dan meminum susunya dan setelah menghabiskan satu lembar roti dan segelas susu, ia berdiri dan bergegas menuju halaman rumah.

“Loh? Ga dihabisin rotinya?” tanya ibunya yang menyusul ke halaman rumah.

“Nggak bu, nanti telat!” ujar bintang sambil terus berjalan menuju pagar.

Di balik pagar itu, sebuah motor Tiger bertengger dengan gagahnya, tidak kalah dengan cowok yang menungganginya. Saat Bintang membuka pagar, cowok itu membuka kaca helmnya, memperlihatkan wajah segar yang seketika membuat Bintang tersenyum malu.

“Maaf lama ya?” bisik Bintang.

“Nggak kok, aku juga baru datang.”jawabnya dengan senyum yang hangat.

Bintang membalas senyum itu dan berbalik untuk menyalami tangan ibunya yang berjalan mendekati pagar.

“Bintang sekolah dulu ya..”

“Ya..” balas ibu bintang sambil membiarkan punggung tangannya dicium. Lalu ia mencondongkan wajahnya di dekat wajah Bintang sambil berkata dengan suara pelan, nyaris berbisik. “Uang sakunya masih ada kan?”

Bintang nyengir dan mengangguk. “Masih kok.”

“Hmm.. ya deh. Nak Dimas..” ujar ibu bintang saat dimas turun dari sepeda motornya dan menyalami tangan ibu bintang. “Hati-hati, jangan ngebut-ngebut.”

“Iya tante.. Tenang aja, hehehe..”

Setelah itu keduanya menaiki motor. “Ya dah Bu, kita berangkat dulu ya..! Lekum!”

“Ck.. Iya.. Waalaikum salam… “ balas ibu bintang. Saat motor yang bintang tunggangi berjalan menjauh, Bintang bisa melihat ibunya menggeleng-gelengkan kepala dengan bibir bergerak-gerak seolah mengucapkan sesuatu. Bintang bisa mengira kata-kata apa yang diucapkan ibunya itu. Pasti, “lekum..lekum… doa kok dibuat mainan!”

Bintang hanya tersenyum kecil, dan ia memalingkan wajahnya kembali ke arah depan. Tanpa ragu, ia mengalungkan tangannya di tubuh Dimas dan menyandarkan pipinya di punggungnya.

“Duh.. Bintang.. ntar kalau ada yang ngeliat gimana?”

Bintang seolah tak peduli dan mempererat pelukannya. “Biarin.. toh mereka ga kenal aku juga.”

Dimas tidak menjawab lagi setelah itu. Mata Bintang melirik ke arah spion dan melihat Dimas menggeleng pelan dengan senyum tipis. Bintang tersenyum geli dan memejamkan matanya.

Kapan lagi ia bisa merasakan hal seperti ini? Memeluk orang yang membuat merasa berarti. Melupakan sejenak akan ketidaksempurnaan yang ia sandang. Kalau bukan karena dia.

Dia bernama Dimas Aprilio. Bintang bertemu dengannya saat ia memasuki bangku SMA. Mereka satu kelas saat masih kelas 1, namun justru mereka tidak mengenal akrab satu sama lain pada mulanya. Hubungan mereka benar-benar dimulai ketika mereka pergi ke Bali dalam kegiatan study tour.

Bali menawarkan banyak sekali tempat wisata. Rombongan kelas Bintang lebih banyak tour dari pada study. Banyak tempat wisata yang mereka kunjungi, dari Sanur, GWK, Dream Land, Benoa, Pulau Penyu, Joger, Sukowati, Tanah Lot, dan yang pasti ke pantai Kutha, Las Vegasnya Pulau Dewata. Selama study tour itu, Bintang dan  Dimas satu kelompok. Masing-masing murid memang dibagi mejadi beberapa kelompok.

Malamnya, mereka menginap di sebuah hotel yang tidak begitu mewah namun sudah sangat nyaman untuk ukuran Bintang. Ranjangnya ada dua dilengkapi dengan AC, televisi, kulkas, dan kamar mandi dalam. Wah.. ini fasilitas yang sangat bagi Bintang. Malam itu, teman-teman satu kamarnya tidak terlihat batang hidungnya sejak turun dari bis. Rupanya mereka asik berpesta arak di kamar teman yang lain. Jadilah kamar yang Bintang singgahi kini menjadi miliknya sepenuhnya. Dengan ringan ia membanting tubuhnya di atas ranjang empuk berpegas itu, membuat tubuhnya terpental ringan beberapa kali, seperti mengambang di kolam yang sejuk. Ranjangnya tidak berpegas seperti yang saat ini ia tiduri. Tidur di ranjang itu langsung saja memanjakan matanya untuk segera menutup, dan tertidurlah Bintang.

Tik..

Tik..

Tik..

Suara detak jam dinding memecah kesunyian dan lelap Bintang. Ada sesuatu yang membuatnya terjaga. Perlahan ia membuka matanya yang redup. Ia merasakan sesuatu yang hangat menyelubungi tubuhnya. Bukan selimut. Tubuh Bintang tidak tertutup seluruhnya seperti saat mengenakan selimut. Tubuhnya masih bisa merasakan dinginnya udara AC meraba kulitnya. Namun ada perasaan hangat yang mengalungi punggung dan perutnya. Hingga akhirnya ia sadar, ada seseorang yang memeluknya.

Perlahan bintang mencoba untuk melepaskan diri. Ia tengok ke arah belakang, mencoba melihat siapa yang memeluk dirinya.

Deg!

Mata kecil bintang melebar, ketika melihat wajah yang begitu dekat dengan wajahnya. Wajah Dimas. Jantung bintang seketika memburu. Ia tidak bisa mengontrolnya. Ia memalingkan wajahnya dengan gelisah. Ia melihat ke sekeliling, teman-temannya tidak ada. Suara tertawa mereka juga sudah tidak terdengar lagi. Tampaknya mereka sudah pada teler dan tidur di kamar lain. Suasana benar-benar sepi sekarang, tapi jantung bintang terus saja bertabuh kencang. Dia bingung. Dia merasa tidak percaya.

Apa yang dimas lakukan? Apakah ini hanya kebiasaan tidurnya saja? Tapi..

Sekali lagi bintang mencoba menengok ke arah wajah dimas. Pertama kalinnya bagi bintang melihat wajahnya sedekat ini. Selama ini ia tidak berani menatap wajahnya. Bintang memang tidak suka melihat wajah orang lain, ia takut orang-orang bisa melihat kedua matanya. Bintang juga tidak berani memandang mata lelaki, terutama lelaki yang berparas tampan seperti dimas. Bintang tidak tahu apa arti semua itu. Tanpa bintang sadari, kebiasaan dan perasaan itu tumbuh dengan subur pada dirinya. Kini wajah dimas sudah berada kurang dari 5 centi dari hidungnya. Ia bisa melihat betapa wajah itu menghipnotis jantungnya untuk terus bergemuruh. Hingga akhirnya mata wajah itu terbuka tipis. Seketika bintang memalingkan wajahnya. Tubuhnya juga menggeliat untuk melepaskan pelukan dimas darinya. Namun, jantung bintang seakan mau berhenti. Tangan dimas menaham tubuhnya dan memeluknya lebih erat. Membuat bintang tak bergeming lagi, seperti rusa yang terbelit ular.

Ia lemas.

“maaf Bintang.. untuk malam ini saja, izinin aku meluk kamu.” Bisiknya. Dan dimas membenamkan hidungnya di rambut bintang, membuat bintang bisa merasakan desir napasnya di kulit kepalanya.

Bintang tidak bisa berkutik lagi selain pasrah. Ya, ia pasrah dalam pelukan dimas. Entah kenapa ia tidak lagi takut akan ketahuan teman-teman yang lain. Bintang mungkin masih ragu kenapa dimas tiba-tiba datang dan tidur di sampingnya bahkan memeluknya begitu erat. Bintang meragukan banyak hal, namun ia mencoba memejamkan matanya. Ia tidak pernah merasakan perasaan hangat ini sebelumnya.

Merasakan pelukan seorang lelaki. Seperti ayahnya yang tidak pernah memeluknya,bahkan sebelum ayah dan ibu bintang bercerai.Terakhir kali ia dipeluk seperti ini adalah saat ia masih SD, ia dipeluk oleh ibunya yang jarang pulang ke rumah karena bekerja.

Kini seorang cowok memeluknya dengan erat dan tak ingin bintang lepas dari pelukannya. Bintang tidak berpikir lagi. Ia ingin menikmati momen ini. Ia ingin merasakan tiap bulir kehangatan yang mengalir di tubuhnya. Ia ingin merasakan hembusan napas dimas di kepalanya. Dan perlahan bintang menutup matanya.

Malam itu menjadi malam pembuka hubungan dimas dan bintang. Keesokan paginya dimas memohon-mohon pada bintang untuk memaafkannya. Dimas juga mengatakan kalau dirinya sudah lama mengagumi bintang. Semula bintang tidak percaya, namun akhirnya ia percaya ketika dimas memegang tangannya dan secara terang-terangan menyatakan cintanya pada bintang.

“Bintang.. aku sudah lama pingin bilang ini ke kamu, tapi aku takut, karena ini bukanlah hal yang biasa. Aku mencintai kamu Bintang.. aku ingin selalu ada di dekat kamu dan meluk kamu. Aku ingin bisa menjadi seseorang di hati kamu.. “

Bintang tak mampu berkata-kata. Matanya membeku menatap mata dimas yang berpendar memohon.

“aku tahu Bintang.. ini tidak wajar. Aku cowok dan kamu juga cowok. Tapi entah kenapa aku merasa aku ga bisa jauh dari kamu.. plis jangan marah sama aku, jangan jijik sama aku.. aku cuma ingin mencintai kamu ..”

Tenggorokan bintang tercekat. Wajahnya memerah, ini pertama kalinya ada seseorang yang menyatakan cinta padanya. Apalagi dia cowok! Bintang benar-benar bingung. Akhirnya bintang berkata dengan lirih.

“tapi.. kamu tahu.. aku nggak sempurna. Apa kamu mau menerima aku yang seperti ini?”

Dimas terdiam memandangi bintang. Bintang menundukkan wajahnya. Ia tidak berani menatap wajah dimas. Lalu sebuah pelukan kedua mendarat di tubuh Bintang. Kini dada bintang dan dada dimas menyatu. Bintang bisa merasakan jantung dimas yang berdegub sama kencangnya dengan jantung bintang.

“jangan bilang gitu! Aku mencintai kamu apa adanya.. aku ga lihat kekuranganmu Bintang.. aku cuma mau cinta dari kamu..”

Bintang tak bergeming. Dia bisa mendengar dimas terus memohon di telinganya dengan suara lemah tapi bintang tidak bisa menangkap suaranya lagi. Suara-suara itu seolah hanya lewat saja di telinganya. Pikiran bintang melayang ke lagit. Tanpa ia sadari, tangannya meraih punggung dimas dan memeluknya dengan erat.

“iya.. aku mau..” ucapnya.

Bintang tersenyum-senyum saat mengingat kejadian itu. Kini ia bisa menikmati hasil keputusannya waktu itu. Sebuah dekapan yang hangat dari seorang lelaki yang ia cintai. Bintang tidak tahu sejak kapan ia merasa begitu sayang pada dimas. Sejak dimas menyatakan cinta padanya, hati bintang seolah terikat oleh kontrak batin. Dari dulu memang bintang punya sedikit kekaguman pada sosok dimas, namun ia tidak pernah membesarkan perasaannya itu dan terus menunndukkan wajah jika berpapasan dengan dimas. Ia tidak tahu jika diam-diam dimas menyukainya. Tentu tidak sulit bagi bintang untuk jatuh cinta padanya.

Tapi sebenarnya, jauh dari itu, ada satu hal yang membuat bintang sangat terikat pada dimas. Kata-kata dimas. Dimas yang mencintai bintang seleuruhnya, beserta dengan kekurangannya. Hal itulah yang membuat bintang bahagia. Dimas menjadi perwujudan impiannya yang telah lama ia nantikan. Seseorang yang mau menerimanya apa adanya.

Bersama dimas, bintang seolah menjadi manusia seutuhnya. Dia sudah lupa akan segala kekurangannya, karena dimas memperlakukan dan menganggap bintang begitu special.

Tidak terpikir lagi tentang bintang yang cacat matanya. Sudah hilang dari ingatan bintang si anak Dajjal.

Yang ada kini adalah bintang yang berpendar cerah di langit yang kelam.

“Bin.. Udah mau sampai nih.. “

Suara Dimas segera saja menyadarkan Bintang dari lamunannya. segera saja menegakkan kepala dan melepaskan pelukannya dari pinggang Dimas. 

“hehe.. ketiduran ya?” tanya dimas sambil terkekeh.

Bintang hanya tersenyum. Ia pejamkan matanya dan ia sandarkan dahinya di punggung Dimas yang bidang. Berharap Dimas bisa mendengar kata-kata yang ia sampaikan dari hatinya.

“Bagaimana aku bisa tertidur? Aku ga akan melewatkan satupun momen bersamamu.”

 

 #Bersambung cuy…

 

 

 

 

 

 

HYMN OF MY HEART 15B

Image

Bar 15b. The Thrillig Duty

Mata Gigi sedikit tertegun saat melihat sosok pemuda yang terlihat di balik pintu, begitu juga dengan pemuda itu yang menatap wajah Gigi dengan tatapan kurang percaya.

“Gigi.. ada apa?” tanyanya dengan suara lemah.

Gigi masih tertegun untuk sementara waktu. Pemuda yang ada di depannya itu adalah Nue. Tapi penampilannya cukup berubah. Wajah putih Nue kini berubah menjadi putih pucat dan terlihat agak tirus. Matanya tampak cekung dan yang lebih mencolok lagi adalah dua lembar plester luka yang menempel di dahi dan dagu Nue. Hah? Apa yang terjadi dengan Nue?

“I.. ini.. aku denger kakak sakit, jadi aku dateng bawain makanan..” ujar Gigi sambil mengangkat dua bungkus plastik di tangan kanannya.

Nue mengangguk kikuk lalu ia membuka pintu lebih lebar seraya memepersilakan Gigi masuk. “oh.. ya, masuk dulu Gi..”

Gigi mengangguk kikuk lalu masuk ke dalam kamar Nue. Sudah lama ia tidak mampir ke kamar Nue sejak ‘malam itu’. Suasana kamar Nue tampak berbeda di mata Gigi. Dulu, kamar Nue agak berantakan dengan pakaian tergeletak sembarangan di atas kasur, sepatu yang tidak tertata rapi, meja belajar yang dipenuhi dengan buku dan kertas. Dulu Gigi lah yang membantu Nue membereskan kamarnya, tapi kini saat Gigi melihat kamar Nue yang rapi ini, pasti Grace yang merapikannya. ‘hmm.. kak Grace sering datang kesini rupanya..’ duga Gigi dalam hati sambil menggantungkan jaketnya di salah satu gantungan baju (hanger) di dinding kamar Nue.

Nue merebahkan tubuhnya di atas kasur sambil salah satu punggung tangannya bersandar di dahinya.
Gigi mendekati Nue di kasurnya dan duduk di sampingnya. Dilihatnya wajah Nue yang pucat dan tampak lemah itu.

“kak.. kakak sakit apa sih?” tanya Gigi.

Nue membuka matanya tipis-tipis sambil tersenyum dengan sama tipisnya. “nggak Gi.. cuma panas doang..”

Gigi mengangguk pelan. Lalu saat mata Nue kembali terpejam, perlahan Gigi menjulurkan tangannya. Ia tempelkan punggung tangannya di dahi Nue. Nue perlahan membuka lagi matanya saat ia merasakan sebuah sentuhan di dahinya. Ia lihat Gigi yang buru-buru memalingkan fokus pandangnya sambil menempelkan punggung tangan yang lain di dahinya.
‘santai Gi.. ini cuma tugas.. ga ada salahnya pegang-pegang dikit..’ yakin Gigi dalam hati, meskipun ia sendiri tidak sadar jika wajahnya mulai bersemu.

“wuih… badan kakak panas banget..! kakak habis ujan-ujanan, apa?!” seru Gigi saat ia melepaskan sentuhan tangannya dari dahi Nue.

Nue memejamkan lagi matanya sambil tersenyum. “nggak Gi.. ya mungkin kecapean aja..”

Gigi tertegun. Dia setengah tidak percaya melihat kondisi Nue saat ini. Nue yang selama ini ia kenal begitu energik, bugar, kuat, keren, cool, ganteng..

#Gi.. cukup. Anda sudah keluar konteks.

…kini tergolek lemah di kasurnya. Gigi pun menyingkap sejenak keprihatinannya dan mengambil bungkusan makanan yang ia bawa.

“ya udah kak.. sekarang kakak makan dulu yuk.. kakak belum makan kan?”

Nue menggeleng pelan.

“ya udah, ayok makan dulu, terus minum obat.”
Nue masih diam dan mnegerjap-ngerjapkan matanya perlahan. Tampaknya dia enggan. Akhirnya Gigi harus memaksanya untuk bangun dan mendudukkannya di kasur itu.
“ayok..! biar ada tenaga.. kalo ga ada tenaga, gimana bisa sembuh?!” seru Gigi.

Ia membuka salah satu bungkusan dan mengeluarkan sebuah kotak dari sterofoam dan menyodorkannya pada Nue.

“apa nih?” tanya Nue sambil meraih kotak itu.

“bubur” jawab Gigi sambil membuka bungkusannya sendiri.

Nue melirik ke arah bungkusan yang Gigi buka. “punyamu apa? Kok beda?” tanya Nue saat Gigi mengeluarkan bungkusan dari kertas minyak.

“oh.. ini nasi goreng.” Jawabnya.

“lo.. kok aku dikasi bubur? Enakan nasi goreng..” protes Nue.

Gigi memanyunkan bibirnya sambil mengambil dua buah sendok dari rak kecil Nue. “dimana-mana kalo orang sakit juga makannya bubur, masa makan nasgor? Nggak so sweet dong..” jawab Gigi santai sambil membuka kotak bubur di tangan Nue dan menancapkan sendok di atas bubur itu.

“ayooo.. dimakan dong… ntar buburnya dingin nggak enak loh..” seru Gigi. ia pun kini tengah membuka bungkusan nasi gorengnya.

Nue memiringkan bibirnya lalu menyendok buburnya. Sebenarnya dia sedang tidak ada nafsu untuk makan saat ini. tapi melihat Gigi yang repot-repot membelikan bubur, ia jadi tidak tega untuk menolak memakan bubur itu. sedikit demi sedikit ia memasukkan bubur itu ke dalam mulutnya.
‘ehmm.. enak juga’ (~_~)

Sekilas Gigi melihat ke arah Nue. Bibirnya tersenyum kecil saat melihat Nue yang makin lahap memakan bubur yang ia bawakan.

“laper kak?” tanya Gigi usil.

Nue hanya melirik ke arah Gigi sambil terus melanjutkan melahap buburnya. Gigi tertawa kecil melihat sikap Nue itu. ia pun dengan semangat menghabiskan nasi gorengnya sendok demi sendok. Agak lama keduanya khidmat dengan makanan masing-masing. Bahkan anak paling ramai akan diam jika sedang makan. Itulah keajaiaban dari makan.

Nue meletakkan kotak bubur yang sudah bersih. Mata Gigi menengok sekilas ke arah kotak itu lalu ia terkekeh pelan.

“wuih.. itu makan sekalian nyuci ya?”

“ck.. bawel kamu Gi..” tukas Nue sambil menyandarkan punggungnya di tembok.

“haha.. tadi aja belagak ogah-ogahan, taunya doyan juga..”cibir Gigi.

“ya.. namanya juga baru pertama kali makan bubur.. “kilah Nue.

Alis Gigi tampak mengangkat sebelah lalu berceletuk, “hah? Pertama kali? Masa’ sih? Terus dulu pas masih bayi makan apaan? Sate?”

Nue tersenyum kecil mendengarnya, “haish.. ya ga tau kalo itu..! yang jelas aku baru pertama makan bubur yang beginian.. Cuma kemarin aja aku nyuapin Grace pake bubur. Aku tapi aku sendiri ga ngicipin.”

“ooh..” ekspresi Gigi kontan berubah ketika Nue menyebut nama Grace. Ia pun melahap suapan terakhirnya.

“Gi.. emang sekarang kamu ga latihan ya?” tanya Nue.

Gigi melirik ke arah Nue sebentar sambil terus mengunyah nasi di mulutnya. “nggak, aku sudah diijinin ma Kak Grace.”

Nue mengangguk-angguk pelan. “hmm.. jadi Grace yang minta kamu kesini ya?”

Gigi mengangguk dengan malas. Ia memilih meremas-remas bungkusan kertas bungkusan nasi goreng tadi.

“sebenernya kamu ga perlu repot-repot gini Gi.. sampek ga latian segala..”

Gigi tersenyum sambil berdiri. Diambilnya kotak bubur Nue meski Nue sempat mencegahnya. “nggak apa-apa kok.. aku juga ga latihan biar ga ketemu sama di ulet..” ujarnya.

Mata Nue tampak heran dan bergerak mengikuti sosok Gigi yang berjalan melewati pintu kamarnya. Setelah Gigi membuang sampah-sampah pada tempatnya di luar kamar, ia berjalan kembali ke kamar Nue.

Ulet? Maksudnya?”

Gigi mendengus sesaat sambil duduk di sisi kasur Nue. “Itu.. si Adrian.. anaknya bikin hati gatel kayak ulet bulu!”

Nue termenung sambil mengalihkan fokus pandangangannya, sementara Gigi mengambil air dari galon air Nue (serasa rumah, eh, kos-kosan sendiri). Saat Gigi tengah menenggak airnya, Nue melihatnya dari belakang dan mengucapkan sesuatu yang membuat Gigi tersedak.

“Gi.. kalau anak itu gangguin kamu, bilang aja ke aku.. ntar aku ‘beresin’.”

Dengan gelagapan Gigi mengusap ceceran air di bibirnya lalu terbatuk-batuk sambil meletakkan gelas di meja.

“Kenapa Gi?” tanya Nue sedikit cemas melihat gelagat Gigi.

“Oh nggak… uhukk..uhukk… tersedak aja..” jawab Gigi sambil nyengir kuda. Setelah dia agak tenang, dia mengambil sebuah gelas lagi dan mengambil air dari galon lalu ia serahkan pada Nue.

“nih kak, minum..”

Setelah Nue meraih gelas itu dan meminum airnya, Gigi duduk di sisi kasur Nue dan menjawab tawaran Nue yang membuatnya tersedak tadi.

“Dia emang nyebelin sih.. tapi ga sampek mengganggu aku kok. Lebih dari itu, sebenernya dia baik dan asik. Jadi Kakak tenang aja..”

Mata nue tampak termenung pada gelas di tangannya. Entah apa yang sedang ia pikirkan saat matanya melihat tetes-tetes air yang tersisa dalam dasar gelas yang ia pegang itu. Sekilas ia melihat ke arah Gigi yang menunduk sambil tersenyum-senyum sendiri seolah ia mengingat hal-hal lucu yang ia alami sebelumnya.

Nue memalingkan lagi pandangannya, kembali pada tetes air di gelasnya. “Kayaknya sekarang kamu deket sama dia ya?”

Gigi yang masih tersenyum geli menoleh ke arah Nue, lalu senyumnya memudar perlahan dan menyisakan sebuah senyum tipis di wajahnya. “Hmm.. nggak deket sih.. dia aja yang selalu nempel ke aku.. I dunno… kayakx dia suka ma aku.” ujarnya sambil terkekeh pelan.

Mata Nue melebar mendengar kata-kata Gigi. “maksud kamu? Ja..jangan bilang kalau kamu juga..”

Gigi buru-buru menoleh ke arah Nue. Dilihatnya ekspresi Nue yang makin pucat tengah menatapnya dengan mata melebar.
Dengan panik Gigi melambai-lambaikan tangannya. “Eh? Nggak..! aku ga ada perasaan sama dia?! Ah, emang kakak pikir aku apa?? aku..” Gigi mengalihkan pandangannya dan memanyunkan bibirnya sambil menundukkan kepalanya. “… masih normal tau..”

Mata Nue yang tadi melebar kini mulai sayu kembali. Bahunya kembali rileks bersandar di tembok yang ia jadikan sandaran. Gigi sekilas menangkap sikap Nue itu.

“oh iya, obat demamnya mana?” ucap Gigi untuk mengalihkan topik pembicaraan. Segera saja ia berdiri dan tangannya mencari-cari di atas meja belajar Nue.

Nue tersenyum tipis. “Ga ada obat.. Udah nggak apa-apa Gi, aku tidur aja, ntar juga sembuh sendiri.” Ujarnya.

Gigi menoleh ke arah Nue dengan tatapan khawatir. Dia tidak yakin jika demam Nue bisa cepat reda hanya dengan tidur, mengingat suhu tubuhnya yang panas tadi. Gigi pun melihat ke arah kunci sepeda Nue yang tergeletak di atas meja.

“Hmm.. kalo gitu aku beliin di apotek ya..” ujarnya sambil meraih kunci kontak Nue.

“Hah? Ga perlu Gi.. “

“Perlu! Kakak harus cepet sembuh. Kalau kakak sakit, siapa yang ngajarin aku lagu pilihan buat lomba besok? Hari lombanya udah deket lo.. udah ya, aku pinjem sebentar motornya.”

Baru saja Nue membuka mulutnya untuk mencegah Gigi, Gigi sudah menghilang dari balik pintu, dan daun pintu pun berdebam pelan. Agak lama terdengar suara mesin sepeda motor Nue yang kemudian bergerak menjauh dan akhirnya suara itu menghilang. Suasana kembali sunyi, dan Nue pun kembali menundukkan kepalanya. Matanya bergerak-gerak menatap tangannya yang mengepal dan gemetar.

***

Gigi menghela napas dalam-dalam di tengah deru angin yang menerpa wajahnya. Dengan lincah ia melewati kendaraan-kendaraan yang merayap di jalan kota Jember. Sebuah kantung plastik berisi obat demam tampak bergelantungan di kait sepeda motor Nue.

Pikiran Gigi kini tidak hanya fokus pada jalanan kota yang gelap di depannya, tapi juga reaksi Nue tadi. Saat ia bilang Adrian menyukainya, Nue tampak begitu terkejut, padahal harusnya ia tahu kalau Gigi hanya bercanda. Apakah maksud reaksi itu? ekspresi wajah itu?

Gigi mencoba mengingat dengan persis kata-kata Nue.

“maksud kamu? Ja..jangan bilang kalau kamu juga..”

Gigi merenungkan kata-kata itu. dia merasa ada yang ganjil dengan rekasi Nue itu. Jika Gigi bilang kalau Adrian mungkin menyukainya, rekasi yang wajar harusnya Nue berkata. ‘ha? Jadi dia gay??’ atau mungkin ga jauh-jauh dari kalimat itu. Tapi dia justru menanyakan sikap Gigi, seolah memastikan apakah dia juga menyukai Adrian atau tidak. seolah dia tidak ingin Gigi juga memiliki perasaan dengan Adrian. Seolah Nue sedang cemburu……

Gigi mengerjapkan matanya sambil menggeleng pelan. ‘tuh kan..! Kenapa kamu selalu mikir ke arah sana Gi..? kenapa kamu selalu bersangka-sangka ga jelas..?? Kamu harus tenang Gi.. Abaikan saja.. Abaikan saja.. Yang penting sekarang kamu selesaikan tugas kamu ini dengan baik tanpa terpengaruh delusi-delusi kamu..!’ yakin Gigi pada hatinya sendiri. Ia tidak bisa membiarkan kedua sisi hatinya berdebat lebih panjang lagi. kali ini otaklah yang harus memegang kendali. Ya, Gigi harus tetap berkepala dingin. Activate, Stone sage mode! (naruto addict)

Gigi sampai dengan selamat di parkiran kos-kosan Nue. Kos-kosan Nue, entah kenapa, selalu tampak lengang. Kos-kosan Nue memang kebanyakan diisi oleh karyawan. Kebanyakan dari mereka pulang larut malam dan setibanya di kos juga mereka cenderung tenang dan beristirahat. Hanya Nue yang masih mahasiswa di sana. Kamarnya pun terpisah dari kamar-kamar lain. kamarnya ada tepat depan tempat parkir, sedangkan kamar yang lain ada di belakang. Gigi tidak tahu, kenapa Nue memilih kos-kosan seperti itu, tapi ada sisi baiknya juga. Suasana jadi tenang dan pas untuk belajar. Tentu Gigi tidak memerlukan suasana seperti ini karena ya.. ehemm.. dia buka buku saja sudah menjadi hal langka.

Gigi memutar-mutar kunci kontak Nue sambil berjalan menuju kamar Nue dengan santai. Dia lega karena sudah bisa ‘sedikit’ mengendalikan perasaannya. Pada akhirnya tugas ini tidak seberat yang ia pikirkan. Meskipun tugas sebenarnya belum sepenuhnya berakhir.

Baru saja Gigi menyentuh gagang pintu..

‘uuuggrhhhh..!!!’

‘Bruukk!!’

Gerakan tangan Gigi terhenti. Matanya tampak melebar setelah mendengar suara benturan dan erangan itu. erangan yang pernah ia dengar sebelumnya.

Bagai kesetanan, Gigi membanting pintu dan memasuki kamar Nue.

“Kak!!” seru Gigi setengah menjerit ketika melihat tubuh Nue yang meringkuk di kasur.

Kasur Nue sudah tidak jelas lagi rupanya. Sprei kasur itu terlepas dari bingkai kasur dan tubuh Nue yang kejang membuatnya makin berantakan menutupi sebagian tubuhnya. Gigi bergerak mendekati Nue, tapi tubuhnya terhenti. Ia bergerak kikuk di hadapan Nue yang tidak sadar. Tubuh Nue tampak menggelepar seperti ikan yang di geletakkan di darat.
Akhirnya Gigi bergegas menutup pintu dan kembali ke dekat Nue dengan kikuk. Ia bingung harus bagaimana. Ini sudah pernah terjadi sebelumnya dan saat itu Gigi hanya bisa menonton dan menangis. Tapi, akankah kali ini dia diam saja dan menangis seperti dulu?

“kak Nue…” panggilnya parau pada Nue. Ia tahu suaranya tidak akan Nue dengar.

Tubuh Nue terus saja meronta dan sesekali mengerang cukup keras dan menyilet hati Gigi. Gigi tidak bisa menahan tubuhnya lagi, setelah melihat kepala Nue membentur tembok.

Tanpa pikir panjang, Gigi melompat ke kasur itu, dan didekapnya tubuh Nue sehingga tubuhnya terhindar dari tembok. Dia mendekap tubuh Nue erat. Ia tahu itu perbuatan bodoh dan berbahaya, tapi Gigi tidak tahu harus bagaimana lagi. Mendekap dan menahan tubuh Nue yang sedang kejang sangat sulit dan keras. Tubuhnya meronta sangat keras dan sesekali tangan dan kaki Nue memukul punggung dan perut Gigi. Dengan air mata bercucuran deras Gigi terus mendekap punggung dan kepala Nue. Ia terus bertahan meski hampir sekujur tubuhnya karena dihantam tangan dan kaki Nue.

‘bugg..’

Gigi meringis tertahan ketika siku Nue tanpa sengaja menghantam dadanya.

“uaaaggghhhhhh…” geram Nue, tapi Gigi tetap bertahan memeluknya.

“kak… tenang kak.. “ isak Gigi di telinga Nue.

Ini adalah pengalaman pertama Gigi memeluk Nue, dan harus ia awali dengan sesakit ini. tapi, Gigi tidak menghiraukan itu. ia membenci dirinya yang tidak bisa berbuat apa-apa di depan Nue. Selama ini dia hanya menunggu dan menangis. Dia tidak berani berbuat apa-apa untuk cintanya. Ya, Gigi lah yang selama ini membiarkan Nue pergi. Sama seperti saat Nue kejang , Gigi hanya bisa duduk menunggu dan menangis. Kini ia sadar, menangis saja tidak ada gunanya.

“maaf kak.. selama ini aku pengecut.. aku selalu takut untuk bertindak. Aku cuma menunggu dan menangis.. dan lagi-lagi menangis ketika kakak pergi.. tapi nggak kali ini kak.. aku ga akan lepasin kakak lagi… seperti saat ini, aku akan terus memelukmu kak, meski aku harus nahan sakit.. uughh….”
bisik Gigi.

Senyumnya melengkung tipis di balik derasnya air mata yang turun membasahi pipi dan jatuh di pundak Nue.
Seolah mendengar suara hati Gigi, perlahan kejang Nue mereda. Mata Gigi bergerak-gerak melihat tubuh Nue yang berhenti menggelepar. Dengan perlahan ia melepas dekapannya dan ia duduk bersandar di tembok sambil mengusap air matanya.

Perlahan mata Nue terbuka sayu. Dilihatnya sosok Gigi yang terduduk dan memandangnya dengan tatapan sendu.

“Gi.. kamu kenapa?” tanyanya dengan nada lemah.

“aku nggak apa-apa kok..” jawab Gigi sambil melengkungkan senyumnya, seolah tidak terjadi apa-apa sebelumnya.

Mata Nue bergerak-gerak kikuk. Ia melihat pakaian Gigi yang kusut, lalu melihat ke sekelilingnya. Kasurnya sudah berantakan, dan ia merasakan perih di dahinya. Dengan perlahan ia menyentuh dahinya yang sakit itu.

“dahi kakak lecet ya.. sebentar aku ambilin plester luka ya..” Gigi segera turun dari kasur Nue. Kini ia tahu arti plester luka di dahi dan dagu Nue.

Saat tangan Gigi tengah mencari-cari di atas meja belajar Nue, suara Nue membekukan gerakannya.

“aku.. baru aja kejang kan?”

Mata Gigi berubah getir. Dengan perlahan ia meraih plester yang terselip di bawah tumpukan buku di meja Nue.

“iya..” jawab Gigi singkat sambil membuka plester dan menempelkan di dahi Nue.

Nue tampak termenung. Napasnya terengah-engah dan tubuhnya terasa sangat lemas. Agak lama barulah dia berkata dengan pelan dan lelah.

“maaf ya Gi.. aku selalu ngerepoti kamu dengan penyakitku ini.. “

Gigi menoleh ke arah Nue yang kini memejamkan matanya dengan tatapan getir. Ia pun duduk si sisi kasur Nue dan memandangi lantai di depannya. Dia memilih untuk tidak memandang mata Nue. Ia tidak mau Nue melihat bekas-bekas air mata dan kesedihannya.

“nggak kok.. aku ga merasa terbebani… “ ujarnya. Sebenarnya kata-katanya itu belum berakhir. Ia sangat ingin mengungkapkan sesuatu yang selama ini segel kuat-kuat dalam hatinya. Akhirnya dengan suara bergetar ia berkata dan menoleh ke arah Nue.

“sebenarnya aku..”

Bibir Gigi terhenti. Dilihatnya Nue sudah memejamkan matanya dengan pulasnya. Gigi melambai-lambaikan tangannya di depan mata nue dan tidak ada reaksi. Untuk sesaat bibir Gigi tersenyum tipis. nue sudah tertidur rupanya. Ia pun berdiri dan membenarkan posisi bantal di bawah kepala Nue, lalu merapikan sprei Nue, sehingga ia bisa tidur dengan lebih nyaman. Setelah itu, ia duduk di sisi kasur sambil menghela napas dalam.

Malam ini sungguh mendebarkan untuknya. Sesaat ia meringis saat sakit yang tajam terasa di perut dan dadanya. Gigi tidak akan kaget jika besok ia kan menemukan banyak luka memar dan lecet di tubuhnya. Harus Gigi akui, dia sangat bodoh, karena mencoba menahan bangkitan penderita epilepsi. Ya, dia sangat bodoh. Tapi Gigi meyakini satu hal, dia tidak pernah menyesali tindakannya itu. Ia lega, bisa berbagi rasa sakit dengan Nue, meskipun ia tahu, sakit yang Nue rasakan mungkin jauh lebih sakit daripada sakit yang Gigi terima.
Gigi menatap Nue yang terlelap di sampingnya.

Nue tampak tertidur dengan pulas. Ini wajar, bagi penderita epilepsi yang baru saja mengalami ‘bangkitan’ akan lemas dan tertidur. Gigi tidak tahu berapa lama Nue kejang sejak ia tinggal pergi ke apotek, tapi dari tubuh Nue yang benar-benar lemas kini, tampaknya ia kejang cukup lama. Untuk sesaat Gigi merasa prihatin pada nue. Pemuda tampan sepertinya harus mengidap penyakit semacam ini.

Lagi-lagi Gigi menghela napas dalam. Malam ini, Gigi sadar, kalau dia tidak bisa terlepas dari Nue. Dari kejadian tadi, Gigi bisa merasakan ikatan perasaan yang dalam pada dirinya terhadap Nue. Ikatan yang menjerat hati Gigi dan Gigi tidak bisa lepas dari ikatan itu. Gigi merasa sangat bodoh jika selama ini ia berusaha melupakan Nue. Ia harusnya tahu jika hal itu tidak ada gunanya dan takkan berhasil. Dia putus asa, karena Nue tidak kunjung menyatakan cinta padanya dan justru kembali pada Grace. Ya, Gigi hanya putus asa dan cemburu. Tapi Gigi juga menyadari jika hal itu terjadi ‘mungkin juga’ karena dirinya sendiri. Ia selalu menunggu dan menunggu tapi tidak mau mengungkapkan dan mengakui perasaannya. Ia masih saja takut pada anggapan bahwa dia adalah seorang gay. Kini Gigi mencoba membuang semua ketakutan itu. ia tidak bisa diam saja dan menunggu Nue dalam bayangan. Semua memori tentang Nue, seperti bagaimana Nue sangat memanjakannya, tatapan mata Nue padanya, sikap protektif Nue padanya, dan sikap aneh Nue terhadap Adrian.. semua itu cukup meyakinkan hati Gigi untuk berpikir ‘bahwa Nue memiliki perasaan’ terhadapnya.

Kini satu sisi hati yang pro Nue yang harus menang. Sisi hati anti Nue harus mengalah dan otak kini harus bekerja sama dengan sisi hati pro Nue. Sesekali sisi hati anti-Nue menyahut, ‘lalu gimana dengan Grace? Igat, ue sudah punya pacar!’

‘who cares?’ balas sisi hati pro Nue, ‘aku ga peduli apa dia sudah punya pacar atau nggak.. yang jelas aku harus ungkapin perasaaku. Entah ati ditolak atau diterima, yang jelas, aku ingi dia tahu gimana perasaanku ke dia.’

Mendegar itu, sisi hati anti Nue hanya menunduk lesu.
Kini yang Gigi perlu pikirkan adalah bagaimana untuk mengungkapkan perasaannya pada Nue. Meski Gigi sudah membulatkan tekad, tapi tetap saja mengungkapkan cinta ke seorang sesama cowok, sangatlah sulit dan taruhannya sangat besar! Menyatakan cinta secara langsung cukup mustahil bagi Gigi.
‘aaarrghh.. terus aku mesti gimana??’ jerit Gigi dalam hati sambil mengacak-acak rambutnya. Hingga pandangannya jatuh pada gitar yang berdiri di sudut ruangan kamar Nue. Untuk beberapa lama Gigi termenung pada gitar itu, dan akhirnya ia tersenyum. sepertinya dia sudah mendapatkan ide dari gitar itu.
Segera ia ambil ponsel di sakunya dan ia aktifkan ponsel itu. loh, kenapa Gigi mengaktifkan lagi ponselnya? Bukankah ia ingin menghindari ‘gangguan’ dari Adrian? Tidak, ternyata Gigi punya rencana lain. begitu ponselnya aktif, benar saja, belasan sms menghujani inbox Gigi, tapi Gigi mengabaikannya dan menuliskan sebuah pesan pada nomor ‘ulet bulu’.
Ibu jarinya tampak mengambang di atas keypad ponselnya, tampak ia bimbang. Ia pun menoleh ke arah Nue. Seolah mendapatkan dukungan semangat, ia lalu ia tersenyum dan mengetikkan pesan itu dengan mantap.
‘oke, aku gabung.’